Sairindri Gita Christisabrina: Belajar dan Bekerja di Bidang Hak Asasi Manusia

0
1830
Sairindri Gita Christisabrina, atau Indri, berlatar belakang Sungai Seine di Paris

Di artikel ini, Content Director Indonesia Mengglobal untuk wilayah UK dan Eropa berkesempatan untuk mewawancarai Sairindri Gita Christisabrina, seorang profesional muda yang sedang berkarir di Perancis. Ia mulai mendalami bidang Hak Asasi Manusia (HAM) saat berkuliah S2 di Sciences Po, Paris, dan sempat bekerja di UNICEF dan Human Rights Watch sebelum akhirnya sejak tahun 2018 berkarir di organisasi The Consumer Goods Forum. Yuk, kita simak cerita Indri tentang keputusannya untuk mendalami bidang HAM dan pengalamannya di Perancis.

***

Saya mengenal Indri saat kita sedang sama-sama berkuliah di jurusan Hubungan Internasional di Bilkent University, Turki. Selulusnya dari Turki pada tahun 2015, ia meneruskan studi S2 di Paris Institute of Political Studies, atau lebih dikenal sebagai Sciences Po. Setelah lulus, ia lanjut berkarir di Paris. Setelah beberapa tahun tidak bertemu, saya akhirnya berkesempatan untuk berbincang-bincang dengan Indri, dimana ia menceritakan pengalamannya berkuliah dan bekerja di bidang HAM.

Halo Indri! Pertama-tama, bisakah diceritakan kenapa kamu memilih untuk kuliah S2 di bidang HAM di Perancis?

Hai Chani! Jadi, dari tahun 2016 sampai 2018, saya berkuliah S2 di jurusan Human Rights and Humanitarian Action dengan konsentrasi di bidang Environment dan Migration.

Mengapa? Alasan utamanya adalah kurikulum yang ditawarkan oleh Sciences Po. Awalnya saya juga tidak terlalu tahu tentang Sciences Po, tapi waktu saya riset mengenai program-program S2 di Eropa, saya menemukan program tersebut. Ketika saya pelajari kurikulumnya, saya lihat di tahun pertama, program tersebut menawarkan mata kuliah umum mengenai HAM, seperti Introduction to Human Rights Law, Public Law, Criminal Law, dan hal-hal dasar lain yang perlu kita ketahui tentang HAM. Tapi di tahun berikutnya, kita bisa mengambil spesialisasi. Seperti misalnya, mempelajari HAM dari sudut pandang migrasi dan lingkungan, dimana kurikulumnya mencakup immigration law dan environmental law. Jadi, menurut saya bedanya Sciences Po dengan universitas-universitas lainnya di Eropa adalah adanya opsi untuk mendalami topik-topik tersebut.

Sebelum kita bahas lebih lanjut tentang pengalamanmu waktu S2, boleh diceritakan sedikit, kenapa sih kamu tertarik untuk mendalami HAM?

Foto berasama volunteer-volunteer lainnya untuk acara tahunan di kampus Youth and Leaders Summit dimana mahasiswa dapat kesempatan berbincang langsung dengan tokoh-tokoh politik mengenai isu-isu politik dunia
Foto bersama para relawan lainnya untuk acara tahunan di kampus Youth and Leaders Summit dimana mahasiswa dapat kesempatan berbincang langsung dengan tokoh-tokoh politik mengenai isu-isu politik dunia

Waktu saya tinggal di Ankara, Turki, di dekat tempat tinggal saya ada sebuah lapangan terbuka dimana banyak sekali pengungsi-pengungsi dari Suriah yang tinggal disana. Mereka tidak ada pilihan lain dan harus menjalani musim dingin Ankara yang sangat dingin di tempat terbuka. Saya berfikir, bagaimana mereka bisa hidup seperti ini?

Di kampus pun saat itu banyak diskusi akademis mengenai hak-hak pengungsi karena keadaan perang saudara di Suriah semakin memburuk. Pada saat yang sama, saya mengambil mata kuliah tentang HAM sebagai salah satu elective. Disana, saya diperkenalkan dengan konsep dan isu-isu HAM secara luas oleh seorang dosen dari Perancis yang sempat bekerja di International Committee of the Red Cross, atau Komisi Palang Merah Internasional. Saya sangat menikmati diskusi-diskusi di kelas itu, dimana kita juga membahas isu-isu seputar hak pengungsi menggunakan konsep-konsep HAM. Saya juga banyak belajar tentang sejarah dan hukum HAM. Saat itu, saya memang sudah berencana untuk lanjut S2 di Eropa. Jadi, bisa dibilang saya memilih untuk kuliah bidang HAM karena terpengaruh oleh keadaan sekitar dan didukung oleh dosen yang inspiratif.

Lalu, bagaimana pengalamanmu selama berkuliah di Sciences Po?

