Stanford (Part I): Kampus dan Akademika

38
5967

Hampir dua tahun lalu, sebagai siswa SMA, saya memilih untuk melanjutkan pendidikan di Stanford University, California. Salah satu keputusan terbaik dalam hidup saya. Apapun ekspektasi saya akan Stanford dua tahun lalu, selama dua tahun ini Stanford selalu melewati ekspektasi itu. Saya bakal cerita sedikit tentang pendidikan, kehidupan murid, dan aspek-aspek lain di Stanford yang selama ini saya amati. Karena rasanya bakal panjang, post ini akan dibagi dua – post ini akan memuat cerita tentang kampus dan sisi akademis di Stanford. Sebagai mahasiswa Computer Science, contoh-contoh dalam karangan ini terkadang spesifik ke pengalaman saya di bidang ini. Tentu mahasiswa-mahasiswa di bidang lain mungkin punya perspektif lain tentang pengalaman Stanford mereka.

Kampus

Stanford Memorial Church

Dengan luas 8180 acre, Stanford adalah universitas terbesar di dunia dari aspek luas tanah, juga diakui umum sebagai salah satu universitas tercantik di dunia. Arsitekturnya klasik, ditandai dengan atap bata merah dan bangunan batu pasir. Sepanjang lorong Stanford ditandai lengkungan-lengkungan dramatis (lihat foto), membuat berjalan ke kelas jarang membosankan. Banyak lokasi turis di kampus ini, seperti Memorial Church, atau Hoover Tower, menara yang didedikasikan untuk Herbert Hoover, mantan presiden Amerika dan mahasiswa Stanford angkatan pertama.

Stanford terletak 1 jam jauhnya dari San Francisco, di tengah-tengah Silicon Valley, daerah industri IT di mana perusahaan-perusahaan seperti Facebook, Google, Intel, Yahoo dan Apple berpusat. Bahkan beberapa pemimpin atau penemu perusahaan-perusahaan ini adalah alumni Stanford, seperti Jerry Yang (pendiri Yahoo), atau Sergey Brin dan Larry Page (pendiri Google), dan masih banyak lagi. Karena lokasi yang dekat ini, pendidikan dan kehidupan murid di Stanford banyak bercampur dengan kehidupan Silicon Valley – lebih banyak tentang ini nanti.

Larry Page and Sergey Brin, Stanford alumni and Google founder

Faktor terakhir tentang lokasi yang penting – cuaca! Stanford terletak di daerah yang cuacanya paling enak di Amerika: nggak terlalu dingin, nggak terlalu panas. Redwood City, kota yang 25 menit jauhnya dari Stanford, adalah salah satu dari 3 kota dengan iklim terbaik di dunia. Di musim dingin, suhu terendahnya hanya sekitar 2 – 5 derajat Celcius. Di musim panas, suhunya hanya sedikit lebih dingin dari Indonesia, sekitar 18 – 28 derajat. Ini berarti nggak perlu bawa jaket tebal-tebal, dan mostly bisa keluar dengan kaos dan jeans aja :)

Akademis

Stanford hampir selalu termasuk  dalam daftar 5 besar ranking-ranking universitas terbaik di dunia. Universitas ini khususnya terkenal untuk bidang-bidang teknik, seperti ilmu komputer. Tapi yang oke banget tentang akademis di Stanford adalah keseimbangannya. Hampir semua jurusan di sini masuk daftar universitas terbaik di Amerika dan dunia – entah itu di bidang teknik, ilmu sosial, psikologi, matematika, sains, hukum, sejarah, atau bisnis / ekonomi. Ini jarang banget di universitas top dunia, yang biasanya cuma berfokus di beberapa bidang tertentu. Keseimbangan ini membuat hampir semua murid Stanford biasanya punya banyak interest dan mengambil kelas di bidang yang bervariasi. Misalnya, selain suka mengambil kelas computer science (jurusan saya), saya juga mengambil kelas-kelas seperti linguistik, psikologi, sejarah dan ilmu bumi (earth system). Ini dibantu dengan peraturan / requirement yang sangat rileks dan nggak mengikat. Kami diberi banyak kebebasan untuk memilih kelas-kelas, bahkan kita bisa mendesign major kami sendiri.  Kami harus sudah memutuskan jurusan di akhir sophomore year (tahun kedua), tapi selama tahun pertama, kami diencourage untuk bereksplorasi dan menemukan apa sih yang kami suka.

