Tips Mempersiapkan Studi ke Luar Negeri

0
491
Studi ke luar negeri merupakan salah satu jalan untuk memperluas cakrawala kita

Kuliah di luar negeri saat ini tidak lagi menjadi hal yang langka seperti beberapa dekade sebelumnya. Seiring dengan kemajuan teknologi, akses ke informasi mengenai studi di negeri impian semakin mudah. Selain itu, peluang beasiswa yang tersedia juga semakin beragam, sehingga kuliah di luar negeri menjadi semakin terjangkau bagi semua kalangan.

Di sisi lain, kita juga perlu melakukan investasi berupa waktu (1 – 2 tahun untuk S2 dan 3 – 5 tahun untuk S3) serta materi untuk mempersiapkan keberangkatan dan menjalani studi di luar negeri. Selain itu, kita umumnya juga perlu mengorbankan apa yang kita miliki sebelumnya, seperti keharusan untuk resign dari pekerjaan dan meninggalkan keluarga di kampung halaman.

Dengan investasi dan pengorbanan yang tidak bisa dibilang kecil, keputusan untuk melanjutkan studi di luar negeri perlu dipikirkan secara matang. Untuk itu, kita perlu mengenali setidaknya 4 hal sebelum kita mengambil keputusan tersebut.

Kenali diri sendiri

Secara fundamental, pendidikan formal merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan kita, baik pengetahuan, keterampilan, dan karakter, yang diharapkan bisa kita manfaatkan untuk mengejar apa yang kita impikan. Oleh karena itu, hal pertama yang kita harus lakukan adalah mengetahui apa yang sebenarnya kita inginkan. Tahapan ini sangatlah penting, karena jika kita tidak mengetahui apa yang kita inginkan, maka keputusan untuk meneruskan studi di luar negeri besar kemungkinan akan menjadi hal yang sia – sia.

Mengenali diri sendiri merupakan sebuah proses tanpa akhir
Mengenali diri sendiri merupakan sebuah proses tanpa akhir

Setelah kita mengetahui apa yang benar – benar kita inginkan, kita harus mencoba melakukan penilaian kepada diri kita sendiri untuk mengidentifikasi gap yang harus dikejar agar kita memiliki kapasitas yang diperlukan untuk mengejar cita – cita kita. Sebagai contoh, seseorang praktisi di bidang pemasaran tentu perlu mempelajari data science jika Ia ingin menjadi ahli di bidang market analytics. Contoh lain adalah seorang insinyur di bidang pertambangan yang perlu mempelajari aspek ekonomi dan politik di bidang energi agar Ia bisa menjadi seorang perumus kebijakan di sektor yang Ia tekuni.

Hal yang tidak kalah penting yang perlu dipertimbangkan selanjutnya adalah alternatif pilihan selain pendidikan formal untuk menutup gap yang kita miliki. Tak jarang, apa yang kita butuhkan ternyata bisa diakomodasi tanpa perlu menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Dari contoh sebelumnya, sang praktisi di bidang pemasaran bisa saja mempelajari market analytics secara mandiri melalui video Youbute, atau mengikuti kelas daring berbayar yang akhir – akhir ini semakin banyak tersedia. Namun, opsi ini mungkin tidak berlaku bagi sang insinyur, karena Ia perlu mempelajari lobbying skill atau keterampilan interpersonal lainnya dari praktisi kebijakan publik secara langsung, sehingga studi master di bidang kebijakan publik menjadi opsi terbaik.

Kita perlu sadari bahwa studi di luar negeri tidaklah mudah; perlu usaha yang besar untuk bisa menyelesaikannya dan memperoleh apa yang kita inginkan dari studi tersebut. Untuk itu, kita harus menghindari keputusan yang terburu – buru dan motivasi yang terlampau dangkal. Jika kita bisa mengenali diri kita dengan baik, niscaya kita akan tarhindar dari kedua hal tersebut dan, sebagai hasilnya, memiliki energi yang besar dan berkelanjutan untuk menjalani studi dengan baik.

