Perempuan, PhD, dan Masa Depan Bumi

0
471

Perempuan, muda, dan berprestasi sepertinya tepat untuk menggambarkan sosok Gracia Paramitha, Kontributor Indonesia Mengglobal yang baru saja menyelesaikan studi Doktoralnya di bidang Environmental Politics di University of York, Inggris. Ketertarikan Gracia terhadap isu lingkungan hidup telah mengantarkannya meraih berbagai prestasi di tingkat nasional maupun internasional. Dalam artikel ini, Gracia membagikan kiprahnya sebagai seorang perempuan Indonesia yang sukses meraih mimpi. 

 

“The future depends on what we do in the present.” – Mahatma Gandhi

Ungkapan di atas merefleksikan apa yang telah saya lakukan dan alami di perjalanan hidup selama 31 tahun lamanya. Setuju dengan pandangan Mahatma Gandhi, masa depan sangat bergantung pada kebiasaan dan perbuatan masa kini. Tentunya, sekecil apapun langkah dan keputusan yang kita ambil, berproses dan semakin menuju cita-cita yang kita impikan. Terlahir dari keluarga akademik yang demokratis dan terbuka, saya bersyukur bawa orangtua telah mengajarkan pentingnya mimpi. Mereka pun memberikan kebebasan bagi anaknya untuk memilih impian yang diharapkan. Mimpi tidak pernah mati, mari kita mulai hari-hari kita dengan motivasi dan informasi yang berarti!

Berbicara tentang mimpi, saya memulainya sejak duduk di bangku SMP, khususnya saat terpilih sebagai Puteri Lingkungan Hidup oleh Tunas Hijau Club Surabaya di tahun 2002 di Surabaya. Kenangan saat menjadi delegasi anak Indonesia untuk konferensi lingkungan anak-anak sedunia di Perth, Australia Barat pada bulan Oktober 2002 lah yang menjadi cikal bakal saya mencintai (passionate) bidang lingkungan. Ini mimpi pertama saya, yakni menjadi diplomat atau melakukan diplomasi yang membawa misi penyelamatan lingkungan hidup. Rasa syukur tidak pernah saya lepaskan karena di usia remaja ini saya punya rumah kedua, Tunas Hijau Club, yang banyak mengajarkan tentang pengelolaan kompos, penanaman pohon, serta kegiatan menarik lainnya yang berhubungan dengan alam. Sejak saat itu, saya sudah bertekad ingin menjadi perempuan Indonesia yang terus belajar, meraih pendidikan tinggi, dan konsisten bergerak atau beraktivitas untuk kelestarian bumi.

Menginjak SMA di tahun 2004-2007, pengalaman berkecimpung di bidang lingkungan hidup pun beralih ke dunia penelitian. Bersekolah di SMA Kr. Petra 2 Surabaya (atau biasa sering disebut Petra Manyar) dan bergabung dalam tim Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) bimbingan Pak Gunawan telah membuka cakrawala pengetahuan serta pentingnya skill penelitian atau research. Alhasil, berbagai prestasi pun saya raih bersama tim Pak Gun, yaitu: Pencetus Mars Perkemahan Ilmiah Remaja Nasional (PIRN) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di tahun 2005, Juara II Lomba Karya Ilmiah Nasional oleh Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia November 2005, Juara II Lomba Nasional “Light of Electrical Dreams 2005” di Institut Teknologi Bandung (ITB) bulan Februari 2006, serta Juara Favorit Nasional dan Juara 1 tingkat Regional Jawa Timur “Honda Best Student” pada bulan Juli 2006.

Uniknya, di saat kuliah saya sudah mantap memilih jurusan Hubungan Internasional (HI), ilmu yang mungkin terlihat tidak sejalan dengan pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di SMA atau kegemaran saya di isu lingkungan hidup. Dengan pindahnya haluan ilmu dari IPA menuju kajian ilmu sosial, justru kita semakin diperkaya dan membuka pemikiran kita bahwa isu lingkungan hidup multidimensional. Terlebih lagi, belum banyak ahli yang menggemari isu lingkungan hidup dan politik di tahun 2007, sebelum kita mulai melihat lingkungan hidup menjadi primadona media sosial sekarang. Mengerjakan skripsi S1 tentang diplomasi lingkungan Indonesia di Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun 2010, lalu berlanjut di pengerjaan tesis S2 HI di Universitas Indonesia mengenai tata kelola lingkungan global di badan lingkungan hidup PBB pada tahun 2013, dua riset ini semakin menjadi acuan saya untuk mengembangkan ilmu dan kemampuan riset saya dengan mendaftarkan diri di jenjang Pendidikan tertinggi PhD atau studi Doktoral bidang Environmental Politics di University of York, Inggris. Mimpi saya pun semakin berkembang. Tidak hanya membawa diplomasi lingkungan hidup, tetapi juga menginspirasi para perempuan Indonesia khususnya untuk terus belajar dan berbagi melalui profesi sebagai profesor perempuan muda bidang Politik Lingkungan atau Lingkungan Global.

