Pengalaman Mengikuti Program Dual Degree dengan Kampus Australia saat Pandemi

0
295
Dewi Fitria Ditaningsih saat berkunjung ke The University of Queensland di Brisbane sebelum pandemi. Sumber: Dokumentasi pribadi
Dewi Fitria Ditaningsih saat berkunjung ke The University of Queensland di Brisbane sebelum pandemi. Sumber: Dokumentasi pribadi

“Dewi Fitria Distianingsih adalah seorang mahasiswa S1 di Universitas Indonesia program studi Teknik Industri dengan skema Kelas Khusus Internasional (KKI). Melalui program KKI ini, ia dapat menikmati program akademik dual degree dengan kampus The University of Queensland di Brisbane, Australia. Akan tetapi, pandemi COVID-19 memberikan tantangan sekaligus pelajaran penting bagi sosok Dewi dalam mengikuti kegiatan dual degree ini. Simak kisahnya di artikel berikut ini.”

***

Halo Indonesia Mengglobal!

Perkenalkan, nama saya Dewi! Saya berasal dari Jakarta.

Sejak kecil saya sudah tertarik dengan hal-hal yang berkaitan dengan internasional. Salah satunya adalah penggunaan Bahasa Inggris di kehidupan sehari-hari saya, mulai dari menonton televisi dengan program berbahasa Inggris hingga membaca buku dalam Bahasa Inggris. Walaupun saya sudah tertarik dari dulu, masih banyak yang perlu dipelajari dan diasah lagi, misalnya kemampuan speaking karena lingkungan sekitar saya tidak terlalu aktif dalam berbahasa Inggris. Dari situlah saya terinspirasi untuk mencari sekolah yang berbasis Bahasa Inggris.

Pada saat saya beranjak ke jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP), saya mengincar sekolah negeri yang berstandar Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) atau Sekolah Standar Nasional (SSN). Hasilnya adalah sekolah RSBI ditiadakan dan saya tidak diterima di kelas bilingual di sekolah SSN. Hal ini tidak membuat saya patah semangat untuk mencoba di tingkat perkuliahan, walaupun terdapat rasa hopeless dan tidak percaya diri. Pada akhirnya, saya diterima di Universitas Indonesia (UI) dengan program studi Teknik Industri melalui program kelas khusus internasional yang mengantarkan saya ke program dual degree dengan The University of Queensland, Australia.

Program dual degree antara Universitas Indonesia dan The University of Queensland

Kategori kelas di UI terbagi menjadi tiga macam, yaitu kelas reguler, paralel, dan internasional. Kelas khusus internasional (KKI) adalah kelas yang bahasa penyampaiannya menggunakan Bahasa Inggris dan mewajibkan mahasiswanya untuk menjalankan studi di luar negeri dengan kurun waktu minimal satu semester guna memenuhi persyaratan kelulusan. Terdapat dua pilihan untuk mahasiswa KKI, yaitu program single degree dengan melakukan exchange program / study abroad selama satu hingga dua semester; atau program double degree.

Saat ini saya sedang belajar di UQ dengan program Bachelor of Business Management. Program yang saya jalankan ini termasuk program double degree, yang mana saya akan mendapatkan dua gelar dari kedua universitas tempat saya belajar. Program double degree ini sangat menarik bagi saya karena program studi yang ditawarkan adalah program yang saya juga sangat minati, yaitu Business Information Systems dan saya dapat belajar di luar negeri lebih lama, yakni sekitar 1.5 tahun.

The University of Queensland St Lucia Campus. Sumber: WE-EF Lighting on Flickr
The University of Queensland St Lucia Campus. Sumber: WE-EF Lighting on Flickr

Proses pertama yang harus dilakukan yaitu menghubungi bagian Humas Fakultas untuk mengetahui persyaratan yang perlu disiapkan. Persyaratan yang utama berupa IPK tidak di bawah 2.75 dan salah satu nilai dari English proficiency tests, untuk IELTS minimal dengan nilai keseluruhan 6.5 dan tidak ada subscore di bawah 6. Selain itu, menyiapkan dokumen-dokumen pribadi dan mengumpulkan semua persyaratannya kembali ke bidang Humas Fakultas.

