Is there any chance to get a job in USA?

Is there any chance to get a job in USA?

It’s a shame that the only thing a man can do for eight hours a day is work. He can’t eat for eight hours; he can’t drink for eight hours; he can’t make love for eight hours. The only thing a man can do for eight hours is work.

– William Faulkner

Pada saat mengatakan perkataan tersebut, William melupakan bahwa manusia juga dapat tidur selama 8 jam, bahkan saya teringat bahwa saya sendiri memiliki rekor pribadi untuk tidur selama 16 jam. Namun demikian, kita tidak akan pernah melihat sleepless rate sebagai tolak ukur kemajuan ekonomi, sebaliknya kita selalu melihat unemployment rate sebagai indikator ekonomi. Hal tersebut membuktikan betapa pentingnya pekerjaan baik dalam skala pribadi hingga skala makro. Pekerjaan dapat menentukan kelangsungan hidup sebuah keluarga dan dalam lingkup lebih luas, pekerjaan dapat menentukan laju pertumbuhan sebuah negara. Singkatnya, pekerjaan adalah sesuatu yang berharga.

Pertanyaan yang muncul dalam konteks bahasan ini adalah bagaimana cara mendapatkan pekerjaan dan berkarir di Amerika Serikat?

Selama berada dibawah matahari dan bulan yang sama, setiap individual memiliki kesempatan yang sama untuk melakukan apapun. Apakah seseorang tersebut pada akhirnya menjadi berhasil atau gagal, itu tergantung dengan jalan hidup dan kerja keras masing-masing, namun kita semua memiliki kesempatan yang sama. Begitu juga untuk mendapatkan pekerjaan di Amerika Serikat, semua orang dari latar belakang apapun memiliki kesempatan untuk dapat bekerja di negara ini, hal yang perlu dilakukan sekarang adalah bagaimana melihat, memperbesar dan mempergunakan pintu kesempatan tersebut sebaik-baiknya.

Artikel yang dikeluarkan Immigration Policy Center kurang lebih 1 tahun lalu mengutarakan bahwa sekalipun dalam masa ekonomi seperti sekarang , Amerika Serikat tetap membutuhkan tenaga kerja terampil dari negara lain [1]. Beberapa basis untuk konklusi tersebut adalah:

  1. Inovasi dan lapangan pekerjaan baru di Amerika Serikat bersandar kepada foreign scientists dan foreign engineers.
  2. Pekerja dengan status visa H-1B tidak mengurangi lapangan kerja penduduk Amerika Serikat sendiri.
  3. Seiring dengan berkurangnya produktifitas dan populasi penduduk Amerika Serikat, tenaga kerja asing terampil memegang peranan penting untuk ekonomi Amerika Serikat.
  4. Perusahaan Amerika Serikat secara tidak langsung telah mendukung pertumbuhan negara melalui pajak, biaya dan kontribusi sosial untuk negara dengan mempekerjakan tenaga asing.

Hal-hal yang diutarakan diatas menunjukan kesempatan untuk bekerja di Amerika Serikat masih terbuka bagi pelajar internasional. Ketakutan akan tidak tersedianya kesempatan untuk berkarir di Amerika tidak lagi menjadi alasan untuk tidak mencoba menapakkan kaki di negara ini dan berkembang lebih jauh.

Ketersediaan kesempatan bukan berarti kemampuan untuk menggunakan kesempatan itu dapat diperoleh dengan mudah. Seseorang harus melangkah untuk masuk ke dalam ruangan lain dan tidak hanya memandang pintu yang terbuka. Seringkali hanya untuk melangkahkan kaki diperlukan keberanian yang luar biasa, dan sebagai manusia hal tersebut sangatlah wajar karena terbukanya sebuah pintu juga disertai juga dengan datangnya berbagai kekhawatiran.

Indonesia merupakan satu dari 195 negara yang diakui oleh pemerintah Amerika Serikat, sehingga bukan hanya pelajar dari Indonesia saja yang mencari peluang untuk berkarir disini [2]. Lalu apakah pelajar Indonesia memiliki memiliki daya saing untuk menerapkan kemampuan mereka di perusahaan Amerika?

Benjamin Franklin pernah mengatakan disalah satu pidatonya “A good example is the best sermon”, melihat putra-putri Indonesia yang telah berjaya di Amerika Serikat, pelajar Indonesia tidak perlu memandang rendah kemampuannya dan menjadi terintimidasi karena bukan berasal dari negara maju. Sehat Sutardja, salah satu orang terkaya di Amerika Serikat adalah seseorang yang patut dijadikan teladan untuk memotivasi diri. Cukup dengan menuliskan nama beliau di kotak pencarian search engine semua orang dapat mencari referensi latar belakang dan cerita kesuksesan beliau yang mengundang decak kagum. Hanya dengan sedikit menggerakkan mouse komputer dan melihat beberapa artikel dibawah tulisan ini, akan terbaca nama Sonita Lontoh dengan gelar-gelar beliau dari sejumlah Ivy League Universities ditambah dengan catatan karir yang menjulang [3]. Belum lagi dengan nama-nama lain seperti Oki Gunawan yang menjadi ujung tombak divisi Research and Development di IBM atau Sigit Santosa yang dipercaya menjadi Engineering Manager di General Motors.

