Teori, Skill, atau Knowledge? Mengintip Rasanya Kuliah di Jurusan ‘Gado-Gado’ di Columbia SIPA

0
227

Setelah berjuang sekitar 5 tahun lamanya, akhirnya momen yang saya nantikan pun tiba. Pada agustus lalu, saya berangkat menuju New York, Amerika Serikat, untuk melanjutkan studi S2 di School of International and Public Affairs (SIPA) di Columbia University dengan program Master of Public Administration (MPA).

Sebagai seorang dengan latar belakang engineering dan energi, saya memilih bidang Energy & Environement serta Data Analytics & Quantitative Analysis (DAQA) sebagai konsentrasi (major) dan spesialisasi (minor) saya selama kuliah di SIPA. Program MPA ini sendiri didesain untuk ditempuh selama empat semester dengan jumlah kredit minimum 55.5 points untuk bisa memperoleh degree di akhir studi.

Umumnya, mahasiswa di SIPA mengambil 4 sampai 5 kelas tiap semester. Kelas-kelas tersebut bisa terdiri dari core course untuk program MPA secara umum dan untuk konsentrasi dan spesialisasi yang dipilih secara khusus. Di semester pertama ini, saya mengambil 5 mata kuliah yang secara fundamental memiliki diversitas pada tema dan tingkat kesulitan. Di akhir tulisan ini, saya akan coba memberikan impresi saya pribadi secara keseluruhan tentang apa yang saya pelajari dari jurusan ‘gado-gado’ ini.

Butler saat cuaca cerah di musim panas
Butler Library saat cuaca cerah di musim panas

Politics of Policymaking: ultra-dense reading materials

Mata kuliah ini merupakan mata kuliah political science pertama yang pernah saya ambil secara formal. Conceptual foundation yang dibahas oleh Profesor Sen dalam mata kuliah ini mencakup topik yang sangat luas, mulai dari evidence-based policymaking, state versus market, birokrasi, demokrasi dan autoritarianisme, entis dan gender, populisme, kemiskinan dan kesenjangan, korupsi, hingga nasionalisme. Pada sesi recitation, kami juga mendiskusikan studi kasus tentang topik terkait yang biasanya diambil dari berbagai negara, terutama dari developing world.

Meski secara umum mata kuliah ini sangat menarik, saya mengakui bahwa bacaan atau reading materials yang diberikan memiliki densitas yang sangat tinggi, baik dari sisi substansi maupun bahasa penyampaian. Seringkali, saya perlu mengabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menyelesaikan satu bacaan! Padahal, bahan bacaan yang diberikan setiap pekan tidak kurang dari 10 artikel. Saya menyadari bahwa kemampuan membaca secara efisien dan efektif akan sangat membantu kita dalam menyerap ilmu sebanyak mungkin dari kuliah ini.

Untungnya, sang profesor sangat aware dengan fakta bahwa mahasiswa SIPA datang dari berbagai latar belakang pendidikan dan pengalaman profesional. Oleh karenanya, Ia menegaskan bahwa penilaian yang diberikan akan independen terhadap seberapa baik kita menguasai conceptual foundation yang disampaikan di kelas. Benar saja, semua tugas yang diberikan sebagai dasar penilaian tidak secara langsung berkaitan dengan kedalaman pengertian kita tentang conceptual foundation, melainkan lebih fokus pada practical skills sebagai seorang policy analyst. Tugas-tugas tersebut sebagian besar berupa writing assignments seperti mengevaluasi policy tools, membuat dua policy memos, dan menulis sebuah op-ed.

Pembahasan korupsi menjadi salah satu topik diskusi di kelas Politics of Policymaking
Pembahasan korupsi menjadi salah satu topik diskusi di kelas Politics of Policymaking.

Energy Systems Fundamentals: think in systems!

Ini adalah mata kuliah wajib bagi mahasiswa yang ingin mengambil konsentrasi energi. Dalam kuliah ini, profesor Bradford ingin mengajak mahasiswa untuk berpikir tentang sistem keenergian dalam berbagai level, mulai dari regional, nasional, hingga global. Kami juga belajar bagaimana supply chain berbagai macam sumber energy primer seperti angin, matahari, hingga minyak bumi bekerja dan berkaitan satu sama lain untuk mengasilkan energy services di berbagai sektor, seperti transportasi, komersil, industri, dan rumah tangga.

Meski berangkat dengan latar belakang pendidikan teknik perminyakan, mata kuliah ini tidaklah mudah untuk dilalui. Hal ini karena topik yang dbahas sangatlah luas, mulai dari sisi ekonomi, regulasi, teknologi, finance, serta sedikit sains dan engineering. Saya mempelajari bahwa prior knowlegde tentang bagaimana energy market dan energy project financing akan sangat membantu untuk bisa survive di mata kuliah ini.

Professor Bradford saat menjelaskan energy economics of oil resources
Professor Bradford saat menjelaskan tentang energy economics of oil resources.

Fundamentals of Environmental Economics and Policy: “We are good at coordination”

Bagi saya, topik pembahasan mata kuliah ini sangat seru! Profesor Barrett membawakan beberapa topik kunci dalam pembahasan terkait lingkungan dan sumber daya alam, mulai dari air, udara, atmosfer, samudera, climate change, hingga ekosistem. Selama kuliah, Ia menerangkan berbagai macam isu terkait topik-topik tersebut dari perspektif ekonomi dan kebijakan, yang diangkat dari contoh kasus yang telah dan sedang berlangsung.

