Perjalanan Kembali Kuliah Doktoral ke Arab Saudi di Masa Pandemi

0
344
Laboratorium pusat riset Nanotechnology, King Abdulaziz University

Menjalani perkuliahan di masa pandemi memiliki tantangan tersediri. Namun tidak dapat ditampik terdapat beberapa keuntungan, salah satunya dapat berkumpul bersama keluarga. Begitu hal nya dengan Luthfi, mahasiswa yang sedang menempuh S3 di King Abdulaziz University, Saudi Arabia. Ini kisahnya menempuh studi doktoral dan bagaimana perjalanannya kembali ke kampus saat pandemi mulai mereda.

***

Mudik Masa Pandemi

Januari 2021 ini saya kembali ke Jeddah untuk melanjutkan studi di semester 3 kuliah Doktoral di Fakultas Computing and Information Technology King Abdulaziz University (KAU), Jeddah, Saudi Arabia. Kota metropolitan kedua setelah ibukota Riyadh ini termasuk dalam provinsi Makkah dan lokasinya relatif dekat dengan Masjidil Haram (90 km atau satu jam perjalanan saja). Berbatasan langsung dengan Laut Merah, Jeddah merupakan kota pusat program desalinasi terbesar di Arab Saudi. Instalasi desalinasi air  laut Jeddah yang berada di wilayah Corniche itu mampu mengurangi kadar garam air laut secara signifikan menjadi air tawar siap konsumsi untuk kebutuhan air bersih di negara ini. Jadi tidak perlu heran ketika berkunjung ke kota ini dapat ditemukan beraneka bunga berwarna warni seperti di Indonesia atau  pepohonan hijau nan sejuk, alih-alih padang pasir yang gersang.

‘Alaa kullin (by the way), setiap tahunnya semua kampus di Saudi memberikan fasilitas tiket pulang-pergi gratis kepada seluruh mahasiswa Internasional dengan maskapai Saudi Arabia Airlines, baik mahasiswa persiapan bahasa (Ma’had Lughoh), S1 (Bakhaluriyus), S2 (Majisteer), atau S3 (Ductuuroh) yang menempuh studi di sana. Biasanya, fasilitas mudik gratis ini diberikan saat libur musim panas (fashlun Shaif) seusai semester ganjil dan sebelum musim haji tiba. Kita tahu bahwa musim haji adalah waktu tersibuk di Saudi Arabia, terutama di dua kota suci (Al Haramayn) umat Islam sedunia, Makkah dan Madinah. Pada momen tahunan ini, mahasiswa internasional diperbolehkan pulang ke negaranya masing-masing, kecuali bagi mereka yang terdaftar sebagai jamaah haji di tahun tersebut dan menunda kepulangannya hingga musim haji usai.

Namun, liburan musim panas tahun 2020 lalu menyimpan kisah yang sangat memorable. Tiket kepulangan kami dari KAU dikeluarkan sebelum musim liburan tiba, alias di tengah-tengah pekan ujian di bulan Ramadan. Tiket tersebut bersifat insidental untuk mahasiswa dari berbagai negara dan sekali muncul saja, tidak diketahui kapan akan tersedia lagi. Padahal, sebelum-sebelumnya tiket yang bisa dipesan secara online itu sangat fleksibel. Fleksibel untuk diatur tanggal keberangkatannya, tujuan, hingga bandara terdekat dari kota tinggal kita, serta fleksibel dalam hal  jadwal kepulangan selama masih dalam jangka waktu ditentukan berdasar Visa re-entry tiap mahasiswa. Namun, pandemi mengubah segalanya. Kali ini jumlah pesawat yang terbang ke luar negeri sangat terbatas, mengingat banyaknya larangan terbang antarnegara terkait penyebaran Corona.

Bunga warna-warni dan tumbuhan hijau di kampus KAU
                      Bunga warna-warni dan tumbuhan hijau di kampus KAU

Bersyukur, setelah kuliah satu semester dan menyelesaikan sejumlah projek perkuliahan secara daring, kini saya bisa kembali ke Arab Saudi sebelum semester dimulai. Perlu diketahui, kuliah doktoral di Arab Saudi mirip seperti di Indonesia. Pada satu hingga dua tahun pertama, mahasiswa doktoral tetap harus mengikuti sejumlah mata kuliah wajib dan pilihan sebelum nantinya harus mengikuti ujian komprehensif. Sebelum lulus ujian komprehensif, mahasiswa Doktoral masih disebut sebagai seorang PhD student. Setelah lulus ujian yang berisi review seluruh mata kuliah wajib, barulah kami bisa disebut sebagai seorang Ph.D candidate dan berhak mengajukan nama profesor untuk menjadi supervisor riset.

