Kiprah Fiona Verisqa Kuliah S3 di London sambil Aktif di Satgas Covid

0
469
Fiona bersama puteranya di depan gedung Portico, University College London (UCL)

Fiona Verisqa seperti tak pernah kehabisan energi. Di sela-sela kesibukannya kuliah S3, dia aktif di Satgas covid-19 KBRI London. Dalam artikel berikut, Columnist Indonesia Mengglobal, Rio Tuasikal berkesempatan untuk membagikan kisah Fiona yang berkontribusi kepada masyarakat sambil tetap menjaga performa akademiknya. 

***

Ketika virus corona mulai menyebar di Inggris, Fiona baru beberapa bulan tinggal di negara tersebut. 

Dengan latar belakang sebagai sebagai dokter gigi, dia kini menempuh studi PhD in Biomaterials and Tissue Engineering di University College London (UCL).

Sebelum pandemi, hari-harinya disibukkan dengan melakukan eksperimen di UCL Eastman Dental Institute. 

“Fokus penelitian saya adalah biomaterial tissue engineering (rekayasa jaringan organ) untuk menggantikan organ tubuh yang hilang. Organ buatan lah kalau bahasa kerennya,” papar penerima Beasiswa LPDP ini.

 

Foto menunjukkan Fiona berada di restoran bersama belasan orang dari berbagai negara
Fiona (kedua dari kanan) mengikuti makan siang bersama anggota divisi di Eastman Dental Institute UCL, beberapa waktu sebelum pandemi.

 

Namun baru empat bulan studinya berjalan, covid-19 masuk ke Inggris. Perlahan tapi pasti, Inggris mulai kewalahan dengan tingkat penularan yang terus naik.

“Saat itu National Health Service (NHS) kolaps, jadi nelepon GP (dokter umum) susah, nelepon 911 susah. Masuk rumah sakit boro-boro bisa… pada tutup semua,” kisah Fiona

Pelajar dan warga Indonesia di Inggris pun ikut merasakan ketidakpastian.

 

Berkiprah di Satgas Covid-19

Di tengah situasi itu, KBRI London membentuk Satuan Tugas (Satgas) untuk melayani masyarakat Indonesia di Britania Raya. Bersama Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) United Kingdom, KBRI mengumpulkan para mahasiswa dengan latar belakang ilmu kesehatan.

Fiona, yang gundah dengan covid-19, langsung merasa terpanggil untuk berkontribusi.

“Kasihan mereka (masyarakat Indonesia di Inggris). Ibaratnya udah di negara orang, jauh dari keluarga, kena pandemi pula,” kata dia.

Di dalam Satgas, para mahasiswa memberikan konsultasi medis bagi pelajar atau diaspora Indonesia. Satgas juga memonitor mereka yang positif covid-19 atau bergejala. Sementara, KBRI akan mengirimkan paket bantuan makanan.

 

Satgas COVID-19 didukung oleh belasan mahasiswa dari ilmu kedokteran, ilmu kesehatan, dan ilmu keperawatan.
Satgas Covid-19 didukung oleh belasan mahasiswa S2 dan S3 dari ilmu kedokteran, ilmu kesehatan, dan ilmu keperawatan.

 

“Kalau WNI pun nggak bisa akses NHS, at least mereka bisa dapat advis dari profesional,” imbuh Fiona.

Sampai saat ini, Satgas telah mendampingi 103 orang pasien, yang hampir semuanya sudah sembuh. 

Di samping monitoring pasien, Satgas menggelar sejumlah pertemuan virtual bagi masyarakat Indonesia di Britania Raya. Satgas menjadi ruang klarifikasi berbagai informasi yang simpang siur. 

Fiona kemudian dipercaya memimpin Unit Kesehatan PPI United Kingdom. Timnya secara aktif memantau perubahan kebijakan covid-19 di Inggris untuk disosialisasikan ke ribuan pelajar Indonesia yang tersebar di puluhan kota. 

Ketika sejumlah menteri dari Indonesia berkunjung ke Inggris, timnya bahkan diminta turut andil. “Kita bantu KBRI nyiapin acara, nyiapin presentasi. Jadi teknis kita bantuin, materi kita bantuin,” Fiona menambahkan. 

