Jangan Takut Melamar ke Ivy League Law Schools

Jangan Takut Melamar ke Ivy League Law Schools

Sebuah email masuk ke dalam inbox saya di akhir Desember 2012, dari Alumni Relation University of Pennsylvania Law School (“Penn Law”). Seperti email ditahun-tahun sebelumnya, email tersebut menginformasikan mengenai berita-berita dan update terbaru dari Penn Law. Seperti biasa informasi yang paling saya cari adalah adakah peserta Program LLM Penn Law dari Indonesia tahun ini.

Bagian awal dari email tersebut memberikan harapan yang besar dengan bunyi sebagai berikut:

… this past August, we welcomed over 110 LLM students from more than 40 countries.

Semenjak Saya lulus Penn Law di 2010, baru ada satu orang dari Indonesia yang lulus dari Penn Law, yaitu di tahun 2011. Di tahun kelulusan 2012 tidak ada satu orang pun mewakili Indonesia di program LLM Penn Law. Sebelumnya bahkan lebih lama lagi: dari penelusuran yang Saya lakukan, terakhir warga negara Indonesia yang lulus dari Penn Law, hanya 1 orang, di tahun 2001. Jadi sejak tahun 2000 sampe 2011, baru ada 3 orang Indonesia yang lulus dari Penn Law.

Informasi dalam email tersebut sedikit memberikan harapan sebab pada saat saya kuliah jumlah mahasiswa program LLM hanya sekitar 90 orang dari sekitar 20-an negara. Jumlah yang ada sekarang jelas lebih banyak sehingga kemungkinan ada orang Indonesia yang masuk dalam Program LLM dengan tahun kelulusan 2013 ini pun semakin besar.

Setelah melakukan pencarian dengan mekanisme “Ctrl-F” dengan kata kunci “Indonesia” sebanyak 3 kali, Saya mulai khawatir bahwa untuk tahun kelulusan 2013 juga Indonesia tidak akan terwakili di Penn Law. Akhirnya Saya pun melakukan penelusuran nama satu per satu, dan tampaknya kekhawatiran Saya benar, tidak ada warga Indonesia yang ikut dalam program LLM untuk tahun kelulusan 2013.

Jika dibandingkan dengan negara-negara di Asia lainnya seperti Jepang, Korea, Cina, dan India yang dari tahun ke tahun selalu mengirimkan lebih dari lima bahkan sampai belasan orang di program LLM Penn Law, jumlah mahasiswa Indonesia amat jauh tertinggal.

Bahkan jika dibandingkan dengan negara tetangga kita, seperti Thailand, Malaysia dan Singapura, jumlah mahasiswa yang ikut Program LLM Penn Law dari negara-negara tersebut secara konsisten lebih dari 2-3 orang setiap tahunnya, masih di atas jumlah mahasiswa asal Indonesia.

Berdasarkan diskusi-diskusi dengan teman-teman lain yang lulus dari sekolah-sekolah hukum terbaik lain di Amerika, hal sebagaimana dijelaskan di atas juga dialami mereka. Kenyataannya jumlah murid asal Indonesia di sekolah-sekolah hukum terbaik di Amerika amatlah minim. Kondisi ini jelas disayangkan dan perlu mendapatkan perhatian dari kita semua.

Karena penasaran, saya pun membalas email dari sang alumni relation officer untuk menanyakan perihal minimnya jumlah murid asal Indonesia dari tahun ke tahun. Tidak berapa lama pertanyaan saya ini pun dijawab dengan fakta bahwa memang jumlah aplikasi yang diterima oleh bagian penyeleksi Penn Law sangat sedikit tiap tahunnya dan bahkan ada beberapa tahun yang tidak ada aplikasi sama sekali yang dikirimkan oleh calon mahasiswa dari Indonesia. Dari jumlah aplikasi yang memang sudah sedikit dari awalnya itu, jumlah aplikasi yang patut dipertimbangkan dan telah dipersiapkan secara baik dan matang semakin sedikit. Hal ini lah yang mengakibatkan kecilnya angka penerimaaan murid asal Indonesia di Penn Law.

Mengenai persiapan aplikasi dan bagaimana menyampaikan aplikasi yang baik dan tepat sasaran, telah beberapa kali dibahas dalam posting yang telah ada di sini. Namun, postingan-postingan tersebut belum mendiskusikan mengenai permasalahan yang tidak kalah pentingnya, yaitu terkait minimnya jumlah aplikasi yang dikirimkan itu sendiri.

Setelah berdiskusi dan menanyakan perihal permasalahan ini dengan beberapa teman Saya yang kebetulan berniat untuk sekolah di Amerika, ternyata ada masalah kepercayaan diri yang mengakibatkan calon-calon pelamar merasa ragu-ragu untuk mengirimkan lamarannya ke sekolah-sekolah terbaik di Amerika, selain tentunya masalah klise yang umumnya dihadapi, yaitu masalah finansial.

Mengenai permasalahan finansial, Saya tidak ingin terlalu membahas dalam kesempatan ini, karena sebenarnya beberapa posting dalam website ini juga sudah cukup banyak menyentuh dan mendiskusikan mengenai masalah ini. Intinya, bagi Saya, dalam masalah finansial percayalah apa yang sering diucapkan orang bijak yaitu “di mana ada niat, di situ ada jalan”. Banyak alternatif untuk bisa mengumpulkan uang demi sekolah di Amerika yang dapat ditempuh, antara lain dengan menabung, meminjam uang, menjual aset atau mencari sponsor atau beasiswa. Khusus terkait beasiswa juga telah banyak dibahas dalam posting-posting dalam website ini.

