Beasiswa itu Mudah

59
6452

Ucapan itu keluar dari setidaknya dari beberapa orang ketika mendengar saya mendapat beasiswa Fulbright untuk melanjutkan S2 ke Amerika. Beberapa orang mengucapkan selamat sambil terus bilang kata-kata di atas.

Buat saya, mendapat beasiswa adalah hal yang lumrah saja karena selama Indonesia masih menjadi negara berkembang (baca: negara dunia ketiga), negara-negara maju akan memberikan bantuan beasiswa ini. Jadi, kalau gigih berjuang dan cerdas berusaha, beasiswa hanya tinggal masalah waktu.

Untuk saya begitu. Tidak banyak orang yang tahu bahwa ini adalah percobaaan ketujuh saya untuk mendapat beasiswa. Setelah mendapat enam kali pelajaran berharga, saya akhirnya lulus juga. Dan tidak tanggung-tanggung, saya mendapatkan beasiswa yang selama ini dianggap orang sangat prestisius dan susah. Bangga? Tentu saja. Keluarga dan suami saya masih terus memperlihatkan betapa bangganya mereka. Tapi setelah itu, lama-lama saya anggap beasiswa ini adalah amanah Tuhan yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Karena bukan main-main mendapat beasiswa. Saya punya tanggung jawab moral untuk kembali ke tanah air dan mengamalkan ilmu yang saya dapat di belahan bumi Tuhan yang lain.

Beasiswa pertama yang mengirimkan surat tolak adalah beasiswa Chevening ke Inggris. Saya sudah dipanggil wawancara, tapi saya belum berhasil. Yang kedua adalah ADS ke Australia. Surat penolakan itu datang lagi. Gondok? Bisa jadi begitu. Tapi karena kata gagal sudah tidak ada lagi dalam kamus hidup saya, saya tersenyum saja dan bilang dalam hati, “Wi, ini hanya masalah waktu.” Ketiga kalinya saya coba lagi Chevening. Malah lebih parah. Saya tidak dipanggil wawancara. Hahaha. Tertawa saya waktu itu. Saya lalu coba lagi ADS. Datang sebuah pemberitahuan bahwa ada surat datang ke kantor pos yang harus saya ambil. Begitu surat sampai di tangan saya, jelas-jelas tertulis, “Anda belum beruntung.”

Karena saya sudah siap mendapatkan surat tolak, saya biasa-biasa aja. “Baru empat kali,” saya berujar. Di mailing list Beasiswa, orang-orang ada yang mencoba sampai 15 kali baru berhasil. Jadi kalau baru empat kali dapat surat tolak, ini belum ada apa-apanya.

Saya menganggap yang paling hebat adalah orang yang bisa membiayai sekolahnya sendiri. Saya belum sanggup membayar mahal untuk sekolah di luar negeri. Ini membuat saya menjadi “pengemis intelektual”. Tapi buat saya, kalau ini memang caranya saya bisa memajukan bangsa, akan saya lakukan juga. Percobaan kelima adalah beasiswa Norad ke Norwegia. Saya gagal karena Universitas Padjadjaran tempat saya belajar dulu tidak punya kerjasama dengan UIO di Norwegia. Ah sudahlah. Masih banyak jalan menuju Roma. Saya percaya itu.

Selidik punya selidik, ada beasiswa ke Swedia. Saya sudah mulai menyusun strategi karena sudah pernah 5 kali dapat surat tolak. Intinya, pasti ada yang saya belum kuasai, sehingga saya belum bisa diterima. Betul sekali, bahwa saya mendapat surat tolak keenam kalinya. Saya ingat sahabat baik saya Tomi Haryadi. Dia mendapat beasiswaStuned ke Belanda, lalu Fulbright Humphrey ke Amerika. Dia selalu bilang, “Wi, ayo. Sedikit lagi.” Saya kagum karena Tomi tidak pelit ilmu. Dia memberikan kepada saya tip-tip dan juga memberikan saya contoh-contoh Study Objective dan Personal Statement yang kira-kira bisa menarik perhatian para pemberi beasiswa. Ini yang membuat saya sadar, bahwa rezeki Tuhan tidak kemana. Tomi ingin saya, dan banyak kawan-kawannya mendapat beasiswa. Jadi tanpa pelit, dia membagi ilmunya.

