Beasiswa LPDP: Pergi Untuk Kembali

Beasiswa LPDP: Pergi Untuk Kembali

Bukan kekayaan untuk bermegah dan memuaskan bandit yang dibutuhkan bangsa kita. Ilmu dan pengetahuan, kesadaran akan perubahan, terutama manusia baru berjiwa baru yang rela bekerja untuk bangsa dan negerinya. Maka bocah-bocah harus dipersiapkan untuk menerima pendidikan modern. Dana yang sangat, sangat besar harus dibangun. Upeti untuk para bandit harus dihentikan. Sekolah-sekolah modern harus berdiri, sekarang dan untuk seterusnya. Kalau tidak, hanya seperti inilah kiranya wajah negeri kita seratus tahun mendatang.”– Pramoedya Ananta Toer

Banyak orang bermimpi untuk melanjutkan studi di luar negeri. Tujuannya hanya satu, yaitu untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik demi kembali ke tanah air membantu mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana diamanatkan dalam pembukaan UUD 1945. Tidak sedikit yang gagal dalam upayanya meraih mimpi itu, dengan faktor utama adalah masalah finansial yang diakui jauh lebih tinggi dibanding bila menuntut ilmu di negeri sendiri. Saya merupakan salah satu pemimpi itu, yang berkali-kali gagal hingga akhirnya pada satu waktu mimpi tersebut dibantu diwujudkan oleh LPDP. Ada beberapa alasan mengapa LPDP merupakan pemberi beasiswa terbaik bagi Indonesia.

Pada awalnya, LPDP tercetus dari ide Ibu Sri Mulyani (Menteri Keuangan pada waktu itu) dan merupakan inisiasi dari 3 kementerian di Indonesia, di antaranya Kementerian Keuangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementerian Agama. Sejauh ini, LPDP memfasilitasi banyak varian beasiswa, di antaranya Beasiswa Magister dan Doktor (juga dikenal sebagai Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI)), Beasiswa Presidensial (juga dikenal sebagai Beasiswa Presidensial Republik Indonesia (BPRI)), Beasiswa Tesis dan Disertasi, Beasiswa Afirmasi (untuk daerah 3T – Terdepan, Terluar, Tertinggal), dan Beasiswa Spesialis Kedokteran yang baru saja dibuka tahun ini. [1] Sejak awal terbentuknya pada tahun 2011, hingga saat ini LPDP berhasil mengirimkan setidaknya 1.700 penerima beasiswa baik di dalam maupun di luar negeri. Di tahun 2014 ini bahkan sebanyak 1.500 penerima beasiwa ditargetkan oleh LPDP. Pada salah satu diskusi pun Bapak Eko Prasetyo selaku Direktur Utama LPDP mengungkapkan bahwa LPDP memiliki harapan mengirimkan putra-putri terbaik bangsa sebanyak 5.000 per tahun untuk melanjutkan studinya. Banyaknya penerimaan beasiswa inilah alasan pertama LPDP adalah pilihan terbaik untuk Indonesia dengan memberikan peluang luas bagi kita untuk lebih bersemangat melanjutkan studi.

Alasan kedua adalah LPDP menjamin bahwa penerima beasiswa dapat hidup dengan baik di negara studinya. Bentuk penjaminan ini dapat dilihat tidak hanya dari dibiayainya tuition fee, tetapi juga living allowance yang mencukupi.[2] Keberadaan settlement allowance pada bulan awal dimulainya studi pun turut mendukung bentuk jaminan tersebut sebagai tunjangan awal kehidupan di negara studi, seperti untuk pembelian furnitur kamar, sepeda, kartu abonemen kereta, dsb. Penerima beasiswa juga tidak perlu khawatir apabila ada daftar buku atau reading materials yang harus dibeli karena LPDP turut memberikan book allowance per tahunnya. Dalam mengoptimalkan kemampuan penerima beasiswa, LPDP juga memfasilitasi penerima beasiswa atas penelitian yang dilakukan, baik dalam pemberian biaya penelitian, pemberian reward atas publikasi jurnal di jurnal internasional, maupun keterlibatan dalam seminar internasional. Dari banyaknya allowance yang diberikan, sistem yang dimiliki LPDP pun mempermudah proses pencairan. Berdasarkan pengalaman pribadi saya, selama 1 tahun studi ini saya tidak pernah merasakan keterlambatan pencairan tersebut.