Selain ekonomi dan regulasi (sesuai nama mata kuliah ini), saya juga mendapatkan bonus ilmu tentang international affairs. Hal ini karena Profesor Barrett kerap mendiskusikan pakta, protokol, serta perjanjian internasional seperti Montreal Protocol, Paris Agreement, dan Kigali Amandement. Satu hal yang paling saya ingat dari kuliah ini adalah kesimpulan beliau bahwa “countries are good at coordination, but terrible at voluntary participation.” Pernyataan ini menjelaskan bagaimana Montreal Protocol sukses mencapai hasil positif, sementara Paris Agreement gagal untuk mencapai tujuan akhirnya.

Pengaruh lobbying (baca: rent-seeking) dalam pengambilan kebijakan terkait lingkungan
Pengaruh lobbying (baca: rent-seeking) dalam pengambilan kebijakan terkait lingkungan.

Quantitative Analysis I: my comfort zone

Sebagai seorang math enthusiast, saya merasa bahwa mata kuliah ini adalah my comfort zone. Meski materi yang diberikan oleh Profesor Cojoc relatif baru bagi saya, antusiasme saya terhadap matematika menjadikan Quantitative Analysis I sebagai mata kuliah favorit. Saya sangat menikmati setiap materi yang disampaikan baik selama kuliah di kelas maupun di lab, meskipun tak jarang saya harus memeras otak untuk bisa memahaminya.

Saya melihat mata kuliah ini sangat relevan bagi seorang pembuat kebijakan, karena dari sini saya belajar bagaimana merancang sebuah evidence-based policy melalui teknik statistical inference dan regression analysis untuk menguji efektivitas absolut dan relatif dari sebuah kebijakan yang dirancang.

Midterm Quantitative Analysis I menjadi ujian perdana sebagai mahasiswa Columbia.
Midterm Quantitative Analysis I menjadi ujian perdana sebagai mahasiswa Columbia.

Microeconomic Analysis: the science behind decision making

Microeconomic Analysis adalah mata kuliah favorit kedua setelah Quantitative Analysis I, karena mata kuliah ini sangat kental dengan matematik dan quantitative reasoning. Namun, mata kuliah ini jauh lebih sulit karena banyak sekali konsep dalam ekonomi yang masih asing di telinga saya, sehingga saya harus mencari referensi dasar tentang mikroekonomi agar bisa mengikuti kuliah dengan baik.

Dari mata kuliah ini, saya belajar bagaimana seseorang atau sebuah perusahaan mengambil keputusan tentang berapa banyak konsumsi dan produksi masing-masing yang paling optimum bagi mereka. Selain itu, saya menjadi paham rationale dari sebuah kebijakan, terutama kebijakan yang berupa instrumen ekonomi, dan implikasi yang mungkin tercipta dari kebijakan tersebut baik terhadap individu maupun korporasi. 

Tutoring bersama teaching assistant malam sebelum midterm Microeconomic Analysis
Tutoring bersama teaching assistant malam sebelum midterm Microeconomic Analysis

Overall impression

Dari pengamatan saya sejauh ini, saya bisa membuat karakterisasi sederhana untuk masing-masing mata kuliah yang sedang saya ambil berdasarkan tiga metriks yang menggambarkan apa yang saya peroleh dari kegiatan kuliah di kelas (dan lab) serta tugas yang diberikan (di luar reading assignment yang secara umum bersifat opsional). Tiga metriks tersebut adalah theoretical foundation, practical skills, dan general/real-world knowledge.

Dari penilaian tersebut, tergambar bahwa mata kuliah Energy Systems dan Environmental Economics and Policy lebih banyak berbicara tentang pengetahuan umum terkait permasalahan energi dan lingkungan yang ada saat ini, dengan fokus yang minim pada pengembangan skill praktis.

Teori, skill praktis, atau pengetahuan umum?
Teori, skill praktis, atau pengetahuan umum?

Sebaliknya, pengetahuan umum tidak menjadi fokus di mata kuliah Quantitative Analysis dan Microeconomic Analysis. Kedua mata kuliah ini justru banyak mengajarkan skill praktis (terutama untuk Quantitative Analysis I) serta penguatan teori (terutama untuk Microeconomic Analysis). Sementara itu, mata kuliah Politics of Policymaking memberikan keseimbangan antara teori dan pengetahuan umum, dengan sedikit pelatihan skill praktis di bidang pembuatan kebijakan.

Sejujurnya, study objective saya adalah memperkuat fondasi teoritis dalam hal pembuatan kebijakan, serta melengkapi diri saya dengan practical skills yang akan saya gunakan setelah lulus dan bekerja sebagai policy analyst maupun policymaker. Refleksi ini sendiri sangat membantu saya dalam merencanakan kuliah di semester 2, dan (hopefully) bisa memberikan gambaran awal bagaimana rasanya kuliah di SIPA kepada para pembaca.

Butler Library di malam hari pada musim gugur.
Butler Library masih terlihat terang di malam hari.

***

Photo credit: author; Maria V.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here