Meraih Beasiswa Short-course Study of The U.S. Institutes

Meraih Beasiswa Short-course Study of The U.S. Institutes

Apa yang terpikirkan jika kita ingin belajar ke negara lain dengan biaya murah atau bahkan gratis? Mungkin jawaban pertama dari sebagian besar orang sejagat raya adalah beasiswa.

Dalam tulisan ini saya akan berbagi cerita mengenai perjuangan saya memperoleh kesempatan beasiswa penuh untuk berkuliah selama lima minggu lebih di Temple University, Pennsylvania, Amerika Serikat.

Saya dilahirkan di sebuah kota kecil di kaki Gunung Rajabasa, Kalianda, Lampung Selatan. Daerah yang sangat dekat dengan pantai, sayangnya tidak dekat dengan akses pendidikan. Namun saya cukup beruntung dapat berkuliah di jurusan Pendidikan Fisika Universitas Lampung. Ayah saya merupakan motivator terkuat untuk dapat berkuliah ke luar negeri. Dulu ketika Ayah masih remaja dan bekerja di kilang minyak Riau sebagai buruh, atasan Ayah ingin menyekolahkannya ke Amerika. Tetapi Ayah menolak, penolakan yang menggiringnya pada penyeselan seumur hidup hingga saat ini. Ayah selalu berkata, “Education gives you dignity, pendidikan memberimu derajat. Kalau ada kesempatan jangan pernah dilewatkan, Nak. Apalagi kuliah ke Amerika.”

Kisah Ayah dan kegagalannya memperoleh pendidikan di Amerika selalu menyemangati perjuangan saya selama ini. Maka bagi para pejuang beasiswa, saya selalu berpesan untuk menentukan siapa dan apa motivasi mereka berkuliah di luar negeri, karena hal ini sangat penting untuk menjaga mood dan meningkatkan kualitas diri. Ini mengenai kepantasan untuk menerima beasiswa. Formulanya adalah execution, bukan talking.

Tiga tahun lalu, sewaktu saya sedang menjaga adik di rumah sakit lantaran kaki kirinya dioperasi, saya termenung memikirkan kondisi keluarga saya. “Saya ingin mengangkat derajat keluarga,” kata suara hati. Sepulang dari rumah sakit saya google info beasiswa ke Amerika, lalu memberanikan diri untuk menghubungi lembaga kursus Bahasa Inggris yang dikelola oleh orang native Amerika. Saat itu mereka menyatakan tidak dapat menerima pendaftar baru, namun saya memohon agar bisa ikut karena saya bermaksud mendaftar beasiswa shortcourse ke Amerika tahun itu. Semangat dan kesungguhan saya rupanya menyentuh guru native sehingga saya diterima dan dapat mengikuti kelas conversation.

Ketika pertama kali masuk kelas, bahasa Inggris saya adalah yang paling memprihatinkan dibanding yang lain. Dengan bermodalkan buku Cliffs pemberian teman, setiap kursus selesai saya selalu meminta native teacher memeriksa esai yang saya tulis untuk meningkatkan kemampuan menulis serta membahas soal-soal TOEFL di buku Cliffs tersebut. Sambil terus belajar dengan tekun, saya mempersiapkan berkas-berkas persyaratan umum yang dibutuhkan untuk mendaftar beasiswa seperti motivation letter, recommendation letter, dan application form. Melalui sebuah lembaga resmi, saya juga menterjemahkan transkrip nilai, ijazah SMA, dan KTP (karena saat itu saya belum mempunyai passport). Kendatipun pada akhirnya semua dokumen terjemahan ini tidak terpakai. Tapi tak apa, karena bagi saya semua itu termasuk proses peningkatan kemampuan bahasa Inggris yang sangat penting untuk pendaftar beasiswa luar negeri. Juga terkait skor TOEFL.

Jalan saya untuk mendapatkan beasiswa ke luar negeri tidaklah mulus. Banyak tantangan yang saya hadapi, salah satunya ejekan dari orang-orang karena saya adalah mahasiswa Pendidikan Fisika yang kemampuan bahasa Inggrisnya kurang mumpuni. Bahkan Ibu sempat khawatir jika kemungkinan kegagalan akan membawa saya pada kekecewaan yang berlarut. Tapi, yang saya inginkan saat itu hanyalah kuliah di luar negeri, bukan mobil mewah ataupun rumah besar. Maka saya tepiskan segala cemooh orang.

Rupanya dugaan Ibu benar. Saya belum lolos program shortcourse IELSP pada tahap akhir, yaitu interview. Dari sekian peserta interview, saya merupakan peserta paling muda dan satu-satunya mahasiswa dari jurusan sains. Saya sedih dan kecewa berat. Tapi saya yakin, telah lulus seleksi berkas IELSP merupakan modal hebat untuk tetap mendaftar beasiswa ke Amerika di lain kesempatan.

