Meraih Mimpi ke Langit

2
802

Hampir tiga tahun terakhir saya berkesempatan untuk dapat berkeliling Indonesia dan menemui banyak pelajar dan mahasiswa Indonesia di berbagai negara. Misi yang saya bawa simpel dan tidak rumit, memberikan informasi tentang berkuliah ke luar negeri, mencari beasiswa, membuat covering letter dan CV yang menarik dan memotivasi mereka untuk mau melanjutkan studinya ke luar negeri, simpel bukan?

Misi yang simpel tersebut mengantarkan saya untuk bicara di Universitas Sains dan Teknologi Jayapura di Papua, kemudian di Universitas Brawijaya di Malang, Universitas Syiah Kuala di Aceh, Universitas Negeri Medan di Medan, Universitas Jember di Jawa Timur, Universitas Lampung di Lampung, Universitas Hasanudin di Makasar, Universitas Yudharta di Pasuruan dan juga beberapa sekolah dan madrasah di berbagai wilayah di Indonesia.

Memberikan ceramah di Universitas Syiah Kuala di Aceh didepan 1000 pelajar dan mahasiswa di Aceh

Di Universitas Syiah Kuala di Aceh, saya dan Dr. Rizal Hariadi (Michigan University, Amerika Serikat) berbicara hampir di depan 1000 orang, saya hampir tidak percaya begitu banyak orang yang ingin mencari tau informasi tentang studi keluar negeri, di Universitas Jember bersama Ahmad Nafi (Universitas Kebangsaan Malaysia, Malaysia) kita bicara di depan hampir 200 orang, di Salafiyah di Pati, bersama Saefur Ridjal, kita bicara di hadapan hampir 300 orang, artinya apa? Artinya keinginan untuk bisa melanjutkan studi ke luar negeri tumbuh dengan penuh antusiasme di Indonesia.

Ada perasaan kagum dan bangga dengan banyak pelajar dan mahasiswa Indonesia di berbagai daerah tersebut. Mereka punya benang merah yang sama: antusiasme mereka untuk terus belajar dan kemampuan akademik mereka yang mengagumkan. Di salah satu madrasah di Semarang, saya bahkan “ditantang” untuk menggunakan bahasa Inggris dalam pembicaraan saya and believe me their English was so fluent. Hal inilah yang kemudian menumbuhkan rasa haru dan bangga atas kemampuan akademik banyak pelajar dan mahasiswa Indonesia di berbagai daerah.

Kebanggaan ini tidak boleh dibiarkan saja, tapi harus difasilitasi, diberikan ruang dan kesempatan untuk siapapun pelajar dan mahasiswa Indonesia yang kebetulan memiliki keterbatasan akses informasi untuk terus dapat melanjutkan studinya bahkan sampai ke luar negeri. Bicara kuliah ke luar negeri untuk beberapa orang terasa seperti sebuah barang mahal yang sulit diraih. Pendidikan ke luar negeri seolah dikonotasikan sebagai sebuah menara gading berlapis emas yang susah untuk dicapai. Paradigma ini harus dirubah, karena masih banyak anak-anak muda Indonesia yang cerdas dan brilian yang memiliki kesulitan akses kuliah ke luar negeri.

Informasi tentang beasiswa memang sudah mulai beredar di mana-mana, tapi terkadang memahami informasi tersebut masih cukup sulit untuk beberapa orang. Contoh: covering letter, motivation letter, reference letter, admission letter secara harafiah memang tidak sulit dipahami, tapi terkadang ada perasaan canggung, takut salah, khawatir tidak cocok, sehingga terkadang menjalani prosesnya seperti berjalan di kegelapan buat beberapa orang. Perasaan tidak pasti dan khawatir ini yang kadang akhirnya merontokkan semangat mereka untuk kuliah ke luar negeri. Oleh karena itu diperlukan pendamping yang memotivasi dan membimbing secara perlahan, tentu tidak harus terus menerus, setidaknya sampai mereka yakin bahwa mereka bisa berdiri di atas kaki mereka sendiri.

