Kuliah di University of Science and Technology (UST), Korea Selatan

0
1515
University of Science and Technology (UST), Korea. Sumber: studyinkorea.go.kr

Bila membahas perkuliahan di Korea Selatan, kampus manakah yang muncul di benak Anda? Mungkin banyak yang berpikir untuk studi lanjut ke SKY Universities (Seoul National University, Korea University, dan Yonsei University), atau ke Korean Advanced Institute of Science and Technology dan Sungkyunkwan University. Namun, pada kesempatan kali ini, Content Director IM mewawancarai Corwin, alumnus dari University of Science and Technology (UST), untuk membagikan pengalamannya berkuliah di kampus yang berlokasi di Daejeon tersebut.

***


Hi Corwin, boleh diceritakan singkat latar belakangnya hingga menempuh studi ke Korea Selatan? 

Hai semua. Saya Corwin Rudly, alumni teknik kimia Institut Teknologi Bandung (ITB). Saya lulus pada tahun 2016 dan melanjutkan kerja dahulu menjadi seorang technical sales engineer. Akan tetapi, keinginan untuk melanjutkan studi ke luar negeri begitu kuat, sehingga saya resign setelah bekerja sekitar enam bulan. Dapat dikatakan saya sangat nekat, karena saya berhenti bekerja sebelum mendapatkan LoA dari kampus.

Pada awalnya, saya juga sempat tertarik untuk melanjutkan studi ke Belanda. Saya bimbang antara ke Wageningen University atau TU Delft. Namun, pada akhirnya, saya mencoba meminta saran dari Dr. Lee, seorang peneliti dari Korea Selatan yang melakukan semacam visiting research ke Departemen Teknik Kimia ITB. Saya berdikusi dengannya dan mendapatkan inspirasi serta surat rekomendasi dari beliau untuk melanjutkan studi ke Korea Selatan. Beruntungnya, beliau mengenal beberapa peneliti di Korea Selatan yang sedang mencari mahasiswa untuk penelitian. Beliau menyarankan untuk mencoba studi lanjut di bawah bimbingan Dr. Yoo Jiho dari Korea Institute of Energy and Research (KIER). Kebetulan, penelitian di lab Dr. Yoo adalah tentang katalis untuk energi terbarukan yang juga saya minati.

Saya merasa sangat beruntung karena dapat dibilang prosesnya berlangsung sangat lancar. Saya mengirimkan surat rekomendasi dan cover letter pada pagi hari, dan sudah mendapatkan kabar bahwa saya diterima oleh Dr. Yoo pada siang hari yang sama.

Wow, prosesnya sangat cepat sekali! Adakah hal lain yang perlu disiapkan? 

Ya benar, prosesnya sangat cepat. Mungkin karena sudah ada beberapa alumni ITB yang studi di sana juga dan memberikan kesan yang positif. Sehingga peluang saya diterima menjadi lebih tinggi.

Setelah diterima oleh Dr. Yoo, saya hanya perlu menyiapkan beberapa berkas sebagai persyaratan administrasi untuk KIER, seperti TOEIC dan CV. Jadi, bukan tes IELTS atau TOEFL iBT.

Di kampus mana Corwin berkuliah dan mengapa memilih ke sana?

Saya mendaftar ke University of Science and Technology (UST), program magister di bidang advanced energy and system engineering. Tetapi pada awalnya, saya berangkat sebagai intern ke KIER, untuk waktu sekitar 4 bulan. Analoginya untuk mahasiswa yang ke Jepang, ini seperti sebagai research intern. Setelah selesai magang, saya baru mendaftar ke UST yang berlokasi di Daejeon, berbekal rekomendasi dari Dr. Yoo. Saya menjalani wawancara dengan beberapa dosen dan akhirnya diterima. Singkat cerita, saya berhasil masuk ke kampus melalui jalur institut. Selama studi di Korea, saya terafiliasi dengan UST dan KIER (tempat saya melakukan penelitian). Di kasus lain, ada mahasiswa yang mendaftar langsung ke universitas.

Ketika berkesempatan menjadi salah satu oral presenter di salah satu konferensi. Sumber: Corwin
Ketika berkesempatan menjadi salah satu oral presenter di salah satu konferensi. Sumber: Corwin

UST ini merupakan konsorsium dari 32 institusi riset di Korea Selatan. UST memiliki pendanaan (funding) yang besar dan memiliki iklim penelitian yang bagus. Apabila ada peneliti yang ingin mengikuti konferensi, terdapat anggaran yang dapat dimanfaatkan. Kampus ini berfokus pada penelitian dan tidak ada program S1. Selain itu, pengajar UST adalah peneliti-peneliti yang bekerja di institusi riset sehingga ilmu yang diberikan lebih bersifat aplikatif. Yang tidak kalah menarik adalah UST sempat menempati peringkat dua di Korea Selatan pada tahun 2018 berdasarkan Center for World University Rankings .

