Belajar, Bertumbuh dan Berkontribusi di Telkom Indonesia: Dari Jadi CEO Startup Sampai Dapat Beasiswa ke Luar Negeri

0
314
Maya Susanti, lulusan S2 dari University of Glasgow yang sekarang berkarier di Telkom Indonesia

Ada banyak cara untuk berkontribusi positif bagi Indonesia setelah kembali dari studi di luar negeri. Salah satunya adalah bekerja di Badan Usaha Milik Pemerintah (BUMN) seperti PT Telkom Indonesia. Di artikel ini, Indonesia Mengglobal berbagi catatan wawancara dengan Maya Susanti, lulusan University of Glasgow, yang sedang meniti kariernya di Telkom Indonesia. Ia bercerita tentang pengalamannya bekerja di Telkom dan berbagi alasan mengapa kamu perlu mempertimbangkannya sebagai tempat kerjamu berikutnya!

Hai Maya! Bisakah kamu menceritakan sedikit latar belakang pendidikanmu dan mengapa kamu memilih untuk lanjut berkuliah di luar negeri?

Saya dulu kuliah S1 di Ilmu Hubungan Internasional Universitas Indonesia angkatan 2010, setelah itu sempat bekerja sebagai jurnalis selama tiga tahun. Pengalaman ikut konferensi PBB semasa kuliah dan dua kali pertukaran pelajar membuat saya menyukai global exposure. Selama menjadi jurnalis, saya sempat mendapatkan pelatihan dari Asia-Pacific Institute of Broadcasting Development (AIBD) di Malaysia dan program fellowship dari Texas A&M University, USA. Dari sana, saya semakin mantap untuk melanjutkan Pendidikan di luar negeri agar semakin banyak yang bisa dipelajari khususnya terkait media dan perspektif di lingkungan global.

Pada tahun 2015, saya mendapatkan beasiswa LPDP untuk melanjutkan studi S2 di jurusan Media Management di University of Glasgow, Skotlandia, UK. Melalui pendidikan lanjutan yang saya tempuh, saya ingin belajar lebih jauh khususnya tentang media dan manajemennya agar bisa lebih paham tentang kebijakan media, digital media, dan digital society.

Apa saja pelajaran-pelajaran dari pengalaman kuliah di Skotlandia yang paling berkesan untukmu?

Salah satu hal yang paling berkesan tentu saja pengalaman untuk “berkantor” di BBC Skotlandia sebagai bagian dari kegiatan perkuliahan. Selain itu, saya juga sempat meliput All England dan menjadi bagian dari tim liputan saat kunjungan Presiden Jokowi ke Inggris pada tahun 2016.

Secara non-akademis, selama masa kuliah saya menyempatkan solo travelling ke Peru selama dua minggu sebelum menulis disertasi. Ini adalah pengalaman solo travelling terjauh yang saya lakukan dan ternyata memberikan pengalaman begitu luar biasa, khususnya dalam hal mengenal diri sendiri. Selain itu, pengalaman bertemu dengan teman-teman dari pelbagai negara dan latar belakang yang mengambil jurusan yang sama sangat membantu saya untuk memahami lebih banyak perspektif, belajar budaya yang beragam yang membuat saya menjadi lebih open-minded.

Maya bersama teman-temannya saat upacara wisuda
Maya bersama teman-temannya saat upacara wisuda

Lalu, bagaimana ceritanya sampai kamu memutuskan untuk bergabung dengan Telkom saat kembali ke Indonesia?

Saat kembali ke Indonesia, tentu ada keinginan untuk dapat melanjutkan pengalaman menyenangkan yang saya rasakan selama berkuliah di luar negeri. Di Skotlandia, saya melihat landlord saya memiliki pekerjaan yang tidak terlalu menyita waktu tapi tetap sesuai dengan passion. Tinggal dengan keluarga asli Inggris sedikit banyak mengubah cara pandang saya terhadap pekerjaan dan cara menikmati hidup bersama keluarga. Saya pun ingin hidup secara content dan mindful seperti mereka, sehingga memutuskan memilih tempat bekerja yang bisa terus membuat kita untuk belajar, bertumbuh dan berkontribusi tanpa melupakan waktu untuk menjalankan peran lain seperti menjadi istri dan ibu. Jadi, salah satu motivasi untuk bergabung dengan Telkom Indonesia adalah karena saya menginginkan work-life balance.

Bisakah kamu jelaskan sedikit peranmu di Telkom?

