Meraih Beasiswa Short-course Study of The U.S. Institutes

23
741

Apa yang terpikirkan jika kita ingin belajar ke negara lain dengan biaya murah atau bahkan gratis? Mungkin jawaban pertama dari sebagian besar orang sejagat raya adalah beasiswa.

Dalam tulisan ini saya akan berbagi cerita mengenai perjuangan saya memperoleh kesempatan beasiswa penuh untuk berkuliah selama lima minggu lebih di Temple University, Pennsylvania, Amerika Serikat.

Saya dilahirkan di sebuah kota kecil di kaki Gunung Rajabasa, Kalianda, Lampung Selatan. Daerah yang sangat dekat dengan pantai, sayangnya tidak dekat dengan akses pendidikan. Namun saya cukup beruntung dapat berkuliah di jurusan Pendidikan Fisika Universitas Lampung. Ayah saya merupakan motivator terkuat untuk dapat berkuliah ke luar negeri. Dulu ketika Ayah masih remaja dan bekerja di kilang minyak Riau sebagai buruh, atasan Ayah ingin menyekolahkannya ke Amerika. Tetapi Ayah menolak, penolakan yang menggiringnya pada penyeselan seumur hidup hingga saat ini. Ayah selalu berkata, “Education gives you dignity, pendidikan memberimu derajat. Kalau ada kesempatan jangan pernah dilewatkan, Nak. Apalagi kuliah ke Amerika.”

Kisah Ayah dan kegagalannya memperoleh pendidikan di Amerika selalu menyemangati perjuangan saya selama ini. Maka bagi para pejuang beasiswa, saya selalu berpesan untuk menentukan siapa dan apa motivasi mereka berkuliah di luar negeri, karena hal ini sangat penting untuk menjaga mood dan meningkatkan kualitas diri. Ini mengenai kepantasan untuk menerima beasiswa. Formulanya adalah execution, bukan talking.

Tiga tahun lalu, sewaktu saya sedang menjaga adik di rumah sakit lantaran kaki kirinya dioperasi, saya termenung memikirkan kondisi keluarga saya. “Saya ingin mengangkat derajat keluarga,” kata suara hati. Sepulang dari rumah sakit saya google info beasiswa ke Amerika, lalu memberanikan diri untuk menghubungi lembaga kursus Bahasa Inggris yang dikelola oleh orang native Amerika. Saat itu mereka menyatakan tidak dapat menerima pendaftar baru, namun saya memohon agar bisa ikut karena saya bermaksud mendaftar beasiswa shortcourse ke Amerika tahun itu. Semangat dan kesungguhan saya rupanya menyentuh guru native sehingga saya diterima dan dapat mengikuti kelas conversation.

Ketika pertama kali masuk kelas, bahasa Inggris saya adalah yang paling memprihatinkan dibanding yang lain. Dengan bermodalkan buku Cliffs pemberian teman, setiap kursus selesai saya selalu meminta native teacher memeriksa esai yang saya tulis untuk meningkatkan kemampuan menulis serta membahas soal-soal TOEFL di buku Cliffs tersebut. Sambil terus belajar dengan tekun, saya mempersiapkan berkas-berkas persyaratan umum yang dibutuhkan untuk mendaftar beasiswa seperti motivation letter, recommendation letter, dan application form. Melalui sebuah lembaga resmi, saya juga menterjemahkan transkrip nilai, ijazah SMA, dan KTP (karena saat itu saya belum mempunyai passport). Kendatipun pada akhirnya semua dokumen terjemahan ini tidak terpakai. Tapi tak apa, karena bagi saya semua itu termasuk proses peningkatan kemampuan bahasa Inggris yang sangat penting untuk pendaftar beasiswa luar negeri. Juga terkait skor TOEFL.

Jalan saya untuk mendapatkan beasiswa ke luar negeri tidaklah mulus. Banyak tantangan yang saya hadapi, salah satunya ejekan dari orang-orang karena saya adalah mahasiswa Pendidikan Fisika yang kemampuan bahasa Inggrisnya kurang mumpuni. Bahkan Ibu sempat khawatir jika kemungkinan kegagalan akan membawa saya pada kekecewaan yang berlarut. Tapi, yang saya inginkan saat itu hanyalah kuliah di luar negeri, bukan mobil mewah ataupun rumah besar. Maka saya tepiskan segala cemooh orang.

