4 Tips Menyelesaikan Tesis S2 di UK

0
342
University of Liverpool, universitas tempat penulis dulu menempuh S2

Salah satu persyaratan menyelesaikan studi magister adalah penyusunan tesis. Penyusunan tesis seringkali menjadi hal yang menakutkan bagi sebagian orang. Pada artikel kali ini, Surya membagikan tips untuk menyelesaikan tesis S2 dengan sukses, khususnya di UK.  Yuk, kita baca tipsnya!


Tahap terakhir dalam menempuh kuliah magister coursework di UK adalah penyusunan tesis. Tulisan ini menceritakan pengalaman saya ketika menyusun tesis di University of Liverpool pada tahun 2015 lalu (latar belakang yang lebih lengkap tentang saya bisa kalian baca di sini).

Salah satu hal tersulit bagi saya dalam menempuh S2 dulu adalah mendemonstrasikan critical thinking, apalagi waktu awal semester pertama.

Saya ingat waktu mendapatkan hasil nilai esai (assignment) pertama saya. Nilainya hanya 56. Passed sih, tapi kok kecewa ya (bagi yang belum familiar tentang kategori penilaian tugas untuk kampus di UK, coba googling ya). Jujur, setelah pulang ke flat di hari itu, lembar hasil tersebut langsung saya masukkan ke laci meja belajar dan tidak pernah saya buka-buka lagi. Feedback-nya pun tidak saya baca.

Tapi, setelah itu saya meminjam hasil assignment milik seorang classmate saya yang nilainya 70. Saya coba analisis poin-poin penting yang Ia tulis untuk memahami apa yang sebenarnya diharapkan oleh para dosen kami. Alhamdulillah, sejak saat itu nilai tugas-tugas kuliah saya bisa meningkat.

Selain itu, saya bukan termasuk mahasiswa yang sangat aktif di kelas. Saya juga bukan tipikal mahasiswa yang gemar menghampiri dosen untuk berdiskusi lebih lanjut setelah jam kuliah selesai.

Bahkan, saya pernah diomeli seorang dosen saya dalam satu sesi kuliah karena saya keliru dalam memahami instruksi beliau terkait pengumpulan paper untuk referensi materi diskusi. Tapi setelah saya disuruh memaparkan paper tersebut, beliau malah jadi lebih lunak terhadap saya (mungkin beliau setuju dengan apa yang saya sampaikan). Menariknya, beliau juga lah yang akhirnya menjadi supervisor tesis saya.

Sebelum masa penyusunan tesis resmi dimulai, kami (mahasiswa jurusan saya dan 2 jurusan lain yang satu rumpun) dikumpulkan di satu auditorium untuk sesi pengenalan tesis oleh seorang dosen. Ada 2 poin penting yang saya peroleh dari situ:

  • Pertama, secara teknis, mengerjakan tesis S2 itu tidak jauh berbeda dengan skripsi S1. Strukturnya pun sama tapi dengan jumlah kata 15 ribu.
  • Kedua, mengerjakan tesis itu lebih mengenai bagaimana mahasiswa membina hubungan baik dengan supervisor.

Untuk poin pertama, oke lah, tapi ada subtext di situ, yaitu ‘tidak jauh berbeda tapi harus mendemonstrasikan critical thinking dengan kuat’. Sementara itu, firasat saya mengatakan kalau poin kedua akan berperan lebih banyak di sini karena pada dasarnya, ini seperti hubungan pekerja dan atasannya di kantor.

Dari pengalaman saya selama bekerja, semakin baik (cocok) hubungan seorang pekerja dengan atasannya, akan semakin tinggi kemungkinan pekerja tersebut untuk berprestasi.

University of Liverpool – Victoria Building
University of Liverpool – Victoria Building

 

Mengacu ke poin kedua di atas, berikut adalah tips sederhana tapi ampuh untuk menyelesaikan tesis S2 di UK dengan sukses versi saya:

1. Jangan Bolos Sesi Konsultasi

Ada 7-8 orang mahasiswa yang dibimbing oleh supervisor saya. Dulu, hampir tiap seminggu sekali kami dijadwalkan untuk berkonsultasi dengan beliau. Perlu kalian ingat (atau ketahui) kalau masa pengerjaan tesis S2 di Inggris itu kira-kira hanya 3 bulan di musim panas, masa ketika orang-orang pergi berlibur. Sayangnya (tapi untung bagi saya), hal ini dilakukan oleh sebagian rekan-rekan saya. Saran saya: jangan pernah bolos sesi konsultasi.

