Menganalisis Essay untuk LPDP: Sukses Terbesar Dalam Hidupku

4
771

Indonesia Mengglobal Essay Clinic adalah usaha kami untuk membantu siswa-siswi Indonesia untuk mempersiapkan esai sebagai bagian dari aplikasi ke sekolah/program di luar negeri. Program Essay Clinic ini memperlihatkan berbagai contoh esai yang telah dibuat orang lain beserta komentarnya sehingga kalian bisa menganalisis komponen-komponen yang sudah bagus maupun yang belum. Kami harap kalian bisa menerapkan tips-tips tersebut sehingga bisa memperbaiki peluang kalian untuk diterima di program yang dituju.

Kami juga menerima pengiriman esai dari kalian. Untuk berpartisipasi, silakan klik disini!!

Deskripsi

Esai ini akan diajukan untuk aplikasi beasiswa LPDP untuk program Master of Guidance and Counseling di University College Cork – Irlandia.

Topik

Sukses Terbesar dalam Hidupku

Essay

Jika berbicara mengenai sukses terbesar dalam hidup, hal pertama yang terlintas di dalam pikiran saya adalah membangun rumah untuk kedua orang tua. Selama saya mampu mengingat kami telah pindah rumah sebanyak 7 kali terhitung dari saat saya belajar di TK hingga saya duduk di semester 7 perkuliahan. Semasa kecil pindah rumah bukanlah sebuah beban bagi saya, justru menyenangkan karena akan memiliki teman baru dan tempat bermain baru. Namun seiring bertambahnya usia, pindah rumah menjadi saat yang menyedihkan bagi saya, saya selalu dihantui pikiran bagaimana caranya untuk membangun rumah bagi kami sekeluarga sehingga tak perlu lagi berpindah tempat.
Papa yang tidak menyelesaikan sekolah menengah tingkat atas menghidupi kami dengan bekerja sebagai tukang becak barang, dan mama yang tidak menamatkan sekolah dasar adalah seorang Ibu Rumah Tangga, namun saat saya berada di bangku perkuliahan mama terpaksa harus ikut membantu perekonomian keluarga dengan bekerja di rumah tetangga kami yang kaya sebagai tukang masak, mencuci dan membersihkan rumah. Pernah suatu ketika saya melihat mama menyapu rumah tetangga saya tersebut, dan sepanjang perjalanan ke rumah saya tidak mampu untuk menahan air mata, saya menangis sepanjang jalan. Keinginan saya untuk mendapatkan pendidikan yang setinggi-tingginya semakin kuat, saya harus berhasil, saya harus mendapatkan IPK yang tinggi dan melanjutkan kuliah ke luar negeri, saya akan membahagiakan kedua orang tua saya. Itulah tekad saya.
Sejak kecil mama mendidik saya dengan keras untuk selalu menjadi juara kelas. Saat duduk di SD saya selalu ketakutan ketika pengambilan raport karena takut tidak juara dan akan dimarahi mama. Namun dengan kerasnya didikan mama telah membuat saya mengukir prestasi, saya menduduki juara 1 dari kelas 1 hingga kelas 6 SD, semasa SMP saya selalu peringkat 3 besar, begitu juga ketika SMA saya tidak pernah melewati peringkat 3 besar kecuali ketika kelas 3 SMA semester 2 saya jatuh ke peringkat 4 dan itu adalah peringkat terendah saya selama 12 tahun mengenyam pendidikan wajib.
Ketika tamat SMA, saya memberitahu Papa dan Mama bahwa saya ingin kuliah. Mama sangsi akan mampu menguliahkan saya karena Papa hanya seorang tukang becak barang dengan penghasilan yang tak menentu. Saya meyakinkan Mama bahwa saya akan mencari beasiswa sehingga Mama tidak perlu cemas memikirkan biaya kuliah. Saat itu saya memperoleh informasi dari guru BK di sekolah bahwa ada beasiswa dari UGM yang mengratiskan biaya masuk kuliah dan memberikan biaya hidup bulanan untuk mahasiswa yang kurang mampu. Mendengar berita ini saya sangat senang dan mengurus semua persyaratan yang ada, namun ketika waktu pengumuman tiba, saya dinyatakan tidak lulus.
Dengan gagalnya saya mendapatkan beasiswa UGM membuat impian untuk kuliah semakin jauh, sehingga saya mulai mencari informasi pekerjaan untuk lulusan SMA. Namun, pertolongan Allah sangatlah nyata dan dekat, Dia memberikan saya jalan untuk kuliah melalui kakek. Kakek yang berprofesi sebagai pengusaha daging di kota Solok meyakinkan orang tua bahwa saya memiliki potensi, nilai raport saya sangat baik dan sayang sekali jika tidak dilanjutkan ke perguruan tinggi, beliau berjanji akan membantu biaya kuliah, uang saku, uang kos dan semua biaya yang dibutuhkan selama menjalani perkuliahan.
Perjuangan saya untuk kuliah dimulai, saya mendaftarkan diri untuk ikut Ujian Masuk Bersama (UMB). Pada awalnya saya pesimis untuk lulus karena disaat teman-teman yang lain telah menjalani bimbel persiapan ujian masuk perguruan tinggi di lembaga-lembaga ternama di kota Padang, saya harus puas dengan hanya mempersiapkan diri bersama teman-teman melalui belajar kelompok dengan memanfaatkan buku-buku SMA dan soal-soal try out yang kami fotocopy. Alhamdulillah di waktu pengumuman nama saya tercantum lulus pada jurusan Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Padang. Saya sangat bersyukur dapat lulus di UNP karena dibandingkan dengan Universitas Negeri lainnya uang kuliah disini jauh lebih murah sehingga saya berpikir tidak terlalu membebani kakek dan nenek serta kedua orang tua.