Selanjutnya, saya melihat ada beasiswa Tsunami Fulbright yang khusus diberikan untuk putra-putri Aceh. Saya pikir, saya pasti tidak bisa karena saya bukan berdarah Aceh, jadi saya mau mendaftar yang regular saja. Namun ketika saya konfirmasi ke Aminef (organisasi yang bekerja erat dengan Fulbright), mereka bilang kalau kerja di Aceh maka bisa mencoba. Jadi saya pikir kenapa tidak.

Dengan gegap gempita, saya mendaftar. Belajar dari enam kali surat penolakan, kali ini saya minta supervisor saya di kantor untuk mencek Study Objective yang saya buat. Dia mementor saya. Beberapa waktu berlalu. Saya hampir lupa saya mendaftar beasiswa sampai kawan saya bilang beberapa kawannya sudah mendapat kabar dari Fulbright. Saya lantas membuka email khusus yang saya buat untuk mendaftar beasiswa. Saya melihat ada email yang bilang bahwa saya maju ke babak selanjutnya. Saya harus merevisi Study Objective dan membuat Personal Statement. Saya langsung menghubungi lagi supervisor saya. Tinggal empat hari waktunya. Tapi saya yakin, kalau rezeki, tidak akan kemana.

Singkat cerita, saya diterima. Puji Allah yang Mahaesa. Saya akan ke Amerika. Waktu berangkat masih sekitar 8 bulan lagi ketika saya harus rajin mengurus-urus administrasi.

Yang bisa saya bagi adalah bahwa beasiswa itu mudah. Yang membuat susah hanyalah pikiran kita saja yang sering kalah sebelum berperang. Yang membuat susah hanyalah rasa malas mengurus berkas dan menunda-nunda pekerjaan. Saya dulu cuti dari kantor di Banda Aceh dan bela-belain ke Bandung mengurus transkrip. Mahal sekali ongkosnya. Tapi karena saya mau, maka saya lakukan juga. Beberapa kawan beralasan jarak, tidak ada waktu, dan segala-gala rupa. Tapi semua orang punya waktu 24 jam, baik itu saya, Pak Jusuf Kalla, Presiden Obama, atau Rasul Muhammad dulu. Tinggal masalah prioritas atau tidak.

Beberapa orang malas ikut karena ribet harus riset mau sekolah dimana. Tapi jangan-jangan mereka lupa, bahwa tidak ada yang pakai proses di dunia ini. Kalau malas, bagimana mau dapat. Berikutnya, beberapa orang malas ikutan tes TOEFL atau IELTS. Alasaannya karena beberapa tes diadakan di hari Sabtu, di kala libur akhir pekan. Saya ingat sekali. Saya dan seorang kawan (yang juga keterima Fulbright) datang jam setengah 8 pagi untuk ikut tes TOEFL di hari Sabtu. Bisa kok, kalau mau.

Saya pernah membuat presentasi yang saya perdengarkan di Universitas Syiah Kuala dan IAIN Ar-Raniry. Waktu itu yang datang tidak banyak. Entah kenapa, tapi saya curiga karena mereka menganggap beasiswa itu susah. Berikut saya kutipkan beberapa tips yang pernah saya lakukan dan berhasil:

1. Tahu jurusan apa yang kita mau
Bisa dilakukan dengan cara browsing, ngobrol dengan: yang pernah sekolah, dosen, supervisor, dst, baca banyak buku: Kiat Mendapatkan Beasiswa (bisa dibeli di milis beasiswa), dan ikut milis beasiswa, seperti beasiswa@yahoogroups.com.