Bagaimana dengan proposal riset yang ditujukan kepada calon supervisor, seperti laiknya perkuliahan Ph.D di negara-negara Eropa, Australia, atau Amerika? Proposal riset belum dibutuhkan ketika mengajukan beasiswa dan mendaftar studi doktoral. Berdasarkan pengalaman, ketika akhirnya diterima di rumpun studi umum (non-ilmu agama Islam) tahun 2019, saya hanya mengajukan berkas persayaratan serta motivation letter saja yang bentuknya memang mirip dengan semi-proposal riset. Prasyarat IELTS/TOEFL ITP nya pun tidak terlalu tinggi, yaitu 5.5/ 500 untuk jenjang pascasarjana (meskipun mahasiswa pascasarjana yang diterima di Universitas ranking #143 dunia versi QS Global World University Rankings 2021 ini, skor IELTS nya di atas atau sama dengan 6.0).

Alur Kepulangan saat Pandemi ke Arab Saudi

Hasil tes PCR negatif Covid-19 dari Rumah Sakit atau Laboratorium Klinis yang kredibel menjadi syarat mutlak agar diizinkan terbang masuk Arab Saudi. Hasil tes tersebut hanya valid untuk 3×24 jam terhitung sejak hari pertama pengambilan sampel melalui metode swab (ulas), sehingga saya harus bermain dadu dengan hasil test PCR. Kita tidak pernah tahu hasil tes ini karena orang yang tampak sehat pun bisa positif COVID sebagai OTG (orang tanpa gejala). Jadwal keberangkatan telah diatur ulang dan masa aktif Visa habis sepekan lagi. Jika hasil Swab PCR ini “positif” artinya saya harus menunggu satu hingga dua pekan lagi dalam karantina untuk bisa me-reset ulang persiapan pulang dari awal, betapa merepotkannya.

Alhamdulillah, hasil tes menunjukkan tanda negatif COVID sehingga saya bisa terbang ke Jeddah sesuai rencana. Hasil tes ini saya gunakan juga sebagai syarat penerbangan domestik dari Yogyakarta (YIA) ke Jakarta (CGK). Terbang hampir 10 jam, saya akhirnya mendarat di Jeddah, tepatnya di Bandara Internasional King Abdulaziz University yang baru sekitar pukul 16.00 waktu setempat.

Tiba di King Abdulaziz new Airport, Jeddah di masa Pandemi
Tiba di King Abdulaziz new Airport, Jeddah di masa Pandemi

Arab Saudi sendiri memiliki Sistem Informasi Kependudukan terintegrasi yang cukup maju untuk mengelola kepentingan warga negara dan ekspatriat yang tinggal di sana. Sistem terintegrasi tersebut berbentuk sejumlah aplikasi berbasis Android dan iOS, yang semuanya berhulu pada aplikasi bernama “Absher”. Absher yang merupakan aplikasi hulu bersistem kemanan 2FA lengkap, berisi data kependudukan setiap orang yang terdaftar sebagai residen ataupun ekspatriat. Fiturnya berisi biodata diri, lokasi alamat nasional, rekening, email, SIM, tagihan, pajak, jumlah pelanggaran lalu lintas, denda, jumlah keluarga, sampai eligibilitas untuk mendaftar haji. Dari Absher ini, hampir tidak ada data yang tersembunyi. Mudahnya, begitu kita install aplikasi mobile apapun termasuk i-banking, sekali memasukkan nomor iqamah (semacam e-KTP), otomatis data akan terhubung dan tidak perlu mengisi terlalu banyak formulir.

Begitu tiba di Jeddah, kami semua diwajibkan untuk mengunduh “Tawakalna App.” dan “Sihaty”. Tawakalna berisi status kesehatan kita, terutama status terakhir tes COVID-19 atau lama isolasi mandiri yang perlu ditempuh setelah kedatangan dari luar negeri. Sementara itu, Sihaty adalah aplikasi yang digunakan untuk mendaftarkan diri dalam program vaksinasi atau apointment tes PCR swab gratis di beberapa layanan stasiun tes di dalam kota masing-masing. Jadi, jika status seseorang masih “barcode merah’ karena masih dalam masa isolasi atau hasil tes PCR “positif”, jangan coba-coba keluar jauh dari satu titik alamat sambil membawa smartphone, karena bisa saja akan muncul tagihan denda di sistem secara otomatis karena ia terdeteksi oleh GPS sebagai oknum penyebar virus di tempat umum.

Untungnya, hasil tes PCR saya negatif, sehingga di dalam layar aplikasiTawakalna statusnya adalah aman bepergian. Sehingga dalam dua pekan pertama di Saudi, saya bisa melaksanakan umroh di Masjidil Haram dan ziarah di Masjid Nabawi di Madinah. Proses booking slot waktu beribadah di dua tempat suci tersebut dilakukan melalui aplikasi mobile “Etamarna”. Merupakan berkah tersendiri dapat studi dan riset Sainstek sembari beribadah di dua tempat suci tanpa harus mengeluarkan uang berlebih.

*sumber foto: penulis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here