Dulu ada 1-2 kali sesi yang ternyata pesertanya hanya saya saja. Jika berada dalam situasi ini, bersyukurlah karena tanpa perlu berusaha ekstra, kalian akan tampak menonjol dan diingat secara positif oleh supervisor kalian. Lagipula, tidak adanya antrian mahasiswa lain itu artinya diskusi kalian dengan beliau juga akan lebih santai.

Terkait liburan, dulu saya memutuskan untuk pergi di awal Oktober setelah tesis saya dan ujiannya selesai.

2. Selalu Tunjukkan Progress di Setiap Sesi Konsultasi

Poin ini menyangkut manajemen waktu dan workload. Dengan sistem konsultasi seminggu sekali, kita harus menghasilkan progress (misal, draf utuh untuk satu bab) setiap minggu kecuali bila ada libur (biasanya karena supervisor berhalangan).

Ini berkaitan dengan skala prioritas. Prioritas saya di minggu-minggu awal adalah untuk memenuhi kelengkapan jumlah chapter tesis, sedangkan di minggu-minggu pertengahan dan akhir lebih diprioritaskan untuk memastikan koherensi seluruh paragraf dan chapter yang sudah disusun.

Jadi, saat minggu-minggu awal itu, saya susun dulu bab demi bab tesis dengan “seadanya” — maksudnya, saya belum memeriksa kembali koherensi semua bab yang sudah disusun seiring waktu.

Pada saat minggu-minggu tengah atau akhir, saya kemudian baru cek kembali, apakah ada bagian-bagian yang perlu saya revisi sendiri (tanpa diminta) untuk memastikan bahwa semua paragraf dan chapter yang ada sudah saling mendukung dan koheren. Bila membutuhkan bahan untuk tambahan diskusi, hasil revisi sendiri ini bisa digunakan sebagai alternatifnya.

Terkait dengan manajemen waktu: penting untuk tetap mencari hiburan bila memang kira-kira ada waktu luang. Hindari terlalu stress karena tesis yang pada akhirnya dapat berdampak pada kesehatan.

Yang dulu kadang saya lakukan adalah googling di malam hari (bila esoknya tidak ada konsultasi) tentang event atau tempat di kota lain di dalam UK yang menarik, lalu langsung beli tiket kereta/bus untuk pergi besok paginya. Bila perlu, saya sekalian bawa laptop untuk lanjut mengerjakan tesis entah di perpustakaan atau kafe di kota tersebut sebelum balik ke Liverpool malamnya.

Berhubung saat itu musim panas, saya merasa sayang bila hanya di flat saja dan tidak eksplorasi.

Liverpool Central Library, salah satu tempat favorit penulis untuk mengerjakan tugas
Liverpool Central Library, salah satu tempat favorit penulis untuk mengerjakan tugas
3. Tunjukkan kalau Revisi yang Diminta oleh Supervisor Sudah Dipenuhi

Dulu waktu menyusun skripsi S1, ketika bimbingan, supervisor saya kadang meminta saya untuk melakukan revisi ini dan itu. Tapi saat sesi bimbingan berikutnya, beliau tidak menanyakan hasilnya. Saya pun tidak mengingatkan beliau karena jadwal beliau yang memang super sibuk dan juga karena saya tidak mau repot.

Untuk tesis ini, saya melakukan kebalikannya. Di awal sesi, saya selalu bilang ke supervisor saya, “Last week, you told me to do this, to change this and this, etc….(sambil menunjukkan hasilnya).” Ini terlepas dari entah sebenarnya beliau ingat atau tidak.

Ada 2 hal yang terjadi setelah saya menerapkan ketiga tips di atas.

Pertama, saya merasa bahwa sesi konsultasi dengan supervisor saya itu bukanlah hal yang menakutkan, tapi cenderung enjoyable.

Kedua, saya merasa bahwa dengan saya, beliau menjadi lebih helpful. Beliau memberikan lebih banyak saran dan informasi kepada saya ketimbang rekan-rekan mahasiswa yang lain, dan ini benar-benar membantu.

