Menjadi Sukarelawan Penerjemah di Tengah Sibuknya Perkuliahan S2 di Carnegie Mellon University

0
358
Carnegie Mellon University (CMU) merupakan universitas riset privat yang didirikan oleh Andrew Carnegie pada tahun 1900 di Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Serikat.

Studi pascasarjana baik di dalam negeri maupun luar negeri memiliki tuntutan dan intensitas akademik yang tinggi, tidak terkecuali di Carnegie Mellon University (CMU), Pensylvannia, Amerika Serikat. Namun, hal ini tidak menghalangi Ahmad Nazhir meluangkan waktu untuk kegiatan non-akademik. Selama Nazhir menjalani studi S2 di CMU, Ia menyempatkan diri untuk menjadi seorang sukarelawan penerjemah untuk kontestan asal Indonesia di sebuah kompetisi sains di Pittsburgh, Pennsylvania. Simak kisah dan pembelajaran yang diperoleh Nazhir di artikel berikut!

***

Pada musim panas 2015, saya masih menjalani perkuliahan S2 di Carnegie Mellon University (CMU). Saya sangat ingat saat itu sebagian besar penghuni kampus sedang menjalani liburan musim panas. Sayangnya, karena saya mengikuti program S2 selama 1 tahun, saya tidak bisa menikmati kebahagiaan untuk berlibur. Program yang saya ikuti tetap berjalan di tengah sepinya aktivitas mahasiswa di kampus. Tapi, bukan berarti saya tidak bisa menikmati suasana musim panas yang indah, kan?

Kota Pittsburgh adalah sebuah kota yang memiliki kisah kebangkitan yang luar biasa. Kota ini dikenal sebagai pusat industri baja sejak abad ke-19, yang ditandai dengan begitu banyaknya jembatan baja yang melintasi sungai Monongahela (/məˌnɒŋɡəˈhiːlə/ mə-NONG-gə-HEE-lə/-ˈheɪ-/ HAY), cerobong – cerobong tua pabrik baja yang kini tak lagi mengehembuskan asapnya, dan jalur pedestrian dan sepeda di sepanjang sungai yang dulunya digunakan sebagai jalur transportasi produk – produk baja ke berbagai lokasi di Amerika Serikat. Beberapa lokasi tersebut kini dialihfungsikan sebagai cagar budaya dan alam, sekaligus tempat pittsburghees berolahraga dan menikmati alam.

Salah satu jembatan baja yang Nazhir lalui saat selesai bersepeda dari trail yang berlokasi di sepanjang sungai yang melingkari kota Pittsburgh
Salah satu jembatan baja yang Nazhir lalui saat selesai bersepeda dari trail yang berlokasi di sepanjang sungai yang melingkari kota Pittsburgh

Dekade 70-an menjadi saksi jatuhnya industri baja Amerika Serikat. Hal ini mendorong pemerintah Pittsburgh memutar otak untuk menemukan kembali jati diri warganya, yaitu semangat bekerja keras dan cerdas dalam mendorong inovasi teknologi. Selama 30 tahun lebih, Pittsburgh berusaha berubah dari kota bertenaga kerja pabrik (blue collar workers) menjadi bertenaga kerja terdidik (white collar workers) dengan mendorong berbagai pusat riset teknologi IT dan Robotik seperti CMU, perusahaan riset dan teknologi global seperti Google dan Uber, dan berbagai perusahaan teknologi terkemuka lainnya untuk menjadikan kota Pittsburgh sebagai arena eksibisi teknologi mutakhir. Salah satu perusahaan tersebut adalah Intel Corp, yang bekerja sama dengan lembaga nirlaba Society for Science & The Public. Setiap tahun, mereka mengadakan kegiatan Intel International Science and Engineering Fair (Intel ISEF) yang bergantian di antara tiga kota besar di US yaitu, Los Angeles, Phoenix, dan Pittsburgh.

Pada tahun 2015, Intel ISEF dilaksanakan di kota Pittsburgh, mengundang ratusan ilmuwan muda cemerlang setingkat SMA untuk memamerkan berbagai hasil riset dan temuan mereka dalam kegiatan kompetisi science selama 3 hari dengan berbagai penjurian. Saya beruntung dapat meluangkan waktu, di tengah padatnya kegiatan kuliah, untuk menjadi seorang sukarelawan penerjemah bagi adik – adik cemerlang dari SMA Negeri Bali Mandara Singaraja, yaitu I Dewa Ary Palguna dan I Kadek Sudiarsana, yang membawakan karya ilmiah berjudul “The Motifs Development of Gringsing Sarong”.

