Lulus Studi Perfilman di Inggris: Impian Farah Fauziah Membuat Lebih Banyak Shooting di Daerah

0
515

Mungkin beberapa dari kita pernah memiliki cita-cita untuk menekuni dunia perfilman hanya karena melihat sebuah film yang sangat memukau. Membayangkan untuk bekerja di balik layar, menuangkan ide-ide tentang alur cerita hingga teknik pengambilan film bisa jadi sangat menyenangkan apalagi bisa bertemu dengan selebriti terkenal. Dalam artikel ini, Content Director Indonesia Mengglobal, Dini Putri Saraswati, berkesempatan untuk mewawancarai Farah Fauziah, alumni S2 Digital Film and Television Production dari University of York, Inggris, yang menceritakan pengalamannya mendalami studi perfilman dan bagaimana ia dapat mengaplikasikan ilmunya di tanah air.

 

Halo Farah! Apa kabar? Sekarang kesibukannya apa?

Hai! Kabar baik. Sekarang saya sedang sibuk persiapan untuk shooting film. Kebetulan, saya dan teman-teman sedang ada beberapa project di Surabaya, kampung halaman saya. Selama setahun ini, kami sedang serius menggarap film omnibus atau kumpulan film pendek. Selain itu, saya dan teman teman juga ingin mengadakan lebih banyak shooting di daerah atau di kota kecil, seperti Surabaya dan sekitarnya. Tahun lalu, bersama Surabaya Film Associate (SurfAce), saya terlibat di film “Kartolo Numpak Terang Bulan”. Kontennya lokal dan diadakan untuk menggelorakan perfilman daerah.

Dalam proses penggarapan film tersebut, kami bekerja sama dengan anak-anak magang dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Dr. Soetomo Surabaya (Smekdor) yang mendalami ilmu perfilman. Saya bersama dengan rekan-rekan filmmaker dari Surabaya melakukan sharing ilmu secara langsung kepada murid-murid Smekdor. Kebetulan tahun lalu saya berperan sebagai 1st Assistant Camera. Ternyata, kegiatan pelibatan anak-anak SMK penyuka film ke dalam project kami membuat mereka menjadi lebih bersemangat untuk belajar. Nah, bulan Maret tahun ini, Surabaya juga akan shooting film layar lebar lagi, tetapi judulnya masih dirahasiakan.

 

Farah berpose bersama kameranya sebelum melakukan shooting
Farah berpose bersama kameranya sebelum melakukan shooting – Sumber foto: Dok. F. Fauziah

 

Tentunya karena pandemi belum berakhir, kami harus mematuhi protokol kesehatan agar proses shooting aman dan terkendali. Namun, saya sangat bersemangat dan optimis menggarap project ini. Siapa tahu setelah dua film layar lebar Surabaya yang di-shoot setiap bulan Maret, denyut film daerah dapat lebih tergerak. Toh para sineas dari Surabaya yang sering melanglang buana sudah kerenkeren banget. Semoga ke depannya Surabaya bisa konsisten shooting layar lebar tiap tahunnya ya, tidak hanya di bulan Maret saja.

 

Wah keren banget! Boleh diceritakan tidak mengenai perjalanan kamu hingga bisa berkarir di dunia perfilman?

Saya mengenyam pendidikan S2 Digital Film and Television Production di University of York pada tahun 2018 dengan beasiswa penuh dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Kemudian, setelah kembali ke Indonesia, saya bekerja di bidang perfilman sesuai dengan jurusan saya. Saat ini, untuk feature film, posisi saya adalah Assistant Camera yang bertanggung jawab untuk memfokuskan gambar, mengganti lensa, melakukan set up kamera, dan lain-lain. Sedangkan, untuk film pendek atau digital ads, saya adalah seorang Director of Photography. Saya juga berperan sebagai Scriptwriter untuk keperluan video. On demand lah, namanya juga freelancer.

 

Department of Theatre, Film, and Television University of York
Department of Theatre, Film, and Television University of York – Sumber foto: University of York

 

Bagaimana pengalaman berkuliah perfilman di University of York?

Saat saya berkuliah di University of York, saya harus menyelesaikan sekitar 90 kredit khusus untuk membuat film. Tentunya, saya tidak bekerja sendiri. Sering ada group project dengan teman-teman sekelas sehingga saya bisa lebih mengenal teman-teman saya secara lebih dekat. Saat itu saya sempat bekerja sama dengan teman-teman dari Ekuador, India, Inggris, Meksiko, dan Tiongkok. Banyak sekali hal-hal baru yang saya temukan saat bekerja dengan mereka. Misalnya, teman-teman Tiongkok sangat memperhatikan istirahat makan dan mengapresiasi menu yang ‘wah’. Semakin wah, mereka akan semakin suka. Tanda kalau mereka diperhatikan sebagai kru, katanya. Sedangkan orang-orang Inggris tidak terlalu memedulikan hal tersebut, asalkan masing-masing mendapatkan makanan sesuai dengan permintaan dan kebutuhan mereka. Dari sini saya belajar cara menghargai budaya satu sama lain.