4. Mintalah Tanggal Ujian atau Sidang Tesis Paling Awal

Ini adalah langkah pamungkas yang dulu saya lakukan. Bila memungkinkan, mintalah tanggal ujian tesis paling awal ketika (harapannya) supervisor kalian juga masih ingat betul kalau kalian sudah berusaha berperilaku baik dengannya sepanjang masa penyusunan tesis. Entah saya dapat urutan kedua atau tiga pagi itu. Sebenarnya, saya ingin cepat-cepat sidang karena ingin semuanya segera selesai dan saya bisa traveling keluar UK tanpa beban.

Tapi secara tidak sadar, ternyata saya telah menerapkan ‘primacy effect’ terhadap supervisor saya dan dosen penguji (satu orang). Primacy effect adalah kecenderungan untuk lebih mengingat sesuatu yang disajikan paling awal (dari suatu urutan) dengan lebih baik. Pastikan kalian meninggalkan kesan yang positif di hadapan mereka.

Selain primacy effect, sebenarnya ada juga recency effect, yaitu kecenderungan untuk lebih mengingat sesuatu yang disajikan paling akhir. Bila teman-teman tidak masalah melakukan presentasi urutan terakhir, mungkin cara ini bisa dicoba.

Saya ingat yang dikatakan supervisor saya persis sebelum saya presentasi, “I’ve been waiting for this session. I’ve read your thesis, and I enjoyed it.”

Lalu coba tebak, siapa yang jadi dosen penguji hari itu?

Tak lain adalah sang dosen yang menasihati kami untuk menjaga hubungan baik dengan supervisor di awal tadi.

Sidang saya berjalan dengan sangat mulus, dan saya merasa beruntung sekali.

Kalimat penutup lembar acknowledgment di tesis penulis
Kalimat penutup lembar acknowledgment di tesis penulis

Judul tesis saya adalah Assessment of Cloud ERP Awareness in Indonesian Companies. Metode pengumpulan data yang saya gunakan adalah mayoritas menyebar kuesioner. Adapun untuk metode analisis data, saya menggunakan Borda Count dan Microsoft Excel semata yang benar-benar sederhana sekali.

Terkait dengan pengumpulan data penelitian, saya menyebarkan Google Forms ke teman-teman saya yang bekerja di Indonesia. Selain itu, kuesioner juga saya sebar di grup Facebook Awardee LPDP yang seangkatan serta ke sesama mahasiswa Indonesia di Liverpool untuk kemudian disebar ke jaringan pertemanan mereka. Seandainya ada dari teman-teman yang jumlah responden untuk penelitiannya masih kurang, maka dapat mencoba meminta bantuan Awardee LPDP yang satu kota atau satu kampus dengan kalian untuk membantu menyebarkan.

Ketika tiba pengumuman, tertulis bahwa tesis saya itu diberi nilai 73. Digabung dengan nilai-nilai modul lainnya, rerata nilai saya adalah 69 koma sekian, masih di bawah 70. Tapi, status kelulusan saya tertulis ‘pass-distinct’. Entah karena discretion atau karena memang ada perhitungan yang lebih detail sehingga akhirnya saya masih eligible, saya akhirnya bisa lulus dengan predikat distinction.

Apa yang saya capai disini tidak serta-merta menjamin bahwa nantinya saya akan mudah mendapatkan pekerjaan sesuai dengan harapan saya atau lainnya. Ini juga bukan tentang menghasilkan penelitian yang terbaik. Ini adalah tentang memanfaatkan waktu dan sumber daya yang saya miliki untuk mengoptimalkan pengalaman hidup saya selama studi di luar negeri, bisa menikmati prosesnya dan, syukur-syukur, hasilnya juga.

Saya masih ingat di awal dulu setelah alokasi supervisor dilakukan, pernah sekali waktu, kami, 7-8 mahasiswa yang dibimbing oleh beliau tadi berdiskusi singkat di depan kelas dengan beliau. Ini masih sebelum masa konsultasi. Kami ditanya satu per satu tentang judul tesis yang mau ditulis. Yang lain bisa menjawab dengan lancar, sedangkan saya menjawab, “I’m not sure yet” karena saya memang belum yakin.

Beliau menjawab, “You’re not sure yet?…I’m worried about you.

Alhamdulillah ya.

Bisa membangun hubungan yang baik dengan supervisor saya termasuk salah satu hal paling berkesan yang saya peroleh sepanjang studi di Liverpool.

***

Semua foto disediakan oleh penulis.
Editor: Haryanto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here