Kultur Bekerja di Negara Asing: Denmark dan Turki

0
464

Banyak dari kita yang bermimpi untuk bekerja dan membangun karier di luar negeri. Tapi, apakah kita sudah siap? Seperti apa, sih, budaya bekerja di negeri orang dan bagaimana caranya menyesuaikan diri? Kontributor Andita Rahmi Faradina (Dity) menceritakan pengalamannya bekerja sebagai Business Graduate di perusahaan farmasi internasional di Denmark dan Turki untuk berbagi wawasan dan tips dengan pembaca IM!

***

Kamu percaya tidak, kalau Indomie rasanya lebih spesial di luar negeri? Padahal, jumlah mecin dalam satu bungkus mie yang diekspor tuh jauh lebih sedikit, lho, dibandingkan sama yang biasa kita konsumsi di rumah. Entah karena dinginnya udara, karena rindunya kalbu akan masakan Padang penuh bumbu, atau simply karena mie adalah solusi mudah dari laparnya seorang mahasiswa di akhir bulan di tengah deadline; it just is.

Sebungkus mie adalah hal yang pertama masuk benak ketika diminta untuk berbagi sama kamu lewat tulisan ini. Kenapa? Karena dia seleraku hehe. Ngga deng, karena aku hobi makan dan aku lagi makan mie ketika nulis ini. Jokes aside, izinkan aku untuk menggunakan analogi mie instan dalam tulisan ini untuk membuat pengalamanku relatable dengan kalian. ‘Cause we got to think globally, act locally, and sometimes eat domestically 😉

Aku di sini akan memberikan ilustrasi atau gambaran bagaimana serunya (atau seramnya) tinggal, belajar, atau kerja jauh dari rumah lewat cuplikan pengalaman kerjaku di Denmark dan Turki. I will share some tips along the way, which you might find useful, too!

On living the working life: What’s in the book vs reality

Pernah tidak kamu ke dapur, lihat Indomie, eh terus jadi makan mie instan? Padahal tadinya tidak kepikiran. Kurang lebih itu menggambarkan awal mula aku kerja di perusahaan multinasional yang cukup ternama di bidang farmasi. Tidak terpikir sama sekali mau masuk ke dunia ini mengingat latar belakangku yang berbeda. Tapi beberapa minggu sebelum lulus S2, seorang teman memberi info tentang peluang kerja ini. Aku yang tadinya belum niat mencari malah jadi tertarik.

Aku berkesempatan mewakili Indonesia di program emas untuk bekerja di Indonesia (kantor lokal atau affiliate), Denmark (headquarter/HQ), dan Turki (kantor regional) dalam waktu 2 tahun. Proses seleksinya super ketat dan seru! Kami sampai dikirim ke HQ Denmark beberapa hari hanya untuk wawancara dan studi kasus!

Aku akan share poin-poin yang sering ditanya orang-orang di sekitarku tentang pengalaman bekerja di luar dan memberikan perbandingan dengan persepsi umum yang umumnya kita tahu.

Dity bersama teman-teman di Tivoli Gardens, Copenhagen, Denmark
Dity dan teman-teman mengunjungi Tivoli Gardens, Copenhagen, Denmark

Work-life balance

Katanya, Denmark itu punya work-life balance yang bagus. Nyatanya? Benar sekali! They come to work early. Manajerku jam 8 biasanya sudah khusyuk di depan laptopnya. Lainnya datang kira-kira jam 9. Yang aku tahu, mereka datang pagi karena sekalian antar anak sekolah. Jam pulang? Ini yang bikin bahagia. Mereka kebanyakan sudah bergerak pulang jam 3 sore. Jam 4 mulai sepi. Jam 5 sepi. Jam 6 apalagi. Memang cukup kerja dari jam 8-3 sore? Cukup. Mereka efisien dan menghargai waktu. Makan siang juga singkat saja. Jam 3 pulang pun untuk jemput anak. Aku amati mereka memprioritaskan keluarga dan kesehatan di atas pekerjaan.

Waktu di luar kantor tidak banyak dipakai untuk kerja kecuali terpaksa deadline. Sebagian besar dipakai untuk keluarga dan hal personal lainnya, terutama di akhir pekan. They also appreciate being active and being in the open space. Ini terlihat dari banyaknya dan cantiknya taman kota di sana, juga dari jumlah orang yang olahraga di Copenhagen meski malam hari.

Kalau Turki? Well, aku tidak banyak tahu paradigma work-life balance di Turki seperti apa. Tapi aku bisa bilang mereka bekerja lebih lama daripada kebanyakan orang-orang di HQ. Bukan karena mereka malas-malasan atau tidak efisien di kantor, namun lebih karena pekerjaan di kantor regional memang cenderung membutuhkan lebih banyak perhatian dan waktu.