Rupanya dugaan Ibu benar. Saya belum lolos program shortcourse IELSP pada tahap akhir, yaitu interview. Dari sekian peserta interview, saya merupakan peserta paling muda dan satu-satunya mahasiswa dari jurusan sains. Saya sedih dan kecewa berat. Tapi saya yakin, telah lulus seleksi berkas IELSP merupakan modal hebat untuk tetap mendaftar beasiswa ke Amerika di lain kesempatan.

Cobaan besar datang lagi. Waktu saya pergi ke Bandar Lampung untuk mengikuti TOEFL ITP, rumah saya di Kalianda habis dilalap api. Saat rasa putus asa bergelimang, niatan saya teringat lagi, “mengangkat harkat keluarga”. Setiap hari saya terus merevisi motivation letter, CV, aktif dalam kegiatan organisasi dan volunteer, aktif menulis artikel di koran, dan berlatih public speaking untuk interview. Saya juga semakin yakin dengan memiliki productive mentoring dengan para senior yang berhasil mendapatkan berbagai beasiswa ke luar negeri merupakan kunci keberhasilan. Saya terus menjaga keyakinan terhadap diri bahwa Yang Maha Kuasa akan membuka pintu jalan.

Graduation of SUSI Program

Oktober 2012, saya kembali memberanikan diri mendaftar beasiswa Study of the U.S. Institutes for Student Leaders on Religious Pluralism and Democracy (SUSI RPA) yang diadakan oleh Kedutaan Amerika Serikat Jakarta. Untuk mendapatkan formulir, saya harus mengirimkan e-mail ke kedutaan. Saya menunggu selama dua hari di kampus untuk mendapatkan surat rekomendasi dari Dekan. Softcopy formulir yang telah diisi dikirimkan kembali ke e-mail kedutaan. Sebulan kemudian saya mendapatkan telepon dari Kedutaan Amerika. Phone interview itu hanya menanyakan informasi pribadi. Seminggu kemudian, saya mendapatkan berita mengejutkan bahwa saya lolos beasiswa SUSI RPA dan akan diberangkatkan ke Philadelphia bulan Januari 2013. Proses yang sangat cepat. Deadline pendaftaran Oktober, pengumuman November, pembuatan visa Desember, dan pemberangkatan bulan Januari.

Tapi tidak semua gembira dengan kabar beasiswa ini. Banyak yang berujar jika saya mengambil kesempatan ini, otak saya akan dicuci, dan sebagainya. Saya menolak mendengarkan perkataan yang tidak membangun tersebut. Saya yakin ini peluang besar untuk meningkatkan kapasitas diri dan unjuk gigi di skala internasional.

Selama berkuliah di Temple University, kami belajar mengenai U.S. Democracy, Roots of Religious Tolerance, Volunteerism in Pluralist Society, Diplomacy, Public Speaking, Immigration, Race and Ethnicity, Human Rights, Leadership, dan Negotiation. Pembelajarannya pun tidak hanya berkutat di kelas. Kami banyak belajar melalui kunjungan ke tempat-tempat peribadatan, dan perkuliahan di tempat-tempat penting dan historis seperti markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa New York, Istana Putih Presiden Amerika di DC, Kantor Human Rights Watch di Empire State Building NY dan masih banyak lagi. Yang terpenting, kami diajarkan untuk mencintai Indonesia dan berkontribusi kepada Indonesia melalui proyek-proyek perdamaian dan sosial yang akan kami pimpin ketika pulang ke tanah air.

Jujur, kuliah di Amerika Serikat sangat menyenangkan. Para dosen benar-benar membimbing agar kami pintar. Saya juga mendapat banyak teman baru. Bonusnya program ini, seluruh biaya pembuatan visa, tempat tinggal, makan, transportasi, bahkan uang jajan dan asuransi ditanggung pemerintah Amerika. Belajarnya pun tidak hanya di satu negara bagian. Kami pergi ke New York, diterbangkan ke Florida, lalu ke Washington DC, dan Maryland. Saya bersyukur bisa mengikuti program ini. Bahkan tawaran beasiswa pendidikan S2 di Amerika jurusan Pendidikan Sains ataupun Teknologi Pendidikan dari salah satu dosen. Program ini semakin menunjukkan banyaknya kesempatan berharga yang diperoleh, terutama dalam menjalin jaringan (networking). Pengalaman saya selama mengikuti program SUSI ini pun sangat berguna ketika saya mengikuti tiga konferensi Model of United Nations secara berturut-turut di Italia, Belgia, dan Swiss, pada Maret 2014 lalu.

Saat ini saya sedang mempersiapkan diri agar layak mendapatkan beasiswa magister ke Eropa. “Doakan saya ya, para pembaca!” Pesan saya, “Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpimu. Kamu tidak akan pernah tahu apa yang Tuhan sediakan bagi masa depanmu, jika kamu tidak pernah memulai dan berusaha.”

