Research Assistantship

9
451

Di Indonesia, banyak yang selalu memakai istilah ‘beasiswa’ atau ‘scholarship‘ sewaktu membicarakan tentang dana yang dipakai untuk menunjang ongkos hidup dan uang sekolah saat menimba ilmu di AS. Namun istilah ini jarang dipakai di AS. Istilah yang lebih sering dipakai adalah financial aid atau ‘bantuan finansial’ dan ini mencakup semua jenis dana yang bukan berasal dari dana pribadi. Dalam dunia pendidikan pasca sarjana di AS, yang termasuk dalam financial aid adalah fellowship, research assistantship, teaching assistantship, dan loan (pinjaman). Dari semua ini, fellowship-lah yang merupakan istilah yang paling dekat dengan ‘beasiswa’ seperti yang dipakai oleh mahasiswa-mahasiswi di Indonesia. Namun seperti yang bisa dilihat diatas, fellowship hanya adalah salah satu ragam bantuan finansial dari berbagai jenis bantuan lainnya. Perbedaan dari semua jenis ini terletak pada sumber dananya (dari school endowment, dana riset pemerintah dan swasta, uang sekolah pelajar lainnya, atau bank) dan juga kewajiban dari penerima bantuan setelah diterima di sekolah yang bersangkutan. Dalam artikel ini, saya akan membahas tentang research assistantship.

Apakah Research Assistantship?

Research assistantship adalah salah satu bentuk bantuan finansial untuk pendidikan S3 (PhD) yang mengharuskan penerima dana untuk mengadakan riset atau membantu memperlancar kelangsungan proses penelitian. Seseorang yang melakukan riset harus terlibat dalam pencarian soal yang menarik, mengerti bagaimana peneliti lain mencoba memecahkan soal tersebut, mencari cara yang lebih unggul, dan mengevaluasi solusi yang ditemukan. Antara beberapa aktivitas yang terlibat dalam melakukan penelitian adalah membaca jurnal akademik, mengusulkan ide-ide baru, mengimplimentasikan solusi, membuktikan teori, dan membandingkan ide sendiri dengan ide-ide yang telah diusulkan peneliti lain sebelumnya. Dari semua aktivitas di atas, yang akan dilakukan seorang ‘research assistant’ (asisten riset) pada akhirnya akan tergantung pada jenis penelitian dan juga ‘advisor’ dalam penelitian (profesor utama yang berkolaborasi dengan research assistant sepanjang karir PhD).

Dari manakah datangnya dana untuk Research Assistantship?

Amerika Serikat adalah sebuah negara yang sangat berkembang, dan tentu saja kemajuan negara ini tidak datang begitu saja. Pemerintah AS berusaha untuk mempertahankan keunggulannya di dunia dengan menginvestasi dalam Research & Development (R&D). Dalam tahun fiskal 2013 saja, pemerintah AS mengalokasikan dana sebesar $142,4 milyar untuk R&D (bandingkan dengan pendapatan negara Indonesia yang hanya mencapai $119,5 milyar di tahun 2011). Dana ini dibagi ke badan-badan nasional, seperti Department of Defense (DOD), National Institute of Health (NIH), Department of Energy (DOE), National Science Foundation (NSF) dan lain sebagainya. Pembagian ini dapat dilihat dari gambar dibawah ini.

Sebagian dana yang diperoleh oleh badan-badan ini digunakan untuk mendanai riset yang dilakukan oleh profesor-profesor di universitas AS. Seperti yang dapat dilihat dari laporan AAAS, pengeluaran R&D universitas yang berasal dari pemerintah federal mencapai nilai $32,6 milyar pada tahun 2009, dan ini bukanlah satu-satunya sumber dana untuk penelitian di universitas. Nah, dengan dana inilah para profesor dapat membiayai ongkos untuk menunjang seorang mahasiswa PhD.

Bagaimana prosesnya? Seorang profesor harus menulis ‘proposal’ atau lamaran untuk mendapatkan dana dan profesor tersebut harus dapat meyakinkan badan-badan nasional bahwa penelitiannya akan mempunyai perkembangan yang memadai, membuahkan hasil dan berguna. Proses ini memakan banyak waktu (bisa sampai beberapa tahun sebelum lamarannya disetujui) dan tidak semua lamaran akan didanai. Kadang-kadang profesor tersebut juga harus mengganti arah risetnya untuk memastikan adanya dana penelitian.