Secara akademis, Stanford terkenal dengan interdisciplinary studynya – pembelajaran yang menggabungkan jurusan-jurusan yang berbeda untuk membentuk pengertian yang lebih penuh. Contohnya adalah  Symbolic Systems (contoh lulusan : Marissa Mayer, jajaran atas di Google, atau Scott Forstall, vice president Apple yang memimpin pembuatan iPhone) yang menggabungkan Computer Science, Philosophy, Psychology, Linguistics, Communication, dan Education. Jurusan ini mempelajari cara manusia berpikir. Aplikasinya bisa berupa desain produk yang sesuai psikologi dan keinginan pengguna atau artificial intelligence yang meniru cara berpikir manusia. Ada juga Management Science & Engineering yang seperti MBA / bisnis untuk orang-orang di bidang-bidang sains dan engineering. Human Biology, yang menggabungkan biologi, farmasi obat2an, nutrisi, dan antropologi. Interdisciplinary study seperti ini membawa pendidikan ke arah yang lebih spesifik dan terspesialisasi, serta mendayagunakan orang-orang yang punya beragam interest. Hampir semua (atau semua?) departemen memungkinkan mahasiswa untuk mendesign majornya sendiri.

Sistem pendidikan ini juga sangat membina critical thinking. Dalam pendidikan di US, ini dicapai oleh pelajaran humanities, seperti dengan sangat jelas dituturkan video ini (berjudul “In Defense of Humanities”, oleh profesor di Stanford). Kelas-kelas humanities mendorong kita bertanya dan mendiskusikan life questions, mendorong kita untuk berpikir tentang hal-hal yang biasanya kita take for granted. Semua mahasiswa tingkat 1 di Stanford wajib mengambil 3 quarter (caturwulan) Introduction to Humanities. Di quarter pertama saya, kelas humanities saya mengajak murid untuk membayangkan bagaimana teknologi bisa membentuk masa depan yang utopian atau dystopian. Di quarter kedua dan ketiga, kami menelaah cerita-cerita dari agama Kristen, Budha, Hindu dan Islam secara kritis, dari sisi historis dan teologis. Yang paling menyenangkan dari kelas-kelas ini adalah debat-debat / diskusi yang berlangsung di kelas. Dua kali seminggu, selama satu jam, sekitar 15 orang murid duduk di sekeliling meja kotak besar bersama seorang guru, dan kita berdiskusi atau berdebat tentang topik pelajaran itu. Guru benar2 jadi fasilitator dan berlaku seperti salah satu peserta diskusi juga, bersama-sama membangun argumen secara konstruktif. Ingin mencoba kelas-kelas lecture Stanford? Kamu bisa lihat kelas online Stanford di coursera.org atau di iTunesU.

Apakah sulit sekolah di sini? Iya dan enggak. Iya, karena nilai kita dibandingkan dengan temen-temen sekelas yang bisa dibilang termasuk orang-orang tercerdas di dunia. Enggak, karena 1) saya merasa saya belajar hal-hal yang saya suka dan kebanyakan kelas saya menarik banget buat dipelajari. 2) mayoritas orang-orang di sini arguably nggak terlalu peduli sama nilai, tapi lebih ke apa yang mereka pelajari. Anehnya, orang-orang terjago yang saya tau di Stanford malah nggak terlalu bagus nilai pelajarannya – banyak dari mereka yang sibuk kerjain project on the side dan cuma serius di pelajaran kalau pelajaran itu berguna buat mereka. Banyak juga ada project classes yang tugas akhirnya bikin hasil karya nyata, misalnya robot, program atau perusahaan (startup). Kelas-kelas kayak gini biasanya level kesulitannya beragam, tergantung apa yang pengen kamu dapat dari kelas ini. Misalnya, kalo kamu cuma pengen pass kelas itu, gampang. Tapi buat mereka yang bakal pake project kelas ini buat bikin perusahaan sungguhan, tentu mereka bakal nuangin banyak waktu dan tenaga di kelas tersebut. Oh ya, di sini juga hampir nggak pernah ada orang yang nanya nilai tes / GPA orang lain.

Nggak cuma ada kelas-kelas serius aja, tapi juga kelas-kelas yang super asik. Kelas paling populer di sini adalah kelas social dancing dan wine tasting. Ada kelas berjudul Sleep and Dream  yang bakal kasih kamu ekstra kredit kalau bisa tidur di kelas. Kelas sports di sini juga lengkap (tim olahraga di sini juga salah satu yang terbaik di Amerika!), seperti memanah, golf, sampai kickboxing. Ada juga kelas bertani. Murid-murid bisa memulai dan mengajar kelas mereka sendiri, dengan mengajukan “Student-Initiated Course”. Kelas apapun yang kamu bisa pikirkan – mungkin kelas itu dapat ditemukan di Stanford. 44% mahasiswa di Stanford study abroad sedikitnya 1 quarter dalam pendidikan Stanford mereka, melalui Bing Overseas Study  yang menawarkan kesempatan study abroad ke banyak kota, seperti Australia, Barcelona, Berlin, Cape Town, Madrid, Oxford, Paris, dan Santiago. Ada juga program bersekolah 1 quarter di Washington DC, di mana kurikulumnya termasuk internship di instansi pemerintah. Ada yang bekerja di kantor senator, surgeon general, jaksa agung dan banyak lagi.