Di Telkom Indonesia, saya bekerja sebagai Employer Branding Strategist. Saya dan tim melakukan kegiatan-kegiatan untuk mengenalkan budaya kerja di Telkom kepada mahasiswa, komunitas digital dan teman-teman diaspora. Kegiatan-kegiatan ini bertujuan agar mereka mendapatkan gambaran seperti apa sih bekerja di salah satu BUMN terbaik di Indonesia yang kini sedang bertransformasi menjadi digital telco. Secara pribadi, saya ingin semakin banyak orang menyadari bahwa mereka punya banyak pilihan untuk berkontribusi kepada bangsa setelah kembali ke tanah air, dan Telkom Indonesia bisa jadi salah satunya.

Hal-hal apa saja sih yang membuat bekerja di Telkom Indonesia berbeda dari perusahaan lainnya?

Para pegawai di Telkom Indonesia memiliki kesempatan untuk belajar, berkembang, dan berkontribusi (learn, grow, contribute).

IndonesiaMengglobal-03Telkom sedang bertransformasi menjadi digital telco, maka kita harus terus belajar agar bisa catch up dengan lingkungan kerja yang dinamis. Oleh karena itu, Telkom memiliki corporate innovation lab bernama Amoeba, dimana kita bisa menjadi CEO perusahaan startup kita sendiri. Di Amoeba, kita bisa mengumpulkan ide kita ke se
buah platform bernama IDEAbox, bergabung ke HACKIdea untuk merampungkan model bisnis, dan apabila semua lancar, kita bisa mengembangkan startup tersebut tanpa harus khawatir tentang tagihan bulanan, karena perusahaan akan menanggung semua biaya walaupun startup-nya gagal. Jadi, yang “lucunya” adalah perusahaan bahkan menyarankan agar kita gagal secepat mungkin, supaya kesuksesan bisa kita dapatkan secara lebih cepat.

Di Amoeba, saya bertemu banyak teman-teman inspiratif yang kami panggil dengan sebutan “inovator”. Salah satunya adalah Annisa yang bergabung ke Telkom setelah ia memenangkan sebuah kompetisi startup pada tahun 2017 dan sekarang sedang membangun SmartEye, salah satu produk digital yang merupakan revenue generator Telkom. Saya juga bertemu dengan Pathya, CEO Sprinthink, startup yang berdedikasi dalam membantu proses digitalisasi berbagai institusi dengan memberikan kelas, pelatihan, dan pendampingan bagi manajemen dan para pegawai. Mereka sangat passionate dalam berkontribusi kepada Telkom. Tapi, lebih dari itu, mereka memiliki purpose dan menemukan panggilan mereka.

IndonesiaMengglobal-04Saya juga merasa Telkom memberikan ruang bagi saya untuk tumbuh dan berkembang, baik secara pribadi dan profesional. Selama di Telkom, saya berkenalan dengan Aisyah yang keluar dari zona nyamannya dan berhasil mendapatkan beasiswa untuk lanjut studi ke University of Manchaster di Inggris. Selain itu, saya juga bertemu dengan Widy, inovator yang membangun Inecrow (salah satu startup Amoeba) yang mengambil studi master di bidang entrepreneurship di University of Edinburgh, UK, untuk mendukung startupnya. Saya sangat kagum terhadap cerita perjalanan mereka. Mereka mendapat beasiswa penuh dari Telkom.

Selain belajar dan berkembang, semua orang di Telkom juga bisa berkontribusi sesuai dengan passion mereka masing-masing. Dian, contohnya, salah satu teman saya dari University of Glasgow, membangun platform bernama Ayo Bikin Nyata untuk memastikan aktivitas CSR bisa dilakukan secara pribadi atau dalam tim yang kita bikin sendiri. Melalui platform ini, aktivitas CSR tidak hanya dilakukan berdasarkan kepentingan perusahaan, tapi juga membuka kesempatan bagi mereka yang paling membutuhkan. Saya dengar dari Dian bahwa mereka sedang membangun jembatan di daerah pedesaan, membantu pengusaha wanita, dan membantu anak-anak untuk pergi ke sekolah.

IndonesiaMengglobal-05Selain itu, kita juga punya MentorKU dari program Livingintelkom, sebuah program dari para profesional muda di Telkom untuk berbagi dan menjadi mentor bagi para mahasiswa untuk meng-upgrade kemampuan mereka dan mempersiapkan mereka untuk masuk ke dunia kerja. Melalui program ini, beberapa mentor juga membuka kelas untuk mereka yang ingin lanjut kuliah di luar negeri.