KIER menjadi salah satu institusi riset yang memiliki kerja sama dengan UST. Selain itu, KIER juga memiliki kerja sama dengan kampus lainnya, seperti Chung Nam National University, Korea University, Yonsei University

Dari sisi nonakademis, menurut saya UST sangat menarik karena kampus ini paling international friendly. Kelas-kelasnya sendiri ada yang dalam bahasa Inggris ataupun bahasa Korea, tetapi mayoritas berbahasa Inggris.

Hal menarik lainnya adalah ketika berkuliah di UST, dapat dikatakan saya menjadi seorang pekerja profesional untuk KIER di waktu yang bersamaan. Gaji yang diberikan saya gunakan untuk membayar biaya kuliah dan juga biaya hidup. Adapun untuk tempat tinggal, saya tinggal di asrama yang harganya “hanya” KRW 40.000 (sekitar 520.000 rupiah, 1 KRW = 13 IDR) per bulannya. Makan pagi, siang, dan malam di kantin kampus juga sangat terjangkau karena telah mendapat subsidi dari pemerintah Korea. Sangat menarik, bukan?

Naik gunung Jirisan dengan teman-teman Indonesia dan keluarga Korea. Sumber: Corwin Rudly
Naik gunung Jirisan dengan teman-teman Indonesia dan keluarga Korea. Sumber: Corwin

Boleh dijelaskan bagaimana suasana perkuliahan di kampus tersebut, baik secara akademis maupun nonakademis?

Pada awal masuk program, seperti kampus umumnya, saya menjalani matrikulasi (orientasi) bersama mahasiswa-mahasiswa lainnya. Komposisi mahasiswa sangat internasional, ada mahasiswa Rusia, Kazakhstan, Ukraina, Pakistan, Kanada, US, dll.

Dari sisi akademis, perkuliahan yang diberikan sangat mendukung penelitian yang kita lakukan. Kuliah teori dan penelitian di KIER saya lakukan pada waktu bersamaan. Dan untuk penelitiaan di laboratorium sendiri, saya biasanya menghabiskan waktu dari jam 8 pagi hingga 6 sore. Tidak jarang juga bekerja tambahan dan pulang pukul 9-10 malam.

Apa saja tantangan yang dihadapi selama berkuliah di sana?

Yang pertama, tentunya bahasa. Bahasa merupakan tantangan yang pasti dihadapi mahasiswa Indonesia yang berkuliah di luar negeri, terutama di negara yang mayoritas penduduknya tidak berbahasa Inggris. Di lingkungan kampus, saya dapat berbahasa Inggris. Tetapi di luar kampus, saya perlu setidaknya dapat berbicara bahasa Korea percakapan sehari-hari.

Kedua, kultur yang berbeda. Di Korea Selatan, sudah lumrah junior menghormati yang senior dan kita perlu “pintar” membawa diri. Pikir-pikir lagi jika ingin membantah pemikiran orang yang lebih tua. Perlu dicatat bahwa hal ini pada umumnya tidak berlaku dalam diskusi akademik.

Terakhir, tentu dari pekerjaan penelitian itu sendiri. Tetapi tentu ini pasti sudah menjadi bagian dari studi kita, yang mana ada target-target penelitian yang harus diselesaikan.

Apa yang Corwin lakukan di luar kegiatan akademik sewaktu berkuliah di sana?

Sama seperti mahasiswa pada umumnya,  saya mencoba mengeksplorasi beberapa tempat di Korea. Dan saya juga lumayan aktif di PPI Korea Selatan (atau dikenal sebagai PERPIKA).

Nonton Korea Open bersama Diaspora Indonesia. Sumber: Corwin
Nonton Korea Open bersama Diaspora Indonesia. Sumber: Corwin

Adakah pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca artikel ini?

Pesan saya satu, apabila kita studi ke negara lain, maka kita perlu mempelajari kebudayaan setempat. Kita perlu setidaknya belajar bahasa lokal dan percakapan yang sederhana untuk “memudahkan” hidup kita sehari-hari. Selain itu, dengan menguasain bahasa lokal yang baik, kita dapat menjalin hubungan pertemanan yang lebih baik dengan orang lokal.

Manfaatkan kesempatan untuk berinteraksi dengan teman-teman internasional lainnya untuk memperluas wawaasan kita. Hal ini tidak kalah penting dengan kuliah itu sendiri.

Profil Narasumber

Profpic Corwin

Corwin Rudly is currently working at Paragon Innovation and Technology, specifically at Product Innovation and Development Directorate. After completing his studies at Institut Teknologi Bandung (BSc of Chemical Engineering) and Korea University of Science and Technology (MEng of Advanced Energy and System Engineering), he decided to start his journey in the FMCG sector. He is very enthusiastic in discussions about product innovation and corporate strategy. For those who want to study in Korea and would like to have a pleasant coffee talk, don’t hesitate to contact him, he will be very glad to help. You can reach him on his Instagram.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here