Tentang Kuliah di Inggris

Tentang Kuliah di Inggris

Halo! Perkenalkan, nama saya Nofie Iman. Saya alumni dari Universitas Gadjah Mada (Accounting) dan University of Manchester (Management). Saat ini saya sedang mengambil studi PhD di London School of Economics (LSE). Saya ingin berbagi informasi tentang pendidikan di Inggris berdasarkan pengalaman saya selama berada di negara ini.

Tulisan ini saya buat untuk memudahkan teman-teman yang ingin mengambil sekolah di Inggris, baik itu level sarjana/undergraduate, pascasarjana/master, maupun doktoral. Beberapa tahun lalu, saya sudah dibantu oleh banyak teman dan kakak angkatan yang menjawab kebingungan saya. Sebagai bentuk “pay it forward,” saya coba rangkum informasi yang saya punya untuk dibagi ke semua teman-teman yang membutuhkan.

Tentang Inggris

Negeri ini nama resminya adalah “The United Kingdom of Great Britain and Northern Ireland.” Ada empat “negara” kecil di dalamnya, yaitu England, Scotland, Wales, dan Northern Ireland. England ibukotanya London, Scotland ibukotanya Edinburgh, Wales ibukotanya Cardiff, sedangkan Northern Ireland beribukota di Belfast. Sementara itu, Republic of Ireland tidak masuk dalam gabungan ini. Kamu tidak bisa masuk ke Republic of Ireland dengan visa Inggris.

Great Britain, atau Britania Raya, merujuk pada pulau besarnya Inggris, yang terdiri dari kerajaan (kingdom) England, kingdom of Scotland, dan principality of Wales. Orang kadang menyebut Britain untuk mempersingkat, walaupun menurut sejarahnya, nama “Britannia” sebenarnya digunakan untuk menyebut England dan Wales saja. Sementara United Kingdom adalah Great Britain tapi ditambah Northern Ireland (Northern Ireland sendiri berada pada pulau besar yang sama dengan Republic of Ireland).

Ada kalanya, negeri ini turun sebagai satu kesatuan Great Britain seperti di Olimpiade lalu. Tapi ada kalanya saling berantem antara England, Scotland, dan Wales, seperti misalnya di Piala Eropa atau Piala Dunia. Jadi, jangan bingung antara England, Great Britain, dan United Kingdom ya. Nah, daripada saya tulis “The United Kingdom of Great Britain and Northern Ireland” yang panjang, di tulisan ini saya sebut saja Inggris untuk lebih mudahnya.

Menurut data dari KBRI London, sebagian besar pelajar/mahasiswa Indonesia di Inggris terkumpul di kota-kota Birmingham, Manchester, Leeds, dan Newcastle. Di London sendiri cukup banyak orang Indonesianya, tetapi kebanyakan bukan pelajar/mahasiswa. Kota-kota seperti Manchester, Birmingham, dan Nottingham masih jadi favorit. Sementara bidang studi yang diambil kebanyakan business/management (termasuk di dalamnya economics, finance, accounting).

Universitas tertua di Inggris adalah Oxford (berdiri 1096) yang didirikan oleh sekumpulan scholar yang diusir dari University of Paris. Di tahun 1209, berdiri University of Cambridge yang merupakan pecahan dari University of Oxford. Salah satu alumni dari Cambridge, John Harvard, kemudian mendirikan Harvard College di tahun 1639 (yang kemudian menjadi Harvard University). Di abad ke 15-17 sendiri banyak universitas berdiri di seantero Inggris. Saat ini, dari ujung selatan (Exeter, Portsmouth), hingga ke utara (Dundee, Aberdeen), bisa kamu temukan universitas-universitas yang cukup bagus.

Jangan kuatir soal kualitas universitas-universitas di Inggris karena semuanya dikelola dan diawasi secara ketat oleh pemerintah. Kalau ada universitas abal-abal, pasti ditindak langsung oleh pemerintah. Sebagai contoh, London Metropolitan University sempat diberi peringatan keras pada Agustus 2012 lalu karena terbukti banyak mahasiswanya yang menyalahgunakan visa bukan untuk belajar, melainkan untuk bekerja/imigran ilegal (setelah ditinjau ulang, UK Border Agency mencabutnya di akhir 2012 kemarin).

