Culture Shock

This topic contains 6 replies, has 7 voices, and was last updated by  James.Oetomo 3 years, 9 months ago.

Viewing 7 posts - 1 through 7 (of 7 total)
  • Author
    Posts
  • #3968

    Untuk kakak – kakak yang sudah berkuliah di luar negeri, share dong pengalaman nya menghadapi culture shock, apalagi kalau yang kuliah di Amerika / Eropa, pasti jauh berbeda dengan di Indonesia ya?

    #4091
    Eka Linwood
    Eka Linwood
    Member

    Kalau menurut saya, yang paling berbeda adalah prevalence dari “Last Name/Family Name” kita di sini. Di Indonesia, last name saya jarang sekali disebut. Mungkin ini karena nama nama orang di sini tidak unik seperti di Indonesia – saya mungkin tau 10 orang bernama John, Joseph, Lisa, dll. jadi tanpa nama belakang, bisa jadi sedikit membingungkan.

    Jadi, kalau kita mempunyai teman bernama “Jen Smith”, kalau dalam last name basis – “Ms. Smith” atau “Jen”. Tidak pernah menggunakan “Miss Jen” seperti yang kita lakukan di Indonesia.

    #4117
    Martin Tjioe
    Martin Tjioe
    Key Master

    Untuk saya, mungkin salah satu culture shock saat saya pertama kali tiba di Amerika adalah prevalensi pengadaan party yang diorganisir oleh kelompok mahasiswa tertentu. Party ini kadang mengizinkan (dan menyediakan) minuman-minuman beralkohol, kadang disertai dengan musik, dan tempat lapang untuk berdansa. Tentunya menurut standar Indonesia, ini adalah hal yang buruk. Atmosfir seperti ini lebih banyak ditemukan di bar-bar atau klub-klub di Indo dan saya diajarkan oleh orang tua bahwa ini adalah tempat yang perlu dihindari.

    Party ini sebenarnya adalah ekspresi budaya di Amerika. Di universitas S1 saya, International Student Association, sebuah organisasi mahasiswa untuk murid internasional, juga sering menyelenggarakan pesta-pesta seperti ini untuk anggotanya. Ini tidak lain adalah sebuah wahana untuk bersosialisasi sambil melenggangkan diri setelah hari yang penat. Saya sering ikut pergi bersama dengan teman-teman dari negara lain: Thailand, Uzbekistan, Mauritius, Zimbabwe, dll dan ini adalah salah satu kesempatan kami untuk hang out, have fun dan juga berdansa ria.

    Party dengan minuman beralkohol itu belum tentu tidak baik. Di Stanford misalnya, departemen teknik Sipil sering mengadakan pesta-pesta: Winter party, Spring party, Halloween party, Blume Center party, dll. Bir dan anggur disediakan dalam acara-acara ini (gratis!). Suasananya memang lebih formal, dan tujuannya supaya mahasiswa pascasarjana bisa lebih dekat dan mengenal satu sama lain. Malah profesor juga datang ke acara-acara ini. Teman saya dari AS dan Italia juga suka keluar dan hang out ditemani bir atau anggur. Yang saya ingin katakan adalah minuman beralkohol memang sudah menjadi budaya dan menjadi social lubricant di sini. Kalau dikonsumsi dengan bertanggung-jawab, ini tidaklah berbahaya atau merusak diri. Tapi tentunya ada juga parties dimana tujuan akhirnya adalah untuk bermabuk-mabukan. Nah, inilah pesta-pesta yang perlu diwaspadai dan dihindari.

    Jadi saran saya kalau kamu diajak pergi ke pesta adalah singkirkan dulu semua stereotipe negatif mengenai parties di luar negeri. Cobalah ikut terlebih dahulu dan kalau kamu menghadiri party yang tepat, kamu akan menyadari ini tidak sejelek yang kamu kira. Tentunya suka atau tidak tergantung masing-masing orang. Saya dulunya ada ikut dance club di sekolah, menari hip-hop, jazz, dll jadi tentunya saya suka dengan dance music dan acara seperti ini. Dan mungkin satu lagi “Culture Shock” yang lain : dalam parties seperti ini kamu cuma menari di tempat saja, menggerak-gerakkan tubuh. Memang canggung pertama-tama, tapi semua orang juga begitu jadi ga perlu takut diketawain :)

