Adigang Adigung Adiguna Tuhan di Negara ‘Eropanya Asia’

0
357
Keberhasilan dan keberuntungan adalah mengajar kampus yang mengajar. Foto oleh penulis.

Eric Stenly akan membagikan pengalamannya menjalani perkuliahan di Turki, beserta beberapa proses dan tahapan yang perlu dilalui sebelumnya. Bagi yang penasaran bagaimana mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Turki, ayuk baca pengalaman Eric berikut.

***


Agustus 2014 adalah bulan yang sangat berarti buat saya. Selain saya lahir di bulan ini, bulan ini merupakan bulan bangkitnya saya dari masa duka kehilangan nenek, masa pemilihan beasiswa Turki atau Inggris, dan juga masa memilih kota tercinta atau bekerja untuk sektor wisata di ibu kota.  Dan saya memutuskan untuk mengambil beasiswa dari Turki (Turkiye Burslari) dan memulai hidup baru saya di negara dua benua, Turki.

Proses Seleksi Umum untuk Kampus Turki

Sebelum saya memulai hidup panjang di kampus Turki, Ege Universitesi, kami semua warga negara asing yang terpilih diharuskan mengikuti bimbingan Bahasa Turki di TÖMER untuk digodok Bahasa Turki-nya. TÖMER merupakan akronim dari Türkçe Öğretimi Uygulama ve Araşterma Merkezi, yang artinya Pusat Penelitian dan Pelatihan Bahasa Turki dan Bahasa Asing. Namun, untuk mahasiswa lain yang tidak berbeasiswa, bila ingin melanjutkan studi di Turki dengan Bahasa Turki sebagai bahasa pengantarnya, mahasiswa juga bisa mendaftar di masing-masing universitas dan mendapatkan ujian bahasa (Muafiyet Sınavı) sebagai tolak ukur untuk berbahasa Turki. Namun, tak jarang pula pihak universitas sendiri memberikan kesempatan kepada mahasiswa asing untuk mengambil pendidikan Bahasa Turki dan kemudian menyerahkan sertifikat bertingkat C1.  Bahasa Turki adalah bahasa yang didominasi oleh bahasa Persia dan Arab.

Izmir adalah kota tempat saya bermukim, bukan Ankara atau Istanbul yang lebih dikenal. Kota ini banyak disebut sebagai “Eropanya Asia”. Universitas-universitas di kota ini juga dipertimbangkan kontribusinya dalam pendidikan Turki secara nasional. Ege University (5 besar, PTN), Dokuz Eylul University (10 besar, PTN), Yaşar University (PTS), Izmir Democracy University (PTS), Gediz University (PTN), Izmir University (PTS) adalah nama-nama kampus yang bisa kita temukan di sana. 

Secara umum, seleksi masuk kampus-kampus di Turki yang berbeasiswa hanya dilakukan berdasarkan transkrip nilai ijazah terakhir yang diakui oleh YÖK (lembaga di Turki yang bertanggung jawab atas sistem pendidikan), tanpa tes tertulis atau wawancara, tanpa TOEFL/ IELTS, membuat esai, dan sebagainya. Meskipun jalur non-beasiswa tidak membutuhkan TOEFL dan IELTS, kampus turki membebankan persyaratan tes inggris yang diakui oleh Ölçme, Seçme ve Yerleştirme Merkezi (ÖSYM) atau YÖK, hasil tes ALES (sejenis GRE atau GMAT  versi Turki)  atau nilai  GRE/ GMAT itu sendiri. Selain itu, tidak ada uang pangkal untuk PTN dan biaya hidup pun relatif hampir sama dengan beberapa kota di Indonesia, yaitu sekitar Rp 3–6 juta per bulan, sudah termasuk biaya kos atau asrama (tempat tinggal), makan, transportasi, dan lainnya. Kuliah di PTN Turki menggunakan bahasa Turki sehingga dibutuhkan sertifikasi bahasa Turki untuk bisa diterima di kampus-kampus Turki. Bahkan beberapa kampus Turki sudah membuka pendaftaran di Indonesia. 

Sistem perkuliahan di Ege Universitesi

Lembaga pendidikan tinggi di Turki terdiri dari universitas, fakultas, institut, sekolah pendidikan tinggi, sekolah kejuruan pendidikan tinggi, dan pusat penelitian aplikasi. Seperti pada umumnya negara-negara di dunia, universitas adalah lembaga pendidikan tinggi utama di Turki yang memiliki otonomi akademik dan mengikuti hukum publik serta bertanggung jawab akan penelitian ilmiah dan publikasi.

Program tingkat pascasarjana terdiri dari program magister dan doktor yang terkategori “dengan tesis” atau “tanpa tesis”, setidaknya dua tahun. “Dengan tesis”, program master terdiri dari penyelesaian kursus yang ditentukan; diikuti oleh pengajuan tesis. Adapun untuk program “tanpa tesis”, mahasiswa hanya menyelesaikan program pascasarjana. Untuk bisa berkuliah di Turki, yang pasti saya membutuhkan VISA pelajar dan memiliki  Izin tinggal (Ikamet Belgesi). Izin ini diperlukan dari Departemen Luar Negeri pada Direktorat Keamanan di setiap provinsi dan saya tidak memiliki hak hukum untuk bekerja, baik di kantor publik atau swasta. Serta saya diharuskan untuk memiliki asuransi sehingga para mahasiswa yang sedang belajar di Turki telah terlindungi untuk biaya rawat inap atau layanan medis atau perawatan yang tidak tersedia di kampus universitas.

