Banting Setir, Lulusan S2 Teknik Perminyakan ini Malah Sukses Jadi Data Analyst di Shopee

0
229
Petroleum Engineering Building College Station Main Campus

Saat ini, semua industri menilai data sebagai sesuatu yang sangat berharga. Oleh karenanya, banyak perusahaan lintas sektor kini membutuhkan seorang data scientist atau analyst untuk mengembangkan bisnisnya. Hal ini tidak luput dari pengamatan Setiawan, seorang lulusan magister Teknik Perminyakan dari Texas A&M University. Dengan menyandang gelar dari salah satu universitas teknik terbaik di Amerika Serikat, Ia justru memutuskan untuk pindah haluan menjadi seorang Data Analyst di salah satu perusahaan e-commerce terbesar di Indonesia. Yuk, simak perjalanan Setiawan di artikel berikut!

***

Sebelum tahun 2019, tidak pernah sedikitpun terbersit dalam benakku bahwa aku akan bekerja di luar energy industry. Sejak 2009, mulai dari pertama kali masuk ITB, mengambil jurusan Teknik Perminyakan, bekerja di Chevron (sebuah perusahaan minyak), hingga akhirnya menempuh S2 Petroleum Engineering di Texas A&M University, seluruh pengalaman maupun background pendidikanku berkaitan dengan bidang perminyakan. “Lah kok bisa masuk Shopee?”, mungkin ini adalah pertanyaan setiap orang yang tahu kalau aku sekarang bekerja di perusahaan tersebut.

Semua ini bermula dari tahun 2019, 6 bulan menjelang kelulusanku. Di masa-masa mempersiapkan thesis defense (revisi sampai nama file-nya “_final_final_banget”), aku mulai mendaftar kerja. Pada masa ini, lowongan pekerjaan di bidang migas di Indonesia cukup sulit ditemukan karena adanya transisi kepemilikan blok migas besar. Akupun mencoba peruntungan mendaftar di perusahaan-perusahaan migas di US. Sayangnya, kebanyakan perusahaan migas di US hanya menyediakan sponsor visa untuk PhD graduates, dan kesempatan tes maupun interviews hanya datang dari perusahaan-perusahaan non migas. Melihat sulitnya mencari pekerjaan di bidang migas, aku mulai mengambil kelas-kelas online tentang Data Science.

Aku memutuskan untuk mengambil kelas online data science berkat saran dari mantan managerku di Chevron. Menurut beliau, bidang ini merupakan bidang yang sedang “naik daun”, dan dapat diaplikasikan di bidang apapun. Menurutku, ini merupakan kesempatan yang baik karena skill ini nantinya dapat diaplikasikan baik di bidang migas ataupun menjadi jembatan untuk pindah industri. Orang di kampungku bilang, it’s a win-win solution. Kebetulan selama perkuliahan S2, aku juga mengambil beberapa kelas statistik yang mengajarkan tentang statistical learning, salah satu dasar dari data science.

Sepulangnya aku ke Indonesia, aku mengajak teman-teman dekatku hangout bareng di mall (dude, mall di Indonesia itu ternyata keren banget dibandingkan mall di US). Salah satu teman yang aku temui adalah mantan presiden PERMIAS TAMU. Pak presiden yang satu ini sekarang bekerja di Shopee sebagai Business Intelligence Analyst, sebuah role yang berkaitan dengan data. Mungkin ini yang dinamakan “mestakung”. Aku akhirnya menceritakan keadaanku, dan beliau setuju untuk memberikanku referensi ke posisi yang sama di Shopee. Berkat referral ini, aku akhirnya diundang untuk menjalani recruitment process di Shopee.

Permias TAMU Batik Day Event. Left to right: me, Tubagus Maqdisi (eks Presiden Permias), dan Farid Bakti (eks Advisor Permias)
Permias TAMU Batik Day Event. Left to right: me, Tubagus Maqdisi (eks Presiden Permias), dan Farid Bakti (eks Advisor Permias)

Selama menjalani proses rekrutmen di Shopee, aku juga mendaftar di sebuah perusahaan service di industri migas. Namun, rekrutment proses yang aku ikuti dihentikan karena situasi COVID yang semakin memburuk saat itu. Untungnya, proses rekrutmen di Shopee tetap dilanjutkan dan akhirnya aku bergabung di Shopee.

Tiga bulan pertama di Shopee merupakan masa probation khusus untuk pegawai baru. Masa ini juga adalah masa adaptasi buatku. Karena COVID, Shopee memberlakukan work from home (WFH) policy, sehingga aku hanya sempat masuk kantor selama seminggu (aku bahkan belum mencoba toilet di Shopee yang kata orang keren). Bayangkan, betapa sulitnya bekerja di tempat baru, dan langsung bekerja remotely dari rumah. But hey, we need to adapt to survive, don’t we?