    #4126

    Hi all,

    Dari pengalaman saya sih, culture shock yang paling utama adalah cara kita berkomunikasi dengan orang lokal. Karena kita belum terbiasa berbahasa asing pada saat kita sampai dan bahasa asing yang kita pakai biasanya juga sangat formal karena masih belum kenal ‘slang word’ lokal. Tapi ini bukan isu besar menurut saya, karena dalam beberapa bulan, biasanya sih kita bisa beradaptasi. Kemudian, culture shock juga bisa berupa tata krama (dalam bidang apapun), bisa berupa cara mengantri, cara berkenalan, cara joking (bergurau), dll.

    Seperti yang dibilang Martin, biasanya orang asing cukup pengertian dengan anak2 internasional baru yg masih kagok terhadap budaya baru dan mereka cukup antusias untuk mengajarkan budaya lokal kepada kita.

    Selalu ingat, dimana bumi dipijak dimana langit dijunjung. Mungkin ada banyak sekali kultur dan budaya yang berbeda dengan kampung halaman, tapi saya rasa, kita perlu menghormati dan menghargai budaya lokal. Tentu saja, jangan lupa memilih budaya yang cocok dengan kamu. Tidak perlu ikut-ikutan orang lain. :)

    Semoga membantu.

    #4150
    aaputra
    aaputra
    Member

    Saya belum pernah kuliah diluar negeri, jadi belum mengalami secara langsung apa itu culture shock, hhe. Tapi kalau boleh, saya mau share dikit video presentasi yang pernah saya tonton di you tube. Presentasinya menarik. 😀

    Part 1

    Part 2

    Part 3

    #4155

    Tambahan dari saya, sewaktu saya berkuliah di Inggris, culture shock yang paling kerasa adalah mempunyai teman sekelas yang tak hanya berbeda kebangsaan, tapi juga umur!

    Sepanjang masa pendidikan saya di Indonesia dari TK hingga kuliah S1, yang namanya teman sekalas pastilah semuanya seumur, kalaupun beda, hanya 1 tahun. Tetapi waktu saya kuliah S2 di Inggris, teman sekelas saya bervariasi dari yang seumur, lebih muda 1 -2 tahun, hingga lebih tua 10 tahun! Tentunya hal itu merupakan pengalaman baru bagi saya, bagaimana saya harus membiasakan diri bergaul dan juga bekerja sama dengan orang yang sekira nya jauh lebih tua daripada saya, awalnya sebagai orang Indonesia dengan budaya timur pada umumnya saya banyak merasa nggak enakan, tetapi lama kelamaan saya harus menyesuaikan diri dan bersikap santai terhadap mereka, menganggap mereka teman sendiri tetapi juga profesional saat dibutuhkan (misalnya waktu mengerjakan tugas kelompok).

    Salah satu cara menyesuaikan diri adalah dengan rajin mendatangi party – party 😀 betul kata Martin, tidak selama nya party itu berkonotasi negatif, bahkan kalau berdasarkan pengalaman saya, semuanya positif karena disitulah saya berkesempatan untuk bergaul dan mengenal teman – teman saya, yang kemudian ketika saya pulang ke Indonesia, saya sadari bahwa kemampuan networking dan sosialiasi itu penting sekali dalam dunia bisnis 😀

    #5373

    James.Oetomo
    Member

    Untuk party, saya setuju dengan apa yang ditulis Martin, itu social culture mereka, dan itu tidak selalu merujuk ke hal yg negatif disini. Bahkan kalau masih awal2, mungkin cara terbaik mencari teman adalah di party.

    Kalau dulu saya pertama kali datang di sini (Prancis), jangankan mengerti bahasa slang, bahasa sehari-harinya juga sulit ditangkap. Jadi sebenernya mungkin yang paling penting ya tetap nekat, tetap ga menyerah, tetap gataw malu !!

    Untuk memanggil orang yg baru dikenal, sopannya harus dengan surname mereka. Setelah berteman, baru panggil dengan nama depannya.

Viewing 7 posts - 1 through 7 (of 7 total)

You must be logged in to reply to this topic.