2. Tahu jenis-jenis beasiswa
Pengalaman saya mengatakan bahwa ada orang-orang yang terlihat semangat mendaftar beasiswa tapi tidak tahu beasiswa yang ditawarkan itu apa saja. Banyak yang cuma tahu Chevening, ADS, Fulbright, tapi ada yang tidak tahu ada beasiswa USAID, NZAID, dan banyak lagi (ini soalnya males mencari dan nunggu disuapi). Bahkan ada beasiswa yang langsung dari universitas. Ada yang bahkan tidak tahu kapan deadline-nya. Beberapa juga suka mengerjakan semua syarat-syaratnya di waktu-waktu terakhir alias last minute. Saya yakin sekali, usaha itu akan mempengaruhi hasil. Jadi kalau tidak mau investasi waktu, yah siap-siap mendapat surat tolak.

3. Gagal itu tidak ada
Saya sudah lama tidak punya kata GAGAL dalam hidup saya. Yang ada hanyalah belum saatnya, belum rezeki, masih disuruh belajar sampai bisa. Jadi buat saya ini hanyalah persoalan keteguhan hati, dan stamina. Saya berangkat di percobaan ketujuh, ada yang sampai 10 bahkan 15 kali baru bisa. Bukan persoalan hebat, tapi persoalan proses orang yang berbeda-beda.

4. Jangan takut bersaing
ini saya suka sebel. Karena ingin bersaing, menggunakan cara-cara yang tidak sehat. Banyak orang yang pelit berbagi informaasi dan ilmu. Padahal, dapat beasiswa ini faktor usaha cerdas dan kasih sayang Tuhan. Saya rajin sekali membagi-bagi Study Objective dan Personal Statement saya untuk dijadikan contoh. Bisa kontak email kalau mau. Karena saya mau semua orang maju. Ga seru maju dan pinter sendiri.

5. Improve your English. Tingkatkan kemampuan berbahasa Inggris
Ini berlaku kalau mau sekolah ke negara dengan Inggris sebagai bahasa pengantar. Perlu diingat bahwa TOEFL dan IELTS juga cuma alat ukur. Yang paling penting adalah paham yang bisa didapat dari berlatih, berlatih, dan berlatih. Saya dulu beli buku TOEFL dan IETLS, dan saya berlatih sendiri. Bila tidak mengerti, saya tanya dengan orang-orang yang mengerti.

6. Sekolah dimana enaknya?
Kembali kepada tips pertama. Rajin-rajin ngobrol. Karena banyak universitas di luar negeri itu bagus-bagus. Tinggal memilih sekolah yang punya spealisasi, karena mereka pasti akan mengembangkan ilmu dengan riset-riset terdepan. Dan yang pasti, tinggal bagaimana kita belajar saja.

7. Selamat datang sukses
Banyak orang siap tidak berhasil, tapi tidak siap ketika sukses. Buat saya penting untuk menyiapkan diri untuk sukses. Saya baru saja menikah ketika saya mendapat beasiswa. Tapi suami saya luar biasa. Dia bilang bahwa saya harus berangkat. Saya persiapkan diri saya dan dia untuk berpisah sejenak. Saya persiapkan orang tua saya yang tidak muda lagi untuk melihat anaknya pergi jauh. Saya siapkan adik-adik saya yang akan tidak melihat kakaknya untuk jangka waktu yang relatif lama. Saya siapkan kawan-kawan saya bahwa saya bisa jadi tidak bisa ada ketika mereka butuh seperti biasanya. Untuk saya, sukses juga berarti siap untuk terus rendah hati. Karena seperti yang pernah saya bilang di atas, tidak ada hebatnya mendapat beasiswa. Semua orang bisa dapat, tergantung usahanya. Jadi yang sombong, ke laut saja.

8. Jangan lupa pulang ke tanah air. atau kalau ingin menetap di luar, berjuang terus untuk Indonesia
Ini cuman sedikit saran saja. banyak yang setelah sekolah memang memilih tidak pulang. saya tahu ini pilihan, dan saya tidak bisa intervensi pilihan orang lain. Namun, Indonesia masih sangat butuh ilmuwan-ilmuwannya kembali membangun. Pemerintah mungkin kurang apresiastif, tapi masyarakat yang miskin dan yang harus dibantu masih banyak sekali. dan saya yakin, dengan memilih terus berjuang untuk tanah air, dimanapun kita berada, akan sangat bermanfaat.

