Lika-Liku Ibu Tunggal dalam Meraih Beasiswa di Selandia Baru

0
727
Alvina secara resmi dikukuhkan menjadi awardee NZAS 2020. Sumber: Dokumentasi pribadi
Alvina secara resmi dikukuhkan menjadi awardee NZAS 2020. Sumber: Dokumentasi pribadi

“Apakah menjadi seorang ibu, terlebih ibu tunggal, artinya harus melupakan impian untuk berkuliah ke jenjang yang lebih tinggi di luar negeri?”

“Alvina Rucita, seorang apoteker, justru membuktikan sebaliknya. Setelah lika-liku perjuangannya, beliau berhasil menjadi awardee New Zealand ASEAN Scholarship (NZAS) 2020 dan akan memulai studi  Magister di bidang Disaster Management di University of Auckland.”

“Dalam semangat International Mother’s Day tahun ini, saya mewawancarai Alvina tentang perjalanannya meraih beasiswa serta tantangan sebagai seorang ibu tunggal.”

***

Perjalanan Anda dalam meraih beasiswa cukup berliku. Apa saja yang sudah Anda lalui dalam memperjuangkannya?

New Zealand ASEAN Scholarship (NZAS) adalah beasiswa ketujuh yang saya coba sejauh ini. Proses pencarian beasiswa saya dimulai pada tahun 2016, dari Hungary Government Scholarship, SISS, tiga program Erasmus, hingga beasiswa dari Groningen University untuk program Medical and Pharmaceutical Drug Innovation. Dari sekian seleksi beasiswa yang saya coba, hanya program LIVE dari Erasmus yang mencapai tahap akhir. Saya mendapatkan undangan final interview (tahap kelima seleksi) ketika sedang hamil 16 minggu.

Saya menangis sejadi-jadinya saat mendapatkan surel tersebut. Apapun hasilnya, saya tidak bisa berangkat kuliah karena HPL (Hari Perkiraan Lahir) saya adalah bulan Oktober 2017, sementara studi dimulai bulan September 2017. Saya mengalami perang batin selama beberapa hari, serta pertentangan dari keluarga. Saya akhirnya pasrah untuk mundur dari seleksi beasiswa tersebut untuk mementingkan keselamatan anak yang sedang saya kandung.

Tiga tahun berselang, saya kembali mencoba peruntungan dan mendaftar NZAS. Kali ini, saya meluruskan tujuan dan meminta restu dari ibu saya, yang sejak dulu tidak mengizinkan anak perempuan satu-satunya berkuliah jauh dari Indonesia. Namun, mungkin karena melihat perjuangan saya, beliau akhirnya ikhlas dan berkata, “Pergi dan raih cita-citamu, Nak.” Doa inilah yang juga memuluskan proses seleksi beasiswa NZAS sampai saya diterima sebagai preferred candidate pada Oktober 2020 kemarin.

Dari sekian banyak opsi, mengapa Selandia Baru dan University of Auckland menjadi pilihan?

Sejujurnya, saya tidak mengetahui New Zealand (NZ) seperti apa sampai saya bergabung di grup Telegram beasiswa Selandia Baru. Setelah mendengarkan sharing dari alumni NZAS, saya mulai membaca tentang country plan Selandia Baru dan penerapannya. Saya sangat tertarik dengan sistem negaranya yang bersatu-padu dalam mengatasi masalah, terutama penanganan bencana, melalui peningkatan kesadaran berbagai lapisan masyarakat. Selain itu, saya terpukau akan keindahan alamnya dan kaitiakitanga suku Maori, yakni sebuah konsep untuk menjaga dan melindungi alam.

Mengenai universitas, saya memilih University of Auckland melalui berbagai pertimbangan, termasuk jurusan, mata kuliah yang ingin diambil, dan rencana masa depan saya. Fokus saya adalah supply chain in disaster, baik itu bencana alam maupun wabah, untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan pengelolaan sistem logistik di fasilitas kesehatan terdekat (rumah sakit atau apotik), terutama di daerah rawan bencana. Dari 6 program Disaster Management di berbagai universitas di Selandia Baru, hanya University of Auckland yang berfokus pada policy dan supply chain sehingga pilihan saya jatuh pada universitas ini.

Bagaimana pengalaman rangkaian seleksi NZAS selama pandemi kemarin?