 

WhatsApp Image 2021-02-23 Farah (kanan) dan Yuanmeng Luo, Director of Photography asal Tiongkok di set film pendek berjudul "Marco and Sebastian"
Farah (kanan) dan Yuanmeng Luo, Director of Photography asal Tiongkok di set film pendek berjudul “Marco and Sebastian” – Sumber foto: Dok. F. Fauziah

 

Saya juga belajar banyak sekali tentang industri perfilman. Saya dapat memahami bagaimana audio berperan penting di dalam sebuah film. Di sana, saya juga melakukan mixing film pendek pertama saya dengan menggunakan format 5.1 untuk audionya. Sebuah pengalaman yang sangat berkesan karena alat mixing serupa di Indonesia baru ada di Jakarta dengan harga yang fantastis sedangkan saya dapat mencoba di sana secara gratis sepuasnya.

Saya juga belajar mengoperasikan large format camera dan juga berbagai macam lensa yang berkualitas. Selain itu, saya juga mempelajari bagaimana sistem perfilman di sana bisa berjalan. Ternyata, di Inggris setiap alat dan kru film diasuransikan untuk memastikan keamanannya. Tidak hanya itu, ada juga jam maksimal kerja untuk pegawai kreatif agar menghindari overwork. Etos kerja seperti ini yang saya harap bisa diterapkan di Indonesia.

 

Farah bersama Florian Rettich, Senior Lecturer di Arri Academy dalam "Large Format (LF) Camera Training: Mini LF and Signature Prime Series" di London
Farah bersama Florian Rettich, Senior Lecturer di Arri Academy dalam “Large Format (LF) Camera Training: Mini LF and Signature Prime Series” di London – Sumber foto: Dok. F. Fauziah

 

Apa saja hal menarik yang kamu temukan saat berkuliah di sana?

Yang paling menarik bagi saya adalah orang-orang Inggris sangat menghargai privasi kita dan tidak ada sebutan yang merujuk khusus kepada laki-laki atau perempuan untuk suatu pekerjaan, seperti cameraman atau soundman. Mereka menyebutnya dengan gender netral, seperti cameraperson atau soundperson. Jika kita tidak sengaja menyebutnya dengan merujuk suatu gender tertentu, kita akan dicap seksis dan tidak akan disukai oleh rekan-rekan yang lain.

Dalam hal perfilman, mereka juga sangat memperhatikan logika dalam pembuatan film. Setiap adegan atau detail apapun yang masuk ke dalam frame, pasti akan ada kelanjutannya dengan shot yang lain atau bisa saja berhubungan dengan cerita sebelumnya. Bisa dibilang semua yang ada di satu film pasti ada motivasinya, bukan ide-ide di menit terakhir yang tidak ada hubungannya dengan karakter atau plot. Selain itu, setiap departemen juga betul-betul paham dengan tugas masing-masing. Yang paling membuat saya terkesan adalah proses pre-production di mana terdapat risk assessment yang dilakukan oleh produser dengan mengecek semua aspek sebelum memulai shooting, hal ini dilakukan untuk memastikan proses pembuatan film berjalan mulus, misalnya mengecek apakah lokasinya aman hingga pertolongan seperti apa yang bisa dilakukan jika terjadi kecelakaan kerja. Tim produksi juga seringkali melakukan riset untuk menemukan terobosan teknologi baru. Jadi, film yang dibuat akan selalu segar, baik dari segi teknologi, alur penyampaian, penceritaan, hingga treatment kameranya.

 

Set film pendek berjudul "Fighting Demon"
Set film pendek berjudul “Fighting Demon” – Sumber foto: Dok. F. Fauziah

 

Kemudian, di sana juga terdapat e-hub atau website yang menyediakan kebutuhan setiap departemen di industri perfilman, seperti Mandy atau StarNow yang menghubungkan talent baru dengan filmmaker baru. Ada juga CreativeEngland yang menyediakan bermacam-macam lokasi untuk shooting, mulai dari manor, taman, hingga hutan secara gratis. Kita hanya perlu mengirim email saja, lalu mereka akan melakukan follow-up.

 

Set film pendek bertema tahun 1950-an berjudul "Heirloom"
Set film pendek bertema tahun 1950-an berjudul “Heirloom” – Sumber foto: Dok. F. Fauziah

 

Adakah kendala yang dialami saat berkuliah di Inggris?

Saya pernah hampir tidak lulus satu mata kuliah. Sempat down banget. Beruntung nilai mata kuliah saya yang lain cukup baik sehingga membantu meluluskan mata kuliah yang tidak lulus tadi. Selain itu, nilai tesis saya juga sangat membantu meningkatkan indeks prestasi (IP) saya menjadi 3.60. Tesis saya saat itu adalah membuat sebuah film pendek yang ternyata sangat diapresiasi oleh dosen-dosen saya.

