Kuliah di Griffith University saat Pandemi: Puasnya Merasakan Dukungan Penuh dari Kampus!

0
147
Dewa bersama pengurus ISAGU, Griffith University. Sumber: ISAGU
Dewa bersama pengurus ISAGU, Griffith University. Sumber: ISAGU

“Riardi Pratista Dewa, atau yang biasa dipanggil Dewa, adalah seorang penerima beasiswa Australia Awards Scholarship (AAS) yang saat ini menempuh studi Master of Environment di Griffith University, Queensland.”

“Dalam artikel ini, ia bercerita tentang seberapa jauh kampus Griffith University membantunya dalam mengatasi tantangan-tantangan selama studi di masa pandemi global ini.”

***

Griffith University, I am coming!

Saya adalah seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bekerja di Balai Riset dan Standardisasi Industri Ambon, Maluku, di bawah naungan Kementerian Perindustrian. Sebagai seorang peneliti Junior, saya mempunyai fokus penelitian pada bidang teknologi lingkungan di mana waste treatment dan environmental management sering menjadi tema menarik untuk saya teliti. Jabatan fungsional sebagai Peneliti menuntut untuk terus meningkatkan ilmu pengetahuan hingga ke jenjang yang tertinggi, sehingga saya pun berusaha memenuhinya.

Bayangan akan hari-hari bahagia menjalani hidup di Australia bersama keluarga tercinta langsung terbayangkan ketika saya diumumkan menjadi salah satu penerima beasiswa AAS. Saya kemudian memilih dan diterima untuk menjalani kuliah pada program Master of Environment di Griffith University, Queensland. Semua persiapan sudah dilakukan, dari persiapan pribadi pun sampai persiapan dokumen keberangkatan keluarga untuk menemani saya study S2 di kota Brisbane Australia.

Unibar di Griffith University, Australia. Sumber: Wikimedia Commons
Suatu sudut di kampus Griffith University, Australia. Sumber: Wikimedia Commons

Tepat pada tanggal 9 Januari 2020 saya tiba di Brisbane guna memulai rangkaian program pengenalan akademik dan kehidupan kampus. Sambil beradaptasi dengan lingkungan baru disini, saya juga langsung berinisiatif mencari akomodasi untuk keluarga yang rencananya akan saya boyong pada awal April 2020.

Tak lupa saya juga mulai menyisihkan dana stipend AAS yang nantinya akan digunakan untuk meningkatkan perlindungan asuransi kesehatan yang dibutuhkan sebagai prasyarat pengajuan visa untuk anak dan istri saya.

Rencana Lain dan Perubahan Seketika

Namun demikian, rupanya Tuhan berkehendak lain. Merebaknya virus COVID-19 di Wuhan, China, ternyata cepat menjalar ke seantero dunia, termasuk Australia. Saya masih ingat di pertengahan Maret 2020, pemerintah Australia langsung menutup rapat pintu penerbangan internasional. Hampir semua negara bagian di sini pun mulai memberlakukan karantina ketat bagi semua warganya. Perkuliahan pun tiba-tiba diubah menjadi mode daring pada pekan ketiga trimester 1 2020.

Tentunya tidak mudah bagi saya pribadi yang belum pernah sama sekali menghadapi kelas daring harus dipaksa segera beradaptasi dengan budaya baru ini. Culture shock yang masih belum selesai dan sekarang ditambah adaptasi dengan dunia akademik yang baru. Bayangan akan interaksi di kelas dengan teman kuliah dan dosen sekarang harus berganti hanya memandang layar laptop. Semua perkuliahan, ujian, dan tugas-tugas dilakukan secara online.

Bushwalking menjadi salah satu kegiatan non-akademik yang dilakukan Dewa selama di Queensland. Sumber: Dokumentasi pribadi
Bushwalking menjadi salah satu kegiatan non-akademik yang dilakukan Dewa selama di Queensland. Sumber: Dokumentasi pribadi

Dari sisi teknologi sebenarnya tidak ada masalah, karena Australia merupakan negara dengan teknologi maju. Namun, kesempatan saya untuk meningkatkan kemampuan berbicara  berbahasa Inggris dan merasakan interaksi di kelas internasional harus saya pendam sejenak. Selain itu, rasa bosan yang hinggap ketika hadir dalam kuliah daring benar-benar menjadi tantangan. Bagaimana tidak? Kita hanya mendengar dosen presentasi selama 2 jam dengan interaksi yang sangat minimal. Masih untung saya tidak merasa ngantuk!

 

Dukungan dari Griffith University

Perubahan yang sangat seketika tersebut tentunya membuat rencana saya untuk memboyong keluarga ke Brisbane tidak dapat dipenuhi.  Tak dapat dipungkiri, saya merasa sedih dan sempat terpuruk. Namun, seiring berjalannya waktu, saya mulai menata hati dan perasaan untuk menerima kenyataan pahit ini sembari fokus menjalani studi.