Oh ya, sebagai perusahaan yang terus bertransformasi, Telkom adalah BUMN pertama yang menerapkan Flexible Work Arrangement yang memungkinkan kita untuk bekerja secara fleksibel di rumah, di kantor maupun di kantor satelit terdekat. Inisiatif ini sudah dimulai sejak tahun 2017, dan semakin dimanfaatkan karyawan sejak pandemi. Secara pribadi, sebagai ibu muda, saya sangat bersyukur dengan adanya kesempatan untuk bisa kerja dari rumah (WFH) sehingga saya mempunyai waktu lebih banyak bersama anak-anak karena tidak harus menghabiskan waktu dua jam perjalanan rumah-kantor.

Selama pandemi ini, salah satu hal yang perlu diapresiasi dari Telkom adalah adanya pendampingan penuh untuk karyawan yang terpapar Covid-19. Ada juga platform With.U yang bisa digunakan oleh semua karyawan yang merasa butuh untuk berkonsultasi baik dengan pengelola human capital atau sekedar “curhat” dengan psikolog. Tidak terelakkan, saya sempat merasa sangat jenuh dengan pandemi yang tak kunjung usai dan akhirnya memilih untuk menghubungi psikolog lewat platform online With.U dan merasa sangat terbantu dalam hal menerima dan mengelola emosi.

Wah, menarik sekali! Hal-hal apa sajakah yang telah kamu terapkan dari pengalaman berkuliah di luar negeri di Telkom? Lalu, apa har
apanmu terhadap hasil kerja Telkom bagi Indonesia?

Maya dan teman-temannya di University of Glasgow
Maya dan teman-temannya di University of Glasgow

Merasakan hidup di luar negeri, meski hanya sebentar, membuat saya tidak menyukai birokrasi yang berbelit dan juga lingkungan yang otoriter. Beruntung, begitu masuk Telkom, lingkungan kerjanya egaliter dan birokrasi yang ada tidak berbelit karena terbantu dengan apa-apa yang serba digital.

Semoga Telkom bisa mengambil peran lebih banyak untuk membantu Indonesia agar semakin digital, karena menjadi digital bisa menjadi salah satu upaya agar kita semakin efisien dan efektif. Bayangkan jika semua sudah digital, data akan jadi satu, dan kita akan semakin mudah dalam segala hal, misalnya mengurus administrasi kependudukan, fasilitas kesehatan, pendidikan dan banyak hal lainnya.

Adakah pesan-pesan yang ingin kamu sampaikan kepada pemuda-pemudi Indonesia yang tertarik untuk melanjutkan karier di Telkom Indonesia?

Ada banyak hal yang ingin kita capai saat kita mulai berkarier. Semuanya penting, tapi tentu ada prioritas. Kenali dulu apa yang ingin kita cari. Saya pribadi ingin berkarier di tempat yang memungkinkan saya untuk terus belajar, meng-upgrade diri, memberikan banyak kesempatan untuk berkembang secara personal dan profesional, dan tentunya melakukan hal-hal kecil untuk orang lain, agar hidup semakin bermanfaat. Tapi kita juga harus tetap logis, karena pada akhirnya kita butuh merencanakan kehidupan kita untuk masa depan. Menurut saya, semua itu bisa saya dapatkan di Telkom.

Memang semua itu tidak langsung didapatkan dalam 1-2 tahun bekerja, karena semua ada prosesnya. Tapi semakin kesini, perjalanannya semakin menyenangkan dan rasanya itu membuat saya semakin merasa bersyukur dan cukup. Karena perjalanan karier tidak sebentar seperti kuliah, jadi harus dinikmati di tempat yang memberikan kita pelajaran yang tidak melulu tentang materi, tapi juga pengalaman dan rasa aman. Jika teman-teman ingin tahu lebih banyak tentang work-life di Telkom Indonesia, bisa berkunjung ke Instagram @livingintelkom ya.

 


WhatsApp Image 2021-09-06 at 13.28.55-4

Profil narasumber: Maya Susanti adalah Employer Brand Strategist di Telkom Indonesia. Ia adalah penerima beasiswa LPDP untuk program MSc Media Management di University of Glasgow, UK. Sebelum itu, ia menamatkan studi S1 jurusan Ilmu Hubungan International dari Universitas Indonesia sebagai penerima beasiswa Kerjasama Daerah dan Industri.


Artikel ini merupakan kerjasama Indonesia Mengglobal dan Telkom Indonesia

Artikel ini merupakan hasil kerjasama antara Indonesia Mengglobal dan Telkom Indonesia. Sumber Foto: Telkom Indonesia dan dokumentasi pribadi Maya Susanti.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here