Waktu berlalu dengan cepat dan sekarang saya telah menamatkan kuliah tepat 4 tahun di jurusan Bimbingan dan Konseling, UNP dengan predikat coumlaude, ini adalah sebuah kesuksesan awal bagi saya, saya telah memenuhi sebagian tanggung jawab kepada kakek dan nenek yang telah menguliahkan saya melalui tamat tepat waktu dan saat ini ada tanggung jawab besar lainnya yang harus saya penuhi, yaitu menyekolahkan adik-adik saya hingga setinggi-tingginya, membangun rumah bagi kami sekeluarga dan melanjutkan pendidikan ke tingkat berikutnya sebagai tanggung jawab atas ilmu yang telah diberikan oleh guru-guru dan dosen-dosen saya serta tangggung jawab untuk ikut membangun negara.

Komentar dari Nova Resfita

  • “Sukses terbesar” mengandung arti sukses yang telah diraih. Kalimat “Jika berbicara mengenai sukses terbesar dalam hidup, hal pertama yang terlintas di dalam pikiran saya adalah membangun rumah untuk kedua orang tua” tidak cocok untuk dijadikan awal kalimat karena si penulis belum berhasil membangun rumah. Jadi sebaiknya kalimat pertama diganti dan/atau paragraf pertama sebaiknya dihilangkan.

  • Secara keseluruhan, inti suksesnya adalah penulis berhasil menyelesaikan kuliah walaupun orang tuanya tidak mampu. Jadi sebaiknya hal ini yang digunakan sebagai inti sukses yang telah diraih, daripada menyebutkan hal “membangun rumah” seperti dijelaskan diatas.

  • Penulis terlalu banyak menggunakan kata “saya”, sebaiknya kata “saya” dikurangi karena terkesan egois. (Ini salah satu hal yang saya ingat dari dosen saya ketika belajar menulis esai)

  • Penulis sebaiknya merevisi esai agar menggunakan kalimat Bahasa Indonesia dengan EYD(Ejaan Yang Disempurnakan), termasuk penggunaan kata “papa” dan “mama”. Sebaiknya diganti dengan kata “ayah” dan “ibu” karena “papa dan mama” terkesan manja.

  • Walaupun topik esai ini terpusat pada penulis (“Sukses terbesar dalam hidupku”), penulis sebaiknya juga menceritakan efek kesuksesannya ke orang-orang di sekitarnya. Apakah dia telah berbuat sesuatu yang berguna untuk orang banyak? Jika ya, ceritakan juga nilai kepemimpinan yang telah ditanamkan oleh penulis.

  • Fariza

    Terima kasih tulisan ini mencerahkan saya yg lagi galau nih mikirin kesuksesan dalam hidup:”) Mau tanya, apa kesuksesan yg ditulis pada essay sebaiknya terkait dengan bidang yg akan kita ambil untuk beasiswanya? Trims :)

  • Thessa Samosir

    Yes! Senang sekali bisa membaca analisis esai ini. Saya lebih terbuka dan siap memperbaiki essay saya. Terimakasih :)

  • simson dasnarebo

    senang membaca Tulisan Anda karena sangat Membantu saya dalam Mencerahkan Pola Pikir saya

  • Alpha Alan

    Halo, caranya nulis disini biar bisa di reveiw essaynya gimana ya?