Kenali program studi dan universitas yang ingin dituju

Setelah kita mengetahui alasan mengapa kita harus kuliah di luar negeri dan apa yang ingin kita peroleh darinya, kita bisa memulai pencarian program studi yang cocok dengan aspirasi akademis kita dan universitas mana yang menawarkan program studi tersebut. Secara umum, ada 3 aspek utama yang perlu diperhatikan dalam proses ini, yaitu:

  • Kurikulum program: durasi studi, konsentrasi dan spesialisasi yang ditawarkan, syarat kelulusan, mata kuliah yang ditawarkan, gelar yang diberikan, output yang diharapkan, dan biaya kuliah;
  • Sumber daya: profesor dan komunitas akademik yang ada, kegiatan riset yang sedang berlangsung, laboratorium, koneksi dengan institusi lain, dan fasilitas kampus lainnya; serta
  • Proses aplikasi: proses dan persyaratan pendaftaran, dokumen yang diperlukan, biaya pendaftaran, serta deadlines dan tanggal penting lainnya;
Study objective yang kita susun harus sesuai dengan kurikulum yang ditawarkan oleh universitas tujuan
Study objective yang kita susun harus sesuai dengan kurikulum yang ditawarkan oleh universitas tujuan

Namun, dengan banyaknya jumlah universitas di dunia, di mana masing – masing universitas menawarkan berbagai macam progam dan jenjang studi,  dari mana kita harus memulai pencarian ini? Cara termudah yang bisa kita lakukan adalah dengan bertanya ke orang lain yang memiliki pandangan serta informasi spesifik mengenai hal yang kita cari, misalnya teman kuliah, kolega di kantor, atasan atau dosen, dan keluarga. Dari sini, kita bisa mempersempit area pemilihan kita, sehingga kita bisa secara efisien menemukan opsi terbaik bagi kita dengan cara riset secara mandiri melalui internet.

idsJika kita tidak memiliki koneksi dengan orang yang sesuai, maka kita bisa menggunakan fitur Pencari Jurusan yang dikembangkan oleh Hot Courses Indonesia. Fitur ini memungkinkan kita menemukan program studi dan universitas yang sesuai dengan preferensi dan kualifikasi kita, sekaligus memberikan informasi umum terkait progam studi dan universitas yang direkomendasikan, seperti biaya kuliah, lokasi, ranking, jumlah SKS minimum untuk lulus, skor minimum TOEFL/ IELTS, dan gelar yang diberikan.

Sama seperti proses sebelumnya, pencarian program studi dan universitas ini tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Artinya, kita perlu meluangkan waktu yang cukup di sela – sela kesibukan kita untuk benar – benar mencari alternatif opsi terbaik bagi kita.

Kenali beasiswa yang tersedia

Kuliah di luar negeri memerlukan biaya yang tidak murah, bahkan bagi kalangan ekonomi menengah ke atas sekalipun. Untuk itu, sumber pembiayaan menjadi hal yang krusial dalam perjalanan kita menempuh studi di luar negeri. Untungnya, kesempatan memperoleh pembiayaan terutama dari pihak ketiga saat ini semakin terbuka lebar. Beberapa institusi bahkan secara konsisten membuka kesempatan bagi warga Indonesia untuk kuliah di luar negeri, seperti beasiswa LPDP, Fulbright, AAS, NZAS, Chevening, GREAT, Erasmus Mundus, dan MEXT. Beberapa universitas juga kerap memberikan beasiswa baik secara penuh maupun parsial melalui berbagai macam skema dan program.

Kesempatan memperoleh pembiayaan sekolah melalui beasiswa semakin terbuka lebar hari ini
Kesempatan memperoleh pembiayaan sekolah melalui beasiswa semakin terbuka lebar hari ini

Hal pertama yang perlu diperhatikan saat memilih beasiswa adalah kesesuaian antara universitas, program studi, dan negara tujuan kita dengan ketentuan yang dibuat oleh pemberi beasiswa. Beberapa beasiswa yang merupakan hasil kerja sama antarnegara umumnya hanya memiliki satu negara tujuan, seperti Fulbright (Amerika Serikat), AAS (Australia), NZAS (New Zealand), dan MEXT (Jepang). Beasiswa LPDP yang diberikan oleh pemerintah Indonesia relatif memberikan pilihan yang lebih luas dan tidak terpaku pada satu negara saja, meski secara umum universitas dan program studi yang masuk ke dalam daftar LPDP juga terbatas.

Selain kampus, program studi, dan negara tujuan, kita juga perlu memperhatikan eligibilitas kita untuk menentukan apakah kita bisa mengikuti proses seleksi beasiswa yang kita inginkan. Beberapa institusi pemberi beasiswa menerapkan persyaratan yang ketat kepada calon pelamar, sehingga tidak semua orang bisa mengikuti proses seleksi beasiswa yang diberikan. Beberapa kriteria yang umum digunakan adalah usia saat mendaftar, status kewarganegaraan, pendidikan terakhir, status kepegawaian, serta status kepemilikan beasiswa dari institusi lain. Jika kita tidak memenuhi kriteria tersebut, maka kita tidak perlu susah payah untuk mengikuti proses seleksi dan bisa segera fokus mencari opsi beasiswa lain.

