Menjadi mahasiswa Indonesia pertama dan satu-satunya selama dua tahun di Skoltech

0
393
Sumber: dokumentasi pribadi.

Kalian suka melakukan riset? Punya aspirasi jadi ilmuwan atau technopreneur? Kontributor M. Ainul Yaqin berbagi pengalamannya kuliah di Skolkovo Institute of Science and Technology (Skoltech), Moskow, Rusia, di mana ia menjalani studi master secara gratis dengan fasilitas dan ekosistem kelas dunia!

***

Setelah lulus kuliah di tahun 2017 dari Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, saya langsung memulai karir dengan bekerja di industri kelapa sawit di Bekasi. Namun, keinginan untuk melanjutkan kuliah ke jenjang magister terus menguat dari waktu ke waktu, hingga akhirnya saya memutuskan untuk mengundurkan diri dan mulai berburu tempat kuliah. Januari 2018 menjadi babak awal lika-liku saya berburu kampus dan beasiswa.

Tren kemunculan kampus riset berbasis sains dan teknologi

“Mau daftar kampus mana?” dan, “Pakai beasiswa apa?” adalah dua pertanyaan besar yang harus saya jawab. Siapa yang tidak mengenal kampus Harvard, Stanford, atau MIT yang sudah sangat tersohor? Siapa yang tidak mau berkuliah di kampus top macam Oxford atau Cambridge? Namun, saya urung mendaftar ke kampus-kampus tersebut. Selain sadar akan kapasitas saya, kok rasanya aneh kalau pertimbangan dalam memilih kampus hanya berdasar pada ranking semata.

Idealisme saya pun bergeser untuk mencari kampus yang memiliki program yang sesuai dengan minat saya. Untuk urusan beasiswa, saya bisa mengklaim diri sebagai seorang scholarship hunter. Banyak sekali pameran pendidikan, kedubes, dan pusat kebudayaan yang telah saya sambangi. Chevening, Fullbright, Stuned, Monbukagakusho, dan LPDP pasti sudah akrab di telinga para pemburu beasiswa.

Namun, bukan program-program beasiswa itu yang saya daftar. Saya fokus untuk mendaftar ke kampus berbasis riset di mana semua mahasiswanya mendapat uang beasiswa yang cukup. Memang ada kampus seperti itu? Ternyata banyak, hanya saja mungkin belum masuk ke radar kita karena kampus tersebut tidak ada di “ranking mainstream” semacam QS atau THE.

Pernah dengar UST, KAUST, Skoltech, IST, atau BIST? Yup, itu adalah beberapa kampus yang saya maksud, yang pernah saya daftar, dan pada akhirnya saya berkuliah di salah satunya. Jika teman-teman hanya ‘peduli’ dengan ranking, mungkin kampus-kampus tersebut kurang menarik. Tapi jika teman-teman pelajari lebih lanjut, siap-siap untuk takjub dengan segala manfaat yang mereka berikan.

Ainul dan fasilitas clean room yang dimiliki Skoltech. Sumber: dokumentasi pribadi.
Ainul dan fasilitas clean room yang dimiliki Skoltech. Sumber: dokumentasi pribadi.

Jika bukan ranking, penilaian apa yang bisa dilakukan dalam memilih kampus? Menurut saya, yang bisa teman-teman nilai adalah ketersediaan program studi yang diinginkan, kurikulum yang ditawarkan, fasilitas kampus dan riset yang diberikan, profil profesor yang mengajar, hingga riset yang telah dihasilkan.

Lalu mengapa saya daftar ke kampus-kampus tersebut? Selain karena mempunyai program riset yang saya minati, proses seleksi kampus-kampus ini juga satu pintu. Artinya, saya tahu jika saya diterima di kampus tersebut, saya tidak perlu pusing mencari funding atau mendaftar beasiswa. Hal ini penting mengingat status saya sebagai pekerja penuh waktu saat mendaftar, sehingga sulit untuk bisa ikut seleksi beasiswa ke sana ke sini.

Skoltech: An institute for the gifted

Akhirnya saya berkuliah di jurusan Materials Science di Skolkovo Institute of Science and Technology (Skoltech), sebuah kampus baru di Moskow yang bertujuan untuk mengenalkan sains dan teknologi dari tanah Rusia ke kancah dunia. Beberapa tahun ini, Skoltech dan kawasan di sekitarnya memproyeksikan diri sebagai Silicon Valley-nya Moskow, bahkan Rusia. Saya melihat sendiri kawasan ekonomi Skolkovo bertransformasi menjadi sebuah ekosistem yang menggabungkan sains dan teknologi dengan kewirausahaan.

Gerbang masuk kampus Skoltech. Sumber: situs Skoltech.
Gerbang masuk kampus Skoltech. Sumber: situs Skoltech.

Skoltech didirikan tahun 2011 dengan menggandeng MIT sebagai mitra utamanya. Bentuk kerjasama dalam bentuk the MIT Skoltech Initiative berlangsung dalam hal pengajaran, riset, hingga pertukaran pelajar. Selama tiga tahun peratama Skoltech didirikan, semua mahasiswanya dikirim ke MIT untuk belajar dan melakukan riset!

Tahapan seleksi masuk Skoltech yang saya alami meliputi seleksi berkas, tes kemampuan akademik, dan tes wawancara. Proses ini berlangsung cepat, bahkan kurang dari dua bulan, hingga akhirnya saya diterima sebagai mahasiswa Skoltech. Berkas yang harus dipenuhi, antara lain surat motivasi, surat rekomendasi, IELTS, dan CV. Info detailnya bisa teman-teman cek di situs Skoltech.