Ini mempunyai beberapa konsekuensi untuk mahasiswa penerima dana research assistantship. Tentunya dengan ini, sekarang kita tahu ada sebuah dana alternatif untuk membiayai pendidikan kita di AS. Namun dana ini ada limitasinya. Karena seorang profesor harus mengadakan penelitian berdasarkan lamaran yang dia sampaikan, maka mahasiswa penerima dana harus melakukan penelitian sejalan dengan lamaran tersebut. Ini bukan berarti bahwa mahasiswa tersebut tidak mempunyai kebebasan untuk berpikir dan mengusulkan idenya. Peluang ini masih terbuka lebar dan justru mahasiswa ini harus dapat berpikir kreatif untuk mewujudkan sesuatu yang baru dan unik. Namun secara umum, topik penelitian tersebut sudah ditentukan. Oleh karena itu, kalau mahasiswa penerima dana memang mempunyai preferensi yang kuat mengenai topik yang mau dilakukannya, mahasiswa tersebut memilih profesor dengan hati-hati untuk memastikan bahwa topik yang akan dilakukannya sesuai dengan keinginannya.

Konsekuensi yang kedua adalah seorang profesor hanya akan menerima seorang mahasiswa jika dia merasa mahasiswa ini benar-benar dapat mencapai sasaran penelitiannya. Oleh karena itu, profesor ini akan sangat cermat dan teliti saat menseleksi muridnya. Seorang mahasiswa harus dapat menunjukkan bukti-bukti bahwa dia mempunyai dasar yang kuat dan kemampuan melaksanakan penelitian, dan ini tidak lain dibuktikan melalui kelas-kelas yang diambil semasa pendidikan S1 dan juga pengalaman riset. Tidak semua orang menyukai riset dan sering kali seorang mahasiswa menyadari bahwa penelitian bukanlah suatu usaha yang cocok untuknya. Seorang profesor akan berusaha untuk mencegah hal seperti ini terjadi pada muridnya. Oleh karena itu pengalaman riset, meskipun tidak berhubungan dengan topik profesor yang bersangkutan, secara tidak langsung menunjukkan kepada sang profesor bahwa mahasiswa ini telah melalui proses penelitian dan mendapatkan bahwa dia memang menyukainya dan dapat mencapai sukses ketika berkolaborasi dengannya.

Apa saja tip untuk mahasiswa Indonesia yang mau mendapat Research Assistantship?

Berikut adalah beberapa saran yang khusus dibuat untuk mahasiswa Indonesia dari pengalaman dan pengamatan saya:

1. Telusuri riset yang menarik
Mencari tahu tentang riset yang kamu sukai sangatlah penting dan ini bermula dengan mengetahui segala sesuatu tentang profesor yang penelitiannya kamu anggap cukup menarik. Biasanya profesor di AS mempunyai situsnya sendiri dimana dia akan menulis tentang topik riset yang disukainya dan juga publikasi-publikasi yang telah diterbitkannya. Telusurilah situs pribadi profesor tersebut dan bacalah publikasinya. Ini akan memberikan kamu banyak informasi mengenai profesor tersebut.

2. Hubungi mahasiswa yang berkolaborasi dengan profesor yang kamu sukai
Mahasiswa S3 biasanya ramah dan senang dapat membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan kamu. Kamu boleh coba mencari email mahasiswa-mahasiswi ini dari situs pribadi profesor yang bersangkutan. Pertanyaan yang relevan diantaranya terkait topik riset profesor (jika situs profesor tidak memadai), cara kerja profesor, pengalaman mahasiswa tersebut, dan bagaimana menurutnya kamu dapat didanai (kadang kala melalui kombinasi beberapa jenis bantuan finansial). Mahasiswa ini biasanya berada pada pihak kamu karena dia telah melalui proses yang akan kamu lalui, jadi tanyalah pertanyaan tidak nyaman untuk ditanyakan kepada profesor. Kamu juga bisa meminta bantuan untuk memperoleh publikasi-publikasi profesor yang relevan jika informasi ini tidak dapat diperoleh melalui internet dengan mudah.

3. Hubungi profesor
Ini adalah langkah yang sangat penting jadi pastikanlah kalau kamu memang sudah melakukan riset yang mendalam sebelum menghubungi seorang profesor. Ingat! Profesor adalah seseorang yang sangat sibuk. Jika kamu bisa menghubunginya, kemungkinan besar ada ratusan mahasiswa lainnya yang melakukan hal yang sama. Email kamu harus cukup unik untuk dapat membedakan kamu dari ratusan email lainnya. Kamu harus dapat menunjukkan bahwa kamu telah meluangkan banyak waktu untuk mencari tahu mengenai profesor ini dan membaca publikasinya. Tahulah bahwa kemungkinan besar kamu tidak akan mendapat tanggapan dari profesor pertama kalinya kamu mengirim email, tapi jangan pasrah dan berpikir negatif. Teruslah menghubungi profesor ini sampai kamu mendapatkan jawaban. Ini juga menunjukkan kepada profesor bahwa kamu memang benar-benar serius mau bekerja dengannya dan ini adalah sebuah refleksi yang bagus terhadap diri kamu.