Setelah kita memastikan bahwa kita memenuhi kriteria untuk mengikuti proses seleksi, kita perlu membaca dengan seksama bagaimana proses pendaftaran beasiswa dilaksanakan, termasuk persyaratan dokumen yang diperlukan dan batas akhir pendaftaran. Saat ini, proses pendaftaran umumnya dilakukan secara online dengan cara melengkapi formulir pendaftaran online dan melampirkan beberapa dokumen seperti essay, surat rekomendasi, skor TOEFL / IELTS, transkrip akademik pendidikan terakhir, serta resume atau curriculum vitae. Setelah menyelesaikan proses administrasi dan dinyatakan lolos seleksi berkas, pelamar umumnya akan melalui proses wawancara, sebelum akhirnya dinyatakan lolos seleksi beasiswa dan menjadi calon penerima beasiswa.

Perlu diperhatikan bahwa proses seleksi beasiswa biasanya memerlukan waktu setidaknya 3 bulan hingga kita ditetapkan sebagai penerima beasiswa. Untuk itu, kita harus menyesuaikan rencana keberangkatan kuliah kita dengan timeline seleksi beasiswa yang kita ikuti, sehingga kita bisa memulai studi setelah kita benar – benar memperoleh beasiswa yang kita inginkan.

Kenali situasi dan kehidupan di kota tujuan studi

Hal terakhir yang perlu dipertimbangkan adalah situasi kota dan negara tempat kita menjalankan studi. Hal ini mungkin sering terlupakan, karena kita terlalu fokus untuk mencari program studi, universitas, dan beasiswa yang sesuai dengan harapan kita. Padahal, faktor lingkungan memegang peranan penting dalam perjalanan kita menyelesaikan studi di luar negeri.

Kemampuan adaptasi dengan lingkungan baru menjadi salah satu survival skill paling penting dalam menjalani kuliah di luar negeri
Kemampuan adaptasi dengan lingkungan baru menjadi salah satu survival skill paling penting dalam menjalani kuliah di luar negeri

Perbedaan kultur menjadi hal yang perlu diperhatikan, terutama bagi orang yang belum pernah bepergian ke negeri dengan budaya yang sangat berbeda dengan Indonesia. Faktor ini meliputi kebiasaan kita dalam berinteraksi dengan orang lain, bahasa yang digunakan, peraturan atau konvensi lokal yang berlaku baik di tempat privat maupun umum, dan juga jenis makanan yang tersedia. Jika kita tidak mempersiapkan diri dengan baik, kita bisa saja mengalami culture shock, yaitu situasi di mana kita merasa cemas, depresi, dan kebingungan yang berlebihan ketika kita berada di tengah masyarakat dengan budaya dan norma yang sangat asing bagi kita. Culture shock ini tentu berpotensi mengganggu kita dalam menjalani kuliah dan kehidupan dengan baik di luar negeri.

Selain faktor kultur, kita juga harus mempelajari bagaimana cara bertahan hidup dan menjalani kehidupan sehari – hari di luar negeri. Hal ini termasuk mencari tempat tinggal yang nyaman, mempelajari cara menggunakan moda transportasi umum, mencari pusat perbelanjaan terdekat untuk membeli kebutuhan harian, menemukan komunitas atau organisasi yang sesuai dengan minat kita, serta mempelajari tren iklim dan cuaca yang berlangsung di negara tempat kita tinggal.

Persiapan yang matang adalah kunci agar kita bisa menjalani studi di luar negeri dengan baik. Tanpanya, kita bisa saja mengambil keputusan yang salah, termasuk salah dalam memilih program studi dan universitas yang sesuai, salah dalam menilai urgensi dan tujuan melanjutkan studi ke luar negeri, dan, yang paling fundamental, salah dalam menentukan apa yang sebenarnya ingin kita capai dalam hidup.

Persiapan yang baik akan menghasilkan "perjalanan" yang bernilai dan menyenangkan
Persiapan yang matang akan menghasilkan pengalaman belajar yang menyenangkan dan penuh dengan nilai

***

Sumber foto: Aziz AcharkiNeONBRANDLeon WuNeONBRANDDiGital SenninHusniati Salma

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here