Stereotip tidak selamanya benar: Belajar dari ragam karakter mahasiswa internasional

0
317
Khairul Ikhwan with friends from Southeast Asia at the University of Manchester
Sumber: dokumentasi pribadi

Tidak bisa dipungkiri, terkadang kita memiliki stereotip terhadap kelompok tertentu baik positif maupun negatif. Asumsi atas nilai karakter yang melekat pada suatu kelompok tersebut bisa datang dari pengalaman sehari-hari, interaksi di media sosial, atau anekdot yang digeneralisir. Kontributor Khairul Ikhwan (Irul) menceritakan pengalamannya dengan stereotip selama menjalani studi S2 di University of Manchester, Inggris Raya, yang membuahkan pelajaran yang sangat berarti.

***

Salah satu pengalaman penting dari menjalani studi di luar negeri adalah interaksi dengan mahasiswa-mahasiswi dari berbagai macam negara, khususnya interaksi dalam proses belajar. Selama mengenyam pendidikan dari TK sampai S1 di Indonesia, satu hal yang saya amati dan pelajari adalah adanya nilai, sifat, atau karakter yang biasanya melekat pada siswa dengan latar belakang etnis atau budaya tertentu. Ini biasa disebut juga dengan istilah stereotip.

Stereotip pada umumnya hanya didasarkan atas prasangka yang subjektif dan belum tentu tepat. Kadang stereotip memberikan label negatif pada suatu kelompok, namun tidak jarang juga ada stereotip yang bersifat positif. Contohnya, salah satu pengalaman saya mengajarkan bahwa teman-teman Indonesia saya yang keturunan Tiongkok banyak yang pintar, cerdas, dan rajin sehingga bisa meraih nilai yang sempurna di kelas.

Alhasil, saya berangkat menempuh pendidikan S2 di Inggris dengan memiliki pemikiran, “Jika orang keturunan Tiongkok saja sudah sepandai ini, bagaimana orang asli dari Tiongkok dan bagaimana saya bisa bersaing dengan mereka?”

University of Manchester, UK
University of Manchester, tempat Irul menempuh studi S2. Sumber: manchester.ac.uk

Saya menjalani studi S2 jurusan Corrosion Control Engineering di University of Manchester, Inggris Raya, pada tahun 2014-2015. Angkatan saya berjumlah 29 mahasiswa dengan komposisi 5-6 orang dari Tiongkok, 1 orang dari India, 6 orang dari Asia Tenggara, 5 orang dari Timur Tengah, 2 orang dari Inggris, 1 orang dari Kanada, 3 orang dari Amerika Selatan, dan 5 orang dari benua Afrika.

Angkatan saya ini memiliki komposisi latar belakang etnis dan negara yang cukup seimbang jika dibandingkan dengan kelompok mahasiswa di program atau bahkan fakultas lain. Layaknya kampus-kampus di Inggris Raya, University of Manchester saat itu memiliki jumlah mahasiswa Tiongkok yang sangat besar, bahkan salah satu program di fakultas saya memiliki populasi mahasiswa Tiongkok sebesar 90% dari total siswa.

Setelah saya menjalani studi bersama kawan-kawan dari berbagai negara itu, saya bisa mengatakan bahwa memang betul, stereotip tidak selalu tepat. Kenyataan yang saya hadapi ternyata cukup bertolak belakang dengan stereotip yang sudah ada di kepala saya. Contohnya, belum tentu mahasiswa dari negara atau latar belakang etnis tertentu selalu menjadi yang paling fokus dan unggul di bidang akademik.

Saya cukup dikejutkan ketika suatu waktu saya mengerjakan tugas kelompok. Saat itu kami diharuskan mengirim sebuah presentasi pada hari Senin, namun rekan-rekan sekelompok saya yang berasal dari Tiongkok memutuskan untuk berpesta semalam suntuk di London dan berpesan bahwa presentasi bisa dikerjakan dengan hasil maksimal, hanya dua jam sebelum tenggat waktu.