Pastikan bahwa email kamu tidak mempunyai grammatical error. Jangan salah mengeja nama profesor atau sekolah. Ini menunjukkan ketidakhormatan meskipun ini bukanlah niatmu. Saya pernah menerima sebuah email seorang mahasiswa yang mengeja nama Stanford University sebagai Standford University. Bahkan untuk saya saja ini telah menandakan bahwa mahasiswa ini tidak tahu banyak mengenai sekolah saya. Seorang profesor kemungkinan akan mengira bahwa mahasiswa ini tidak cukup serius saat menghubunginya dan akhirnya dia hanya akan mengabaikan emailnya.

Ringkasan

Ada dua hal yang merugikan mahasiswa Indonesia saat aplikasi dibandingkan mahasiswa di AS. Pertama-tama, profesor di AS masih belum mengenal universitas-universitas di Indonesia dengan baik. Oleh karena itu, ada isu kredibilitas sekolah dimana seorang profesor tidak tahu pasti kualitas mahasiswa Indonesia yang seyogyanya seperti harta karun yang terpendam. Yang kedua adalah kemampuan berbahasa Inggris yang kurang dapat menjadi penghalang. Karena kedua faktor ini, mahasiswa Indonesia harus berusaha lebih keras untuk dapat belajar di AS. Mahasiswa di AS kemungkinan dapat lanjut ke pendidikan S3 tanpa mengetahui topik riset yang mau dilakukannya tapi mahasiswa Indonesia tidak mempunyai kenyamanan seperti itu. Tunjukkanlah bahwa kamu memang serius mau belajar di AS dengan merencanakan lebih awal (2-3 tahun sebelum wisuda) langkah-langkah yang akan kamu ambil dan lakukanlah aktivitas-aktivitas (riset atau kompetisi) yang dapat memberi kamu the ‘wow’ factor saat kamu mengaplikasi. Semoga sukses!

Photo by Argonne National Laboratory on Flickr

SHARE
Previous articleStanford (Part I): Kampus dan Akademika
Next articleBeasiswa itu Mudah
Martin Tjioe
Martin Tjioe is currently working as a geomechanicist with Shell Exploration and Production Company in New Orleans, LA. He attained his MS and PhD in Civil and Environmental Engineering from Stanford University. For his undergraduate study, he went to Lafayette College, a small Liberal Arts College in Easton, Pennsylvania where he had a chance to double major in A.B. Mathematics & Economics, and B.S. Civil Engineering. He is fortunate to have received full financial aid to study both at Lafayette and Stanford and he encourages other Indonesian students to look into these opportunities. Prior to studying in the U.S., he was an ASEAN scholar studying in Singapore's Victoria School (VS) and National Junior College (NJC). He is from Medan, and he is passionate about helping talented students obtain the quality education they deserve.
  • Fedoracora

    Artikel yang menarik, terima kasih atas informasinya :)

  • Pingback: Tips Mendapat Beasiswa Pascasarjana()

  • Nurrohman

    sangat menarik. nikmat bacanya..
    Saya tertarik untuk belajar geothermal di Stanford

  • Roza

    Sangat luar biasa mas martin. Mas mau tanya saya berencana mau ambil RA untuk study geology di stanford. mau coba2 apply dl mas hehee. Mas untuk RA, misal saya dapet nih, apakah semua biaya kuliah termasuk housing di tanggung pihak kampus mas?, seperti full scholarship gitu mas? setau saya biaya kuliah disana cukup mahal bgt mas.

    terimakasih mas, mohon sarannya

    • Martin Tjioe

      Iya, benar. Semua biaya akan ditanggung. Ini berlaku tidak hanya di Stanford atau untuk Geology saja. Di universitas manapun di Amerika, asalkan bisa dapat full RA-ship, dana ini akan bisa cukup untuk menutupi semua biaya hidup. Di masing-masing sekolah, tentunya jumlahnya akan berbeda-beda, karena ongkos hidup di berbagai kota tidak sama, tapi yang pasti kamu tidak perlu khawatir mengenai masalah finansial lagi kalau memang didanai.

      • Roza

        Terimakasih banyak mas martin,

        Mas, disana untuk program master untuk nilai toefl nya minta brapa ya mas? kalo ga salah minimum score-nya 100 (toefl ibt) ya?

        Kalau nilai GRE-nya, mas? makasih sebelumnya mas :)

  • Pingback: “Towards a U.S. Higher Education” – Jakarta, August 12 2012 | Indonesia Mengglobal()

  • Pingback: motivasibeasiswa.org | Martin Tjioe: “Dari Medan hingga Stanford University”()