Amar Alfikar: Perjalanan Transpria ‘Ngaji di Birmingham’

0
455

Amar bisa jadi merupakan transpria muslim pertama dari Indonesia yang mendapatkan Beasiswa Chevening dari pemerintah Inggris. Namun perjalanan mendapatkan beasiswa sebagai individu trans tidaklah mudah. Lantas bagaimana perjuangannya sampai Birmingham? Seperti apa pengalaman belajar yang dia dapatkan di Inggris? Amar berbincang dengan Kolumnis Indonesia Mengglobal, Rio Tuasikal. 

—-

Indonesia Mengglobal (IM): Halo Amar! boleh ceritakan sekarang kuliah di mana dan sedikit latar belakangmu?

Amar Alfikar (AA): Halo Indonesia Mengglobal, aku sekarang lagi kuliah MA Theology and Religion di University of Birmingham, Inggris. 

Sebetulnya S1 aku itu Sastra Indonesia. Cuma waktu itu aku nulis skripsi soal politisasi agama di dalam novel ‘Perempuan Berkalung Sorban’. Jadi memang passion-ku di studi agama. 

Amar lahir dan besar di keluarga pesantren dan aktif menggaungkan toleransi lintas-iman.
Amar lahir dan besar di keluarga pesantren dan aktif menggaungkan toleransi lintas-iman

Sehabis itu lebih banyak berkecimpung di aktivisme. Awalnya aku banyak bergerak di isu lintas-iman. Dulu di daerahku, aku sering mengundang tokoh lintas-iman untuk dateng ke pesantrenku, kita dialog lintas-iman dan sebagainya.

Setelah ada proses personal transisi sebagai transpria, aku mulai ngomong banyak soal agama dan ragam gender dan seksualitas. Beberapa tahun ini mengajak tokoh dan institusi agama untuk lebih banyak bicara tentang bagaimana teks agama memberikan ruang terhadap minoritas gender and seksual.

 

IM: Ini kan topik yang mungkin nggak mudah ya untuk dibicarakan? Ngomong-ngomong kenapa milih kuliah di University of Birmingham?

AA: Memang susah sih. Karena mayoritas orang itu masih menganggap dan mempercayai mitos —aku sebut ini mitos— bahwa agama itu menolak ragam gender dan seksualitas. Padahal kalau kita lihat secara historis, teks-teks agama dan sejarah komunitas beragama di dunia justru sangat menerima ekspresi gender yang berbeda dan sebagainya. 

Aktivisme Amar mengantarkannya mengikuti konferensi lintas-iman di luar negeri. Dalam foto nampak Amar bersama tokoh Islam dan Kristen di Kenya.
Aktivisme Amar mengantarkannya mengikuti konferensi lintas-iman di luar negeri. Dalam foto nampak Amar bersama tokoh Islam dan Kristen di Kenya.

Kenapa University of Birmingham karena dari yang aku baca, kajian teologi mereka bagus banget. Lalu Birmingham adalah kota paling majemuk nomor dua setelah London. Kalau London itu terlalu banyak orang dan metropolitan. Sementara Birmie ini kayak nggak begitu urban tapi dia juga tetap diverse. 

Aku juga melihat beberapa dosen di sini memang punya perhatian di isu gender and sexuality dan ada interfaith-nya juga. 

 

IM: Jadi minatmu semua kumpul di kampus ini? Bisa pas banget ya?

AA: Iya paket komplit banget sesuai yang aku cari hahaha 

 

IM: Gimana sih rasanya belajar religious study? 

Yang kupelajari itu dua. Yang pertama itu teks-teks agama. Yang kedua itu umat beragamanya. Nggak cuma oh Kristen bicara ini, Sikh bicara ini, Islam bicara ini, tapi dilengkapi dengan gimana sih umat beragamanya?

Aku juga belajar membongkar pemahamanku lagi. Ternyata memang nggak tunggal pemahaman agama itu. Pengalamanku di sini adalah berani mengkritisi agama sendiri dan menghormati agama lain. 

Di kelasku juga ada pendeta, tergantung modul juga. Yang jelas, menarik lah kita mencoba menahan diri untuk tidak sensitif. Karena studinya itu, mungkin bagi orang yang tidak pernah belajar keberagaman, akan mengagetkan. 

 

IM: Jadi gimana pengalaman Amar sejauh ini? 

AA: Pertama, secara akademik, di sini tuh mahasiswa diberi kemerdekaan penuh untuk mengangkat isu apapun. Sedangkan yang aku alami di Indonesia itu kadang-kadang dosen membatasi pemikiran mahasiswa untuk tidak boleh mengangkat isu-isu yang sebenarnya penting—apalagi isu gender dan seksualitas. 

Kedua, kampusnya. Di kampusku banyak all genders toilet. Kampusnya juga punya trans support network. 

Kampus pun punya badan Equality, Diversity, and Inclusion (EDI). Semua orang diwajibkan menghargai keragaman gender dan seksualitas. Mereka juga punya well-being center dan sebagainya. Jadi ngerasa aman jadi seorang trans, yang nggak pernah aku alami di kampus di Indonesia.

“Jadi ngerasa aman jadi seorang trans, yang nggak pernah aku alami di kampus di Indonesia.”

Kampus juga punya multifaith chaplaincy, gedung yang siapapun bisa beribadah di situ, dan itu benar-benar inklusif. 

Nggak peduli kepercayaannya apa, boleh datang dan bertanya. Boleh mengadakan acara di situ. Termasuk kawan-kawan keberagaman gender dan seksual juga sangat disambut. 

 

IM: Bicara sebagai seorang trans yang mencari beasiswa, bagaimana pengalamanmu?