Tanggung jawab siapa yang perlu menyambut antusiasme ini ? Tidak lain adalah tanggung jawab kita yang berada di luar negeri. Kita telah mengenyam privilege untuk menikmati pendidikan di luar negeri, maka sudah selayaknyalah kita memberikan informasi ini kepada mereka, memotivasi mereka, meyakinkan mereka bahwa kuliah ke luar negeri bukanlah sebuah menara gading yang tidak bisa dimasuki banyak orang, tapi justru sebuah pintu yang memungkinkan mereka untuk bisa naik ke tempat-tempat yang lebih tinggi dalam hidup mereka, sebuah pintu yang memungkinkan mereka untuk berkontribusi lebih banyak buat bangsa Indonesia.

Memberikan ceramah di Universitas Yudharta di Purwosari, Pasuruan

Saya selalu berapi-api jika bicara tentang memberikan “kail” untuk banyak pelajar dan mahasiswa di Indonesia terutama yang berada di daerah-daerah, karena saya telah melihat dengan mata kepala saya sendiri betapa mengagumkannya pelajar dan mahasiswa Indonesia, mereka rendah hati, cerdas dan sangat ingin melanjutkan kuliah ke luar negeri.

Setiap selesai memberikan materi kuliah ke luar negeri, selalu saja ada pembicaraan-pembicaraan setelah itu dengan banyak peserta, saya melihat sorot mata mereka yang berbinar-binar tajam menceritakan betapa keinginan mereka untuk bisa terus kuliah ke luar negeri, bahkan di salah satu kampus saya melihat mereka menangis, karena begitu inginnya kuliah ke luar negeri. Kalau pengalaman seperti ini anda multiplikasi sebanyak 10 atau 20 kali tentu anda akan tau apa yang saya rasakan.

Tugas “simpel” ini , memberikan informasi ke luar negeri, mendampingi mereka, memotivasi mereka, adalah tugas yang bisa dilakukan oleh banyak orang, tugas ini tidak rumit, tidak banyak memakan waktu, tapi hati anda akan bergemuruh ketika setiap kali selesai mereka dengan antusias bercerita tentang keinginannya kuliah ke luar negeri. Sampai terkadang saya merasa bahwa sebenarnya bukan mereka yang membutuhkan kita yang kuliah ke luar negeri untuk bercerita ke mereka, kadang justru saya merasa kitalah yang membutuhkan mereka untuk bisa ke luar negeri. Kenapa? Karena ketika mereka berhasil kuliah ke luar negeri, rasa syukur dan haru itu bukan hanya milik mereka tapi juga milik kita.

Semuanya memang perlu bertahap, saat ini dengan kemampuan kita, mungkin kita hanya bisa memberikan informasi, mendampingi, memotivasi mereka tapi akhirnya ketika kita sudah memiliki kemampuan lebih, setelah kita berhasil meraih gelar doktor, sampai di posisi tertentu mungkin kita bisa berbuat lebih banyak. Kita bahkan mungkin bisa memberikan mereka beasiswa daripada hanya menginformasikan mereka tentang beasiswa tapi kita harus kerjakan apa yang bisa kita kerjakan saat ini dengan kemampuan kita.

Menjembatani pelajar dan mahasiswa di Indonesia ke luar negeri mungkin tidak semegah berbicara di forum-forum nasional ataupun internasional, terkadang untuk sampai ke lokasi tempat kita akan berbicara kita harus berganti-ganti mobil dan bus, atau tak jarang harus menaiki motor, tapi semua letih akan hilang ketika anda melihat begitu menggeloranya semangat para pelajar dan mahasiswa ini. Ini adalah tugas kita semua, saatnya kita bergerak.

SHARE
Previous articleIntroduction to the US Higher Education System
Next articleWhere should I go to college? Comparing undergraduate education in the US and the UK
Achmad Adhitya
Achmad Adhitya is a PhD student studying marine science at the University of Leiden in the Netherlands. He obtained his bachelor study in Civil Engineering at Brawijaya University, Indonesia and continued his Masters study at the University of Kiel in Germany on Coastal Geosciences and Engineering. He has work experience at the Institute for World Economics in Kiel - Germany, University of Kiel in Germany and the Royal Netherlands Institute of Sea Research in the Netherlands. He has been involved in many International projects on coastal, marine and environmental issues. Besides his academic activity, he co-founded the International Indonesian Scholars Association (IISA) in 2009 and was awarded the Indonesian Diaspora Awards for Youth Activism (2012) by the Indonesian government on the Congress of Indonesian Diaspora in Los Angeles, California.