Untuk masyarakat Indonesia, mungkin universitas yang lebih terkenal di Perancis adalah Sorbonne University. Tapi sebenarnya di Perancis, Sciences Po adalah universitas yang lebih terkenal untuk para praktisi, sedangkan Sorbonne adalah pilihan para akademisi.

Di awal-awalnya, saya lumayan kaget karena sistem belajar di Perancis lumayan berbeda dari sistem perkuliahan waktu S1 di Turki. Di Bilkent University dulu, menurut saya tidak terlalu sulit bagi saya untuk mendapatkan nilai A. Sedangkan di Perancis, mentalitasnya adalah “tidak ada manusia yang sempurna”. Sistem nilainya adalah angka 0 sampai 20, dimana asumsinya adalah tidak ada orang yang akan bisa mendapat nilai 20. Teman-teman saya yang berasal dari Perancis sepertinya sudah terbiasa dengan sistem seperti ini, sedangkan saya lumayan frustrasi. Di salah satu kelas di semester pertama, saya mendapatkan nilai 15, dimana saya merasa kecewa. Tapi teman saya yang orang Perancis bilang ke saya bahwa itu nilai yang tinggi sekali. Bahkan untuk mendapatkan nilai 18 dinilai sebagai sesuatu yang sangat “wow”. Perbedaan sistem penilaian ini awalnya menurunkan kepercayaan diri saya, dan bukan hanya saya saja yang merasa seperti itu. Banyak mahasiswa internasional lainnya yang merasakan hal yang sama.

Jalan-jalan malam di Strasbourg’s Christmas market bersama teman-teman kampus setelah menghadiri legal hearing di European Court of Human Rights
Jalan-jalan malam di Strasbourg’s Christmas market bersama teman-teman kampus setelah menghadiri legal hearing di European Court of Human Rights

Selain itu, di Bilkent University dulu, dalam satu semester, kita rata-rata mengambil 5-6 mata kuliah, sedangkan di Sciences Po bisa sampai 8-10 mata kuliah. Di semester pertama, saya mengambil delapan mata kuliah dan satu proyek (yang dikerjakan selama setahun). Teman-teman saya yang lain bisa mengambil lebih banyak lagi karena di Perancis memang normanya begitu. Dari delapan mata kuliah tersebut ada kelas umum (keterampilan dasar kuantitatif dan kualitatif), kelas konsentrasi (tergantung bidang spesialisasi yang kita pilih), dan kelas bahasa. Memang saya pelajari sistem pendidikan di Perancis dari SD pun memang sangat terspesialisasi, jadi mata pelajarannya lebih banyak. Pemikiran dasarnya adalah bahwa kita harus menjadi spesialis di subyek tertentu tapi harus tahu juga hal-hal yang lebih umum yang relevan dengan subyek tersebut.

Semester pertama di Sciences Po tidaklah mudah, tapi lama-lama saya pun terbiasa dengan sistem yang ada. Sehingga, di semester kedua saya pun mulai bisa menikmati perkuliahan dan bergabung di kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler. Setelah terbiasa dengan ritme tersebut, saya belajar untuk menyingkirkan hal-hal yang bukan prioritas. Tapi ya, jadinya saya sangat sibuk, I had no social life.

Di semester ketiga, saya tidak ada kelas, tapi mencari pengalaman kerja dengan magang. Saya pun magang di UNICEF di Jenewa, Swiss, sebuah organisasi PBB yang fokus terhadap isu-isu HAM anak. Di UNICEF, saya merasa banyak belajar dan berkembang di segi profesional dan juga secara pribadi. Saya memiliki dua bos di dua divisi yang berbeda: divisi interagency humanitarian partnership dan divisi risk and preparedness – pada saat yang sama.  Saya juga banyak belajar mengenai perbedaan budaya, karena satu bos saya berasal dari Senegal, sedangkan yang satu lagi dari Belgia – style bekerja mereka sangat berbeda.

Menghadiri diskusi tematik UN Global Compact on Refugees ketika magang di UNICEF HQ di Swiss
Menghadiri diskusi tematik UN Global Compact on Refugees ketika magang di UNICEF HQ di Swiss

Saat magang, saya juga merasa diberikan kepercayaan yang cukup tinggi untuk mewakili UNICEF kepada pihak-pihak eksternal. Misalnya, saya harus melakukan riset dan koordinasi dengan peneliti ataupun partner UNICEF di lapangan. Contohnya, pada suatu kali saya diminta untuk melakukan riset mengenai risk mapping di Republik Demokratik Kongo, sehingga saya harus bertemu dengan analis-analis eksternal yang tahu mengenai situasi di lapangan, seperti misalnya kehadiran militer dan cuaca disana. Pada akhir semester, kita harus mengumpulkan laporan magang dan diuji mengenai apa yang kita pelajari dari pengalaman magang tersebut.