Secara akademis dan profesional, Stanford membuka banyak pintu kesempatan buat murid-muridnya. Riset, misalnya – di jurusan computer science, sudah ada kesempatan riset di summer di akhir tahun pertama. Semua murid S1 di Stanford wajib mengambil kelas tiga kelas writing yang berbasis di research, sehingga semua mahasiswa tingkat dua sudah tahu dasar-dasar menulis research paper. Misalnya, di dua kelas writing yang saya sudah ambil, saya meriset dan menulis tentang penanganan HIV-AIDS di Indonesia, dan kerjasama Soekarno-Hatta dan Jepang selama penjajahan Jepang di Indonesia. Hubungan erat antara Stanford dan industri di sekitarnya juga membawa banyak manfaat, terutama untuk mahasiswa-mahasiswa yang mempelajari bidang teknik seperti Electrical Engineering atau Computer Science.  Stanford adalah salah satu tujuan utama recruiting di kebanyakan perusahaan, entah melalui career fair atau info session perusahaan tertentu yang ada hampir setiap hari. Mahasiswa di bidang ini  sudah mulai bekerja praktek (internship) yang dibayar, walau tidak wajib, di perusahaan-perusahaan sejak akhir tahun pertama kuliah (bahkan ada beberapa yang sudah bekerja praktek sejak masih di SMA). Pembicaraan kayak “what are you doing this summer?” -“Google/Facebook/Apple/Amazon/LinkedIn/[insert startup here]” itu biasa banget.

Emphasis Stanford terhadap entrepreneurship benar2 kuat – aura entrepreneurship di sini adalah one of those things yang harus ada di sini untuk ‘ngerasain’ itu. Environmentnya luar  biasa kondusif. Kerja di small or start-up company adalah sesuatu yang hip di sini (bahkan banyak orang-orang yang angkat alis ketika perusahaan-perusahaan besar kayak Microsoft atau Yahoo disebut). Mahasiswa punya start-up itu biasa. Banyak faculty di sini yang entrepreneurs themselves atau berhubungan dekat dengan perusahaan2 (presiden Stanford, John Hennessy, adalah boardmember di Google dan banyak company lain) – dan mereka ready untuk mentor entrepreneurs secara langsung. Professor Frederick Terman, misalnya, menjadi mentor Hewlett dan Packard waktu mereka masih di garasi di Palo Alto, dan mendorong terbentuknya Silicon Valley. Larry Page dan Sergey Brin sering menyebut Professor Terry Winograd sebagai pengaruh besar terbentuknya Google. Di kampus, kami punya banyak seminar mingguan tentang entrepreneurship, kelas entrepreneurship, konferensi entrepreneurship, Startup School, dan banyak kontes-kontes entrepreneurship di kampus. Kami punya job fair khusus start-ups. Kedekatan kami dengan Silicon Valley membawa banyak tokoh bicara di sini – dalam tiga bulan pertama saya di Stanford, saya bertemu Seth Sternberg (cofounder Meebo), Peter Thiel (CEO Paypal & venture capitalist), beberapa venture capitalist dan eksekutif dari Facebook, Twitter, dan Foursquare. CEO Facebook, Mark Zuckerberg ‘mampir’ ke salah satu kelas pendahuluan Computer Science.

 

Yang paling penting dari semuanya adalah kenyataan kalau lebih dari 95 % murid S1 di Stanford tinggal di dalam kampus. Mereka semua tinggal di kamar yang berdekatan, dan makan di kafetaria yang sama hampir setiap hari. Hal terbaik tentang Stanford buat saya adalah pembicaraan-pembicaraan di meja makan dan perspektif-perspektif yang terdengar di kehidupan sehari-hari kami di sini. Karena akademis di Stanford nggak hanya berfokus di bidang-bidang sains atau teknik, semua orang biasanya punya perspektif yang berbeda ke permasalahan atau isu yang ada di masyarakat. Banyak yang mengira kalau di sekolah seselektif Stanford bakal sangat kompetitif, tapi itu nggak terjadi di sini. Stanford adalah sekolah yang punya fasilitas lengkap dan profesor yang terbaik di bidangnya, namun yang membuat Stanford luar biasa adalah mahasiswa-mahasiswa di dalamnya. Passion dan semangat mereka menginspirasi saya setiap hari, dan kolaborasi antar mahasiswa yang ada di lingkungan Stanford membuat satu sama lain semakin maju dan berkembang.

 

 

Punya pertanyaan spesifik tentang Stanford? Tulis komentar di form di bawah :)

[to be continued]

SHARE
Previous articleIndonesia Mengglobal: Welcome Editorial
Next articleResearch Assistantship
Veni Johanna
Veni Johanna is currently a software engineer at Quora. She graduated BS MS in Computer Science from Stanford University, California. In high school, Veni is the first female Indonesian representative at the International Olympiad in Informatics, where she received a silver medal. She can be reached at veni@indonesiamengglobal.com.