Selama WFH, aku banyak membaca dokumentasi script yang sering digunakan, report dan artikel yang mudah ditemukan via Google Search, serta banyak bertanya (malu bertanya sesat di jalan gaes!). Di masa-masa seperti ini, aku merasa sangat beruntung dikelilingi oleh orang-orang yang suka membantu dan mau berbagi ilmu (shout out to BI BD team!).

Mungkin pertanyaan selanjutnya adalah, “lalu buat apa kamu ambil S-2 di bidang petroleum engineering? sia-sia dong?” Menurutku, belajar itu tidak pernah sia-sia. Semua ilmu atau skill yang kita dipelajari pasti akan dapat diaplikasikan nantinya. Misalnya, ada beberapa ilmu forecasting yang sudah sering digunakan di dunia migas dapat aku aplikasikan di bidang e-commerce.

Shopee BI BD Online Team Building
Shopee BI BD Online Team Building

Selain itu, S-2 juga mengajarkanku untuk belajar secara mandiri. Dari mencari artikel atau report, membaca, mengerti konsep, dan akhirnya mengaplikasikan atau mengembangkan konsep tersebut. Kemampuan ini juga yang membantuku beradaptasi di Shopee. Last but not least, berjejaring juga menjadi sesuatu yang aku dapatkan selama menjalani S2. Ingat, aku berhasil masuk Shopee berkat referral teman selama menjalani S2.

Perpindahan karir ternyata adalah hal yang wajar. Menurut badan sensus US, ada 62% lulusan yang bekerja sesuai dengan level degree mereka, namun hanya 27% yang bekerja sesuai dengan bidang studi mereka. Survei ini menunjukan bahwa banyak orang yang bekerja tidak sesuai dengan bidang studi atau background pendidikan mereka. Bisa jadi, keadaan ini direncanakan (planned) ataupun tidak direncanakan. Ada baiknya kita selalu siap sedia akan segala kondisi. Seperti kata pepatah, “Sedia payung sebelum hujan”, jangan membatasi diri sendiri, dan lakukan diversifikasi skills. Don’t put your eggs in one basket!

Ada 3 hal penting yang perlu dipertimbangkan orang yang ingin berpindah karir: pengalaman, soft skills, dan jaringan. Pengalaman bisa didapatkan dari magang, full-time job, organisasi kampus, maupun volunteering activities. Dari pengalaman ini, kita dapat mengembangkan soft skills kita. Contoh dari soft skills yang menurutku sangat diperlukan adalah leadership skills, teamwork, tanggung jawab, taking ownership over our works, communication skills, dan stakeholder management. Melalui pengalaman pula kita dapat mengembangkan networking kita. Hal ini termasuk dosen, teman kelas, kolega di kantor, mentor, supervisor, dan lain-lain. Networking ini yang akan memberikan kita opportunity untuk mencapai sesuatu yang kita inginkan.

Persentase lulusan universitas yang bekerja sesuai dengan level pendidikan dan jurusan
Persentase lulusan universitas yang bekerja sesuai dengan level pendidikan dan jurusan

Selain ketiga hal di atas, tentu saja hard skills juga dibutuhkan. Bagaimana cara bersaing dengan orang-orang yang sudah terlebih dahulu menekuni bidang yang ingin kita tuju? Jawabannya adalah usaha. Kita bisa mengambil sertifikasi, mengerjakan project mandiri, freelancing, atau hal-hal lainnya yang dapat mengasah hard skills kita. Let’s put ourselves in the employers’ shoes. Mereka pasti akan memilih orang-orang yang telah terbukti dapat mengeksekusi pekerjaan mereka dengan baik, dan pembuktian ini bisa dari projects yang telah kita dikerjakan, atau sertifikasi yang kita peroleh dari suatu badan yang terpercaya.

Di sisi lain, orang yang berpindah industri sebenarnya memiliki sebuah kelebihan, yaitu diversity. Dengan membawa kemampuan unik dari industri sebelumnya, mungkin saja industri yang kita geluti saat ini dapat dikembangkan dengan cara yang belum terpikirkan sebelumnya. Sebagai contoh, Forbes menceritakan bagaimana Silicon Valley mulai melakukan hiring terhadap lulusan-lulusan Liberal Arts. Dalam artikel tersebut disebutkan bahwa bagi tech companies, menjadi technologically brilliant companies tidaklah cukup; mereka juga harus mengerti keinginan customer, Hasilnya, perusahaan tersebut mungkin akan lebih memilih orang yang memiliki kemampuan untuk membaca situasi, meski tidak memiliki coding skills yang mumpuni.

Sebagai penutup, untuk orang-orang yang ingin berpindah industri karena alasan apapun, jangan takut untuk gagal karena kita bisa belajar banyak dari kegagalan. Keep learning, because life is a never-ending learning process. Keep improving yourself, build networks, and don’t forget to have fun!

Sumber foto: dokumentasi penulis, New York Fed

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here