Tips Memulai Aplikasi Studi PhD di Kala Pandemi ala Sari

0
647
Sari Puspita Dewi mahasiswa PhD in Translation Studies di UNSW Sydney, Australia. Sumber: Dokumentasi pribadi
Sari Puspita Dewi mahasiswa PhD in Translation Studies di UNSW Sydney, Australia. Sumber: Dokumentasi pribadi

“Pandemi COVID-19 menjadi tantangan tersendiri bagi mereka yang berencana untuk studi lanjut di luar negeri, termasuk di jenjang doktoral/PhD. Simak kisah dan tips Sari Puspita Dewi, mahasiswa PhD di School of Humanities and Languages di The University of New South Wales (UNSW) Sydney, dalam mempersiapkan aplikasi studi PhD di kala pandemi.”

***

Awal mula persiapan aplikasi dan studi PhD di UNSW Sydney

Halo Indonesia Mengglobal!

Sejak tahun 2013, saya bekerja sebagai salah satu dosen di kampus negeri di Jakarta, sekaligus memulai karir sebagai penerjemah freelance sejak tahun 2006. Sebagai seorang dosen, saya menemukan fenomena bahwa hanya sedikit sekali mahasiswa yang menggunakan referensi berbahasa Inggris karena mereka merasa tidak mampu untuk memahami bahasa dengan level tersebut. Lalu saya coba tanyakan kepada mereka apakah mereka telah mencoba membaca buku dalam versi terjemahan. Saya sangat terkejut dengan jawaban mahasiswa saya karena mereka merasa “kurang enak dan kurang nyaman untuk membaca buku versi terjemahan.” Fenomena yang sama pun saya temukan dari persepsi para dosen sejawat yang juga merasa tidak nyaman dengan buku versi terjemahan.

Di sela-sela kesibukan sebagai mahasiswa PhD. Sumber: Dokumentasi pribadi
Di sela-sela kesibukan sebagai mahasiswa PhD. Sumber: Dokumentasi pribadi

Sebagai seorang dosen yang merangkap juga sebagai penerjemah profesional, saya merasa tertarik untuk menelaah lebih lanjut tentang fenomena ini. Selain itu, saya pun coba memahami teori relevan berkaitan dengan fenomena ini, sehingga akhirnya jadilah proposal penelitian untuk riset PhD saya. Dengan kata lain, awal mula persiapan aplikasi PhD saya adalah berkaitan dengan menelaah masalah yang relevan dengan situasi kerja atau profesional yang saya hadapi.

Setelah itu, saya pun mulai melakukan “campus-shopping” untuk mencari potential supervisors yang dapat membimbing proyek penelitian yang saya ajukan. Istilah “campus-shopping” ini bermaksud sebagai upaya kita untuk seolah-olah “berbelanja kampus” dengan cara melihat dan menelaah para ahli di bidang penerjemahan di kampus-kampus kelas dunia. Dalam hal ini, saya coba mengirimkan proposal saya ke tiga kampus yang berbeda (1 kampus di Amerika Serikat & 2 kampus di Australia). Alhamdulillah, semua supervisor di tiga kampus tersebut tertarik untuk membimbing penelitian saya.

Di tahun 2019, setelah mendapatkan potential supervisors, saya mulai mengurus berkas administratif untuk mendapatkan Letter of Acceptance (LoA). Setelah itu, di pertengahan tahun 2019, saya pun mendaftar beasiswa LPDP yang syukurnya akhirnya saya mendapatkan pengumuman diterima sebagai penerima beasiswa LPDP untuk jenjang PhD di akhir tahun 2019. Dengan kata lain, saya memerlukan waktu kurang lebih satu tahun untuk menemukan supervisors, mengurus LoA, dan mendapatkan beasiswa.

UNSW Library Lawn with clock and library tower. Sumber: UNSW Flickr
UNSW Library Lawn with clock and library tower. Sumber: UNSW Flickr

Saat ini saya baru saja memulai perjalanan sebagai mahasiswa PhD in Translation Studies, School of Humanities and Languages di Faculty of Arts, Design & Architecture, UNSW Sydney. Setelah melakukan berbagai observasi di berbagai kampus di negara maju, saya memilih Australia sebagai destinasi studi karena riset penerjemahan dengan pasangan Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia itu sebagian besar dilakukan di kampus-kampus Australia. Selain itu, teori yang ingin saya gunakan untuk memahami fenomena masalah yang saya identifikasi itu merupakan fokus para pakar/profesor di UNSW Sydney. Menariknya lagi, salah satu pakar di UNSW Sydney ini sempat saya temui di suatu workshop di Indonesia pada tahun 2018, yang akhirnya beliau menjadi supervisor saya saat ini.