Setiap hari Jumat di HQ, kami sarapan bersama tim masing-masing. Makanannya disediakan secara bergilir oleh dua orang setiap minggu, seperti jadwal piket. Kalau di Turki, setiap hari kami disediakan sarapan di kantor. Menurutku ini kesempatan yang bagus untuk catch up dengan kolega, baik secara formal maupun informal.

Dity mendapat kejutan dari para koleganya di Copenhagen di hari ulang tahunnya
Dity mendapat kejutan di hari ulang tahunnya dari para koleganya di Copenhagen

Berkerudung di negara sekuler?

Apakah ada perlakuan tidak sedap karena berkerudung? Di Denmark tidak sama sekali. Malah di Turki yang aku merasa kurang nyaman.

Sebelum berangkat ke Denmark, kepala kantorku di Indonesia yang orang asli Denmark sempat memberi aku tip seperti ini: hati-hati di Denmark – mayoritas penduduk di sana adalah orang cerdas yang terbuka terhadap perbedaan, tapi tidak semuanya begitu. Jadi kalau nanti kamu lihat ada judgement terhadap muslim, jangan dimasukkan ke hati dan mohon ingat bahwa tidak semua orang seperti itu. Meleleh ngga, sih, ini Pak Bos atentif banget?

So, with that in mind, I was surprised that I didn’t find anything close to discrimination towards me in Denmark. Pendapatku didengar, apresiasi kudapat, dan aku juga terlibat dengan baik di kegiatan-kegiatan kantor. Dalam kehidupan sehari-hari pun demikian baiknya; tidak pernah ada tatapan jahat dari kasir-kasir misalnya, hehe. Olahraga di luar setelah maghrib pun terasa aman; aku tidak pernah mengalami catcalling di sana. Aku juga pernah coba berenang tengah malam di klub renang dekat tempat tinggalku pakai burkini. They look, but only in discreet, and they don’t mind!

Makan malam terakhir Dity bersama kolega dan manajer sebelum penempatan masing-masing di berbagai lokasi
Makan malam terakhir Dity bersama kolega dan manajer di Copenhagen sebelum penempatan masing-masing di berbagai lokasi

Nah, yang mengejutkan, aku justru mendapat perlakuan berbeda di Istanbul. Karena berkerudung dan memakai burkini, aku dilarang berenang di apartemenku. Aneh dan cukup shock, sih, mengingat Turki bisa dibilang negara muslim. Aku sampai mengangkat hal ini ke pihak manajemen apartemen dan tim HR kantor. Hasilnya? Sayangnya sia-sia, kawan. Namun untuk keseharian di kantor tidak berbeda jauh dengan Denmark. Semua orang sangat profesional dan terbuka untuk mendengarkan.

Aku punya tips untuk yang berkerudung dan masih ragu untuk bekerja di luar. Perusahaan global itu pada umumnya ingin menunjukkan kalau mereka terbuka terhadap perbedaan a.k.a diversity. Jadi sebenarnya, kerudung itu sisi positif karena membawa satu poin lebih dibandingkan yang lain. Coba, deh, pake mindset ini, dijamin tidak minder lagi.

Repotkah pindah-pindah negara?

Repot ngga repot. Repot karena bawa banyak barang, tidak repot karena bagian akomodasi dan administrasi seperti izin tinggal diurus oleh kantor. Ini tips yang bisa kubagi:

  • Jangan beli banyak barang kalau kamu akan sering pindah.
  • Jangan malu bertanya apa saja yang di-cover kantor, karena bisa jadi kita bisa berhemat.
  • Beberapa hari sebelum penerbangan keberangkatan, cek lagi kapasitas maksimal dalam satu koper untuk penerbangan kamu. Aku sempat lalai dan berpikir akan sama untuk setiap penerbangan dan aku hampir ketinggalan pesawat karena rombak koper. Ugh, never again!
  • Follow up progres visa kamu ke kantor atau pihak ketiga yang ditunjuk kantor beberapa minggu sebelum keberangkatan. Penting menghindari dokumen kamu yang terselip dan bisa buat visa jadi molor.
Pemandangan dari apartemen Dity di Istanbul
Pemandangan dari apartemen Dity di Istanbul

Dity masih punya banyak cerita soal pengalaman kerjanya di luar negeri. Stay tuned untuk mendengar kelanjutannya hanya di IM!

 

 

Foto-foto diambil dari koleksi pribadi penulis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here