The Road to Harvard: Are You Ready to Apply?

10
2918

Ini adalah bagian pertama dari serial The Road to Harvard. Terjemahan ke dalam bahasa Indonesia bisa dilihat di bawah.

Before you even begin to think to embark on this painstakingly excruciating journey, stop, reflect, and ask yourself: do I really want a USA education? Please, don’t get blinded by dazzling top notch Ivy names like Harvard, Yale, Princeton, MIT and the likes. The thing is, there are so many tertiary education options out there in the USA, and the Ivies are just a few on the top hierarchy. Some schools you might have never heard of before are actually comparable, if not even better (in terms of intensity of learning, quality, and student-professor ratio) than the Ivies!

What distinguishes USA from other western education possibilities is of course its famed Liberal Arts Education. You might be already familiar with a lot of schools in the north-eastern region of the USA that are really hard to get in – these are the private, elite, tertiary institutions offering liberal arts education. They may come in the form of big private universities like Harvard and Yale (which incorporate grad schools in campus), or small, close-knit liberal arts colleges like Williams and Amherst. But they basically offer the same education package. After four years of undergraduate study, you will get out with a Bachelor of Science or Bachelor of Arts, or both.

Please be aware that most elite US schools do not offer professional degrees (like journalism, business, law, medicine, accountancy, finance, etc) at the undergraduate level. They only offer those at graduate level. Of course, there are plenty of exceptions. Stanford and University of Pennsylvania, for example,  offer good choices of professional degree in business, computing, etcetera.

So if you want to get rid of your education as soon as humanely possible, the liberal arts might not be the option for you. If you know for sure that you are born to be a __(insert your dream job here)__, the liberal arts might not be the place for you as well. A UK and Singapore education will allow you to finish faster and get a job faster. But if you’re someone who asks a whole lot of questions, who is interested in a broad range of knowledge about anything and everything under the sun (or probably someone without any clear academic or professional direction yet), then liberal arts education is really one of your best options!

Check out these websites : collegeboard, collegeprowler, collegeconfidential – to find more about USA colleges, and which one will suit your personalities. Again, don’t get blinded by brand names. Once a US universities applicant myself, I came into a conclusion that it is personality match that determines your acceptance, more than anything else – more than academic creds! If the school decides that your personality fits their profile, then they would most probably take you, and not that Japanese perfect SAT scorer with perfect IB points.

All set? Ready to dream? Now let’s bring in the mood dampener :  MONEY. A top USA education is freakishly expensive at more than 50,000 USD per year (add in miscellaneous cost and air tickets, you will expect more than 60k). Many private universities in the USA offer good financial aid program, which means they will make sure that each student will be able to afford the education, regardless of economic background. These financial aid packages are mostly offered based on your needs and not merits. They also state that your applying for financial aid would not affect your admission decision in any way. Sounds too good to be true? Yes, you’re right, they are too good to be true. Because these policies only apply to USA citizens or permanent residents (or sometimes Canadian citizens).

When you are an international applicant, applying for financial aid would greatly reduce your chances of getting in. You will be placed in a very competitive pool of like-minded international applicants from all over the world who have sterling academic credentials yet no money to enroll. It’s like applying for a four-years scholarship worth of 300,000 USD – so which school would pay for your study if you’re not a really strong student? If you apply for financial aid, even schools like Sarah Lawrence (with 58% of acceptance rate) might become as difficult to get in as UPenn without financial aid. Sometimes applying for financial aid directly translates into getting a rejection letter!  

Some schools (like Georgetown and Cornell) – said that their need-blind policy applies for international students as well, but they’re lying (at least up to year 2011). Think about it : why would they admit you – knowing well that you can’t pay and they don’t have the funding to support you? Sometimes they might just take you in, but then they would give you minimum or zero financial aid, so it’s still a dead-end situation.

So far, the only schools that are rich enough to put into effect these need-blind, need-based financial aid policies for all applicants hailing from every corner of the earth are:

  • Harvard University
  • Yale University
  • Princeton University
  • Dartmouth
  • MIT
  • Amherst College

Yup. This means, once you get in – no need to worry about their affordability. But wait – getting to these universities in itself is already like winning a lottery. For example Harvard University only selects 2000 freshmen from a massive pool of 35000 of high quality applicants in 2011.

So in the end of the day, it’s still the same formula: if you are an international student, you’ve got no money, and you’re not a science Olympiad champion, chances are – you won’t be able to go to the US in the fall.