 

Farah sedang melakukan pengetesan kamera untuk keperluan shooting film pendek "The Convicted" yang sekaligus menjadi project tesisnya
Farah sedang melakukan pengetesan kamera untuk keperluan shooting film pendek “The Convicted” yang sekaligus menjadi project tesisnya – Sumber foto: Dok. F. Fauziah

 

Oh iya, saat di Inggris saya juga sempat mengalami kejadian yang kurang menyenangkan. Saya pernah kehilangan sepeda, padahal kondisi sepeda saya pada saat itu sudah jelek dan bannya kempes. Untuk menghemat biaya, saya terpaksa harus menempuh waktu satu jam untuk berjalan kaki dari rumah ke kampus setiap harinya. Karena perkuliahan yang padat, saya sering pulang tengah malam, bahkan dini hari. Akibatnya, saya selalu merasa was-was ketika pulang ke rumah karena rute perjalanan dari kampus melewati hutan dan area pemakaman.

 

Apa pesan kamu untuk teman-teman yang ingin berkuliah perfilman di Inggris?

Yang utama sih bahasa ya. Memang banyak dari kita yang mungkin menguasai bahasa Inggris, tetapi saat sudah tiba di Inggris akan sangat berbeda karena aksen di tiap daerah bisa sangat berbeda dengan apa yang kita ketahui, terutama di bagian utara. Jadi, mulai sekarang cobalah untuk sering-sering latihan dengan menonton film dengan aksen British English supaya tidak kaget. Tetapi, jangan khawatir jika teman-teman merasa bahasa Inggrisnya tidak sebaik orang asing pada umumnya. Saat di Inggris, berusahalah untuk tetap berkomunikasi dengan bahasa Inggris dan berkumpul dengan orang-orang Inggris. Mereka sebenarnya sangat sopan dan tentu akan lebih menghargai jika kita mau belajar.

Walaupun begitu, orang-orang Inggris juga bisa sangat sensitif, terutama jika menyangkut ciri-ciri fisik atau gender. Misalnya, jika kita ingin dicarikan seorang talent, kita tidak bisa hanya bilang “Tolong carikan talent yang cantik, dong!”. Tentu ini akan sangat menyinggung mereka. Cantik itu yang bagaimana? Apakah orang-orang yang tidak sesuai kriteria tidak dapat disebut cantik? Untuk menghindari kesalahpahaman, lebih baik kita langsung sebut saja kriterianya, misalnya ingin seorang talent yang bermata biru dan berambut pirang. Beberapa orang bahkan tidak nyaman disebut sebagai ‘he’ atau ‘she’, tetapi ‘they’. Sehingga, akan jauh lebih sopan jika bertanya terlebih dahulu mereka ingin disebut apa, daripada langsung memanggil mereka sebagai ‘she’ atau ‘he’, sesuai dengan apa yang tampak dari luar.

Yang terakhir, harus siap bekerja keras karena tentu saja berkuliah di luar negeri bisa sangat berat apalagi kita masih membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Namun, jangan ragu untuk berkuliah di Inggris karena pastinya pengalaman dan jejaring yang didapatkan bisa sangat menopang karir dan memperluas wawasan kita.

 

Melepas penat selepas kuliah: Farah di pelataran York Minister, sebuah katedral di Yorkshire
Melepas penat selepas kuliah: Farah di pelataran York Minister, sebuah katedral di Yorkshire – Sumber foto: Dok. F. Fauziah

 

***

Farah Fauziah, atau biasa dipanggil Farah adalah alumni S2 di University of York jurusan Digital Film and Television Production. Kini, ia berprofesi sebagai Assistant Camera (AC) untuk feature film, Director of Photography untuk film pendek, sekaligus Scriptwriter. Ia mendapatkan sertifikasi nasional untuk 1st AC dari Persatuan Karyawan Film dan Televisi Indonesia. Saat ini, ia sedang sibuk melakukan pre-production feature film-nya yang kedua dan ia bekerja di Departemen Kamera. Di waktu senggang ia senang menulis, memasak, dan menyeduh kopi.

***

SHARE
Previous articleBeasiswa British Council Indonesia untuk Perempuan di Bidang STEM
Next articlePerjuangan Panjang Memperoleh Beasiswa untuk Kuliah di Luar Negeri
Dini is a Lecturer in International Relations at Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur and Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. She is also a Contributing Writer at Indonesia Expat. She graduated with a Master of Arts in International Relations and International Organisations from the University of Groningen in 2018. Prior to her previous study, she obtained a Bachelor of International Relations from Universitas Airlangga Surabaya. She is passionate about International Studies as her main focus is International Security and Development Studies. At the weekend, she can be found at home reading a pile of books or hitting the gym. She can be reached at dps.dini@gmail.com.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here