Karena program double degree ini hanya tersedia untuk di beberapa universitas mitra, jadi tidak banyak pilihan untuk memilih universitas seperti yang bisa dilakukan jika single degree dan prosesnya termasuk straightforward. Mengenai beasiswa, program double degree ke UQ menyediakan partially-funded scholarship, yaitu The Global Connect Scholarship. Beasiswa ini sangat membantu meringankan biaya kuliah saya dengan potongan 25% dari tuition fees untuk setiap semesternya.

Saat memutuskan mengambil program ini, saya tetap yakin untuk meneruskannya walaupun sudah tahu keadaan pandemi baru saja dimulai dan makin banyak uncertainties yang akan dihadapi. Yang membuat saya terus yakin adalah karena tujuan saya belajar di UI dan UQ, restu, doa dan dorongan kedua orang tua yang tidak dapat terhitung, serta orang-orang terdekat saya yang selalu memberikan semangat kepada saya.

Pengalaman dual degree dengan kampus Australia di masa pandemi

Memulai sesuatu kembali merupakan hal yang tidak mudah, sama halnya dengan memulai perkuliahan di tempat baru. Pandemi ini mengakibatkan saya harus tetap bisa mengontrol baik pikiran maupun kegiatan saya dengan sebaik-baiknya. Kadangkala, ketakutan datang akibat pikiran-pikiran seperti apakah saya bisa berangkat, bagaimana berteman dengan orang-orang di sana, apakah saya good enough untuk sekolah di sini, dan lainnya.

Pikiran-pikiran tersebutlah yang bisa mempengaruhi kegiatan saya sehari-hari. Dari sini, saya memutuskan untuk gabung Perhimpunan Pelajar Indonesia di Australia (PPIA) agar saya bisa bertemu dan berkumpul dengan sesama pelajar Indonesia di Australia dan sama-sama menciptakan sense of belonging. Selain hal-hal tersebut, di masa pandemi ini, koneksi internet dan tempat untuk belajar sering menjadi kendala dalam perkuliahan. Untuk menghindari hilangnya koneksi yang tiba-tiba, saya selalu menyiapkan wifi portable atau personal hotspot dari handphone.

Selain itu, penting untuk menyediakan tempat belajar yang bisa membuat kita nyaman. Saya sendiri menambahkan dekorasi untuk workstation saya dilengkapi keperluan alat tulis, lampu belajar, laptop stand, kursi yang nyaman dan camilan yang bisa membantu menghindari rasa kantuk saat belajar. Selain itu, saya pun menambahkan pengharum ruangan untuk menciptakan suasana yang lebih nyaman. Hal lain yang tidak kalah penting yaitu menjaga badan untuk senantiasa sehat. Terkadang jika badan sudah merasa lemas dan nyeri akibat kelamaan duduk atau faktor lainnya, dapat menghambat banyak kegiatan saya termasuk belajar. Untuk menghindari ini, saya mencoba mengatur pola makan yang baik, yaitu makanan yang penuh nutrisi, banyak minum air dan usahakan banyak bergerak juga.

Meja belajar Dewi. Sumber: Dokumentasi pribadi
Meja belajar Dewi. Sumber: Dokumentasi pribadi

Perbandingan antara studi di UI dan UQ

Seiring berjalannya waktu, saya merasa lebih percaya diri ditambah lagi karena hal-hal baru yang saya alami di UQ, seperti metode pembelajarannya. Berbeda dengan di UI yang satu semester bisa sekitar 8 mata kuliah dan hanya ada kelas lecture, di UQ hanya bisa mengambil maksimal empat mata kuliah dengan empat jenis kelas per mata kuliah, diantaranya: lecture, seminar, tutorial dan workshop.