Pandemi dan dampaknya terhadap proses aplikasi dan studi PhD

Setiap saya membicarakan tentang dampak pandemi terhadap proses aplikasi dan studi PhD yang saya alami, rasanya saya selalu ingin menangis. Hal ini karena pandemi COVID-19 ini muncul tepat saat saya akan berangkat studi ke Sydney. Di sisi positifnya, pandemi ini memberikan tantangan lebih untuk saya hadapi sehingga saya menjadi lebih kuat. Akan tetapi, sejujurnya pandemi ini cukup mengganggu rencana yang saya miliki

Dalam hal ini, di bulan Desember 2019, saya sudah memulai persiapan untuk relokasi dari Indonesia ke Sydney, seperti aplikasi visa dan sebagainya. Di bulan Maret 2020, sebagian besar negara di dunia termasuk Australia menutup batas wilayahnya. Sementara itu, saya berencana berangkat ke Australia di bulan Mei 2020. Hal ini tentunya sangat mengubah rencana saya dalam memulai studi PhD.

Sari dan supervisornya saat proses bimbingan PhD secara daring. Sumber: Dokumentasi pribadi
Sari dan supervisor-nya saat proses bimbingan PhD secara daring. Sumber: Dokumentasi pribadi

Selama bulan-bulan tersebut, saya menunggu kepastian apakah saya dapat memulai studi PhD melalui daring/online atau tidak. Alhasil di bulan September 2020, mahasiswa PhD diperbolehkan untuk menjalani program PhD dari luar negeri atau external enrolment dengan berbagai syarat tertentu. Salah satu syaratnya adalah ketersediaan lab/workshop di negara asal untuk menunjang studi hingga hal-hal yang lebih rinci seperti rincian biaya, latar belakang kemampuan riset, dan lainnya. Secara keseluruhan, terdapat 28 pertanyaan yang harus dijawab secara rinci untuk memeriksa kelayakan kita dalam memulai studi PhD dari negeri asal. Setelah melalui proses administratif tersebut selama beberapa minggu, akhirnya saya dinyatakan layak untuk memulai studi PhD dari Indonesia untuk sementara ini.

Sebagai penyedia beasiswa selama saya studi PhD, LPDP membolehkan para awardee-nya untuk melakukan studi PhD di negara asal dengan beberapa syarat tertentu. Dalam hal ini, LPDP meminta surat khusus dari kampus tujuan yang menyatakan bahwa saya diperbolehkan untuk mengikuti proses bimbingan sebagai PhD student secara daring. Setelah surat pernyataan resmi dari kampus dirilis, maka LPDP mulai menyediakan pembiayaan yang diperlukan saat saya memulai proses pembelajaran sebagai mahasiswa PhD.

Support dari kampus untuk off-campus PhD students

Baik untuk mahasiswa PhD off-campus atau on-campus, menurut saya bantuan dari kampus sama besarnya. Kampus tidak hanya fokus membantu hal-hal teknis, seperti pengadaan buku atau kemampuan menulis akademik, tetapi juga mendukung wellbeing dan kesehatan mental para mahasiswa PhD. Selain itu, dalam segi sumber bacaan pun kampus saya sangatlah membantu dalam mendapatkan referensi dari supervisor saya. Saat itu, saya diminta oleh supervisor untuk membaca buku-buku referensi yang sangat baru dan saat itu belum ada di koleksi perpustakaan kampus. Ternyata saya dapat meminta kepada perpustakaan untuk pengadaan referensi tersebut, bahkan kampus dapat mengirimkan bukunya dalam bentuk fisik langsung ke Indonesia.

Bantuan penting lainnya yang diberikan oleh kampus untuk offshore PhD students adalah adanya Emergency Hardship Fund atau dana darurat yang dapat diajukan oleh mahasiswa PhD selama pandemi. Bantuan ini sangat penting bagi mahasiswa internasional yang menggunakan dana pribadi untuk studi serta belum dapat mengakses fasilitas kampus, seperti koneksi internet, ruang kerja, komputer/laptop, dan ATK.

Lesson learned tentang studi PhD saat pandemi

Ada dua hal menarik yang saya pelajari selama saya studi PhD di masa pandemi ini: aspek kecanggihan kampus dan aspek diri sendiri. Walaupun para mahasiswa PhD menjalankan proses studi melalui daring di mana seolah tidak ada pihak yang mengawasi, tetapi kampus ternyata bisa memantau kita dengan baik. Sebagai contoh, saat sesi orientasi kampus, saya diminta untuk menonton suatu video untuk memahami dinamika pembelajaran di kampus dengan lebih baik. Saat itu saya memutuskan untuk melewatkan video tersebut karena merasa sudah memahami materi yang akan disampaikan. Akan tetapi, keesokan harinya, ternyata saya mendapatkan email dari kampus. Inti dari email tersebut adalah memberi peringatan bahwa saya belum menonton video tersebut. Alhasil saya mencoba menonton video tersebut. Setelah selesai menonton, saya otomatis mendapatkan email yang memberi informasi bahwa aktivitas saya di video tersebut sudah tercatat.