Fakultas Komunikasi, tempat penulis belajar. Foto oleh Ege Universitesi
Fakultas Komunikasi, tempat penulis belajar. Foto oleh Ege Universitesi

Kampus Ege Universitesi memiliki standar nilai minimal yang cukup tinggi yaitu 75 dari skala 100.  Jika mahasiswa mendapatkan nilai di bawah 75, mereka harus mengambil ujian ulang (bütünleme) atau mengulang mata kuliah tersebut. Mahasiswa di jurusan saya, public relation and promotion atau halkla iliskiler ve tanitim harus bisa menempuh 120 SKS untuk bisa mendapat gelar yüksek lisans atau  Master of Science (MS). Kredit ini termasuk seminar dan skripsi, karena saya mengambil program dengan tesis atau tezli.

Aktivitas sewaktu berkuliah di Turki

Dulu ketika S1, saya belajar berorganisasi dan mengikuti berbagai macam lomba. Untuk masa kuliah  S2, saya berfokus belajar dan berkontribusi internasional saja. Semester pertama dan kedua, saya hanya fokus nilai-nilai sekolah, semester ketiga dan keempat, mengikuti Program Erasmus dan mengerjakan tesis.  Sistem seleksi Erasmus di kampus, Ege Universitesi, cukup rumit jika dibandingkan dengan beberapa kampus lain di turki. Seleksi ini melibatkan seleksi IPK, tes tulis, dan wawancara. Hasil seleksinya pun diumumkan dua minggu kemudian. Alhamdulillah, saya diberangkatkan ke Spanyol dan satu-satunya wakil fakultas saya ke negara tersebut. Menangis bersyukur? Pasti Mbak Mas. Malah saya merasa shock dan sampai menangis di bus karena lolos dari ratusan pendaftar, yang notabene saya orang asing yang dan belum tahu sistem pendidikan di Turki. 

Selama program Erasmus, ada tawaran mengajar  di 4 tempat di Spanyol. Saya bangga karena mewakili Asia dan takut karena dijadikan standar kualitas Asia. Kalau saya dinilai kurang bagus, pasti semua orang-orang Asia dinilai kurang bagus juga. Belajar sudah, kontribusi internasional sudah, kenikmatan yang jauh lebih besar datang, yaitu penawaran menjadi dosen kampus saya. Pada zaman itu, kampus saya seperti UGM-nya Turki dan tawaran mengajar sebelum lulus datang kepada saya.

Aviation Faculty, tempat penulis mengajar. Foto oleh Gundem Bakis
Aviation Faculty, tempat penulis mengajar. Foto oleh Gundem Bakis

Mengajar di Turki mulai dari anak-anak sampai bapak -bapak pasti ada suka dan dukanya. Karakter masyarakat Turki lebih ke percampuran antara Asia dan Eropa. Beberapa area di Turki sangat berkarakter Asia bahkan cenderung Timur Tengah, seperti area timur. Dan area yang sangat Eropa di bagian barat karena pengaruh Georgia, Yunani, dan bangsa-bangsa lain di Eropa. Unik kan? Memang.. Itu kenapa Turki disebut negara di dua benua, perpaduan kultur dua benua serta kulinernya.

Kembali ke pembahasan sistem pendidikan di Turki dan mahasiswa(i)-nya, seperti pada umumnya kehidupan kampus di Indonesia, ada barisan rajin dan barisan malas. Namun teman-teman mahasiswa di sana lebih kritis dan kultur Eropa sangat terasa di bagian barat Turki, seperti to the point, open-minded, reaktif, dan lain sebaliknya. Untuk masyarakat timur, lebih mengarah ke kultur Arab dan Indonesia yang cenderung pemalu namun sangat ramah dan akrab dengan mudahnya. Dan pengalaman-pengalaman saya ini makin memperkaya formula mengajar saya di kelas-kelas di lima benua. 

Kontribusi dari Indonesia untuk Turki. Foto oleh Penulis.
Kontribusi dari Indonesia untuk Turki. Foto oleh penulis

Turki dan Indonesia, mana yang lebih baik? Setiap negara pasti punya kelebihan dan kekurangan. Dan, saya akan selalu berusaha mencintai bangsa saya dengan cara saya. Bangsa yang telah memberikan kesempatan mendapat beasiswa mulai SMP sampai kuliah S1 saya. Mencinta bukan berarti harus berada di tempat yang sama namun bisa dirasakan keberadaanya. 

 

SHARE
Previous articleKisah Munadhillah Menyelesaikan Program Magister dengan Erasmus+ di Tiga Negara Eropa
Next articleWomen Empowerment through Australian Footy: Ana’s Story
Eric Stenly
Eric Stenly is an international certified educator. He got TESOL, Google Workshop and Training, Harvard, MİT, King's College London and University of Leeds as well as some Australia certifications to teach. Having fifteen years of teaching experiences and public relations and communication management in Latin America, Serbia, Morocco, Mexico, Spain, Turkey and İndonesia, all levels from beginners to advanced, toddlers to adults, from school to university classes. empowers him to create the most suitable formula to educate and supervise his students. He loves combining his communication background to teaching in Turkish, English, İndonesian, Spanish and French.