Pada kondisi yang tidak mengenakkan ini, saya merasa beruntung mendapatkan dukungan yang melimpah dari Griffith University. Perguruan tinggi yang memiliki empat kampus di Queensland ini memang menjadikan excellent support to students sebagai salah satu elemen utama yang menopang nilai tambahnya.

Dukungan tersebut disampaikan secara sistematis baik oleh para petinggi kampus, para penasihat mahasiswa internasional, lembaga-lembaga think-tank kampus, hingga organisasi kemahasiswaan, seperti Griffith Student Representative Council dan Griffith Mates.

Mereka bahu-membahu menyelenggarakan berbagai layanan dari akademik maupun non-akademik. Para mahasiswa, misalnya, mendapatkan layanan responsif dari para penasihat akademik saat menghadapi problema dengan perkuliahannya. Tak hanya itu, kami pun dapat mengakses  pemeriksaan kesehatan fisik dan mental gratis, pemberian dana pinjaman bebas bunga, serta dukungan food hampers dan voucher belanja gratis secara periodik dengan jumlah yang lumayan untuk digunakan di Coles ataupun Woolsworth.

Kegiatan Futsal dengan PPI Australia. Sumber: Dokumentasi pribadi
Kegiatan Futsal dengan PPI Australia. Sumber: Dokumentasi pribadi

Sebagai penerima beasiswa AAS, saya juga memiliki international student representative khusus dari kampus yang bisa saya minta saran dan bantuannya ketika saya membutuhkan solusi untuk permasalahan pribadi ataupun permasalahan akademis.

Pada awal pandemi, AAS sebenarnya sempat memberikan pilihan untuk melanjutkan perkuliahan atau menunda untuk sementara waktu dan pulang ke negara asal. Namun demikian, pilihan tersebut tentu memiliki berbagai konsekuensi yang harus siap ditanggung oleh para penerima beasiswa. Di titik ini, saya sempat bimbang. Akan tetapi, karena merasa mendapatkan dukungan yang memadai dari Griffith University, saya memutuskan untuk melanjutkan perkuliahan di sini.

Dukungan dari Indonesian Students Association of Griffith University (ISAGU)

Saya juga mendapatkan tambahan dukungan lantaran bergabung dengan Indonesian Students Association of Griffith University (ISAGU). Organisasi ini dijalankan oleh para mahasiswa Indonesia baik yang sedang kuliah S1, S2, maupun S3 di Griffith University. Saat pandemi sedang parah-parahnya, ISAGU tetap menggelar kegiatan secara daring, seperti games dan webinar, yang tentunya bertujuan untuk saling merekatkan silaturahmi di antara kami.

Menyaksikan pertandingan Australian League bersama mahasiswa Griffith University. Sumber: Dokumentasi pribadi
Menyaksikan pertandingan Australian League bersama mahasiswa Griffith University. Sumber: Dokumentasi pribadi

Setelah kebijakan karantina wilayah mulai diperlonggar, kami mulai dapat menggelar kegiatan secara tatap muka. Beberapa kegiatan seperti BBQ dan diskusi-diskusi ilmiah saya ikut berpartisipasi didalamnya. Selain untuk menambah pengalaman dan networking, kegiatan ini tentunya menjadi ajang curhat bagi kami khususnya yang sedang jauh dari keluarga. Selain itu aktivitas olahraga, bushwalking, city tour, dan menonton olahraga lokal seperti Australian League juga memberikan sensasi dan pengalaman sendiri sekaligus pengusir sepi.

Tips untuk yang Berencana Studi di Australia di Masa Pandemi

Saat ini adalah tahun kedua perkuliahan saya. Setahun lebih merantau di negara orang dan berjauhan dengan keluarga adalah pengalaman baru bagi saya. Banyak hal yang saya pelajari baik seputar akademis yang berbeda sama sekali dengan di Indonesia, beradaptasi dengan lingkungan dan budaya baru, hingga manajemen waktu.

Sedih tentu ada karena keluarga adalah alasan kuat hingga saya berada di posisi seperti ini. Setiap langkah selalu ada tantangan, begitu juga keputusan saya bersekolah S2 di benua yang mendapatkan julukan Down Under ini.

Bagi teman-teman yang ingin berkuliah di luar negeri, selalu siapkan mental dari sebelum keberangkatan, karena kita tidak akan tau tantangan apa yang akan terjadi di perantauan. Seringlah update berita dan informasi melalui portal berita atau social media di tempat yang akan anda tuju. Selain itu, carilah kontak teman yang sudah berada lebih dahulu di kampus anda atau perkumpulan mahasiswa Indonesia yang berada di kampus tersebut karena mereka pasti lebih mengerti keadaan nyata di lapangan.

Sebagai tambahan, karena pandemi ini, masing-masing negara memberlakukan pembatasan perjalanan internasional termasuk Australia. Dengan sesering mungkin membaca kabar terbaru di website pemerintahan, sedikit banyak akan membantu kita dalam persiapan keberangkatan.

***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here