PK atau proses karantina adalah alasan ketiga dan merupakan alasan utama mengapa LPDP merupakan pemberi beasiswa yang paling baik bagi Indonesia. Perlu diketahui sebelumnya, ada 4 tahap seleksi penerimaan beasiswa LPDP di antaranya Seleksi Administrasi, Seleksi Wawancara, Seleksi Leaderless Group Discussion (LGD), dan Program Kepemimpinan (juga dikenal dengan Persiapan Keberangkatan (PK) atau Pengayaan). Khusus untuk Beasiswa Presidensial, ada tambahan proses seleksi yaitu Seleksi Kesehatan, Psikotes dan Leadership Project. Mengapa PK menjadi alasan utama dalam pembahasan ini? Karena pada proses PK, penerima beasiswa diberikan pembekalan yang berbeda dengan banyaknya pemberi beasiswa lainnya di Indonesia, yaitu nasionalisme. Ya, PK adalah proses karantina  selama 1 minggu dimana para penerima beasiswa dibekali dengan nilai-nilai kebaikan seperti nasionalisme, integritas dan kepemimpinan. Mengapa nasionalisme penting? Karena sudah saatnya Indonesia maju oleh warga negaranya sendiri. Sudah cukup ahli-ahli Indonesia yang ‘diambil’ oleh negara lain untuk memajukan bangsanya. Indonesia saat ini membutuhkan ahli-ahlinya untuk membangun Indonesia lebih baik. Karena nilai-nilai inilah LPDP hanya memberikan syarat bagi para penerima beasiswa untuk kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan studinya, dengan tujuan dapat memberikan kontribusi-kontribusi nyata dan menginspirasi banyak orang Indonesia lainnya untuk membangun negeri. Pada saat saya PK dulu, saya merasakan LPDP seakan membantu saya untuk lebih mengenal dan mencintai Indonesia. PK yang pada waktu itu diadakan selama 2 minggu selalu memberikan materi-materi yang beragam, kegiatan-kegiatan sosial yang membutuhkan kepemimpinan maupun kerjasama yang baik, diskusi-diskusi, maupun pentas seni budaya. Pemberian materi mengenai pelatihan pencegahan korupsi, pertahanan negara, implementasi nilai-nilai kebangsaan menjadi salah satu fokus kegiatan harian. Selain itu, para penerima beasiswa juga diminta untuk menyiapkan karya pada Social Creative Competition berupa kontribusi peningkatan tanggung jawab sosial kepada masyarakat dan juga pertunjukan seni dari beragam suku di Indonesia pada malam terakhir PK.  Di hari-hari akhir PK, para penerima beasiswa menjalankan kegiatan di kapal TNI AL dengan pemberian materi khusus yaitu pelatihan bertahan hidup dari TNI.

Orang berkata bahwa banyak jalan menuju Roma. Hal yang sama berlaku dengan studi di luar negeri. Pilihlah yang tepat. Saya memilih LPDP karena LPDP memberikan peluang yang luas, menjamin kehidupan yang baik selama masa studi, dan yang terpenting, karena LPDP mengajarkan saya untuk ‘pulang’, untuk tidak pernah melupakan rumah, dan untuk selalu berlaku dan bertindak demi masa depan ‘rumah’ yang lebih baik. Semoga tulisan ini dapat membantu para pelajar dan calon pelajar untuk ingat bahwa kita pergi untuk kembali ‘pulang’.

“Penerima beasiswa LPDP diharapkan dapat menjadi pelopor/penggerak, tidak hanya untuk LPDP tapi juga untuk seluruh pemuda di Indonesia. Indonesia punya resources yang luar biasa. Sekarang yang dibutuhkan adalah hati anda, tangan dan lengan bahu anda, untuk menarik potensi itu, kemudian anda ajak semua orang yang tidak memiliki keuntungan intelektual seperti anda (untuk) menjadi gerbong yang anda tarik, dengan kompetensi unggul yang anda miliki.”

– Eko Prasetyo – Direktur Utama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP)

 

______________________________________

[1] Selengkapnya di http://www.lpdp.depkeu.go.id/

[2] Lebih detil baca di http://eeas.europa.eu/delegations/indonesia/documents/more_info/2014scholarship-lpdp.pdf




===========================================
Difa received her Bachelor of Laws (LL.B equivalent) degree in Business Law from University of Indonesia and her Master of Laws (LL.M) degree in International Economic and Business Law from University of Groningen. She was an LPDP awardee and a member of LBH Jurist Makara. After graduation, she worked at an international law firm in the Netherlands to gain new working experiences. She can be reached at difa.adelia@gmail.com.
Posts