S1 (Undergraduate) di Inggris

Secara umum, jalur masuk ke program undergraduate di Inggris bisa ditempuh melalui jalur A-level atau IB (2 tahun) atau jalur foundation (1 tahun). Hal ini disebabkan karena jenjang pendidikan dasar-menengah di Indonesia berbeda dengan di Inggris (selengkapnya bisa dilihat di sini). A-level/IB seperti kurikulum sekolah di level SMA, di mana nanti ada ujian akhir dan kamu bisa mendaftar ke universitas yang dituju dengan modal nilai tersebut. Tentu saja universitas bagus membutuhkan skor yang lebih tinggi karena pesaingnya jauh lebih kompetitif.

Sementara itu, foundation lebih mirip dengan pre-university, di mana kamu akan belajar selama 1 tahun dengan mata pelajaran yang lebih spesifik sesuai dengan program studi dan universitas di mana kamu akan belajar. Misalnya, kamu ingin mengambil kuliah di University College London (UCL), maka kamu bisa terlebih dahulu mengambil foundation seperti University Preparatory Certificate for Science and Engineering (UPCSE) atau University Preparatory Certificate for the Humanities (UPCH), tergantung program studi yang kamu tuju.

Biasanya, jalur A-level lebih diakui daripada jalur foundation. Kebanyakan teman-teman undergraduate di sini masuk lewat jalur A-level. Sebagai gambaran juga, Oxford dan Cambridge hanya menerima A-level. LSE bisa menerima foundation, tetapi kamu akan diminta untuk mengambil school entrance examination lagi. Itupun dengan syarat nilai foundation-nya meraih distinction dengan nilai minimum 70% di seluruh course unit.

Selain A-level atau foundation, syarat lain yang diminta untuk masuk ke program undergraduate di Inggris adalah kemampuan Bahasa Inggris yang tercermin lewat skor IELTS. LSE meminta skor minimum 7.0 across all four categories. [Note: Mohon agar dicek ke masing-masing universitas dan program studi yang dituju karena requirement-nya bisa berbeda-beda. Jangan ragu bertanya kepada undergraduate admissions officers tentang persyaratan ini.]

S2 (Masters Degree) di Inggris

Secara umum, program master di Inggris terbagi menjadi dua, yaitu taught programme dan research programme. Taught programme ada bermacam-macam, mulai dari PGCert, PGDip, MA, MSc, LLM, dan MBA. Sedangkan research programme antara lain MPhil dan MRes.

PGCert (Postgraduate Certificate) ini setara dengan final year untuk level bachelors degree with honours, tetapi masih di bawah postgraduate course. PGCert boleh dibilang semacam “foundation” untuk masters level. Sedangkan PGDip (Postgraduate Diploma) biasanya diberikan kepada mereka yang sudah menyelesaikan course unit untuk level master, tetapi belum menulis disertasi (tugas akhir). Jangka waktu PGCert dan PGDip biasanya sekitar 9 bulan.

MA (Master of Arts) dan MSc (Master of Science) adalah pendidikan level master, terdiri dari kelas (lectures), ujian (exam), dan riset (dissertation). Keduanya bisa ditempuh dalam waktu 1 tahun (full-time). Demikian juga dengan LLM (Master of Law), tetapi LLM fokus pada bidang hukum. Sedangkan MBA (Master of Business Administration) adalah pendidikan master untuk bidang bisnis, dengan lama studi berkisar antara 18-24 bulan. Mereka tidak menulis disertasi, tetapi lebih seperti final report atau consulting project. (Oh iya, di Inggris tugas akhir master disebut disertasi, sementara tugas akhir doktoral disebut thesis.)

MPhil (Master of Philosophy) biasa disebut juga senior master atau second master, yaitu merupakan jenjang antara master dan PhD. Sedangkan MRes (Master of Research) adalah seperti Master of Science by Research. Biasanya mereka yang akan mengambil studi doktor, akan terdaftar terlebih dahulu sebagai mahasiswa MPhil atau MRes, sebelum nantinya akan diuji untuk “upgrading” menuju PhD.