Tidaklah asing dan mengherankan apabila perjalanan untuk meraih mimpi ini diliputi berbagai kegagalan. Justru saya meyakini bahwa kita harus bisa berbaur dengan kegagalan, karena kegagalan itu semacam komplemen pedoman hidup selain motivasi diri. Orang yang bisa bangkit dari banyaknya kegagalan adalah orang yang tangguh dan mampu melahirkan generasi penerus lebih hebat. Mulai dari tiga kali tidak lolos seleksi “Bayer Young Environmental Envoy” tahun 2007-2010, gagal mendapatkan beasiswa studi Magister ke luar negeri selama empat kali tahun 2011-2012, tidak diterima bekerja di perusahaan multinasional di tahun 2013, penolakan proposal riset dari sepuluh profesor dan lima kampus top di Inggris untuk mendaftar program PhD di awal tahun 2016, hingga berulang kali mengganti proposal riset PhD di awal tahun 2017.

 

Berorganisasi dan Bersosialisasi Sembari Studi

Setelah saya memasuki awal tahun PhD, begitu banyak eksplorasi kegiatan dan pengembangan diri yang kita bisa lakukan. Mulai dari penyelenggaraan kegiatan demo masak soto (yellow chicken soup) yang didanai oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) kampus York bernama Graduate Student Association (GSA) di bulan Juni 2017, menjadi ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) York tahun 2018/2019 dan mendapatkan dana hibah dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) London untuk membuat kelas bahasa Indonesia gratis bagi sivitas akademika Inggris atau asing di York pada bulan Desember 2018-Juni 2019, hingga membuat “IndoNight : Eat and Play 2019” (rangkaian belajar, games, dan menu masakan khas Indonesia).

 

Poster project demo masak soto beserta lokakarya gamelan dan demo minum teh Tiongkok yang didukung oleh GSA pada bulan Juni 2017
Poster project demo masak soto beserta lokakarya gamelan dan demo minum teh Tiongkok yang didukung oleh GSA pada bulan Juni 2017

 

Gracia membuat video demo masak soto di dapur apartemennya di York
Gracia membuat video demo masak soto di dapur apartemennya di York

 

IndoNight session bersama teman-teman ASEAN, UK, dan mahasiswa asing lainnya pada bulan Maret 2019
IndoNight session bersama teman-teman ASEAN, UK, dan mahasiswa asing lainnya pada bulan Maret 2019

 

Kiprah Akademis di Bidang Lingkungan: Jatuh Bangun Menggapai Mimpi

Di antara beragam eksplorasi yang sudah saya lakukan selama PhD, ada dua pengalaman paling berkesan yang menunjukkan concern saya pada masa depan hutan Indonesia. Sesuai dengan topik riset saya yaitu tata kelola bilateral bidang perubahan iklim di Indonesia, pada awal Januari saya terpilih menjadi finalis dari negara Asia satu-satunya di kompetisi “PhD Spotlight 2019”, sebuah kompetisi poster dan presentasi ke masyarakat umum mengenai riset PhD di kampus York. Dari pengalaman ini juga, saya telah berbagi ke publik di kampus York mengenai seluk beluk deforestasi Indonesia dan sejauh mana peran donor asing (Norwegia, Inggris, dan Australia) membantu penyelamatan hutan dan penurusan emisi karbon di Indonesia.

 

Display pameran Gracia dalam PhD Spotlight Competition 2019
Display pameran Gracia dalam PhD Spotlight Competition 2019

 

Pengalaman kedua yang sangat berkesan yakni saat mengikuti “Australasian Aid Conference” pada tanggal 18-19 Februari 2019. Di tahun sebelumnya, saya pernah mendaftar dan gagal, di tahun 2019 saya mendapat kesempatan sebagai presenter atau pemakalah riset PhD saya tentang risalah donor asing dalam mekanisme bilateral perubahan iklim di Indonesia. Menariknya lagi, konferensi ini lebih banyak menghubungkan saya dengan banyaknya pekerja atau konsultan di bidang development sector beserta strategi saya untuk mendapatkan data penelitian PhD yang berkaitan dengan donor Australia (AUSAID).

