Susan (kelima dari kiri) bersama Saman Indomelb di acara internal Melbourne University, April 2014

Kuliah dengan beasiswa sambil promosikan seni budaya Indonesia di luar negeri

MELBOURNE; Melanjutkan pendidikan tinggi ke luar negeri tak lagi menjadi hal yang sulit dengan keberadaan berbagai beasiswa. Kuliah di luar negeri tentu tak sekedar mempelajari bidang studi yang tersedia di kampus. Ada banyak pelajaran hidup lainnya yang bisa diperoleh dengan tinggal di negara orang lain. Perbedaan suasana tempat tinggal dan karakter manusia dengan di tanah air bisa menawarkan pembelajaran. Dari perbedaan itu pula, pelajar Indonesia berkesempatan untuk memperkenalkan seni budaya Indonesia dan bahkan mengajarkannya.

Saat menjalani kuliah program strata 1, saya memiliki keinginan untuk melanjutkan kuliah di luar negeri, namun tidak sanggup bila meminta orangtua membiayai kuliah. Setelah lulus saya mulai mencoba mengirimkan aplikasi ke berbagai pemberi beasiswa. Setelah mengirim sebanyak 7 kali ke beragam pemberi beasiswa pada tahun 2012, saya berhasil mendapatkan beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dari  Kementrian Keuangan yang saat itu baru terbentuk dan membuka pendaftaran. Setelah melalui beragam tahapan hingga mengikuti Program Kepemimpinan (Batch 2), saya kemudian merasa lega telah dapat memulai kuliah di luar negeri. Saya merasa bersyukur karena beasiswa yang saya dapat berasal dari negara sendiri. Kota Melbourne menjadi kota tujuan saya, dengan mengambil program studi Master of Landscape Architecture di Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT).

Susan di acara UMAC, Melbourne University – April 2014
Foto oleh Harizza Pertiwi

Berlatarkan sebuah pengalaman mengikuti program pertukaran pemuda menjadi wakil Jawa Barat dan Indonesia untuk The Ship for South East ASEAN and Japanese Youth (SSEAYP), saya menjadi terbiasa mempersiapkan sebuah kemampuan seni budaya untuk ditunjukkan di negara lain. Saya merasa bahwa sebuah kemampuan mempertunjukkan seni budaya Indonesia adalah sesuatu yang menguntungkan ketika dihadapkan pada suasana multi nasional yang pada masing-masing perwakilan negara di dalamnya ingin menunjukkan keunggulan ciri khasnya masing-masing. Oleh karena itu, sebelum berangkat ke Australia, saya berinisiatif untuk mempelajari Tari Topeng Kelana di sebuah sanggar seni di Keraton Cirebon selama beberapa hari dan menyiapkan kostum tari pribadi untuk di bawa ke Australia.

Pada tahun pertama kuliah, saya telah mendapatkan kesempatan untuk mempertunjukkan Tari Topeng Kelana Cirebon sebanyak 4 kali, di acara intern kampus Melbourne University, acara The Annual Satay Festival 2014, di sebuah sekolah lokal di Wallan (yang memiliki kurikulum pelajaran bahasa Indonesia) dan di Konsulat Jendral Republik Indonesia di Melbourne. Kesempatan-kesempatan menari tunggal tersebut adalah karena saya melibatkan diri dalam kegiatan kelompok tarian Indonesia di Melbourne, salah satunya adalah kelompok tari saman. Permintaan untuk tampil di panggung cukup banyak bagi kelompok tari ini, sejak April 2014, saya juga telah berpartisipasi sebagai salah satu penari Saman sebanyak 7 kali. Dalam kesempatan lainnya, Saya mencoba belajar menjadi penyanyi, atau disebut cèh, di dua penampilan Saman lainnya.

Susan di acara The Annual Satay Festival, Boxhill Town Festival – Mei 2014
Foto oleh Harizza Pertiwi

Susan di wawancarai media lokal di acara The Annual Satay Festival, Boxhill Town Festival – Mei 2014
Foto oleh Harizza Pertiwi

Tak hanya tampil dalam format pertunjukkan, grup tari Saman di Melbourne ini juga menyediakan workshop atau kursus singkat beberapa gerakan tari Saman kepada murid sekolah lokal terutama yang di sekolah yang menawarkan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang dipelajari di sekolah. Saya telah mengikuti enam kali workshop saman di tahun 2014. Terkadang, berpartisipasi dalam mengajar tarian ke sekolah bisa hingga ke daerah pelosok Victoria. Saya sempat menginap di salah satu rumah guru agar bisa mengajar tari pagi-pagi di keesokan harinya di Echuca, sebuah kota dekat perbatasan Victoria dan New South Wales. Workshop saman ini menjadi pengalaman menarik karena bisa berkunjung ke tempat baru, dan tinggal (homestay) dengan penduduk lokal.

Susan (kelima dari kanan) bersama Saman Indomelb di acara internal Melbourne University, April 2014

Susan (kanan bawah) bersama Saman Melbourne berfoto bersama setelah workshop di Echuca, Oktober 2014.
(Wajah murid disamarkan karena belum ada izin untuk dipublikasikan.)

Kuliah di luar negeri, terutama di negara yang dianggap lebih maju daripada Indonesia mengajarkan sangat banyak hal, sehingga saya menganjurkan siapapun yang memiliki impian untuk kuliah di luar negeri untuk terus mengejarnya. Banyak penyedia beasiswa untuk kuliah di luar negeri tersedia untuk jenjang pascasarjana. Informasi mengenai beasiswa sudah cukup banyak tersedia di internet dan di perguruan tinggi masing-masing. Saran saya adalah sebelum lulus strata satu, lakukanlah riset terhadap kriteria yang menjadi syarat untuk beasiswa yang diincar terutama dalam hal persiapan nilai kumulatif, kemampuan bahasa, dan pemilihan jurusan yang diutamakan penyedia beasiswa.

Mengajarkan tari Saman seusai menari tari topeng di Wallan Secondary College, 3 November 2014
Foto oleh: Windu Kuntoro

Memakaikan sarung saat workshop tari Saman di Wallan Secondary College,
3 November 2014
Foto oleh: Windu Kuntoro

Selain itu, saya juga berharap teman-teman lain yang hendak berangkat untuk studi di luar negeri untuk mempelajari seni budaya Indonesia yang bisa ditampilkan beserta kostum dan keperluan lainnya. Tak perlu hingga sangat ahli dalam seni yang dipilih, karena tujuannya hanya sebatas memperkenalkan. Cara lainnya adalah dengan melibatkan diri dalam kegiatan komunitas seni Indonesia yang ada di negara tujuan. Akan menjadi kebanggaan tersendiri jika bisa mewakili Indonesia dengan menampilkan seni  budaya Indonesia di ranah internasional.




===========================================
Susan Hanuningrum Krisanti adalah penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dari Kementrian Keuangan Republik Indonesia. Lulusan program studi Sarjana Arsitektur dari Institut Teknologi Bandung, Susan kemudian melanjutkan studinya dalam program Master of Landscape Architecture di Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT), Australia. Blog tulisan Susan terkait lansekap arsitektur bisa dibaca di https://hejogeulis.wordpress.com/
Posts | Website | Twitter | LinkedIn