Setahu saya, kebanyakan mahasiswa Indonesia di Inggris mengambil studi jenjang MA atau MSc. Biasanya program master di Inggris diselenggarakan dalam kelas kecil (kurang dari 30 orang) untuk memaksimumkan interaksi dosen/mahasiswa dan memperbanyak diskusi/sharing. Kalau kamu mengambil studi di Inggris, gelar yang diberikan tidak dilengkapi dengan semacam skor GPA (atau IPK), melainkan dengan kategori Fail, Pass, Pass with Merit, atau Pass with Distinction.

Untuk diterima di program master di Inggris sejujurnya relatif tidak sulit. Kebanyakan universitas menyediakan online form berisi beragam pertanyaan yang harus kamu isi dengan lengkap (umumnya gratis). Kamu juga akan diminta untuk menulis letter of motivation yang menjelaskan siapa kamu, mengapa kamu memilih jurusan/sekolah ini, apa rencana kamu ke depan, dsb. Kamu juga perlu mengirimkan referensi, bisa dari mantan dosen di S1 kamu atau atasan kamu (kalau sudah bekerja).

Selain itu, kamu juga perlu mengirimkan bukti ijazah dan transkrip pendidikan kamu sebelumnya dan skor IELTS yang tak lebih dari 2 tahun. Skor minimum yang diminta berkisar 6.5-7.0 untuk bidang science/engineering dan 7.0-7.5 untuk humanities/business/law. Untuk program studi tertentu mungkin juga akan meminta standardised test seperti GRE dan GMAT dengan skor minimum tertentu. Beberapa sekolah/program studi juga akan mewawancari kamu sebagai bagian dari assessment mereka.

S3 (PhD atau DPhil) di Inggris

Studi tingkat doktor di Inggris bisa ditempuh paling cepat 3 tahun (full-time) atau 6 tahun (part-time). Seperti sudah disinggung di atas, biasanya mahasiswa doktoral di Inggris akan terdaftar terlebih dahulu sebagai mahasiswa MPhil atau MRes. Pada akhir tahun pertama setelah menyelesaikan required course-nya, akan ada ujian “upgrading” sebagai seleksi apakah kamu layak untuk melanjutkan penelitian kamu. Ini berbeda dengan program doktoral di Amerika atau Kanada yang mengharuskan dua tahun coursework dan preliminary exam, di Inggris coursework tersebut hanya sekitar 1 tahun. Tapi, ada kalanya supervisor meminta kamu untuk sit-in di kelas lain yang dianggap relevan atau membantu riset kamu.

Sama seperti di atas, persyaratan untuk mendaftar program doktoral kurang lebih mirip dengan program master. Tapi ada beberapa dokumen tambahan yang diperlukan, yaitu research proposal dan list of publications. Research proposal berisi 8-10 halaman proposal riset yang akan kamu teliti bila nantinya diterima. Sekolah akan melihat apakah proposal ini sesuai dengan program/prioritas mereka atau tidak. Sekolah juga melihat apakah ada pembimbing yang sesuai dan bersedia membimbing kamu. Jadi, ada baiknya menghubungi calon supervisor terlebih dahulu sebelum mengajukan aplikasi kamu. Pastikan beliau bersedia membimbing kamu. Ini akan memperkuat aplikasi kamu.

List of publications adalah lampiran tulisan ilmiah yang pernah kamu buat. Bisa berupa artikel dalam jurnal ilmiah, conference paper, working paper, atau publikasi lainnya. Sekolah ingin melihat kemampuan kamu menulis (meneliti) dengan baik, jadi perbanyaklah portofolio tulisan kamu. Tentu saja, dalam bahasa Inggris yang baik ya. Kalau punya pengalaman mengajar, tentu akan jadi poin plus. Di sini, kamu bisa nyambi sebagai teaching assistant. Selain dapat tunjangan (waive tuition fee), pengalaman mengajar bagus untuk memperkaya CV kamu kalau kamu bekerja di dunia akademik.