Seleksi NZAS 2020 tidak terlalu terpengaruh oleh pandemi dan berjalan sesuai dengan linimasa yang tertera di situsnya. Hanya saja, wawancara dilaksanakan secara daring dan tidak ada panelis dari Indonesia. Terdapat 4 tahap seleksi sebelum Final Result diumumkan.

Kegiatan di kelas selama pre-departure training NZAS. Sumber: Dokumentasi Pribadi
Kegiatan di kelas selama pre-departure training NZAS. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Tahap pertama adalah pengecekan eligibilitas dan kriteria, serta pembuatan akun pendaftar. Tahap kedua adalah pengisian aplikasi, yang meliputi informasi pribadi, program studi tujuan, riwayat akademik dan pekerjaan, serta 4 macam esai dengan tema development relevance, relationship management, self-drive, dan studying in New Zealand. Jika lolos tahap ini, pendaftar akan mengikuti Online Psychometric Testing, yang harus dikerjakan maksimal 10 hari sejak surel undangan diterima.

Selanjutnya, saya diundang untuk melakukan wawancara daring. Sekitar 2 minggu sebelum hari wawancara, para pendaftar sudah diberi tahu nama dua orang panelis dan kisi-kisi pertanyaannya. NZAS akan mengajukan 6 pertanyaan umum, 2 pertanyaan tentang challenge, dan 1 pertanyaan tentang resilience. Meski demikian, aspek yang digali lebih lanjut bergantung pada jawaban kandidat itu sendiri.

Di tahap keempat, khusus bagi kandidat yang diundang wawancara, apabila mereka tidak memiliki skor IELTS atau sertifikatnya sudah kadaluarsa, mereka akan difasilitasi untuk mengambil tes IELTS. Namun, tes ini tidak menjamin kelulusan sebagai seorang final candidate.

Setelah itu, saya hanya bisa menunggu pengumuman akhir. Hampir 3 bulan sejak tes IELTS, saya akhirnya menerima surel yang menyatakan bahwa saya lolos sebagai preferred candidate.

Setelah mendapatkan NZAS, apa saja persiapan keberangkatan yang dilakukan oleh seorang awardee?

Ada dua kategori awardee NZAS. Pertama, preferred candidate (yang nilai IELTS-nya sudah memenuhi syarat) akan mengikuti pre-departure training selama 6 minggu. Kami diajari tentang English for Academic Purpose, menulis critical review dan discussion paper, membuat poster dan abstrak, mencari literatur, serta bagaimana melakukan poster presentation. Kami juga diperkenalkan pada kultur Selandia Baru.

Bersama para awardee NZAS 2020. Sumber: Dokumentasi Pribadi
Bersama para awardee NZAS 2020. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Kedua, kandidat yang nilai IELTS-nya masih kurang (sehingga belum tentu lolos menjadi awardee) wajib mengikuti kursus Bahasa Inggris selama 3-6 bulan, yang diakomodasi penuh oleh MFAT, dan diberikan tes IELTS lagi. Nilai IELTS yang diperoleh akan menentukan apakah mereka lulus atau tidak.

Setelah itu, kami harus memperoleh unconditional Letter of Acceptance (LoA) dari universitas yang dituju. Jika sudah, kami akan menerima Scholarship Offer Letter yang diperlukan untuk mengurus visa pelajar.

Sebagai seorang ibu, tantangan terbesar apa yang Anda hadapi dalam meraih cita-cita studi? 

Tantangan terbesar saya adalah menjadi seorang ibu tunggal dengan seorang anak yang didiagnosa mengalami speech delay,serta menyeimbangkan pekerjaan dan pengabdian ke komunitas. Meski cita-cita untuk bersekolah lebih lanjut selalu muncul di dalam benak, saya menyadari banyaknya permasalahan dan pergumulan diri yang harus diselesaikan, termasuk memiliki keamanan finansial untuk memenuhi kebutuhan anak saya yang masih bayi saat itu.

Saya sempat bekerja di tiga tempat berbeda, mulai dari bekerja di rumah sakit hingga mengajar sepulang dinas, karena saya pernah berniat untuk melanjutkan pendidikan S2 di Indonesia dengan biaya sendiri. Semua ini saya lakukan atas dasar keyakinan bahwa pendidikan akan membuka lebar peluang karir yang lebih tinggi dan mengembangkan pribadi saya agar menjadi lebih baik. Saya ingin menunjukkan pada anak saya bahwa di tengah keterbatasan, ibunya bisa mencapai cita-cita dengan tangannya sendiri.