Lancaster, Pennsylvania

 

Semua foto disediakan oleh penulis.

  • Pengalaman yang luar biasa mbak. Saya mau bertanya untuk mendapat informasi mengenai short-course di USA itu dari mana ya?
    Terima kasih.

    • Hetty Samosir

      Hi Wisnu,
      untuk mendapatkan informasi tsb kamu dapat berkunjung ke webiste US Embassy Jakarta, lalu pilih “Study in the U.S”, Pilih “Scholarship and Exchange Programs”. Good luck

      • stevi

        Hi kak sangat menginspirasi sekali pengalamannya..btw, klo utk lulusan D3 dan sudah menikah bisa tidak utk ikut program ini?

  • Yeni Wijayanti

    SubhanAllah, keren banget banget perjuangannya Mbak Hetty, semoga cita-cita mendapat beasiswa segera dikabulkan oleh Tuhan.
    Aamiin 😀
    Saluuut banget mbak :-bd

    • Hetty Samosir

      Thank you Yeni. Aku ikutan Indonesia Mengglobal mentorship program untuk mencapai cita-cita lanjut master ke Eropa ini, Amin. Thanks doanya. Sukses juga ya buat kamu.

  • Hariyanto Arser

    kira-kira habis biaya berapa ya

    • Hetty Samosir

      Setelah pengumuman seleksi, biaya yang keluar cuma untuk membuat passport aja. Kalau sudah punya passport ya ndak perlu keluar biaya lagi :)

  • Audra

    hai kak, thank you for your post! jd sumber inspirasi banget, semoga dapet beasiswa ke eropanya :) can I get your email address if you don’t mind? I’d love to talk to you about scholarship 😀

    • Hetty Samosir
      • elsa wora

        kak boleh nanya2 informasi beasiswa pendidikan fisika di eropa nggak??

  • Epandri Susanto

    thanks kak,
    so inspiring story :) n sangat membangun,
    semoga kk layak mendapatkan scholarship ke Eropanya :)

  • Wah makasih sharing-nya mbak, eh kayaknya kita ketemu di Bali di acara IYD 2014 bukan ya? Haha.

    • Hetty Samosir

      Iya bener ketemuan di IYD Bali 2014 😀

  • Bibe Oxx

    saya juga dari lampung mbak, skrg usia 21 tahun aku bekerja ditelkom sebagai graphic designer. tapi aku belum s1 aku terharu membaca tulisan ini. aku sudah bermimpi sejak lama agar bisa kuliah short course diluar negeri. tapi sampai skrg semua itu belum terwujud, ditambah lagi saya bukan orng yang pintar dan saya belum melanjutkan kuliah. mimpi saya seperti tersendat begitu saja:”(

    • Hetty Samosir

      Halo Bibe Oxx, Semangat terus. Pasti ada jalan kalau ada kemauan. Saya juga gak pernah nyangka bisa dapatin semuanya ini, anugrah Tuhan. Saya lagi tertarik banget buat belajar graphic design di Swiss.

  • Rohmat Romadhon

    hi kak, saya tertarik dengan cerita kakak. saya juga berharap secepatnya untuk dapat belajar bahasa inggris di negara yg menggunakan bahasa tersebut.
    kalau boleh saya bertanya, bagaimana yah mencari info tentang shortcourse tersebut? karena saya masih minim informasi tentang hal tersebut. terima kasih :)

  • Vina Vunky

    Tulisan yg cukup memotivasi. Awal baca, saya kirain yg nulis adalah cowk. Ternyata stlh scroll down kebawah futu cewk. Dan ternyata kamu br samosir. Saya jg br samosir yg sgt ingin melanjutkan study ke LN. Blh minta kontak emailnya ?

  • Thessa BorSam

    Untuk kedua kalinya saya menemukan boru samosir yang hebat! Semoga saya bisa mengikuti jejak kak hetty!

  • Thessa BorSam

    Boleh donk share email dan facebook nya. Thankyouuu!!

  • tria widiawati

    thank you udah mau sharing, ceritanya menginspirasi banget, saya juga punya mimpi yang sama, saat ini saya sedang meningkatkan kemampuan bahasa inggris saya,,
    semoga dapat segera menyusul mbak buat kuliah di luar negeri..
    semangat terus ya mba…

  • alenda

    kak belajar bahasa inggris di Amerika itu berapa lama? terimakasih
    nanti email kakak tanyak2?