Begitulah. Saya sekarang sedang sekolah di Clinton School of Public Service di kota kecil bernama Little Rock di Arkansas. Saya belajar pelayanan publik di sekolah Presiden Clinton. Banyak orang mencibir saya kok mau sekolah di kota kecil. Tapi buat saya, yang penting adalah bahwa saya tahu saya mau memahami pelayanan publik, dan sekolah ini punya spealisasi itu. Saya juga punya etos belajar yang kuat. Mau dilempar dimana saja, saya akan bisa belajar. Sejauh ini, saya sudah bertemu banyak orang hebat karena bersekolah di sekolah ini. Setidaknya, saya bertemu Hans Blix, utusan PBB yang mencari senjata pemusnah massal di Irak, Presiden Clinton, dan Menlu AS Madeline Albright. Saya mungkin tidak masuk ke 10 besar sekolah di Amerika, tapi pengalaman hidup dari luar sekolah juga tidak bisa dinafikkan. Insya Allah, ini semua pasti bisa saya bagi ke Indonesia kelak.

Jadi siapkah Anda mendapat beasiswa? Hanya Anda yang bisa menjawab.

Little Rock, 7 Maret 2010
ketika tidak bisa tidur dan rindu keluarga

 

originally written by Dewi Greenjo here, reposted with her written permission. 

59 COMMENTS

  1. terimakasih mbak atas sharing pengalamannya, tulisan mbak sangat memotivasi saya, saya mau contoh study objective sama personal statemaentnya di email saya boleh? eka_nia73@yahoo.com, terimakasih sebelumnya ya mbak :)

     

  2. Seneng banget deh baca tulisan mba..bener-bener bikin termotivasi,,pengen banyak belajar dari mba..kalo ada waktu mau dung mba dikirimin ke email ku study objective n personal statement mba..ke aLief_n0v13@yahoo.com
    mudah2an bisa menyusul dan menjadi lebih bijaksana spt mba..
    ditunggu emailnya..

  3. Hello Mba.. Terima Kasih atas info dan semangatnya untuk para pejuang beasiswa.. saya mau dong study objective dan personal statement nya dong mba, ke muhammad.firdaus@gmail.com mudah-mudahan saya dapat menyusul mba dan dapat berhasil seperti mba… saya tunggu e-mailnya.

  4. terimakasih mbak,. mbak punya kisah hidup yang bisa menginspirasi banyak orang. terkadang kita merasa ketika kegagalan itu terjadi 2 x,.kita akan putus asa dan menganggap semuanya akan sia-sia, tak berarti., tapi kini saya sadar yang namanya gagal itu tidak ada, yang ada belum saatnya, harus belajar lagi, dan belum dikasih Allah. sekali lagi, terimakasih, mbak.. sukses terus buat mbak, buat kita semuaa, dan untuk indonesia kita. :) Aamiin.

  5. assalamualaikum mbak.

    saya Novriadi, fresh graduate dari Universitas Lampung. saya berminat sekali ikut beasiswa fulbright, dan saya sudah tentukan pilihan saya untuk ke Boston karena spesialisasi marine biology. tapi seperti yang biasanya saya sama sekali buta tentang study objective dan person state.. saya bingung harus mulai dari mana, juga TOEFL. saya bingung sekali. dalam waktu dekat saya akan ke Pare Kediri untuk belajar toefl.

    kalau boleh dan tidak keberatan tolong saya diberi contoh dan tips dalam menulis study objective yang baik ya mbak, juga tips2 lain untuk mendaftar beasiswa ini. saya hanya ingin memlalui beasiswa ini akan memudahkan saya untuk belajar dan mendapat pekerjaan sehingga saya mampu memberangatkan ibu saya ke mekkah.

    mohon bantuan dan doanya ya mbak. semoga Allah menyelamatkan mbak, sehat, panjang umur, dan barokah dunia akhirat.

    amin.