Pre-departure training NZAS di Bali. Sumber: Dokumentasi pribadi
Pre-departure training NZAS di Bali. Sumber: Dokumentasi pribadi

Untungnya, keluarga mendukung penuh rencana studi saya meski awalnya keberatan. Dengan komunikasi yang terbuka, mereka akhirnya mengerti dan memberi restu. Saya juga selalu mencoba berbicara dari hati ke hati dengan anak saya yang masih berumur 3,5 tahun dan belum bisa merespons penuh karena keterlambatan berbicaranya. Namun, sejauh ini, ia bisa mengerti, misalnya, saat saya harus mengikuti pre-departure training di Bali selama 2 bulan pada bulan November 2020.

Dengan segala permasalahan di atas, bagaimana Anda mengatasinya dan siapa saja support system Anda selama ini?

Tentu saja saya perlu berdamai dengan diri sendiri dulu, baik dengan bantuan profesional (psikolog) maupun orang-orang terdekat. Perlahan tapi pasti, saya menyelesaikan masalah, memperbaiki keadaan, belajar untuk bersikap asertif, dan menghindari orang yang membawa pengaruh kurang baik.

Saya juga menyadari perlunya membuka diri dan bergabung dengan komunitas yang positif. Sebagai contoh, untuk mendukung cita-cita, saya sempat bergabung dengan program mentorship Indonesia Mengglobal (IM). Dari Mas Agus Sufyan selaku mentor dan kelompok mentee, saya berkenalan dengan banyak orang, memperbaiki keterampilan komunikasi, dan belajar untuk menerima keadaan dan bersikap terbuka terhadap orang lain.

Lingkaran support system saya pun otomatis meluas. Tak lagi hanya orang tua dan sahabat-sahabat terdekat, saya kini mendapat dukungan dari mentor dan mentee, kawan-kawan di Soefjan Academy, friendscholars, dan juga alumni serta awardee NZAS. Dukungan dari mereka sangat berarti bagi saya.

Untuk tahun 2021, pemerintah Selandia Baru tidak membuka seleksi NZAS. Namun, jika seleksi dibuka kembali di tahun-tahun mendatang, tips apa yang ingin Anda berikan untuk mereka yang ingin mendaftar?

Pertama, cek recommended subjects dan kriteria awardee yang diinginkan oleh pihak NZAS. Karena beasiswa ini didanai oleh pemerintah Selandia Baru untuk mendukung kerjasama antara Selandia Baru dan Indonesia, pastikan bahwa rencana masa depan kita berkaitan dengan kerjasama kedua negara.

Alvina Rucita saat pengukuhan awardee NZAS. Sumber: Dokumentasi pribadi
Alvina Rucita saat pengukuhan awardee NZAS. Sumber: Dokumentasi pribadi

Yang terpenting, pastikan bahwa ada sense of urgency dalam rencana kita, misalnya sesuatu yang ingin kita ubah di negara kita atau memberikan manfaat yang besar ke depannya. Saya ingat perkataan salah satu panelis saat wawancara bahwa mereka melihat dua kriteria mendasar dalam memilih awardee NZS, yakni potensi untuk sukses dalam studi mereka (resilience) dan perubahan yang akan dibawa untuk Indonesia.

Jangan lupa untuk melakukan banyak riset, baik itu tentang Selandia Baru, hubungan bilateral Selandia Baru-Indonesia, maupun jurusan yang dituju. Terakhir, luruskan tujuan dan percaya bahwa niat baik akan memudahkan jalan kalian menuju cita-cita.

***

Alvina Rucita adalah seorang apoteker yang bergerak di ranah community health development, edukator penggunaan obat yang benar ke masyarakat (program Gema Cermat), dan relawan Apoteker Tanggap Bencana. Beliau juga berkecimpung dalam dunia pendidikan dengan menjadi freelance language tutor di beberapa platform daring, sekaligus mengelola proyek-proyek sosial bersama rekan awardee NZAS melalui akun Instagram @kiwischolarsid.

***

Writer: Lavinia Disa

Editor: Yogi Saputra Mahmud

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here