Cobaan besar datang lagi. Waktu saya pergi ke Bandar Lampung untuk mengikuti TOEFL ITP, rumah saya di Kalianda habis dilalap api. Saat rasa putus asa bergelimang, niatan saya teringat lagi, “mengangkat harkat keluarga”. Setiap hari saya terus merevisi motivation letter, CV, aktif dalam kegiatan organisasi dan volunteer, aktif menulis artikel di koran, dan berlatih public speaking untuk interview. Saya juga semakin yakin dengan memiliki productive mentoring dengan para senior yang berhasil mendapatkan berbagai beasiswa ke luar negeri merupakan kunci keberhasilan. Saya terus menjaga keyakinan terhadap diri bahwa Yang Maha Kuasa akan membuka pintu jalan.

Graduation of SUSI Program

Oktober 2012, saya kembali memberanikan diri mendaftar beasiswa Study of the U.S. Institutes for Student Leaders on Religious Pluralism and Democracy (SUSI RPA) yang diadakan oleh Kedutaan Amerika Serikat Jakarta. Untuk mendapatkan formulir, saya harus mengirimkan e-mail ke kedutaan. Saya menunggu selama dua hari di kampus untuk mendapatkan surat rekomendasi dari Dekan. Softcopy formulir yang telah diisi dikirimkan kembali ke e-mail kedutaan. Sebulan kemudian saya mendapatkan telepon dari Kedutaan Amerika. Phone interview itu hanya menanyakan informasi pribadi. Seminggu kemudian, saya mendapatkan berita mengejutkan bahwa saya lolos beasiswa SUSI RPA dan akan diberangkatkan ke Philadelphia bulan Januari 2013. Proses yang sangat cepat. Deadline pendaftaran Oktober, pengumuman November, pembuatan visa Desember, dan pemberangkatan bulan Januari.

Tapi tidak semua gembira dengan kabar beasiswa ini. Banyak yang berujar jika saya mengambil kesempatan ini, otak saya akan dicuci, dan sebagainya. Saya menolak mendengarkan perkataan yang tidak membangun tersebut. Saya yakin ini peluang besar untuk meningkatkan kapasitas diri dan unjuk gigi di skala internasional.

Selama berkuliah di Temple University, kami belajar mengenai U.S. Democracy, Roots of Religious Tolerance, Volunteerism in Pluralist Society, Diplomacy, Public Speaking, Immigration, Race and Ethnicity, Human Rights, Leadership, dan Negotiation. Pembelajarannya pun tidak hanya berkutat di kelas. Kami banyak belajar melalui kunjungan ke tempat-tempat peribadatan, dan perkuliahan di tempat-tempat penting dan historis seperti markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa New York, Istana Putih Presiden Amerika di DC, Kantor Human Rights Watch di Empire State Building NY dan masih banyak lagi. Yang terpenting, kami diajarkan untuk mencintai Indonesia dan berkontribusi kepada Indonesia melalui proyek-proyek perdamaian dan sosial yang akan kami pimpin ketika pulang ke tanah air.

Jujur, kuliah di Amerika Serikat sangat menyenangkan. Para dosen benar-benar membimbing agar kami pintar. Saya juga mendapat banyak teman baru. Bonusnya program ini, seluruh biaya pembuatan visa, tempat tinggal, makan, transportasi, bahkan uang jajan dan asuransi ditanggung pemerintah Amerika. Belajarnya pun tidak hanya di satu negara bagian. Kami pergi ke New York, diterbangkan ke Florida, lalu ke Washington DC, dan Maryland. Saya bersyukur bisa mengikuti program ini. Bahkan tawaran beasiswa pendidikan S2 di Amerika jurusan Pendidikan Sains ataupun Teknologi Pendidikan dari salah satu dosen. Program ini semakin menunjukkan banyaknya kesempatan berharga yang diperoleh, terutama dalam menjalin jaringan (networking). Pengalaman saya selama mengikuti program SUSI ini pun sangat berguna ketika saya mengikuti tiga konferensi Model of United Nations secara berturut-turut di Italia, Belgia, dan Swiss, pada Maret 2014 lalu.

Saat ini saya sedang mempersiapkan diri agar layak mendapatkan beasiswa magister ke Eropa. “Doakan saya ya, para pembaca!” Pesan saya, “Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpimu. Kamu tidak akan pernah tahu apa yang Tuhan sediakan bagi masa depanmu, jika kamu tidak pernah memulai dan berusaha.”

Lancaster, Pennsylvania

 

Semua foto disediakan oleh penulis.




===========================================
Hetty Samosir was born and raised in a coastal village, Kalianda, South Lampung. Currently, she is finishing her bachelor study in Physics Education Program in Lampung University, Bandar Lampung. She likes reading book in the beach. Her dream job would be to work at United Nations.
Posts | Facebook | Twitter | LinkedIn