There is another option, of course. Apply to non-need-blind good schools (like Cornell or Columbia), and then get a private or government scholarship to fund you. Singapore offers plenty of these scholarships, and so does Malaysia. Indonesia? As far as I know of, none, nada.

If those things I wrote above are pretty new to you, don’t get overwhelmed. Sit back, reflect, and think carefully. Are you prepared for the ride? Is it worth your blood, sweat, and toil? You might give your hundred percent and more, but by the end of the day still face a dead end.

There is nothing more painful than seeing your dream crushed in front of you in a click of an e-mail sent.

Are you ready to take the risk? Are you ready to apply??

___________________________________________________________________________________________

JALAN KE HARVARD: SIAPKAH KAMU UNTUK APLIKASI S1 KE UNIVERSITAS AS?

Oke, sebelum kamu bahkan mulai ancang-ancang untuk menempuh proses yang luar biasa menantang dan melelahkan ini, ambil jeda sejenak, duduk refleksi, dan tanya dirimu sendiri: betulkah saya mau pendidikan di Amerika Serikat? Sungguh, jangan sampai kamu dibutakan oleh nama besar universitas macam Harvard, Yale, Princeton, MIT, dan sebagainya. Di Amerika Serikat, ada begitu banyak pilihan edukasi tingkat tinggi, dan universitas-universitas golongan Ivy League hanyalah sekumpulan kecil di puncak hirarki. Banyak sekolah yang mungkin namanya tidak beken di kancah internasional, menawarkan kualitas pendidikan setingkat, atau bahkan lebih tinggi (dalam hal menyangkut intensitas pelajaran, atmosfir, atau rasio dosen-mahasiswa) daripada universitas Ivy League.

Apa yang membedakan Amerika Serikat daripada pilihan edukasi barat lainnya adalah sistem Liberal Arts Education. Mungkin kamu sudah familiar dengan beberapa universitas beken di timur laut negara AS yang presentase penerimaan siswanya kecil sekali. Mereka ini adalah institusi pendidikan tinggi yang privat, elit dan menawarkan edukasi liberal arts. Beberapa merupakan universitas besar dengan tingkat S2, S3, dan seterusnya berlokasi di satu kompleks (contohnya Yale atau Harvard), dan sisanya adalah sekolah-sekolah kecil yang hanya fokus di pendidikan liberal arts untuk S1 (seperti William atau Amherst college). Semua universitas ini menawarkan program pendidikan S1 yang sama : 4 tahun untuk gelar Sarjana Sains atau Sarjana Sosial, atau dua-duanya.

Kebanyakan universitas elit AS tidak menawarkan gelar profesional (seperti kedokteran, hukum, akuntansi, dan sebagainya) untuk level S1. Tentu saja ada banyak pengecualian, contohnya Stanford atau University of Pennsylvania menawarkan gelar profesional di tingkat S1. Pokoknya, kalau kamu ingin buru-buru kelar sekolah, maka pendidikan liberal arts bukan pilihan yang tepat. Kalau kamu yakin betul bahwa kamu lahir untuk manjadi __(masukan profesi impian kamu di sini)__, maka sekali lagi, pendidikan liberal arts bukan buat kamu. Lewat pendidikan di Inggris atau Singapura contohnya, kamu bisa mendapatkan gelar lebih cepat dan mulai bekerja di umur yang lebih muda. Namun kalau kamu adalah seorang pelajar yang penuh rasa ingin tahu, yang sangat tertarik untuk mempelajari ilmu-ilmu yang mencakup bidang apa saja di seluruh jagat raya (atau mungkin kamu adalah seseorang yang belum yakin mau belajar apa atau bekerja sebagai apa nantinya), maka liberal arts adalah pilihan yang sempurna buat kamu!

Cek website-website ini: collegeboard, collegeprowler, collegeconfidential, untuk mencari tahu lebih lengkap tentang universitas-universitas di AS, dan jenis mana yang cocok dengan kepribadian kamu. Sekali lagi, tolong jangan dibutakan oleh nama beken universitas top. Sebagai pelamar universitas AS dua tahun lalu, pengalaman ini mengajarkan saya bahwa kecocokan karakter adalah faktor utama yang menentukan penerimaan siswa, dan bukan kredensi akademik! Cocoknya, jika kamu cocok dengan profil pelajar sebuah universitas, maka mereka akan memilih kamu daripada pelamar lain yang mungkin kredensi akademiknya lebih impresif.