Di Inggris, mahasiswa PhD cukup beragam, ada yang berusia 25 tahun, langsung dari S1/S2. Tapi ada juga yang sudah berusia 40 tahun dengan segudang pengalaman kerja. Program PhD biasanya didominasi oleh mahasiswa-mahasiswa internasional dibandingkan mahasiswa asli Inggris. Mengapa begitu? Umumnya mahasiswa asli Inggris membiayai sekolahnya menggunakan student loan, sehingga mereka lebih memilih untuk bekerja setelah lulus S1/S2 dan melunasi student loan mereka.

Ada Beasiswanya Nggak?

Inggris memang salah satu negara yang terpukul akibat krisis 2008 lalu. Akibatnya, mereka banyak membatasi skema beasiswa yang semula dibuka untuk siapapun (worldwide), kini menjadi hanya terbatas untuk orang Inggris (UK) atau Uni Eropa (EU) saja. Tapi jangan menyerah, masih banyak kok beasiswa yang tersedia selama kamu mau berusaha mencarinya.

Secara umum, ada dua jenis beasiswa. Pertama, adalah beasiswa yang diberikan oleh lembaga donor yang tidak terafiliasi dengan sekolah. Lembaga donor ini ada yang berasal dari luar negeri, seperti World Bank lewat skema JJ/WBGS Program, Open Society Foundation milik George Soros, Islamic Development Bank (IDB) lewat skema Merit Scholarship Programme for High Technology (MSP), Jardine Foundation, Ancora Foundation, dan yang paling terkenal, beasiswa Chevening dari British Council.

Selain lembaga donor luar negeri, Pemerintah Indonesia juga memberikan beasiswa lewat Beasiswa Dikti (untuk dosen yang sudah memiliki jenjang kepangkatan), Beasiswa Unggulan (untuk calon dosen), dan Beasiswa SPIRIT dari Bappenas yang diperuntukkan bagi para PNS.

Nah, selain dari lembaga donor dan sponsor yang tak terafiliasi dari sekolah, ada kalanya sekolah yang bersangkutan memberikan beasiswa sendiri. Besarnya beragam. Ada yang hanya memberikan tuition fee waiver, ada yang mendanai living cost kamu, ada pula yang membiayai kombinasi keduanya. Kamu bisa cek di website sekolah yang kamu tuju di bagian financial aid atau financial support. Khusus di Inggris, kamu bisa juga cek ke website Jobs.ac.uk untuk melihat beasiswa jenis ini.

Saran-saran

Nah, kalau kamu sudah memantapkan diri untuk melanjutkan studi ke Inggris, berikut ada beberapa hal yang perlu sebaiknya kamu perhatikan.

(1) Persiapkan segala sesuatunya jauh-jauh hari. Seperti kamu bisa baca sendiri di ulasan sebelumnya, sekolah di luar negeri butuh persiapan. Kamu perlu belajar dan mengambil tes IELTS. Kamu butuh transkrip dan legalisir ijazah. Kamu juga harus meminta referensi dari beberapa orang. Belum lagi kalau kamu akan mendaftar beasiswa. Perhatikan rentang waktu (timeline) dan persiapkan dengan matang. By failing to prepare, you are preparing to fail.

(2) Pilih jurusan yang sesuai dengan minat dan cita-cita kamu. Jangan “pokoknya asal Inggris,” atau “asal bisa nonton Manchester United”, atau “apa aja asal ada beasiswanya.” Juga jangan asal memilih sekolah semata-mata karena teman/saudara/pacar kamu juga sekolah di sana. Selain itu, jangan apply sekolah ke luar negeri cuma karena kamu sudah lulus, belum ada kerjaan, bingung mau ngapain — please don’t do that.