Selama kegiatan Intel ISEF, Nazhir menjadi salah satu sukarelawan penerjemah bagi peserta kompetisi dari Indonesia
Selama kegiatan Intel ISEF, Nazhir menjadi salah satu sukarelawan penerjemah bagi peserta kompetisi dari Indonesia

Satu hal lucu terjadi selama saya menjadi sukarelawan penerjemah. Di awal acara, seluruh peserta diminta mendaftarkan perangkat peraganya untuk dicatatkan di administrasi ISEF, dan setiap barang peraga harus ditempelkan sebuah stiker verifikasi. Menariknya, adik – adik peserta yang saya mendampingi membawa sebuah kain sarung gringsing asli Bali yang sangat indah dari Indonesia untuk memeragakan motif asli kain sarung tersebut sebagai bagian dari proses penjurian. Saya sangat ingat ketika mereka datang ke meja admin dan menyerahkan kain tersebut untuk verifikasi dan penempelan stiker, petugas yang melayani kami merupakan seorang ibu tua yang tampaknya juga seorang sukarelawan. Terlihat ibu itu sangatlah kagum atas keindahan kain tersebut dan bertanya kepada kami apakah kain ini asli. Saya menerjemahkan pernyataan sang ibu tersebut ke Ary dan Sudiarsana, dan mereka pun mengatakan bahwa kain tersebut asli, memiliki motif unik yang indah, dan dibuat dengan tangan. Segera setelah menerjemahkan jawaban tersebut, ibu tadi segera membatalkan penempelan stiker dan meminta kami menjaga betul keasrian kain tersebut. Saat itu saya tersadar, bahwa budaya Indonesia tidak kalah klasik dengan budaya Amerika, dan keindahannya akan selalu diapresiasi oleh manusia manapun di seluruh dunia.

Ah terlupa, karya ilmiah adik – adik tadi adalah mengenali pola motif batik sarung gringsing dan membuat model matematika berbasiskan fractal model. Sebagai orang yang tidak begitu memahami materi yang mereka bawa, saya secara tidak langsung belajar tentang konsep matematika tersebut, sembari bertanya dalam hati, “saya ngapain aja ya selama masa SMA, rasanya tidak sehebat kreativitas mereka”. Tapi, terlepas dari kekurangan saya dalam memahami materi tersebut, kemampuan penerjemahan saya tidaklah buruk. Selama penjurian, saya membantu adik – adik tersebut menjelaskan karya ilmiahnya dan melancarkan segala kebuntuan komunikasi antara mereka dan para juri. Saya membaca kepuasan dan kekaguman para juri terhadap pemaparan dan peragaan oleh Ary dan Sudiarsana. Tidak terlihat raut kebingungan dan ketidakpuasan dari wajah para juri, meskipun wajah adik – adik tersebut terlihat begitu tegang.

Bersama Ary dan Sudiarsana memaparkan hasil karya ilmiahnya kepada salah satu juri
Bersama Ary dan Sudiarsana memaparkan hasil karya ilmiahnya kepada salah satu juri

Gilanya, ternyata usaha kerja keras Ary dan Sudiarsana dan semangat saya dalam menerjemahkan, tersampaikan secara ikhlas kepada para juri dan terbayar dengan indah. Panitia penjurian ISEF tak ragu menganugerahkan Grand Awards dalam kategori Matematika dan memberikan hadiah sebesar USD 500 serta medali kepada Ary dan Sudiarsana. Tampaknya, motif batik sarung gringsing dari Bali dan pemanfaatannya dalam pengembangan model fraktal merupakan sesuatu yang unik dan inovatif dalam mengapresiasi keluhuran budaya masyarakat Indonesia pada umumnya dan Bali pada khususnya. Semangat kesukarelawanan saya untuk meluangkan waktu membantu adik – adik kita dalam rangka memperkenalkan budaya dari Indonesia dan mengharumkan nama bangsa di kancah science dan engineering dunia terbayar dengan lunas. Tidak lupa, di tengah kesibukan menghadiri ISEF, saya juga berhasil lulus dengan cemerlang di mata kuliah yang saya ikuti. Jadi, siapa bilang sukses mengarungi perkuliahan sambil menjadi sukarelawan di negeri orang tidak mungkin dicapai dan berakhir dengan manis?

***

Sumber foto: CMU, dokumentasi penulis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here