Panduan dari Sang Guru: “Pintu yang Tertutup Belum Tentu Terkunci”

Panduan dari Sang Guru: “Pintu yang Tertutup Belum Tentu Terkunci”

Pesan ini sampai saat ini masih terngiang di pikiran kami. Ungkapan ini mungkin baru satu setengah tahun saja kami kenal, meskipun secara tidak sadar kami sudah melakukannya. Ini adalah sebuah kata motivasi dan pesan bermakna, yang kemungkinan juga tepat untuk para pencari beasiswa dimanapun berada. Kata-kata ini memberikan pesan kepada kita untuk tidak pernah menyerah terutama dalam mengirimkan berbagai aplikasi beasiswa baik di dalam maupun di luar negeri. Jangan takut untuk selalu mencoba meskipun kemampuan akademik dan skill kita biasa-biasa saja karena takdir itu sudah ditentukan oleh Tuhan yang Maha Kuasa. Jangan pernah menganggap pintu yang tertutup di depan kita itu terkunci, bisa jadi hanya tertutup saja. Jika kita tidak mau membukanya maka orang lain yang akan membukanya dan dia yang akan terpilih sebagai penerima beasiswa.

Ada beberapa hal yang mungkin berguna bagi teman-teman untuk membuka pintu yang tertutup itu:

1. Jangan pernah menyerah untuk terus mencoba

Jangan pernah putus asa jika kamu belum berhasil. Bahkan Thomas Alfa Edison saja katanya membutuhkan 9998 kali percobaan sehingga akhirnya bisa menemukan lampu. Mungkin saja, di saat dirimu ingin menyerah, di saat itulah sebenarnya kesuksesanmu telah menantimu, tapi karena dirimu sudah terlanjur menyerah, akhirnya kamu kalah. So? Gagal sekali, coba lagi, begitu seterusnya sampai akhirnya dirimu berhasil.

2. Mencari peluang/ kesempatan dalam penolakan

Banyak di antara kita yang gagal untuk mendapatkan beasiswa karena terlalu pasrah. Cobalah untuk minta banding terlebih dahulu jika kamu ditolak oleh si pemberi beasiswa. Kemukakan alasan mengapa kita patut untuk diterima dan mendapatkan beasiswa. Pasrah boleh saja, asal kita sudah berusaha sekuatnya.

3. Coba kirim lebih dari satu aplikasi beasiswa

Kebanyakan pengirim aplikasi, hanya mengirim satu atau dua aplikasi beasiswa saja dan urung mengirim ke beasiswa yang lain. Itulah salah satu alasan mengapa kita sering gagal mendapatkan beasiswa. Kita tidak pernah tahu dimana dan kemana Allah akan menempatkan kita. Oleh karena itu, cara yang terbaik adalah dengan mengirim aplikasi beasiswa ke berbagai program beasiswa.

Perlu kita ketahui bahwa kehidupan itu selalu dinamis. Apakah kita siap menerima setiap perubahan yang ada disekeliling kita? Tentunya perubahan yang membawa nilai positif dan masa depan yang lebih baik. Tak dipungkiri bahwa hampir setiap mahasiswa di akhir studinya selalu membutuhkan banyak informasi apakah akan melanjutkan studi ke tingkat yang lebih tinggi atau masuk ke dalam dunia kerja. Fenomena ini biasanya terjadi terutama bagi mahasiswa di akhir studinya. Namun hal ini merupakan sebuah pilihan yaitu pilihan dimana masa depan seseorang akan dimulai.

Ada beberapa tahap yang biasanya terjadi di awal-awal aplikasi bagi mereka yang ingin melanjutkan studi ke tingkat yang lebih tinggi. Tahap pertama adalah tahap dimana seseorang bingung menentukan lokasi studi, apakah mau studi di dalam atau di luar negeri, bila di luar negeri, di negara dan universitas mana. Tahap kedua yaitu tahap dimana seseorang mulai menimbang ketersediaan dana/beasiswa selama masa studi. Ketiga, tahap dimana seseorang mulai memikirkan strategi untuk lulus dalam aplikasi beasiswa dan ujian masuk universitas. Dan keempat, adalah tahap seseorang menentukan strategi untuk dapat bertahan hidup di kota tempat studi (di luar negeri/ dalam negeri).

Tahap pertama, kadangkala seseorang yang ingin melanjutkan studi ke tingkat yang lebih tinggi mengalami kegalauan dalam menentukan lokasi studi yang sesuai dengan kemampuan dan keinginannya. Pada dasarnya setiap orang itu memiliki potensi dalam bidang tertentu sesuai dengan kemampuannya. Studi di dalam negeri tentunya memberikan kemudahan bagi kita dalam melakukan penyesuaian dengan lingkungan sekitar. Tidak perlu waktu yang lama dalam beradaptasi, selain itu kita juga sudah mengerti dengan pola-pola studi yang diajarkan di dunia perguruan tinggi di Indonesia. Namun, kurangnya fasilitas pendukung dan pelayanan akademik kadangkala masih menjadi sebuah hambatan di perguruan tinggi di negara kita. Oleh karena itu, pentingnya memilih sebuah universitas yang terbaik adalah hal mendasar yang harus dipertimbangkan. Sedangkan, lengkapnya fasilitas pendidikan dan kemudahan akses di perguruan tinggi di negara maju menjadi sebuah motivasi seseorang untuk memilih studi di luar negeri dibandingkan di dalam negeri.  Sehingga dapat disimpulkan bahwa jika kita ingin kuliah di dalam atau di luar negeri maka pilihlah universitas yang terbaik, fasilitas yang lengkap, serta sesuai dengan kemampuan dan keinginan kita.

