Kunci Meraih Beasiswa: Dreams & Resilience

0
398
Chevening Welcome Event, Excell London, October 2018

Kontributor dan scholarship coach Retno Lestari berbagi tips, nasihat, dan inspirasi untuk meraih beasiswa impian.

***

Halo dream catcher,

Kalau kalian pembaca setia Indonesia Mengglobal, kalian mungkin pernah membaca tulisan saya berjudul Ke Luar Negeri Bukanlah Mimpi, sebuah tulisan yang naif tapi justru banyak mendapat respon baik via komen maupun melalui email. Terharu rasanya setiap kali saya menerima email yang menyatakan bahwa kalian terinspirasi dengan apa yang sudah saya kerjakan dan lalui. Enam tahun telah berlalu sejak tulisan itu dipublikasikan. Semoga yang pernah membaca tulisan saya atau yang pernah mengirim email ke saya sudah mencapai mimpi kalian satu per satu.

Sekarang saya ingin berbagi cerita lagi mengenai mimpi yang terwujud. Saya kini resmi menjadi salah satu alumni beasiswa Chevening, beasiswa bergengsi dari pemerintah Inggris yang sudah lama saya idam-idamkan. Butuh waktu empat tahun setelah saya menulis artikel di atas, untuk mendapatkan apa yang saya impikan. Pada tahun 2018 saya terbang ke Inggris untuk berkuliah di Loughborough University, jurusan MSc Internet Technology & Business Management.

Retno bersama Chevening scholars lainnya di acara Chevening Welcoming Party, UK Embassy, Juli 2018
Retno berpose dengan Chevening scholars lainnya di acara Chevening Welcoming Party, UK Embassy, Juli 2018

Butuh dua tahun bagi saya untuk bisa mendapatkan beasiswa penuh ini. Sejak tahun 2016, saya sangat aktif dan intensif belajar IELTS, mencari kampus, dan mencari beasiswa. Total 7 beasiswa gagal saya raih pada tahun 2016-2017, mulai dari Chevening, Australia Awards Scholarship (AAS), Erasmus, Westminster Full Scholarship, Endeavour, Kominfo, hingga LPDP. Rasa patah hati karena kegagalan sampai hilang tergantikan dengan kekebalan. Mengejar beasiswa pun menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan di saat itulah saya menuai hasilnya.

Saya memulai mencari beasiswa pada Agustus 2016. Beasiswa Chevening adalah yang pertama saya apply. Saat itu saya adalah ibu muda yang punya anak umur satu tahun dengan pekerjaan tetap, dan sedang merintis sebuah start-up. Kebayang bagaimana sibuknya saya? Tapi keinginan untuk bisa menimba ilmu lebih tinggi lagi memaksa saya untuk berusaha jauh lebih keras.

“Tidak ada waktu” hanyalah alasan belaka, jadi saya memaksa diri meluangkan waktu dua kali 40 menit di commuter line untuk melakukan semua persiapan terkait beasiswa. Saya belajar IELTS, menulis esai, mencari kampus, mengisi formulir, dan lain sebagainya di perjalanan pergi dan pulang kantor bermodalkan notes di hp saya. Jadi, waktu dan tempat bukanlah alasan untuk tidak bisa mencapai target kita.

Gagal di percobaan pertama, membuat saya semakin penasaran. Saya pun terus memperbaiki esai dan mencoba melamar berbagai beasiswa lainnya yang saya sudah sebut di atas. Penolakan demi penolakan saya lalui. Kemudian sedikit rezeki mampir di akhir 2017, ketika saya lolos ke tahap wawancara beasiswa LPDP. Terpukul rasanya ketika saya sudah sampai pada tahap wawancara, tapi saya tidak mampu melampauinya. Saya pun harus berdamai dengan diri saya dan berkata, “Mungkin bukan beasiswa ini rezeki penuh saya.”

Bersama teman-teman Chevening scholars dari Indonesia di Tower Bridge, London, 2019
Bersama teman-teman Chevening scholars dari Indonesia di Tower Bridge, London, 2019

Di akhir 2017, saya kembali melamar beasiswa Chevening dengan persiapan yang jauh lebih matang dan pemahaman yang jauh lebih mendalam tentang apa itu beasiswa dan kenapa saya mengejar beasiswa. Bersama dua orang sahabat, kami bahu membahu membangun esai, mengikuti berbagai seminar beasiswa, dan ikut serta di beberapa kegiatan sosial guna menambah amunisi.

Kemudian berbekal visi yang jelas dan terukur, saya lolos ke wawancara Chevening pada awal 2018. Saya juga lolos ke wawancara dua beasiswa lainnya. Ternyata ketika kita sudah paham celahnya, banyak pintu akan terbuka. Pada akhirnya saya memilih mundur dari kedua beasiswa yang lain dan memilih Chevening, cinta pertama saya.

Jadi buat kalian yang masih belum berhasil juga meraih beasiswa, jangan menyerah! Kalau saya bisa, kalian juga pasti bisa. Saya adalah bukti nyata bahwa keinginan akan mengalahkan segala hambatan. Ini rangkuman tips singkat dari saya kalau kamu masih belum berhasil:

Retno bersama Chevening scholars dari negara-negara lain di Loughborough University
Retno bersama Chevening scholars dari negara-negara lain di Loughborough University
  1. Be resilient. Jadilah pribadi yang tangguh, yang tertantang dengan kegagalan. Gagal itu cuma masalah waktu. Kalau kamu lelah, jangan berhenti, istirahat sebentar lalu lanjut lagi.
  2. Luangkan waktu setiap hari. Kalau kamu cuma punya waktu kurang dari satu jam, tidak apa-apa, yang penting kamu konsisten. Lawan rasa malas dan kebosanan itu dengan berkhayal yang indah-indah saat kamu meraih beasiswa nantinya. Saya adalah produk peraih beasiswa yang kurang waktu tapi berhasil karena konsistensi.
  3. Temukan partner untuk meraih beasiswa. Partner ini penting karena akan membantu kalian lebih bersemangat untuk belajar dan membangun aplikasi beasiswa. Kalau kalian sedang merasa down, partner inilah yang akan menyemangati kalian.
  4. Target beasiswanya, jalani prosesnya, jangan pikirkan hasil akhirnya. Banyak sekali pencari beasiswa yang saya coach, sudah ragu duluan akan keberhasilannya. Ini tidak akan membantu kalian untuk meraih beasiswa. Fokuskan energi untuk menyiapkan aplikasinya.
  5. Jangan hanya mengerjakan praktisnya saja, tapi kamu juga harus memahami filosofinya. Kenapa kamu mau belajar dengan beasiswa? Apa visi kamu? Kenapa beasiswa itu ada? Apa maksud sebuah institusi memberikan beasiswa? Kalau kamu tidak dapat beasiswa itu, lalu kenapa? Sebelum kamu bisa memberikan jawaban yang baik dari pertanyaan-pertanyaan ini, keberhasilan kamu mungkin akan tertunda.