Contoh keberhasilan anak bangsa diatas seharusnya bisa menjadi motivasi untuk mengalahkan kekhawatiran dalam berkarir di Amerika. Tidak mudah menjadi seseorang seperti mereka, namun bukan tidak mungkin. Dave Firdaus, salah seorang teman baik saya yang telah menjalani lebih dari 15 tahun berkarir di Amerika, saat ini memegang jabatan Chief Operation Officer SCAN Health Plan di Arizona dan sebelumnya dipercaya menjadi Director dan Vice President di beberapa perusahaan Amerika pernah mengingatkan saya, “Every dog has its day”. Selama seseorang bekerja, berjuang dan berpikir keras, dimanapun kita berada dan apapun yang kita lakukan pada akhirnya akan ada kesuksesan yang dituai.

Kesempatan terbuka, kemampuan untuk bersaing pun telah dimiliki, yang perlu dilakukan hanyalah melangkah lebih jauh.

Beberapa hal dibawah ini adalah tiga masukan berharga yang diberikan oleh kerabat-kerabat yang telah lama berkarir di Amerika dan juga berdasarkan pengalaman pribadi yang semoga dapat membantu memberikan pencerahan untuk memulai berkarya di Amerika.

1. Networking

It’s not what you know but who you know that makes the difference.

Seorang wanita muda Indonesia yang bekerja di perusahaan konstruksi paling besar di Amerika menceritakan bahwa pekerjaannya berawal dari menjadi liason officer pembicara tamu di universitasnya yang ternyata adalah seorang Project Manager di perusahaan tempat dia bekerja sekarang. Pengalaman seperti yang dialami wanita muda ini lebih sering saya dengar daripada pengalaman seseorang yang berhasil melewati proses seleksi panjang di sebuah perusahaan. Saya sendiri mendapatkan pekerjaan karena seorang business owner mengenal saya (pada saat itu saya tidak mengetahui bahwa dia adalah seorang pengusaha) dan menawarkan pekerjaan setelah saya lulus. Seringkali memberikan waktu lebih banyak untuk memperluas dan menjaga hubungan dengan orang lain membuka pintu untuk kesempatan lain.

2. Patience

Endurance is the crowning quality, and patience all the passion of great hearts.

Hal yang menurut banyak orang cliché namun dari kacamata orang-orang berhasil aspek ini sangatlah penting. Mungkin akan banyak career fair yang perlu didatangi,  ratusan aplikasi perlu dikirimkan dan puluhan interview perlu dilakukan sebelum akhirnya mendapatkan sesuatu pekerjaan, but if  it is what you really  want,  it is always worth fighting and waiting for.

3. Professional Certifications

“I recently went to a new doctor and noticed he was located in something called the Professional Building. I felt better right away.”

Pertanyaan paling besar sebuah perusahaan sebelum (atau bahkan setelah merekrut) pegawai baru adalah apakah orang tersebut memiliki kapabilitas untuk melakukan tugasnya dengan baik. Certification adalah bentuk standarisasi yang dikeluarkan suatu badan untuk mengukur profesionalisme seseorang di dalam bidangnya. Sebagai contoh, sekalipun seseorang telah memiliki degree dalam bidang engineering, orang tersebut tidak diperbolehkan melegalkan kalkulasi dan rancangannya bahkan tidak dapat disebut engineer jika tidak memiliki sertifikasi dari NCEES sebagai Professional Engineer. Sertifikasi semacam ini sangat berguna untuk memposisikan diri sejajar dengan standar yang dibutuhkan sebuah perusahaan dan untuk selanjutnya dibutuhkan untuk berkarir secara profesional.

Amerika Serikat mungkin telah menjadi “promised land” untuk  sebagian besar penduduk dunia dalam hal pendidikan maupun pekerjaan, namun bukan berarti bekerja dan berkarir di Amerika Serikat adalah segalanya untuk semua orang. Everyone has his own “promised land”, tanah perjanjian itu bisa berada dimana pun dan dalam bentuk apapun. The most important thing in life is finding your destiny and working your best to fulfil it. If you haven’t found your destiny, stay curious because curiosity moves us forward, opening new doors and leading us down new paths.

Notes:

References:

[1] The U.S. Economy Still Needs Highly Skilled Foreign Workers. Immigration Policy Center. Mar 30, 2011.
[2] Independent States in the World. U.S. Department of State. Jan 3, 2012.
[3] Was Pursuing an MBA Worth it? Indonesia Mengglobal.

 

Photo by Modern Language Center via flickr




===========================================
Daniel works for PricewaterHouseCoopers as Management Consultant. Previously he enrolled for Advanced Project Management Development Program at Stanford University and received his Master’s from Arizona State University. He holds bachelor's degree from Institut Teknologi Bandung in Civil Engineering. @dkharisma
Posts | Facebook | Twitter | LinkedIn