Selain itu, seperti halnya di UI, saya bersyukur dapat bertemu dengan teman-teman yang saling membantu juga walaupun melalui kerja kelompok. Saya pun dapat berinteraksi dengan staf pengajar yang sangat mendorong saya untuk memahami materi-materi yang diajarkan. Di sini saya belajar untuk tidak takut bertanya atau menyampaikan sesuatu, walaupun terbatasi oleh jarak yang jauh akibat pandemi.

Dewi saat bekerja kelompok dengan mahasiswa lain di UQ. Sumber: Dokumentasi pribadi
Dewi saat bekerja kelompok dengan mahasiswa lain di UQ. Sumber: Dokumentasi pribadi

Fasilitas-fasilitas yang disediakan juga sangat membantu saya walaupun kuliah dari Indonesia, contohnya VPN untuk memudahkan mengakses jaringan kampus dan UQ Digital Workspace yang memungkinkan saya mengakses software applications melalui perangkat elektronik apapun. Untuk segi kegiatan organisasi, kedua universitas menyediakan berbagai macam organisasi yang bisa diikuti, organisasi tingkat fakultas dan bahkan universitas.

Rencana ke depan pasca studi dual degree di UI dan UQ

Setelah menempuh tiga tahun belajar di UI dan satu semester di UQ, saya terus memiliki ketertarikan pada bidang saya, yaitu teknik industri dan sistem informasi. Kedua bidang ini mendorong saya untuk terus berusaha menggali lebih dalam lagi tidak hanya tentang ilmunya tetapi juga implementasi di dunia nyata yang dapat membantu orang banyak.

Pasca studi ini, saya berharap untuk bisa meneruskan mencari ilmu pada bidang tersebut salah satunya dengan melanjutkan kuliah S2 dan memilih negara Amerika karena asal muasal adanya jurusan teknik industri. Tetapi kembali lagi, saya yakin Allah sudah menyiapkan jalan yang terbaik untuk saya ke mana pun saya akan diarahkan. Saya meyakini bahwa tempat tujuan nanti adalah tempat yang paling tepat dan terbaik untuk saya. Seperti perjalanan kuliah saya saat ini, saya tidak menyangka ternyata Allah gantikan keinginan saya sebelumnya dengan hal yang lebih baik.

Tips untuk para pembaca yang ingin mengikuti program dual degree di masa pandemi

Tidak ada yang tahu kapan dan bagaimana keadaan pandemi ini berakhir. Walaupun pandemi ini terlihat menghalangi kesempatan-kesempatan yang ada, yakinlah penghalang sesungguhnya adalah diri kita sendiri. Bagaimana kita menempatkan diri kita dan tujuan apa yang kita tuju, di situlah kita harus teliti dalam menentukannya. Agar tetap semangat dalam menimba ilmu di masa pandemi, fokuslah mencari ilmunya dengan cara menciptakan suasana yang nyaman untuk belajar, menyiapkan materi dan koneksi internet yang baik sebelum mulai kuliah, membuat jadwal kegiatan, mengatur pola makan yang baik dan tidak lupa berdoa.

Rapat pleno PPIA Pusat. Sumber: Dokumentasi pribadi
Rapat pleno PPIA Pusat. Sumber: Dokumentasi pribadi

Sesekali berikan reward bagi diri sendiri akan setiap milestone yang baru diraih, dapat berupa barang, makanan, atau hal-hal sederhana lainnya, seperti jalan pagi di pantai dan kumpul dengan keluarga dan teman. Pada akhirnya, kita sendirilah yang dapat membawa diri ke tempat yang dituju. Percayalah bahwa kita itu spesial dan mampu mengatasi berbagai tantangan dengan cara kita sendiri. Untuk menutup sebagian cerita dari saya sebagai orang biasa, saya teringat suatu kutipan yang selalu saya jadikan sebagai catatan di halaman muka laptop saya:

“I am trusting the uncertainty and believing I will end up somewhere right and good.” -unknown

***

Editor: Yogi Saputra Mahmud

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here