Tahap kedua yang mungkin dialami oleh mereka yang ingin melanjutkan studi adalah ketersediaan beasiswa dalam mendukung kegiatan studinya. Mereka yang ingin melanjutkan studi baik di dalam maupun di luar negeri, ada baiknya mencari berbagai macam sumber informasi beasiswa baik melalui media cetak, elektronik, internet, maupun informasi-informasi yang ada di kampus. Beberapa beasiswa yang menawarkan untuk studi lanjut di dalam negeri adalah beasiswa dari DIKTI, LPDP, Tanoto Foundation, dll. Sedangkan beberapa contoh program beasiswa yang mendukung untuk studi lanjut di luar negeri adalah beasiswa Erasmus Mundus, Fullbright, DIKTI, LPDP, AUNSeed Net, JICA, DAAD, Stuned, Monbukagakusho, ADS, Endeavour awards, dll. Oleh karena itu, untuk memudahkan dalam mendapatkan informasi-informasi beasiswa, ada baiknya bergabung dengan komunitas-komunitas beasiswa di media sosial dan aktif melihat website kampus-kampus yang ada di Indonesia.

Tahap ketiga adalah tahap dimana seseorang mulai memikirkan strategi untuk lulus dalam aplikasi beasiswa dan ujian masuk universitas. Masing-masing program beasiswa memiliki persyaratan, kebijakan, dan metodenya masing-masing. Ada program beasiswa yang seleksi aplikasi beasiswanya menyatu dengan ujian masuk universitas seperti Erasmus Mundus, jadi jika lulus aplikasi beasiswa secara otomatis juga lulus ujian masuk universitas. Namun, ada juga program beasiswa yang seleksi aplikasi beasiswanya terpisah dengan ujian masuk universitas. Dengan kata lain, kita harus mengikuti dua kali ujian untuk satu program beasiswa. Jadi semuanya tergantung pada program beasiswa yang ditawarkan. Ada persyaratan yang bersifat umum dan adapula persyaratan yang bersifat khusus. Persyaratan yang bersifat umum biasanya kadangkala berlaku untuk semua program beasiswa. Contohnya: aplikasi TOEFL atau bukti kemampuan berbahasa inggris lainnya, formulir pendaftaran, motivation letter, surat rekomendasi, dll. Sedangkan persyaratan yang bersifat khusus hanya berlaku untuk satu program beasiswa dan belum tentu bisa berlaku untuk program beasiswa yang lain. Contohnya: Kemampuan bahasa selain bahasa Inggris, misalnya bahasa Jepang, bahasa Spanyol, bahasa Italia, Perancis,  dan Jerman. Selain itu, kadangkala ada program beasiswa yang mempersyaratkan pengalaman kerja atau penulisan karya ilmiah (jurnal) dll. Jadi, penting untuk memahami setiap persyaratan dalam aplikasi beasiswa yang ingin diajukan dengan teliti dan seksama.

Tahap yang keempat adalah tahap dimana penerima beasiswa yang sudah dinyatakan lulus untuk bisa beradapatasi dan survive di awal-awal kedatangan di negara tujuan. Ada beberapa hal yang mungkin bisa dipersiapkan oleh penerima beasiswa sebelum berangkat ke negara tujuan. Pertama, melakukan konfirmasi dengan pemberi beasiswa mengenai status penerimaan, tiket berangkat dan kepulangan, jumlah beasiswa yang diterima tiap bulan, waktu menunggu pencairan beasiswa, akomodasi yang disediakan saat pertama kali tiba di negara tujuan, dokumen-dokumen pendukung pembuatan visa, dll. Cari informasi yang valid sebanyak-banyaknya tentang prosedur pembuatan visa. Mungkin bisa tanya dengan senior-senior yang sudah pernah membuat visa tersebut sebelumnya. Selain itu juga pastikan apakah ada seseorang yang menjemput di negara tujuan atau jika misal tidak ada, maka pastikan semua informasi tentang transportasi, rute perjalanan, dan biaya hidup di tempat yang akan dituju.

Tantangan terbesar yang sering di jumpai pada diri seseorang adalah keragu-raguan dan rasa takut gagal. Terkadang seseorang memiliki keinginan yang besar untuk mencari beasiswa tetapi kandas ditengah jalan hanya karena tidak jadi mengirim aplikasi beasiswa karena melihat aplikan lain yang lebih pintar dan berbakat dibanding dirinya. Saat ini mulailah tinggalkan perasaan itu karena perasaan tersebut adalah faktor utama yang menghambat seseorang untuk bisa maju. Dan ingatlah bahwa do’a dan restu orang tua adalah salah satu kunci keberhasilan untuk meraih masa depan yang cerah.

Dan ingatlah selalu “bahwa pintu yang tertutup itu belum tentu terkunci….”

Mari persiapkan impian kita untuk masa depan yang lebih baik..




===========================================
Adi Saputra, mahasiswa Indonesia yang sekarang sedang aktif melanjutkan studi S3 di Departemen Sistem Energi Hidrogen, Kyushu University, Jepang. Meskipun saat ini masih belum bisa bersama dengan istri tercinta yang juga sedang menempuh pendidikan Master of Plant Genetic di Universidad Politecnica de Valencia, Spanyol, tetap semangat menjalani hari-harinya. Suatu saat nanti kebersamaan itu akan indah pada waktunya dan bersemi seperti bunga sakura.
Posts | Facebook