AA: Aku punya pengalaman sangat spesifik, memorable, dan painful soal beasiswa. Aku pernah daftar salah satu beasiswa pemerintah, terus kan jadi kandidat untuk wawancara. 

Di situ ada empat orang pewawancara dan satu orang ngecek dokumen kemudian langsung nanya. ‘Ini kok jenis kelaminnya perempuan?’ 

Terus aku jujur saja sebagai transpria. Tahu apa yang terjadi? Mereka langsung tutup buku penilaian mereka, dan selama 45 menit mereka nanya kehidupan personalku. 

AmarAlfikar
‘Kita hidup di dunia yang nggak ideal. Realitanya, minoritas gender dan seksual pasti menghadapi stigma. Itu pasti berpengaruh terhadap administrasi, akses pendidikan, dan sebagainya. Ya kita hadapi,’ ujarnya terkait pengalaman diskriminatif.

Nggak ada satu pun yang bertanya latar belakang akademik, aktivisme, kerjaan, dan sebagainya. Menurutku sangat personal dan nggak pantas ditanyakan ke orang yang baru kenal. 

Yang lebih mengerikan adalah salah satu di antara mereka itu ambil handphone dan foto muka aku tanpa konsen. Serius. Ini terjadi. Sambil nanya dan ketawa-ketawa, ambil foto. 

Waktu itu aku diam terpaku karena bingung nggak tahu harus bagaimana. Keluar dari situ aku nggak ngerti lagi sudah hilang harapan. 

Ternyata beberapa minggu setelah itu, emailnya keluar. Apa coba isinya? ‘Berapapun poin yang diraih oleh kandidat, kandidat ini tidak akan lulus’. Literally they said that on the email. Dari situ aku ngerasa OK this is very transphobic.

‘Berapapun poin yang diraih oleh kandidat, kandidat ini tidak akan lulus’. Literally they said that on the email. Dari situ aku ngerasa OK this is very transphobic.

Nah setelah itu aku wawancara beasiswa Chevening. Aku benar-benar keringetan dan takut karena ada pengalaman itu.

Nah tapi Chevening ini benar-benar profesional. Bahkan dari sistem aplikasinya juga mereka sangat inklusif.

Sampai interview mereka sangat suportif, pertanyaan mereka juga, mereka mendorong aku menceritakan aktivismeku, cita-citaku.

IMG_20200924_160752
Setelah mendapatkan beasiswa, Amar sempat terkendala saat perpanjangan paspor. “Ditolak dengan alasan identitas gender. Jadi harus mengulang dari awal, harus menjelaskan lagi ke petugas imigrasinya tentang kondisi saya. Alhamdulillah waktunya pas.”

 

IM: Ya ampun perjalanan panjang banget ya? Tentu butuh perjuangan besar untuk sampai di Birmingham. Untuk pulang nanti, apa yang ingin dibawa?

AA: Yang ingin kubawa dari Birmie adalah pengalaman inklusivitas itu ya. Bisa nggak sih kampus di Indonesia itu seinklusif kampus United Kingdom secara umum? 

Jadi trans bisa diterima secara aman dan secara akademik mempunyai kedaulatan berpikir—itu yang ingin kau bawa ke Indonesia. Paling nggak institusi di Indonesia, ayo dong ciptakan ruang aman di kampus Anda.

“Bisa nggak sih kampus di Indonesia itu seinklusif kampus United Kingdom secara umum?”

Hal lainnya adalah, seringkali orang ngomongin keberagaman tapi itu kayak lip service doang. Bahkan orang di kalangan lintas-agama ada yang ‘oh kami terima kok keberagaman’. Tapi setelah aku masuk, wow, justru di dalamnya sangat mendiskreditkan kelompok ragam gender dan seksual. Padahal bungkusnya sangat progresif. 

Seringkali juga orang ngomong ‘oh kami sebagai kelompok beragama menerima’ tapi tidak pernah memberikan wadah itu untuk teman-teman ragam gender dan seksual. 

Mereka masih berceramah tapi nggak ngasih microphone itu ke kami, bahkan nggak mendengarkan pengalaman kami yang selalu dikatakan sebagai ahli neraka.

 

Amar aktif berdialog dengan para pemuka agama supaya lebih terbuka dengan kelompok ragam gender dan seksual. Di sini, Amar berfoto dengan Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof Dr Nasaruddin Umar
Amar aktif berdialog dengan para pemuka agama supaya lebih terbuka dengan kelompok ragam gender dan seksual. Di sini, Amar berfoto dengan Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof Dr Nasaruddin Umar

IM: Kalau begitu apa harapanmu mengenai penerimaan kelompok agama ?

AA: Aku tidak bicara harapan. Aku ingin menuntut, aku ingin menggugat.

Aku ingin menggugat dan menuntut tanggung jawab orang, institusi, dan kelompok agama, untuk menunjukkan sejauh mana konsep welas asih, compassion—atau konsep rahmatan lil alamin dalam Islam—sejauh mana level toleransi dan kemanusiaan yang mereka junjung.

Orang selalu bilang ‘oh agama kami cinta damai, agama kami memanusiakan manusia’, tapi benar nggak? Mau memanusiakan minoritas gender dan seksualitas nggak? Karena kelompok ini yang suka terakhir dibawa. 

Kalau benar Tuhan Anda Maha Kasih Maha Rahmah Maha Rahim, tunjukkan kepada kami yang selalu diberi stigma dan tidak diberi ruang. 

 

*Semua foto disediakan oleh narasumber

 

Amar Alfikar menempuh studi MA Theology and Religion di University of Birmingham dengan dukungan penuh Beasiswa Chevening. Berasal dari Kendal, Jawa Tengah, Amar adalah pegiat lintas-iman serta ragam gender dan seksualitas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here