Perempuan Kuliah Master of Computer Science di Inggris, Kenapa Tidak?

0
675

Semakin banyak perempuan yang berkecimpung di dunia IT. Seperti Istha Bena Hadirani, yang sudah 8 tahun berkarir sebagai programmer dan kini menempuh studi Master of Computer Science di University of Edinburgh. Melalui artikel ini, Rio Tuasikal, Columnist Indonesia Mengglobal, berkesempatan untuk menceritakan pengalaman Bena di dunia yang masih didominasi laki-laki tersebut.

***

 

Mulai dari Ragnarok Online sampai Dota, hobi bermain game semasa sekolah telah menumbuhkan kecintaan Bena pada dunia komputer. Bena muda bercita-cita menjadi pembuat game. Itulah kenapa dia mantap memilih jurusan Ilmu Komputer ketika kuliah S1 di Universitas Indonesia.

Namun kuliah ilmu komputer ternyata lebih sulit dari yang dia bayangkan. Bena, yang sebelumnya tidak mengerti apa itu coding, sempat merasa ingin pindah jurusan. Untungnya dia dapat memahami logical thinking pada persiapan ujian praktik semester dua.

“Dari situ gue baru dapet feel-nya ngoding,” kisah Bena.

Seiring berjalannya waktu, Bena menyadari bahwa membuat game jauh lebih rumit dari yang dia kira. Ketika lulus, dia pun mengubah arah cita-citanya.

“Jadi pupus sudah harapan bikin game itu. Milih ngoding yang lain aja bukan game,” ujarnya sambil tertawa.

sinetra copy
Saat kuliah, Bena mendirikan dan aktif di klub Sinematografi UI. Sempat menjabat sebagai ketua, Bena ingin menunjukkan bahwa anak IT juga suka berorganisasi.

Lulus S1, Bena sempat bekerja sebagai pengembang situs sebelum akhirnya pindah ke IBM. Di IBM, Bena mengisi beberapa peran seperti data engineer, data modeler, dan data analyst. Pindah ke Elevenia, Bena fokus di bidang data sebagai data architect. Dari situ, dia pindah ke OVO dan berperan sebagai data engineer, data modeler, dan data architect. Pengalaman kerjanya mengenalkan Bena kepada big data, sesuatu yang jadi minatnya sekarang.

Dengan pengalaman di dunia IT, dia pun mencoba peruntungan untuk melanjutkan kuliah di luar negeri. Pilihannya jatuh ke program MSc Computer Science di University of Edinburgh. Kesempatan itu pun tiba pada tahun 2020 ketika dia berhasil mendapatkan Beasiswa Chevening dari pemerintah Inggris.

“Di sini, aku ingin mempelajari pemrosesan unstructured data seperti teks, foto, dan video. Cita-citanya pengen belajar machine learning dan natural language processing,” ujarnya.

 

Ruang Kerja yang Suportif dan Aman

Berkecimpung di dunia IT menjadi pengalaman tersendiri bagi perempuan. Bena mengatakan, masyarakat masih menganggap bahwa laki-laki lebih cocok untuk pekerjaan IT.

Menurut Bena, laki-laki diuntungkan karena terekspos dengan dunia komputer dari lingkungannya semasa kecil.

Dua tahun pertama di OVO, atasan Bena adalah seorang perempuan yang menjabat sebagai Chief Data Officer.
Dua tahun pertama di OVO, atasan Bena adalah seorang perempuan yang menjabat sebagai Chief Data Officer.

Namun pengalaman Bena menunjukkan bahwa perempuan juga bisa bersaing.

“Selama gue kuliah, nemu juga kok cewek-cewek yang jago ngoding,” kisahnya.

Bena mengatakan, semakin ke sini semakin banyak perempuan yang terjun ke bidang IT, utamanya dalam data modelling dan data analysis. Sementara posisi-posisi engineering masih didominasi laki-laki.

“Di tim data architect kemarin, gue cewek sendiri,” ucapnya bangga.

Menurut Bena, kehadiran perempuan di dunia IT perlu didukung dengan lingkungan kerja yang suportif dan aman.

“Bos gue orangnya nggak diskriminatif. Dia fair ngelihatnya dari performance. Lingkungan kerja gue juga baik-baik aja. Pendapat gue didengar,” kisahnya.

Meski begitu, dia mengakui bahwa kadang laki-laki lebih dipercaya.

“Misalnya ketemu klien baru, mereka lebih sering bertanya ke cowok dari pada ke gue. Padahal gue ada di situ,” ujarnya seraya menambahkan dia tidak ambil pusing.

Di samping itu, bercandaan seksis di lingkungan kerja menjadi tantangan ekstra bagi perempuan.

“Kalau ada orang-orang yang merasa keberatan, harus diomongin. Misalnya ke HR,” tegasnya.

 

Pentingnya Perempuan di Dunia IT

Berkarir di dunia IT membuat Bena mengerti pentingnya kehadiran perempuan. Perempuan bisa menjadi role model, mentor, atau tempat konsultasi bagi perempuan yang lebih junior.

Menurut Bena, perempuan di perusahaan IT, terutama yang memiliki jabatan, dapat mendorong situasi kerja yang lebih aman. Misalnya tidak membiarkan perempuan pulang larut malam dan memperjuangkan hak perempuan mengambil cuti haid.

“Hal-hal kayak gitu kan penting. Supaya kita menciptakan lingkungan yang nyaman untuk perempuan. Dengan adanya perempuan, kita bisa menciptakan situasi yang lebih kondusif,” harapnya.

“Misalnya bikin aplikasi health tracker atau smart watch app. Kalau laki-laki semua, mungkin mereka nggak kepikiran untuk memasukkan tracker untuk haid,” ia mencontohkan.

foto-kerja-2
Menurut Bena, ruang kerja yang aman membuat perempuan dapat menunjukkan potensinya secara penuh.

Melihat pentingnya keterlibatan perempuan, Bena berharap semakin banyak perempuan yang terjun ke dunia IT.

Don’t let gender define you. Jangan hanya karena lo cewek lo jadi takut masuk Dunia IT. Just focus on improving yourself,” pungkasnya.

Dia mengatakan, perempuan saat ini punya kesempatan lebih luas dibanding generasi sebelumnya. Misalnya perempuan bisa belajar coding lewat tutorial dan kelas gratis di internet. Perempuan juga bisa menemukan banyak role model dan mentor.

“Generasi sekarang harusnya lebih enak dibanding generasi gue dulu,” paparnya.

Dengan semakin banyaknya perempuan di dunia IT, Bena berharap stigma maskulinnya bisa terus dikikis.

“Kalau ceweknya nggak masuk dunia IT, kita nggak bisa melunturkan stigma-stigma itu,” tutupnya.

 

——

Istha Bena Hadirani adalah mahasiswa MSc Computer Science di University of Edinburgh, United Kingdom. Setelah menamatkan kuliah S1 Ilmu Komputer di Universitas Indonesia, Bena bekerja di bidang IT di IBM, Elevenia, dan OVO.

Semua foto disediakan oleh Istha Bena Hadirani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here