Baru-baru ini, timnya menerbitkan tulisan di media massa yang mendorong pelaksanaan vaksin di Indonesia bagi kelompok usia 60 tahun ke atas. Publikasi tersebut mendapat perhatian media di Indonesia, sampai-sampai beberapa anggota tim tampil diwawancara oleh media. 

“Lebih sibuk itu kadang-kadang dari pada sebagai mahasiswa,” ujarnya sambil tertawa.

 

Ujian Transfer PhD dan Keluarga

Ketika gelombang kedua covid-19 di Inggris naik pada bulan Oktober 2020, Fiona sedang bersiap menghadapi ujian transfer PhD. 

This is a defining moment buat anak-anak PhD. Karena kalau nggak lolos, kita pulang ke tanah air,” ujarnya.

Fiona tertarik pada rekayasa jaringan organ setelah mengetahui bahwa teknologinya berkembang pesat di Inggris.
Fiona tertarik pada rekayasa jaringan organ setelah mengetahui bahwa teknologinya berkembang pesat di Inggris.

Hal itu diperparah dengan arus kedatangan mahasiswa pada Autumn Term yang menambah kesibukan Satgas. 

Fiona pun harus pintar-pintar membagi waktu antara kehidupan akademik dan organisasi.

“Ini sudah tanggung jawab ke organisasi dan masyarakat.”

Di sisi lain, Fiona tinggal dengan suami dan keduanya memiliki seorang putra berusia 4 tahun. 

Uniknya, sang suami juga menempuh studi doktoral dan sama-sama akan menjalani ujian transfer. Ia berkuliah di King’s College London jurusan Development Studies.

“Saya sama suami ujian PhD beda 4 hari doang. Udah rusuh deh,” kisahnya sambil tertawa. 

Plus, suami juga aktif sebagai Wakil Ketua PPI United Kingdom. 

“Itu udah salaman. Setelah pagi itu saya lulus, sorenya giliran suami saya yang semedi,” tambahnya sambil tertawa kembali.

 

Tips Membagi Waktu 

Mencari keseimbangan antara kehidupan akademik, organisasi, dan keluarga memang menjadi tantangan tersendiri. 

Menurut Fiona, hal itu perlu ditopang oleh manajemen waktu, seleksi prioritas, dukungan orang sekitar, serta komunikasi.

“Ketika saya memberikan tugas kepada anggota tim, saya sebutkan ekspektasi dengan jelas. Tugas kamu A saja. Tugas lain biar dilakukan orang lain,” jelasnya.

Gaya komunikasi terbuka juga ia terapkan di dalam keluarga. 

“Misalnya saya perlu fokus selama 3 jam, saya akan minta suami menemani anak dulu. Setelah selesai, kami bergantian peran.”

Di kampus, Fiona akan bersikap terbuka kepada dosen pembimbing jika ia memiliki keperluan yang tidak bisa ditinggalkan. Dia juga mengatakan penting untuk mengenali kemampuan dan kapasitas diri. “Jangan malu untuk minta tolong,” tandasnya.

Di tengah berbagai kesibukan, Fiona mengingatkan kita untuk istirahat yang cukup. Untuk melepas penat, dia senang menonton anime dan menikmati musik K-Pop. 

“Saya wibu dari SMP, sekarang juga BTS ARMY. This is my mode of escape,” ucapnya sambil tersenyum. 

Hobinya mempertemukan Fiona dengan berbagai komunitas yang juga menjadi support system. 

Kata Fiona, itulah yang membuatnya kembali bertenaga. Dia siap beraksi kembali, di kampus dan di Satgas. 

 

***

Fiona Verisqa adalah mahasiswa PhD in Biomaterials and Tissue Engineering di University College London (UCL). Dia menamatkan S1 Pendidikan Dokter Gigi dan S2 Spesialis Bedah Mulut dan Maksilofasial di FKG Universitas Indonesia. Fiona 2 kali menjadi visiting scholar Tokyo, Jepang. Pada 2018-2019, dia bekerja sebagai dokter gigi spesialis bedah mulut di RS Hermina dan RS YARSI Jakarta.

***

 

Foto-foto diambil dari koleksi pribadi Fiona Verisqa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here