Cerita Ghina Atmaniwedhana Studi S2 di Corporate University

0
284

Untuk melanjutkan studi S2 ke luar negeri, pada umumnya mahasiswa Indonesia dibiayai oleh sebuah organisasi pemberi beasiswa atau biaya pribadi. Namun, tahukah kalian bahwa beberapa perusahaan swasta di dunia juga menawarkan karyawannya untuk lanjut studi S2 di universitas binaan perusahaan tersebut? Hal inilah yang dialami oleh Ghina Atmaniwedhana. Sebagai karyawan di perusahaan multinasional di bidang minyak dan gas bumi (migas), pada tahun 2018 Ghina mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan studi S2 di Eni Corporate University di Milan, Italia. Berikut hasil wawancara saya dengan Ghina tentang pengalamannya berkuliah di sebuah corporate university dan pelajaran-pelajaran yang ia ambil dari pengalaman tinggal di Italia.

***

Halo Ghina, boleh diceritakan sedikit tentang awal pengalaman karirmu di sektor migas?

Perjalanan karir saya di sektor migas dimulai di Badak LNG di Bontang, Kalimantan Timur. Disana, saya berperan sebagai Internal Communications Officer dimana saya menangani isu-isu protokoler untuk seluruh stakeholder perusahaan mulai dari universitas hingga pemegang saham dan pejabat tinggi pemerintah. Jadi, saya bertanggung jawab atas kunjungan mereka ke fasilitas perusahaan di Bontang. Pekerjaan ini menuntut level koordinasi yang tinggi, dimana saya harus berkoordinasi dengan seluruh departemen terkait dalam mempersiapkan akomodasi, transportasi, keamanan, keselamatan, dan lain-lain. Selain mengurusi kedatangan tamu, saya juga mengurusi acara-acara perusahaan internal. 

Salah satu pemegang saham di Badak LNG adalah Eni, perusahaan migas multinasional yang berasal dari Italia. Pada salah satu kunjungan Eni ke Badak tahun 2017, saya mendapatkan tawaran pekerjaan di kantor Eni di Jakarta. Tidak lama setelah itu, tawaran tersebut saya ambil. 

Lalu, bagaimana ceritanya sampai kamu bisa lanjut kuliah di Italia dengan disponsori perusahaan?

Saat saya bergabung dengan Eni di Jakarta, kebetulan sedang ada pembukaan tawaran beasiswa ke Eni Corporate University (ECU) di Milan, Italia. Saya pun ikut mendaftar, hingga pada Juni 2018 saya menerima pemberitahuan dari ECU bahwa proses aplikasi beasiswa saya diterima. Saya langsung siap-siap berangkat karena programnya akan dimulai bulan Juli!

Selama dua bulan pertama saya di sana, saya harus mengikuti kelas Bahasa Italia. Kelas bahasa ini termasuk program yang diadakan oleh ECU dan bersifat wajib untuk seluruh mahasiswa internasional/non-Italia. Walaupun kelas-kelas di ECU menggunakan Bahasa Inggris, penggunaan Bahasa Italia sangat penting untuk kehidupan sehari-hari di sana dikarenakan kebanyakan masyarakat Italia tidak terlalu nyaman berbicara Bahasa Inggris.

Untuk program S2-nya sendiri kita tempuh selama 10 bulan secara full-time dan nilai kami harus mencukupi untuk bisa lulus. Jika tidak, ada penalti yang akan dikenakan.

Mata kuliahnya sendiri seperti apa sih?

Program studinya sendiri berjudul Management and the Economics of Energy and the Environment, atau disingkat dari Bahasa Italia menjadi MEDEA. Jadi, program ini adalah program MBA dimana kurikulumnya tidak hanya mencakup disiplin ekonomi namun juga mencakup disiplin ilmiah dan teknik dalam sektor energi dan lingkungan yang dibuat sesuai dengan kriteria talenta profesional yang dibutuhkan oleh Eni. Program ini dibagi ke dalam tiga fase, dimana dua fase pertama terdiri dari mata kuliah wajib dan di fase ketiga kita bisa memilih spesialisasi yang kita inginkan. Pengajarnya terdiri dari tim guru in-house; dosen dan profesor yang berasal dari universitas terkemuka di Italia dan luar negeri; serta manajer dan para ahli dari Eni maupun perusahaan lingkungan dan energi lainnya.