Jika berkas kita dinilai layak oleh pihak admisi, kita akan mendapat undangan tes akademik, yaitu tes matematika atau subjek lainnya yang berkaitan dengan jurusan yang kita daftar. Tes ini berlangung secara daring, namun jangan harap bisa ‘cheating’ karena mereka punya sistem yang mumpuni untuk mendeteksi segala bentuk kecurangan.

Terakhir adalah tes wawancara secara daring, di mana teman-teman akan memperkenalkan diri di hadapan pihak admisi dan profesor dan mereka akan menanyakan banyak hal terkait kepribadian hingga pengalaman akademik. Jika berhasil melewati tahap ini, selamat, teman-teman akan mendapatkan surel seperti berikut:

Screenshot email yang kamu terima jika lolos semua tahapan seleksi Skoltech. Sumber: dokumentasi pribadi.
Screenshot email yang kamu terima jika lolos semua tahapan seleksi Skoltech. Sumber: dokumentasi pribadi.

Serba-serbi kuliah Skoltech

Lalu apa saja manfaat yang saya rasakan dengan berkuliah di Skoltech?

Selain kuliahnya yang gratis, saya juga mendapatkan uang saku bulanan yang jumlahnya sangat cukup untuk hidup di Moskow. Saya bisa klaim bahwa hingga tulisan ini dibuat, Skoltech adalah kampus dengan nominal beasiswa terbesar seantero Rusia. Sebagai gambaran, uang saku ini berada di atas upah minimum kota Moskow, sehingga teman-teman tidak perlu pusing untuk kerja paruh waktu dan bisa fokus kuliah dan riset. Oh iya, Skoltech juga dengan baik hati membelikan tiket keberangkatan saya dari Jakarta ke Moskow; royal sekali.

Moskow di musim dingin. Sumber: dokumentasi pribadi.
Moskow di musim dingin. Sumber: dokumentasi pribadi.

Sebagai kampus yang ingin sejajar dengan kampus lainnya di level global, Skoltech menerapkan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar utama, sesuatu yang masih jarang ditemukan di Rusia. Untuk mahasiswa asing seperti saya, Skoltech juga menyediakan kelas bahasa Rusia yang tentu berguna untuk kehidupan di luar kampus – gratis pastinya.

Yang saya suka dari Skoltech adalah kehidupan riset yang sudah diperkenalkan ke mahasiswa sejak tahun pertama. Pokoknya, kalau bertemu dengan teman pasti obrolannya tentang riset.  Dalam rangka mencetak technopreneurs, Skoltech juga mengintegrasikan bisnis dalam kurikulumnya dan wajib diambil oleh semua mahasiswa. Belajar bisnis yang dikaitkan dengan inovasi sains adalah pengalaman baru bagi saya.

Kurikulum Skoltech juga bertujuan untuk mendekatkan mahasiswa dengan industri dalam bentuk magang. Sebagai mahasiswa asing, saya sangat didukung oleh Skoltech dalam mencari tempat magang yang sesuai dengan proyek riset saya. Saya berkesempatan untuk magang di perusahaan Rusia di Novosibirsk selama dua bulan, dengan semua akomodasi dan transportasi ditanggung oleh kampus. Banyak teman saya yang bahkan magang di luar Rusia, tentu dengan dukungan fasilitas Skoltech.

Penulis dan grup riset nanomaterials di Skoltech. Sumber: dokumentasi pribadi.
Ainul dan grup riset nanomaterials di Skoltech. Sumber: dokumentasi pribadi.

Kalau belum puas magang, teman-teman bisa lanjut mengambil academic mobility, di mana kalian akan melakukan riset di universitas yang sudah menjalin berkolaborasi dengan Skoltech. Silahkan teman-teman sebut negara dan kampus yang ingin didatangi maka Skoltech akan mendukung kalian untuk terbang ke sana!

Yang membuat saya takjub, Skoltech dengan gedung barunya menyetujui keinginan kami, mahasiswa Muslim, untuk disediakan tempat beribadah di kampus. Saya dan kawan Muslim jadi leluasa untuk berada seharian di kampus tanpa khawatir meninggalkan kewajiban beribadah.

Terakhir, Skoltech diisi oleh orang-orang cerdas yang sangat suportif. Dengan jumlah mahasiswa yang relatif sedikit, mungkin sekitar 800-an saja, mahasiswa jadi cenderung mengenal satu sama lain. Komunitas Skoltech juga sangat heterogen; sekitar 30% mahasiswanya adalah mahasiswa asing.

Sebagian komunitas internasional di asrama Skoltech. Sumber: dokumentasi pribadi.
Sebagian komunitas internasional di asrama Skoltech. Sumber: dokumentasi pribadi.

Pertemanan lintas negara inilah yang menjadikan kehidupan saya di Skoltech sangat berkesan. Tak terhitung banyaknya momen yang saya habiskan bersama teman-teman di asrama internasional, mulai dari belanja dan masak bareng, pesta ulang tahun tiap minggu, nobar dan mabar ramai-ramai, hingga ‘terkurung’ bersama di asrama selama tiga bulan saat pandemi berlangsung.

Pengalaman ini membuat saya betah berada di Skoltech, meskipun saya adalah mahasiswa Indonesia pertama dan satu-satunya hingga saya lulus tahun ini. Semoga tulisan ini bisa mengenalkan kampus Skoltech kepada teman-teman, karena sayang banget ada kampus sebaik Skoltech tapi tidak ada anak Indonesia-nya.

Balshoyespasiba (thank you very much)!