    Novriadi
    novdewa@ymail.com
    novdewa@gmail.com

  6. Salut dan bangga Indonesia bisa punya penerus bangsa seperti mbak Dewi… meskipun sudah di luar negeri tapi masih tetap ingat untuk mengabdi buat indonesia. tulisannya sangat memotivasi untuk terus mencoba tanpa menyerah. kalau boleh saya minta tips-tips dan saran tentang study objective dan personal statement sebagai bahan referensi saya dalam mendaftar beasiswa. tolong dikirimkan ke grissela_laisiana@hotmail.com thanks sebelumnya… smoga mbak Dewi slalu sukses

  7. jadi makin semangat untuk tidak kalah sebelum berperang…makasih mb untuk motivasi nya…saya jg berniat untuk jadi “pengemis intelektual” baru gagal 1x bearti semangatnya mesti dilipat gandakan…SEMANGAT..!!!

  8. Sangat menginspirasi sekali cerita nya :) Saya berkeinginan belajar di luar negri dengan mendapatkan beasiswa. tetapi, saya selalu berpikir bahwa mencari beasiswa pasti sulit sehingga saya belom pernah mencobanya. Ketika saya membaca tulisan ini, saya jadi terdorong untuk mencari tahu dan meng-apply. Oh iya kalau boleh, saya minta contoh personal dan study objective yaa.. Sukses selalu untuk mba disana!

  9. Assalamu’alaikum mba’ Dewi :)
    Saya sangat tertarik dengan tulisannya. Sejak duduk di bangku SMA 2 tahun silam, keinginan utk study abroad sudah sgt menggebu-gebu, tapi keinginan itu akhirnya saya timbun dulu karena saya masih kurang yakin dgn kemampuan yg saya miliki. Tapi, insyaallah saya ingin memunculkan kembali keinginan itu, meskipun tdk utk sekarang, siapa tahu keinginan itu masih bisa terkabul di lain waktu. Aamiin.
    Untuk itu, saya boleh minta study objective & personal statementnya ke asantikaa@gmail.com :) Terima kasih sebelumnya.

  10. Saya terharu sekali mba.. butuh perjuangan dalam meraih kesuksesan hidup. Yg terpenting mengerti mana yg harus diprioritaskan. Sempat kmrn saya trauma saat mengambil master tp salah satu dosen wali saya menginspirasi saya utk terus maju walau secara kemampuan saya masih kalah dibandingkan yg lain, tetapi hal itu tdk mengecilkan hati saya. Yg ada saya ingin terua belajar bagaimanapun jalan terbaik yg bs saya tempuh. Alangkah baiknya apabila mba berkenan untuk share tip2 beasiswa s3, study objective dan personal statementnya ke email saya sarah.hadisti@gmail.com . Semangat terus ya mba :)

  11. Ka, tau ga beasiswa atau cara2 biar bisa SMA di luar negeri, waktu aku sd aku mau SMP di luar negeri, tapi ga pernah kesampean (jadi curhat nih.. :D) maksih info nya yaa

  12. aku bisa minta tolong untuk info2 short course di little rock arkansas, inshaallah sy akan berkunjung ke sana, tolong infonya ya, thanx

  13. Salam Sejahter mba Dewi. Seneng bisa lihat ulasan penting tentang
    beasiswa. saya sejak lama sudah ingin mencoba beasiswa. Kalu berkenan
    boleh krim Study Objective dan Personal Statementnya? Sekalian tips buat
    dapetin beasiswanya. Kalu bisa kirim ke kelvinwahyudi@gmail.com Terima
    kasih sebelumnya.

  14. Ma waxaad tahay qof u baahan in si amaah ah oo degdeg ah si ay u bixiso biilasha, ballaarinta ganacsiga, meydadka shirkadaha ama amaah shakhsi? Nala soo xidhiidh maanta si aad u hufan oo amaah kalsoon soomi maanta via email: elenanino07@gmail.com

    Salaan
    Mrs. Elena

  15. terharu sekaligus membangkitkan semnagat saya kembali, terima kasih mba dewi atas artikelnya, jika berkenan, saya juga mau melihat contoh study objective dan personal statement nya mba dewi. Terimak kasih

Leave a Reply to Nadia Swasti Cancel reply

Please enter your comment!
Please enter your name here