Sudah jelas? Siap untuk bermimpi? Nah, sekarang mari saya jelaskan hambatan terbesar : UANG. Edukasi top AS itu teramat sangat mahal, kurang lebih sekitar 500 juta rupiah setahun (tambahkan ongkos jajan, pakaian dingin, tiket pesawat, dan lain-lain, siap-siap untuk keluar 600 juta rupiah setahunnya.) Banyak universitas privat di Amerika menawarkan program bantuan finansial, yang berarti mereka akan mensubsidi biaya kuliah semua siswa yang tidak mampu untuk membayar biaya, tidak peduli mereka datang dari latar belakang ekonomi dan sosial macam apa. Subsidi ini akan ditawarkan berdasarkan kebutuhan tiap-tiap siswa, dan bukan berdasarkan prestasi. Lebih hebatnya lagi, siswa yang mengajukan permohonan bantuan finansial di aplikasinya tidak akan didiskriminasi dalam proses pemilihan dibandingkan siswa dari keluarga berada yang tidak mengajukan permohonan subsidi. Kedengaran terlalu bagus untuk dipercaya? Ya, betul sekali. Kebijakan di atas ini hanya berlaku untuk warga negara atau penduduk permanen Amerika Serikat saja!

Jika kamu adalah pelamar internasional, maka mengajukan permohonan subsidi akan MENGHAMBAT PELUANG KAMU UNTUK DITERIMA. Kamu akan ditempatkan di grup yang sangat kompetitif antara pelamar-pelamar dari segala penjuru dunia yang semuanya sama-sama berprestasi namun tidak punya uang untuk membiayai pendidikan AS. Ini sama saja konsepnya seperti mengajukan aplikasi untuk beasiswa senilai 3 miliar rupiah, jadi universitas AS mana yang akan memberikan kesempatan ini kalau kamu bukan siswa yang luar biasa berprestasi? Kalau kamu mengajukan permohonan subsidi, bahkan untuk masuk universitas seperti Sarah Lawrence (yang persentase penerimaan siswa-nya sekitar 58%) akan sama susahnya seperti mencoba masuk Universitas Pennsylvania tanpa subsidi. Intinya, mengajukan permohonan bantuan finansial hampir sama saja seperti minta surat penolakan langsung dari universitas AS!

Beberapa universitas, seperti Cornell dan Georgetown, mengumumkan bahwa kebijakan bantuan finansial mereka berlaku bukan untuk warga negara AS saja, tapi juga pelajar-pelajar internasional. MEREKA BOHONG (setidaknya sampai tahun 2011). Coba pikir, kalau sebuah universitas cuma punya dana yang sangat terbatas untuk didistribusikan ke warga negara Amerika Serikat dan pelajar negara lain, mereka tentu akan sangat selektif dalam menentukan siapa yang mereka terima. Kalau kamu tidak punya dana untuk membiayai kuliah kamu, untuk apa mereka menerima kamu? Terkadang mereka menerima kamu, namun mereka cuma memberikan bantuan dana kurang dari 50% (berarti masih harus bayar 250 juta rupiah lebih setahun) atau tidak ada bantuan sama sekali, ya sama saja bohong.

Sejauh ini, cuma ada enam universitas AS yang sungguh teramat kaya, sampai mereka mampu untuk menjamin subsidi untuk semua pelajar, tidak peduli kewarganegaraannya. Mereka juga menjamin kalau permohonan bantuan subsidi tidak akan mengurangi peluang kamu untuk diterima. Universitas-universitas ini adalah:

  • Harvard University
  • Yale University
  • Massachusetts Institute of Technology
  • Princeton University
  • Dartmouth University
  • Amherst College

Intinya, kalau kamu berhasil masuk ke salah satu universitas di atas, tidak peduli apapun latar belakang keuangan kamu, sudah pasti bisa bayar biaya kuliah. Eits, tapi jangan senang dulu – untuk masuk ke universitas-universitas di atas, susahnya seperti menemukan jarum di tumpukan jerami. Contohnya saja di tahun 2011, Harvard cuma menerima sekitar 2000 siswa dari 35000 pelamar (dan tiap tahun jumlah pelamar ke Harvard terus naik dan naik). Jadi ya, formulanya kembali lagi ke awal: kalau kamu adalah pelamar internasional, kamu tidak punya uang, dan kamu bukan pemenang Olimpiade Sains internasional, kesempatan kamu untuk belajar ke AS memang teramat kecil.