Selain belajar ekonomi dan bisnis, kami juga belajar tentang ilmu teknik migas, ilmu geopolitik, keselamatan di lapangan, dan lingkungan hidup. Selama program, beberapa kali para VP perusahaan hadir untuk menjadi pembicara tamu. Selain belajar teori di kelas, kami juga beberapa kali melakukan kunjungan ke lapangan.

Dari pengalamanmu di program MEDEA, hal apa saja yang paling berkesan buatmu?

Topik-topik mata kuliah yang paling ngena ke saya adalah geopolitik energi, strategi pengembangan lapangan, ekonomi dan kebijakan lingkungan, serta circular economy. Saya belajar bahwa dalam bisnis migas, penting bagi kita untuk memahami geopolitik dan menyusun strategi berkomunikasi dengan pemerintah. Di sisi lain, saya juga belajar mengenai isu lingkungan dalam skala global seperti latar belakang adanya perjanjian-perjanjian yang dilakukan oleh negara-negara PBB yang didasari isu lingkungan. 

Ghina dan timnya mendapatkan penghargaan Luciano Novelli Award untuk "Best Final Project", untuk tugas akhir mereka tentang Decarbonization in Eni's Upstream. Penghargaan diserahkan langsung oleh Chief Exploration Officer Eni
Ghina dan timnya mendapatkan penghargaan Luciano Novelli Award untuk “Best Final Project”, untuk tugas akhir mereka tentang Decarbonization in Eni’s Upstream. Penghargaan diserahkan langsung oleh Chief Exploration Officer Eni

Menariknya, di kelas, saya adalah satu-satunya mahasiswa yang berlatar belakang S1 psikologi. Teman-teman saya rata-rata berlatar belakang engineering, ekonomi, dan geologi. Awalnya, saya merasa minder karena tidak memiliki latar belakang yang sesuai, dan merasa harus bekerja lebih keras untuk memahami pelajaran di kelas. Ditambah lagi, saya tidak memiliki banyak waktu luang untuk belajar secara ekstra. Tapi pada akhirnya, saya lega juga karena prestasi saya di kelas cukup baik, dan pada tiap presentasi saya di kelas, saya mendapatkan feedback yang positif. Dari sini saya belajar bahwa selama ada kemauan, pasti ada jalan.

Salah satu pengalaman yang sangat berkesan saat kuliah di ECU adalah saat saya terpilih untuk mewakili mahasiswa program MEDEA untuk memberikan testimonial di video profil universitas dimana video ini dimuat di website perusahaan yang dapat diakses oleh semua orang. Wah, awalnya saya lumayan deg-degan saat tau kalau videonya akan dimuat di website perusahaan dan dapat dilihat semua orang, tapi untungnya perekaman video tersebut berjalan lancar.

Lalu apakah ada ikatan kerja setelah selesai menempuh program MEDEA?

Ya, karena status saya sebagai karyawan, setelah lulus dari program MEDEA saya harus melanjutkan kerja di Eni selama dua tahun. Sedangkan untuk teman-teman MEDEA yang belum berstatus karyawan, setelah lulus, mereka diberi waktu dua bulan untuk menunggu tawaran kerja dari Eni sebelum bisa memilih untuk bekerja di tempat lain. Jika ada tawaran dari Eni, mereka diwajibkan mengambil tawaran tersebut dan menjadi karyawan setidaknya selama 24 bulan. 

Seperti apa pengalamanmu bersosialisasi dengan teman-teman di ECU?

Kelas di program MEDEA berjumlah 40-50 orang, dengan komposisi kurang lebih 50% mahasiswa Italia dan 50% mahasiswa internasional dari anak perusahaan Eni di seluruh dunia. Teman-teman sekelas saya sangat beragam – ada yang berasal dari Angola, Algeria, Ghana, Kongo, Kazakhstan, Libya, Turkmenistan, Siprus, Mesir, dan Meksiko. Awalnya memang terasa ada pembagian antara mahasiswa Italia dan internasional, tapi lama-lama semuanya berbaur juga. 