Pelajaran yang kedua adalah berkaitan dengan diri sendiri. Dengan situasi yang luar biasa berubah saat ini, saya justru merasa mempelajari bahwa pencapaian tujuan itu pada akhirnya bergantung kepada diri kita sendiri. Oleh karena itu, saya memaksakan diri saya untuk terus membaca dan mempelajari riset saya secara mandiri. Dengan kata lain, remote candidature ini justru memberikan hal positif bagi saya pribadi karena saya menjadi lebih sadar untuk menyusun strategi dan menerapkannya dengan disiplin guna mencapai suatu tujuan.

Associate Professor Mira Kim sebagai Supervisor untuk penelitian Sari di UNSW Australia. Sumber: Dokumentasi pribadi
Associate Professor Mira Kim sebagai supervisor untuk penelitian Sari di UNSW Australia. Sumber: Dokumentasi pribadi

Suatu waktu, supervisor saya menanyakan alokasi belajar saya selama ini dalam sehari. Saya katakan kepada beliau bahwa saya menghabiskan waktu 3-4 jam per hari. Supervisor saya kaget, karena seharusnya mahasiswa PhD purnawaktu/full time itu menghabiskan waktu 7-8 jam untuk belajar dan riset. Alhasil selama pandemi ini saya belajar untuk menertibkan manajemen waktu saya dengan tanggung jawab saya sebagai ibu, istri, dan mahasiswa PhD. Pada akhirnya, saya menikmati kemajuan yang luar biasa saat saya push myself.

Tips untuk calon pendaftar program PhD

Saya berharap dapat menyelesaikan studi PhD dengan status “excellent”, sehingga menjadi penghargaan tersendiri juga untuk usaha dan doa yang saya lakukan. Selain itu, saya juga berharap bahwa border Australia segera dibuka di bulan Desember berdasarkan informasi dari New South Wales Government. Mudah-mudahan saya dapat melanjutkan proses studi PhD dengan mode on-campus setelah selesai Confirmation Review di bulan November ini, sehingga setidaknya saya dapat merasakan honeymoon dalam bidang akademik setelah melewati hal rumit pertama dalam bentuk Confirmation Review.

Dari saya pribadi, ada beberapa tips bagi para pembaca yang berencana memulai aplikasi studi PhD di masa pandemi. Pertama, kita tidak perlu membedakan proses aplikasi saat dan sebelum pandemi. Dalam hal ini, Anda tetap berusaha untuk menemukan tema riset, menyusun proposal, dan mencari supervisors dengan cara “campus-shopping.” Kita benar-benar harus mencari supervisors yang benar-benar sesuai atau cocok dengan tema riset atau teori yang akan digunakan.

Prinsip Sari Puspita Dewi dalam menjalani studi PhD. Sumber: Dokumentasi pribadi
Prinsip Sari Puspita Dewi dalam menjalani studi PhD. Sumber: Dokumentasi pribadi

Kedua, diperlukan kesabaran dan strategi tertentu untuk menghubungi potential supervisors. Dalam situasi pandemi seperti sekarang, terkadang para supervisors memiliki kesibukan yang lebih banyak. Oleh karena itu, kita dapat mengingatkan mereka apabila email kita belum dibalas dalam kurun waktu lebih dari 5 hari atau seminggu. Tentunya, kita harus berlaku sopan saat memberikan email pengingat kepada mereka.

Ketiga, Anda perlu siapkan diri bukan hanya dalam konteks akademik tetapi juga hal non-akademik. Contohnya, banyak mahasiswa PhD yang turut mengajak anggota keluarganya ke tempat tujuan studi. Anda perlu perhatikan bagaimana aktivitas pasangan dan anak-anak Anda di sana, seperti pekerjaan pasangan dan sekolah anak-anak.

Terakhir, mulai siapkan aplikasi studi PhD dari sekarang, karena kita tidak pernah tahu kapan pandemi COVID-19 ini benar-benar dapat diatasi dengan sepenuhnya. Apabila Anda sudah memiliki keinginan kuat untuk kuliah dan sudah menemukan masalah untuk dijadikan tema riset, maka Anda bisa mulai persiapan aplikasi studi PhD dengan segera.

***

Editor: Yogi Saputra Mahmud


SHARE
Previous article5 Strategi Memperluas Pertemanan di Luar Negeri sebagai Introvert
Next articleSerba-serbi Penulisan Disertasi MBA di UK
Sari Puspita Dewi
Awarded with the LPDP Scholarship, Sari Puspita Dewi is currently working full time on her PhD in Humanities and Languages at UNSW Sydney. She is also active in the Overseas Indonesian Students Association Alliance (PPI Dunia), and in Keluarga Pelajar Islam Indonesia (KPII) Sydney. She is an Assistant Professor in the English Language at Politeknik Negeri Jakarta and has been a translator since she was a bachelor student. Sari received a bachelor’s degree in English Language and Teacher Training from Universitas Negeri Jakarta, a Cum Laude Judicium in master’s degree in the same field from the same university. Her field research of interest is in English for Specific Purposes, translation studies and ICT. She published her papers in national and international journals and seminars. Additionally, in non-academic life, Sari enjoys singing, playing piano, and storytelling. Her hobby helped her students in winning competitions, such as respective Storytelling and Monologue competitions.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here