Ada alternatif lain, yaitu melamar ke universitas bagus tanpa mengajukan subsidi, kemudian membiayai kuliah kamu lewat beasiswa privat atau beasiswa pemerintah. Singapura dan Malaysia menawarkan beasiswa semacam ini untuk pelajar-pelajar berprestasi yang berhasil diterima di universitas top luar negeri. Indonesia? Sejauh yang saya tahu, kosong.

Jika informasi dalam artikel ini teramat baru buat kamu, jangan dibuat pusing. Duduk lagi, pergi pijat refleksi, dan pikir kembali masak-masak. Siapkah kamu untuk menempuh proses aplikasi ini? Apakah kamu siap mengorbankan kerja keras dan air-mata darah? Ingat, kamu boleh berjuang habis-habisan dan memberikan lebih dari seratus persen usaha kamu, namun itu bukan jaminan keberhasilan kamu untuk belajar ke AS.

Tiada yang lebih menyakitkan daripada melihat mimpi kamu hancur berkeping-keping dalam sebuah e-mail penolakan.

Apakah kamu siap mengambil resiko? Apakah kamu siap melamar ke universitas AS?

Photo credit: © Tim Tadder/Corbis


SHARE
Previous articleMencari Cerita di India: Pengalaman Study Abroad Selama Satu Semester
Next articleThree Things I Wish I Knew Before Stepping into College
Alice
Alice is currently pursuing her Bachelor of Arts degree in Harvard University, Cambridge, Massachusetts. Her choice of major (or "concentration", speaking in Harvard lingo) in Social Anthropology is based on her imminent future plan to study while traveling around the world. Alice completed her International Baccalaureate degree in Singapore under ASEAN scholarship. In the past, she had written for various publications, from political reviews to gossip columns to travel guides, and won several writing competitions in Indonesian, Malay, and English language. Besides traveling and writing, she is a self-proclaimed dancer who specializes in couple dancing such as Ballroom styles, Salsa, Swing, and Brazilian Zouk.

10 COMMENTS

  1. Alice tulisanmu ini mungkin akan membuat down semua orang yang bermimpi kuliah di Amerika, terutama yg membutuhkan bantuan keuangan. Tapi itu memang faktanya dan kami menerima semua itu. Saya harap ini bukan sikap arogansi untuk menghalangi seseorang berkembang. saya senang dengan tulisanmu ini dan saya akan memberikan respect lebih. Terima kasih untuk informasinya dan setidaknya saya tahu bahwa Harvard memang pilihan terbaik.

    • Deden, kamu sudah baca tuisan ini dengan seksama belum? Jelas-jelas tulisan ini menjelaskan bahwa banyak universitas yang memberikan bantuan finansial. Kamu yang arogan dan tidak menghargai orang yang sudah berbagi informasi, menghabiskan waku berjam-jam menulis, mengedit dan menterjemahkan artikel ini tanpa dibayar. Sikap seperti inilah, yang tidak menghargai usaha orang lain, yang akan menghambat kamu mencapai impianmu kuliah di luar negeri.

      • mohon jangan salah sangka terlebih dahulu..saya justru sangat menghargai seseorang yang menulis ini, dan bahkan saya mengatakan saya akan memberi respect lebih kpd penulis ini. saya hanya terkejut dg fakta yg sesungguhnya. justru info yg seperti ini yg kami butuhkan krn hal ini tidak kami temukan di web manapun. kami butuh sesuatu yang bisa mengarahkan jalan untuk meraih mimpi kuliah di luar negeri. saya akan mengedit comment sebelumnya dan mohon maaf yang sebesarnya.

  2. hi alice…nice post…i like it..

    aku mau tanya nich…

    1. kamu apply to harvard SCEA atau Regular?

    2. kamu bilang nggak mungkin dapat financial aid dari kampus di usa…klau dipikir emang begitu adanya…nggak bakalan mungkin dapat aid nya…ya dapat beasiswa dari bonyok aja…lol

    3.pertanyaan penting :yang buat penasaran… Certification of Finances nya di kirim bersamaan waktu kirim common aplication atau…DITERIMA di HArvard dulu baru dikirim Certification of Finances nya???

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here