(3) Whenever possible, pilih sekolah studi sebaik mungkin, karena sekolah itu nantinya akan melekat di namamu seumur hidup. Jangan takut untuk “menembak” ke sekolah yang bagus. Rejeki orang tak ada yang tahu bukan? Saran saya, pilih kampus yang tergabung dalam “Russel Group“, yaitu 24 universitas terbaik di Inggris yang punya kualitas riset dan pengajaran serta punya kedekatan dengan dunia bisnis dan sektor publik. Kalau kamu PNS atau dosen, ada baiknya cek sekolah kamu di Dikti agar nantinya ijazah kamu bisa “disetarakan” dan digunakan untuk mengurus kepangkatan.

(4) Pilih kota yang sesuai dengan diri kamu. Ada yang suka kota besar, metropolitan, banyak tempat hiburan, atau banyak orang Indonesianya di sana. Kalau kamu masuk kategori ini, kamu bisa pilih London, Manchester, atau Birmingham. Tapi ada juga yang suka kota yang kecil, di mana kamu bisa belajar dengan tenang, dan sedikit orang Indonesianya, jadi kamu bisa bergaul dengan teman-teman internasional. Kalau kamu termasuk yang ini, kamu bisa pilih kota seperti Oxford, Cambridge, Bath, Coventry, atau Bedfordshire.

(5) Jangan segan bertanya kepada admissions officers tentang syarat-syarat untuk bisa diterima di sekolah/program studi tersebut. Mereka biasanya sangat responsif dan cepat tanggap membalas pertanyaan kamu. Tak jarang juga mereka sampai mengirimkan booklet/brosur secara cuma-cuma ke alamat kita di Indonesia.

(6) Kalau ada pertanyaan yang lebih spesifik tentang pelajar Indonesia di sekolah atau kota yang kamu tuju, cobalah hubungi melalui PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia). Di Inggris, ada PPIUK yang punya mailing list dan website cukup aktif. Cek juga PPI di masing-masing kota, seperti PPI-GM (Manchester), PPI-London, PPI-Cambridge, dsb. Bergabunglah ke mailing list/forum mereka dan perkenalkan diri kamu baik-baik. Kami semua sangat welcome kepada teman-teman yang butuh informasi.

(7) Oh iya, kunjungi juga situs British Council yang dikelola oleh Pemerintah Inggris dan Atase Pendidikan dan Kebudayaan milik KBRI London. Keduanya memuat banyak informasi yang berguna.

Last But Not Least

Saya membuat tulisan ini dengan penuh keyakinan bahwa banyak teman-teman di Indonesia yang make very poor use of their talents. Banyak yang sering merasa rendah diri dan underestimate kemampuan diri sendiri padahal sebenarnya mereka mampu kalau mereka mau. Jadi, jangan takut untuk mencoba. Aim as high as the sky, even if you fall, you’ll still among the stars. Saya sendiri sudah membuktikan. I wasn’t the most popular kid, the class president, nor the son of [president/ businessman/ parliament member/ public figure/ etc]. I was no one. But I can make it. Dan kamu juga pasti bisa!

Belajar di luar negeri juga sangat menantang. Kamu akan dihadapkan pada situasi di mana kamu merasa “ditarik” sampai ke ujung limit kamu. Kamu akan dihadapkan pada masalah bahasa/aksen yang sulit dipahami, perbedaan cuaca yang drastis, makanan yang tawar nggak ada rasanya, kesepian jauh dari teman/keluarga, dan seribu satu masalah lainnya. Most people don’t like it, because it make them feel uncomfortable, painful; but it is through discomfort and stretching that we become stronger and grow. Ibarat sebuah jeruk, kamu tidak akan bisa mendapatkan sari pati terbaiknya kalau tidak memerasnya kuat-kuat.

Untuk sementara, sekian dulu dari saya. Semoga apa yang saya tulis bisa sedikit banyak memberi informasi dan inspirasi untuk berangkat melanjutkan studi yang lebih tinggi. Bila ada pertanyaan, please don’t hesitate ya.

Photo Credit: London Skyline by Tom Soper, LSE Library by SomeDriftwood




===========================================
Nofie Iman is currently pursuing PhD at the London School of Economics and Political Science, with management and innovation as the primary fields of research. His interests vary ranging from academics to sports, from music to adventure, and from playing golf to watching movies. He loves to visit places and lead a life free of tension.
Posts | Twitter | LinkedIn