 

Gracia bertanya dan berpartisipasi aktif dalam sesi Plenary Hall di Australasian Aid Conference, 18 Februari 2019 di Australian National University
Gracia bertanya dan berpartisipasi aktif dalam sesi Plenary Hall di Australasian Aid Conference, 18 Februari 2019 di Australian National University

 

Sesi presentasi Gracia tentang risalah donor bilateral bidang perubahan iklim di Indonesia
Sesi presentasi Gracia tentang risalah donor bilateral bidang perubahan iklim di Indonesia

 

Sumber dana studi dan riset PhD saya berasal dari Pemerintah Indonesia bernama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) di bawah Kementerian Keuangan Republik Indonesia untuk studi PhD di University of York, Inggris. Pengalaman lolos LPDP hingga cerita perjalanan PhD lainnya pun sudah terpublikasi bersama teman-teman PPI Dunia selama dua kali oleh penerbit Elexmedia yang berjudul: “Explore 20: Kisah Perantau Ilmu” terbit pada tahun 2017 dan “Perantau Ilmu: Amerika-Eropa” di tahun 2018.

Jatuh bangunnya usaha yang saya lakukan tidak lepas dari anugerah Tuhan, dukungan dari berbagai pihak (sekolah, tim KIR, Pak Gun, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Tunas Hijau Club Surabaya, serta para mentor selama saya berkarir sebagai dosen di London School of Public Relations (LSPR) Jakarta dan menempuh PhD di Inggris). Saya berprinsip bahwa kesuksesan itu proses yang berwarna-warni, tidak diraih secara instan, dan hanya dapat dicapai dari akumulasi kerja sama dengan banyak orang. Untuk mewujudkan impian yang penuh berkah dibutuhkan konsistensi, penerimaan diri kita pada kegagalan, dan mau membuka pikiran kita untuk terus belajar berbagai aspek kehidupan dan dari orang lain.

Perempuan memiliki berbagai kapasitas dan hak yang sama dengan lelaki dalam meraih apa yang dicita-citakan. Perempuan berpendidikan tinggi pun tidak lepas dari kodratnya sebagai sosok yang akan melahirkan generasi penerus yang cerdas serta menentukan kemajuan sebuah bangsa. Ada sebuah pepatah dari Afrika mengatakan bahwa “If you educate a man, you educate an individual, but if you educate a woman, you build a nation“. Pendidikan tinggi dan pencapaian besar yang diraih seorang perempuan seyogyanya menjadi terang yang menyinari anak-anak dan generasi muda lainnya dalam berkarya. Riset PhD saya pun telah diuji dalam siding akhir Viva, dan Puji Tuhan tanggal 10 April lalu mendapatkan penghargaan dari PPI UK beserta KBRI London dalam “The MVP Awards” kategori Academic Excellence in PhD. Untuk semua perempuan Indonesia, teruslah belajar, bergerak, dan berbagi dengan sesama manusia untuk menjadi pribadi yang tangguh dan meneruskan kelestarian bumi yang lebih baik. Selamat hari Kartini dan selamat memperingati Hari Bumi Sedunia!

 

*All photos are provided by the author

SHARE
Previous articleStudi Cosmetic Science di Liverpool, Kisah Passion dan Pandangan Almira akan Pendidikan
Next articleKisah Jeniar Dapat Beasiswa S2 ke Australia Bersama Program Mentorship Indonesia Mengglobal
Gracia Paramitha
Gracia Paramitha is currently a lecturer and Deputy Head of International Relations Programme Study at Communication and Business Institute, London School of Public Relations (LSPR) Jakarta. She is also a PhD Candidate in Politics at University of York, United Kingdom. Her PhD thesis is bilateral climate change governance in Indonesia. She is interested in doing research and discussing about sustainable development goals (SDGs), youth, climate change, politics, and environmental policy. She is now teaching SDGs and International Organization for undergraduate students, and Stakeholder Relations for postgraduate students. Some books and articles were written through her academic and non-academic activities, such as: “Tata Kelola Lingkungan Hidup Global” textbook, “Kisah Perantau Ilmu: Amerika-Eropa” and “Explore 20: Kisah Perantau Ilmu” Book (published by Elexmedia, Gramedia Group with PPI Dunia and became best-seller books in 2017 and 2018). As her social or community service, she has been Co-Founder of Indonesian Youth Diplomacy, which brought her to London as the Indonesian Delegate to Y8 Summit 2013. A passionate environmentalist, she was a Global Youth Advisor to the United Nations Environmental Programme (UNEP)’s TUNZA Programme, representative Asia Pacific region in 2011-2013 (www.unep.org/Tunza). She had been involved actively on the online discussion of post 2015 agenda (http://worldwewant2015.org) and became one of UNEP Today’s Expert on Green Economy issues (http://www.unep.org/experts/Default.asp?Page=profiles&ExpertID=2692&ShowList=no&eName=Gracia%20Paramitha). Another interesting experience that Gracia did with UNEP was becoming a Host/Presenter for documentary film project in collaboration with the United Nations University (UNU). The film told about Invasive Allien Species (IAS) in East Java, September 2013. She was born in Surabaya and still contributes or advises children and youth there about environmental activities through Tunas Hijau Club. Her motto is ‘sustainability is integrity’.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here