Saya menceritakan anekdot ini sama sekali bukan untuk menjelek-jelekkan atau menyalahkan rekan-rekan saya itu. Namun, saya ingin menunjukkan bahwa stereotip hanyalah asumsi dan konsepsi yang tidak selalu benar. Melihat kenyataan ini justru membuahkan hal yang positif: menghilangkan rasa minder dan memotivasi diri untuk belajar lebih giat. Yang tidak kalah penting, pengalaman ini juga mengajarkan saya untuk tidak terjebak pada stereotip.

Khairul Ikhwan with his classmates at the University of Manchester on the last day of exams
Irul dengan teman-teman seangkatan di program studi S2-nya di hari terakhir ujian. Sumber: dokumentasi pribadi

Selain teman-teman dari Tiongkok, saya memperhatikan sesuatu yang unik dari teman sekelas saya yang berasal dari India. Didukung kemampuan Bahasa Inggris yang mumpuni, ia sangat aktif dalam bertanya, berdiskusi, dan menjawab pertanyaan yang diajukan dosen. Layaknya kebanyakan orang, terkadang ia memberikan jawaban yang kurang tepat atau bahkan salah ketika menjawab pertanyaan dosen.

Saya terkadang tidak habis pikir mengapa ia tetap berani menjawab dengan jawaban yang sangat salah serta menanyakan hal-hal yang sifatnya mendasar dan cenderung tidak perlu ditanyakan. Pengalaman serupa juga saya temui ketika bekerja dengan orang India.

Namun, dari pengamatan ini saya jadi belajar untuk lebih berani berpendapat, menjawab pertanyaan, dan bertanya jika ada hal yang tidak mengerti. Sungguh, para dosen, teman sekelas, sampai rekan kerja sebetulnya akan sangat menghargai jika kita melakukan hal-hal ini karena mereka jadi bisa ikut belajar dari pertanyaan atau jawaban yang kita sampaikan.

Tak lupa juga dengan kawan-kawan dari Malaysia. Tumbuh di era Facebook dan masa kejayaan komunitas daring Kaskus, saya banyak terekspos pada insiden-insiden pertukaran caci maki antara warganet Indonesia dan Malaysia yang dipantik oleh topik-topik seperti sengketa pulau antara kedua negara, kasus penyiksaan TKI, hingga serunya perhelatan Piala AFF 2010.

Isu-isu di atas membuat saya jadi memiliki pemikiran bahwa orang-orang dari negara tetangga yang satu ini cenderung sombong atau pongah. Ketika menjalani studi S2, saya pun termotivasi untuk bisa lebih berprestasi daripada mereka. Namun, seperti halnya pengalaman saya yang lain yang sudah saya ceritakan di atas, realita tidak seperti yang saya bayangkan.

Prasangka-prasangka negatif itu ternyata hanya dirasakan di dunia maya. Justru perasaan sebagai saudara serumpun antara bangsa Indonesia dan Malaysia menjadi perekat pertemanan dan kegiatan belajar sehari-hari selama kami merantau di Manchester. Kami bahkan beberapa kali mengadakan acara kecil-kecilan untuk lebih mengenal satu sama lain, sambil mencicipi kuliner dan belajar memahami bahasa masing-masing. Persaudaraan yang lebih kental pun terwujud.

Khairul Ikhwan with his classmates during graduation day at the University of Manchester, UK
Irul berfoto bersama teman-teman seangkatannya di hari kelulusan mereka. Sumber: dokumentasi pribadi

Beberapa cerita pengalaman di atas menjadi pelajaran yang sangat berharga dalam hidup saya. Stereotip memang ada, datang dari lingkungan tempat kita tumbuh atau konsumsi media sosial. Jangan sampai stereotip ini membuat kita menjadi minder, tidak percaya diri, atau yang terburuk adalah memperlakukan orang dari latar belakang etnis atau negara lain dengan tidak adil.

Yang juga penting, coba kurangi memberikan cap atau label tertentu pada suatu kelompok, apalagi yang bersifat negatif, karena karakter manusia sangatlah beragam dan kita semua pada dasarnya adalah saudara. Terlebih, pergaulan lintas budaya dapat membuka kesempatan dan cakrawala baru. Hal ini akan sangat berharga dan berkontribusi terhadap proses aktualisasi diri kita dalam kehidupan sehari-hari.