Beasiswa British Council Indonesia untuk Perempuan di Bidang STEM

0
704

Indonesia Mengglobal bekerja sama dengan British Council Indonesia berkesempatan mengikuti webinar “Voices of Women in STEM: A Conversation”. Artikel liputan webinar ini memberikan gambaran lika-liku studi dan berkarir di bidang STEM, khususnya bagi para perempuan. Hadir dalam webinar ini, figur perempuan inspiratif dan berprestasi di bidangnya, yaitu Prof. Dwikorita Karnawati (Kepala BMKG), Sri Fatmawati (Presiden Organisation of Women for The Developing World), dan Amelia Buddhiman (Akuo Energy). Yuk, kita simak ceritanya dan lihat beasiswa British Council Indonesia yang ditawarkan!

***

Dalam rangka Hari Internasional Perempuan Dalam Sains yang diperingati pada tanggal 11 Februari setiap tahunnya, British Council Indonesia bersama dengan Program MENTARI, Kedutaan Inggris di Indonesia, dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mengadakan webinar bertajuk Voices of Women in STEM: A Conversation pada tanggal 17 Februari 2021. Pada webinar ini, tiga pemimpin perempuan membahas berbagai tantangan dan kesempatan bagi perempuan dalam mengembangkan karir di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM). 

“Saya hamil dan melahirkan anak pertama saat menjalankan S2, anak kedua saat studi S3, lalu anak ketiga saat melakukan studi post-doctoral. Terkadang memang lingkungannya tidak mendukung, seperti misalnya waktu di Jepang, salah satu profesor menyuruh saya untuk pulang saja ke Indonesia karena saya sedang hamil. Saat itu, beliau belum pernah bertemu dengan peneliti perempuan yang bisa bekerja di laboratorium saat hamil dan setelah melahirkan,” ujar Sri Fatmawati, ahli kimia organik bahan alam yang saat ini memimpin OWSD Indonesia Chapter.

Masih banyak lagi tantangan yang kerap dialami para perempuan saat menempuh studi dan meniti karir di sektor-sektor yang masih didominasi oleh laki-laki ini. Diantaranya adalah pengalaman diremehkan oleh pemimpin laki-laki dan rasa tidak aman yang disebabkan oleh ketidaksopanan para pekerja laki-laki di lokasi proyek.

“Saat pertama kali saya diterima kerja sebagai engineer, saya malahan disuruh-suruh fotokopi dokumen, karena saya otomatis dianggap sebagai petugas administrasi. Selain itu, di lokasi proyek juga beberapa kali saya disiul-siuli oleh para pekerja, atau pada meeting saya digodai oleh para lelaki. Memang pengalaman yang memalukan, tapi saya cuek aja dan tetap tegas dalam melakukan tugas saya,” tukas Amelia Buddhiman dari Akuo Energy.

Dihadapkan dengan situasi yang menantang tersebut, Prof. Dwikorita Karnawati, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), berpesan supaya para perempuan muda Indonesia tidak cepat menyerah dan tetap bekerja keras.

“Untuk para perempuan muda Indonesia yang tertarik untuk menekuni bidang STEM, apabila ada keraguan, silakan mencari informasi selengkap dan setepat mungkin. STEM sebenarnya sangat luas cakupannya, dari insinyur yang ke lokasi proyek di lepas pantai sampai peneliti di laboratorium, dan semua sama pentingnya. Yang penting kita tetap teguh, ulet, dan minta arahan kepada Yang Maha Kuasa, ke mana jalan yang paling tepat buat diri kalian masing-masing,” ujar Prof. Dwikorita.

Ketiga tokoh perempuan dalam webinar ini menunjukkan bahwa jenis kelamin bukanlah hambatan bagi mereka dalam menjalankan studi dan meniti karir di bidang STEM. Namun, sayangnya perempuan masih kurang terwakili di bidang tersebut. Menurut data dari UNESCO, hanya sekitar 30% dari keseluruhan peneliti di dunia adalah perempuan. Selain itu, hanya 30% dari keseluruhan mahasiswa perempuan yang memilih jurusan terkait STEM di jenjang pendidikan tinggi.

Melihat data tersebut, Pemerintah Inggris melalui British Council menawarkan beasiswa Women in STEM untuk para perempuan yang berasal dari Asia Tenggara yang ingin melanjutkan S2 di bidang STEM di universitas ternama di Inggris. Semakin banyaknya perempuan yang menekuni bidang STEM, diharapkan bahwa sektor yang selama ini didominasi oleh laki-laki ini semakin inklusif dan kondusif bagi perempuan.

Beasiswa ini mendukung beberapa program S2 di tiga universitas di UK, yaitu:

1. Program-program terkait transisi energi dan perubahan iklim di University of Glasgow:

  • MSc in Earth Futures: Environments, Communities, Relationships
  • MSc in Sustainable Energy
  • MSc in Sustainable Water Environment

2. Program-program terkait kesehatan dan ilmu hayati di Liverpool John Moores University:

  • MSc in Biomedical Sciences
  • MSc in Cosmetic Science

  • MSc in Industrial Biotechnology

  • MSc in Drug Discovery Development and Delivery
  • MSc in Forensic Bioscience
  • MSc in Sport Nutrition
  • MSc in Clinical Exercise Physiology
  • MSc in Public Health
  • MSc in International Public Health
  • MSc in Public Health Addictions
  • MA in Mental Health

3. Program terkait pertanian di University of Stirling

  • MSc in Sustainable Aquaculture
  • MSc in Aquatic Pathobiology
  • MSc in Aquatic Veterinary Studies

Beasiswa yang ditawarkan termasuk dukungan finansial untuk biaya kuliah, tunjangan bulanan, biaya perjalanan dari dan ke UK, visa, dan asuransi kesehatan. Selain itu, British Council juga menawarkan dukungan khusus untuk para Ibu yang memiliki anak, serta dukungan kursus Bahasa Inggris dan biaya IELTS.

Pendaftaran untuk beasiswa pada tahun akademik 2021/2022 akan ditutup pada pertengahan Maret 2021. Jadi, tunggu apa lagi? Pelajari informasi lebih lanjut di laman resmi British Council.

WIS

Artikel ini merupakan kolaborasi antara Indonesia Mengglobal dan British Council Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here