Permasalahan yang tidak kalah krusialnya di samping masalah finansial yang mengakibatkan sedikitnya pelamar pada sekolah-sekolah hukum terbaik di Amerika adalah masalah kepercayaan diri si calon pelamar itu sendiri. Tidak jarang terdengar alasan-alasan sebagai berikut sebagai pembenaran tidak dikirimkannya aplikasi ke sekolah-sekolah hukum terbaik di Amerika:

(i) “Kan IPK Saya tidak bagus untuk bisa diterima oleh [isi nama sekolah-sekolah hukum terbaik di Amerika]“

(ii) “Wah.. Saya tidak punya tulisan hukum yang dipublikasikan”.

(iii) “Saya tidak punya prestasi di kampus maupun di luar kampus”.  

(iv) “Pengalaman kerja Saya tidak cukup menjual untuk dimasukkan ke surat aplikasi”

(v) “Lebih baik Saya melamar ke sekolah A atau di sekolah di negara B yang sudah lebih pasti/mudah diterima”.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa dengan memiliki CV yang berisikan IPK yang cum laude, memiliki tulisan-tulisan hukum yang telah dipublikasikan di jurnal-jurnal hukum nasional maupun internasional, pernah menjadi pemenang lomba debat/moot court di level internasional, pernah menjadi Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa/organisasi kampus lainnya dan pengalaman kerja di bawah pengawasan langsung seorang Dekan Fakultas Hukum/Ketua Mahkamah Agung/Menteri/Presiden Republik Indonesia, maka peluang si pelamar akan semakin besar untuk diterima.

Namun berdasarkan pengalaman pribadi, faktor-faktor yang disebutkan dan dikhawatirkan di atas ternyata bukan faktor satu-satunya yang menentukan diterima atau tidaknya kita dalam sekolah-sekolah hukum terbaik di Amerika. Sebagai contoh (walaupun kurang baik): IPK Saya kurang dari 3,00; ini tulisan pertama Saya yang dipublikasikan; Saya tidak pernah ikut lomba debat/mooting, apalagi menang; tidak aktif di organisasi; dan pengalaman kerja satu-satunya adalah sebagai associate di suatu law firm di Jakarta (sampai dengan saat ini). Kekurangan saya tersebut diatas tidak menghentikan tekad Saya untuk mengirimkan lamaran ke sekolah-sekolah hukum di Amerika.

Dengan filosofi “nothing to lose”, 5 surat aplikasi pun dikirimkan masing-masing ke New York University, Penn, Chicago, Northwestern, dan Boston University (Kenapa tidak ke Harvard, Stanford, Columbia? Ada cerita lain di balik keputusan itu yang mungkin perlu ada di posting terpisah). Hasilnya  aplikasi ke Penn, Chicago, Northwestern di masukkan waitlist, sedangkan aplikasi ke BU diterima dan ke NYU ditolak. Akhirnya di detik-detik terakhir, setelah menyampaikan beberapa dokumen tambahan (letter of continuing interest, surat rekomendasi tambahan dari alumni), aplikasi di Penn dinyatakan diterima (untuk detil ceritanya mungkin perlu ada postingan terpisah juga :) )

Pesan yang ingin saya sampaikan adalah

(i) Jika masih ada kesempatan, bekerja keraslah untuk mempercantik CV Anda baik dari sisi akademis, ekstrakurikuler, karir, profesi dan lain sebagainya;

(ii) Meskipun kesempatan tersebut di poin (i) sudah lewat, bukan berarti Anda tidak bisa melamar dan diterima di sekolah-sekolah hukum terbaik di Amerika, karena dengan tekad yang kuat, bantuan dari teman-teman yang berpengalaman dengan aplikasi, serta pengemasan cerita yang tepat dan menarik, tidak tertutup kemungkinan kekurangan-kekurangan yang kita miliki bisa justru menjadi kelebihan kita karena kita menunjukkan suatu karakteristik yang dicari oleh si penyeleksi murid Program LLM tersebut.

Sebagai bagian akhir dari tulisan ini, Saya ingin menyampaikan hasil diskusi dengan teman-teman LLM saya dari Jepang, Korea, China, dan India. Setiap tahunnya ada sekitar 1.000 aplikasi disampaikan kepada tiap-tiap sekolah hukum terbaik di Amerika, sehingga persentase penerimaan mahasiswa asal negara-negara tersebut juga sewajarnya menjadi besar. Semoga hal ini juga akan diikuti oleh Indonesia, dengan meningkatkan jumlah pelamar dari Indonesia sehingga jumlah mahasiswa yang diterima sekolah-sekolah hukum terbaik di Amerika juga semakin meningkat.

Photo credit: Jeffrey M. Vinocur on Wikimedia Commons.




===========================================
Renaldi earned a master of laws degree from the University of Pennsylvania in 2010, and a bachelor of law degree from the University of Indonesia in 2004. He currently works as a senior associate at Assegaf Hamzah and Partners, a full-service Indonesian law firm ("AHP"). At AHP, Renaldi concentrates his practice on capital markets work, and has played a leading role in various high-profile corporate finance transactions, including debt and equity offerings, and mergers and acquisitions.
Posts | Twitter | LinkedIn