Ghina4
Merayakan ulang tahun bersama teman-teman MEDEA di Milan

Karena kehidupan sosial disana sangat internasional, saya senang dapat bertukar pikiran dengan banyak orang yang memiliki perspektif berbeda terhadap sesuatu dikarenakan hal ini membuat saya belajar menghargai perbedaan sekaligus menambah wawasan. Saya juga belajar untuk bekerja sama dengan orang-orang yang berasal dari latar belakang yang berbeda. Di setiap proyek kami pasti berkelompok, sehingga kami harus belajar menyatukan pikiran secara kelompok dan berargumen berdasarkan data ilmiah. Enaknya, di antara para mahasiswa tidak ada hard feelings kalau ada perbedaan pendapat. Di sana kita belajar untuk mengembangkan hubungan pertemanan dan percakapan yang sehat.

Salah satu pengalaman mengesankan buat saya adalah waktu saya menceritakan pengalaman diskriminasi rasial yang terjadi kepada saya di Milan. Teman-teman saya dari Italia meminta maaf kepada saya atas perbuatan beberapa oknum tak dikenal tersebut. Mereka mengakui bahwa memang masih ada orang-orang berpandangan diskriminatif terhadap orang asing. Kami pun melanjutkan percakapan tentang bagaimana kita bisa menghargai perbedaan budaya.

Di luar akademis dan karir, apakah ada pelajaran hidup berharga yang kamu pelajari dari pengalamanmu di Italia?

Dari pengalaman saya di sana, saya belajar banyak keterampilan hidup, seperti keterampilan berkomunikasi, keterampilan sosial, dan juga survival skill! Saya juga bersyukur bahwa pengalaman saya bersekolah di SMA semi-militer dan hidup berasrama selama SMA serta pengalaman berkuliah jauh dari keluarga sangat membantu saya untuk hidup mandiri dan dapat beradaptasi pada situasi-situasi yang berbeda. Saya sendiri senang dihadapkan dengan bermacam tantangan karena saya yakin hal tersebut membuat kita lebih siap dalam menghadapi dan mengatasi tantangan berikutnya dengan lebih baik.

Selain itu, hidup di luar negeri membuat saya merasa bertanggung jawab dalam merepresentasikan Indonesia. Saya juga jadi belajar lebih banyak tentang Indonesia karena seringkali saya harus menjelaskan tentang keberagaman budaya Indonesia dimana saya terkadang harus melakukan riset sendiri supaya tidak salah jawab. Hal ini membuat saya jauh lebih mencintai Indonesia dan bangga menjadi orang Indonesia. 

Ghina dan teman-temannya dari MEDEA berkesempatan untuk jalan-jalan ke beberapa negara Eropa, termasuk Austria
Ghina dan teman-temannya dari MEDEA berkesempatan untuk jalan-jalan ke beberapa negara Eropa, termasuk Austria

Pelajaran hidup berharga yang juga saya dapatkan adalah pentingnya untuk mengendalikan diri untuk tetap positif dalam menghadapi situasi-situasi yang dirasa sulit atau berat untuk dilalui. Menurut saya hal ini sangat penting untuk membuat diri kita tetap optimis dan tak patah semangat dalam menghadapi tantangan-tantangan yang kita hadapi. I personally believe in the power of attraction and by  thinking positively, we attract positivity towards us. Dengan menerapkan hal ini, energi saya bisa terfokus untuk hal-hal yang lebih penting. Saya juga percaya bahwa selama kita fokus mewujudkan mimpi kita, tidak ada yang tidak mungkin.

***

Ghina5Ghina Atmaniwedhana is a dreamer and is currently working as a Government Affairs Specialist in Eni Indonesia. She holds bachelor degree in Psychology from University of Gadjah Mada and master degree in Management and Economics in Energy and Environment (MEDEA) from Eni Corporate University in Italy under a scholarship from Eni. During her study in ECU, her group was awarded Luciano Novelli Award for the best final project. She has a strong interest in politics and the Sustainable Development Goals (SDGs), particularly in environmental issues. Connect with her on her Instagram account on @rginaaw or email rginaaw@gmail.com.

***

Sumber foto: Koleksi pribadi Ghina Atmaniwedhana