Di semester keempat, kita melanjutkan kelas seperti biasa dan harus mempersiapkan laporan akhir. Sebenarnya laporan akhir ini mirip, tapi tidak sama, dengan tesis S2 pada umumnya. Untuk laporan ini, kita harus membuat sebuah hipotesa ilmiah berdasarkan apa yang kita pelajari selama kuliah didasari oleh filosofi atau ideologi politik tertentu. Laporannya memang tidak sepanjang atau sedetil tesis S2 pada umumnya, tapi hal yang paling menantang adalah debat akhir, dimana kita harus membela hipotesis kita didepan sebuah panel dosen.

Di semester terakhir itu pun sebenarnya saya lumayan struggling karena saya mengambil 5-6 kelas dan juga kerja full-time di Human Rights Watch. Kalau saya lihat kembali, mungkin itu bukanlah keputusan yang bijaksana, tapi saya belajar banyak dari pengalaman belajar dan kerja tersebut.

Ketika tinggal di Jenewa, mampir ke salah satu daerah pegunungan di Swiss.
Ketika tinggal di Jenewa, mampir ke salah satu daerah pegunungan di Swiss

Setelah lulus dari Sciences Po, bagaimana kamu bisa mendapatkan pekerjaan di tempat yang sekarang?

Di dekat-dekat kelulusan, saya tahu bahwa saya mau tinggal di Eropa dan mendapatkan pengalaman kerja disini. Di UNICEF dan Human Rights Watch saya sudah membangun network disini, maka saya pikir sayang kalau ditinggalkan. Lalu saya mendapat kesempatan untuk magang di The Consumer Goods Forum, yaitu organisasi bisnis yang beranggotakan perusahaan ritel dan manufaktur (seperti Carrefour, Unilever, Danone, Nestlé, dan sebagainya). Organisasi ini mengurusi isu-isu seperti keamanan pangan, kesehatan, kelanjutan, data barcode, serta kelestarian lingkungan dan sosial (environmental and social sustainability).

Saya ditawari magang dibawah inisiatif terbaru mereka seputar rantai pasokan yang berkelanjutan (Sustainable Supply Chain Initiative – SSCI). Waktu wawancara, saya memastikan bahwa akan ada potensi untuk mengubah kontrak magang menjadi karyawan tetap. Akhirnya saya mengambil kesempatan ini, karena saya pun tertarik dengan bidangnya dan sesuai dengan topik kuliah saya. Dibawah SSCI, saya juga mengerjakan inisiatif-inisiatif tentang HAM, misalnya tentang penghapusan kerja paksa.

Bagaimana kesanmu selama ini tinggal di Perancis?

Makan malam khas Indonesia bersama teman-teman kampus setelah berhasil menyelesaikan proyek kolektif yang berlangsung selama 1 tahun
Makan malam khas Indonesia sama teman-teman

France is great! Memang, tinggal di Perancis tidak mudah karena kita harus bisa bahasa Perancis, apalagi kalau tinggal di Paris. Watak orang Paris memang bisa terasa keras. Tapi tinggal di Paris telah memberikan saya identitas diri dan tumbuh menjadi diri sendiri. Saya jadi tahu apa yang ingin saya lakukan dan batasan-batasan saya.

Pokoknya, kalau sudah lancar bahasa Perancis, hidup akan terasa lebih mudah.

Apakah ada saran atau tips untuk para pembaca yang mungkin tertarik untuk menekuni bidang HAM?

Kalau kalian merasa tertarik dengan HAM tapi masih bingung, itu wajar, karena cakupan HAM memang luas dan banyak turunannya. Kalau memang tertarik, go for it, karena kebingungan di awal akan terjawab sendirinya semakin lama kalian menekuni bidang tersebut. Pelajarilah HAM secara luas, dan nanti lama-lama akan ketemu bidang yang menarik buat kalian. Selain itu, carilah program studi dan universitas yang sesuai dengan ketertarikan kalian, bukan karena pamornya saja. Baca deskripsi kurikulum program tersebut, ketahuilah apa yang akan kalian pelajari. 

***

Sairindri Gita Christisabrina (Indri), pakar muda dalam bidang sustainability dan HAM yang berkaitan dalam operasi bisnis dan supply chain. Indri saat ini bertugas sebagai Coordinator – Sustainable Supply Chain Initiative (SSCI) di The Consumer Goods Forum, dimana ia bekerja dengan berbagai perusahaan retail dan manufaktur.

Indri juga menggabungkan pengalamannya bekerja dalam sektor publik seperti UNORCID di Indonesia, UNICEF di Swiss, dan Human Rights Watch di Perancis/Amerika Serikat dalam isu lingkungan dan climate change, risk and preparedness, dan humanitarian issues. Motto Indri selalu “proaktif dalam belajar hal baru dan konsisten dalam eksekusi/aksi”.

Alumni Sciences Po di Paris, Perancis, dan Bilkent University di Ankara, Turki.

***

Foto-foto disediakan oleh Sairindri Gita Christisabrina

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here