Mencicipi Pendidikan Kedokteran di Belanda

0
338

Jangan membatasi diri sendiri dalam bermimpi. Pesan inilah yang disampaikan oleh Kontributor kami Fona Qorina di artikel ini. Di awal perjalanannya sebagai mahasiswa jurusan kedokteran di Universitas Indonesia, ia tidak menyangka bahwa ada kemungkinan untuk merasakan perkuliahan di luar negeri. Namun, di tengah studinya, Fona mendapatkan kesempatan untuk menjalani pertukaran pelajar di Universitas Leiden, Belanda. Disana, ia merasakan sistem perkuliahan yang berbeda, yang membuka matanya kepada sudut pandang baru dalam dunia kedokteran. Semoga informasi dan refleksi Fona bisa menjadi insipirasi bagi kita semua.

***

Ketika saya memutuskan menjalani pendidikan kedokteran, saya mengira itu berarti harus mengesampingkan mimpi menempuh pendidikan di luar negeri. Mengingat pola penyebaran penyakit dan kurikulum yang berbeda-beda di setiap negara, kuliah kedokteran di luar negeri terbilang cukup sulit. Lulusan dokter dari universitas luar negeri apabila ingin praktik di Indonesia harus menjalani penyetaraan terlebih dahulu selama beberapa waktu. Selepas lulus menjadi dokter pun, kebanyakan orang lebih memilih untuk melanjutkan pendidikan spesialis, bukan mengambil studi master seperti jurusan lain pada umumnya. Berkaca dari hal tersebut, saya pikir jenjang karir saya sebagai dokter kelak akan mengikuti arus itu: lulus tepat waktu menjadi dokter umum kemudian melanjutkan pendidikan dokter spesialis. Kedua hal tersebut secara praktis jauh lebih mudah dilakukan di Indonesia. Tidak ada tempat untuk saya merasakan pengalaman menjadi mahasiswa internasional, setidaknya begitu pikir saya di awal perkuliahan.

Saat ini memang sudah banyak program kelas internasional untuk pendidikan dokter, salah satunya ada di kampus saya sendiri, Universitas Indonesia. Namun, tentu biaya yang harus dikeluarkan tidak sedikit. Saya sendiri terdaftar sebagai mahasiswa kelas reguler.

Seiring berjalannya waktu, wawasan saya mulai terbuka bahwa ternyata jenjang karir seorang dokter tidak selalu menjadi klinisi. Dokter bisa jadi akademisi, peneliti, atau berkecimpung dalam industri. Perubahan pandangan tersebut, utamanya saya dapat ketika menjalani pertukaran pelajar selama 1 semester di Leiden University Medical Center (LUMC), Belanda. Sebuah pengalaman yang mematahkan kekeliruan saya soal minimnya kesempatan menjadi mahasiswa internasional. Program ini didanai dengan beasiswa penuh dari kampus. Persyaratan seleksinya tidak banyak: transkrip akademis, skor IELTS (min. 6,5)/TOEFL iBT (min. 90), motivation letter, CV dan sesi wawancara.

Belanda dan Indonesia diikat tali sejarah yang sangat kuat, termasuk Universitas Leiden dan Universitas Indonesia. Keduanya adalah universitas tertua di negara masing-masing. Leiden pun merupakan kota penuh sejarah ilmu kedokteran, lengkap diabadikan di Rijksmuseum Boorhave. Kesempatan untuk mencicipi pendidikan kedokteran di Leiden tentu terlalu istimewa untuk disia-siakan.

Meski begitu, proses saya memutuskan untuk akhirnya berani mendaftar dan berangkat, sama sekali bukan perkara mudah. Pertimbangan terbesarnya adalah karena itu berarti harus memperpanjang masa studi selama 6 bulan. Sistem perkuliahan yang ada tidak memungkinkan saya untuk mentransfer nilai sehingga harus mengambil cuti dari kampus. Berpisah dengan teman-teman satu angkatan. Namun, pada hari pertama saya sampai di Bandara Schiphol, saya langsung tersadar kalau pengalaman baru yang menunggu, jauh lebih berharga dibanding kekhawatiran tidak lulus tepat waktu.

Saya terdaftar sebagai peserta program Half Minor Heart and Blood Vessels. Program ini merupakan bagian dari kurikulum untuk mahasiswa tingkat 3 jurusan biomedis dan kedokteran. Terdapat 16 jurusan yang terbuka bagi international students dengan pengantar Bahasa Inggris. Informasi selengkapnya dapat diakses di tautan ini. Satu kelas berisi 19 orang, 2 orang internasional dan sisanya adalah mahasiswa lokal.

Heart and Blood Vessels 2019
Heart and Blood Vessels 2019

Iklim Riset yang Hangat

Pelajaran paling berkesan bagi saya selama proses perkuliahan di LUMC adalah tentang bagaimana mereka menciptakan iklim riset yang mumpuni dengan selalu mengintegrasikan kedokteran dan sains.  Setiap minggu, ada kegiatan Paper Presentation di mana kami harus melakukan telaah kritis jurnal dengan topik tertentu, kemudian mempresentasikannya. Tugas ini sangat melatih sistematika berpikir ilmiah yang berbasis bukti. Sebagai tugas final di akhir program, kami diharuskan menulis Case Report berisi sintesis penelitian terbaru tentang suatu penyakit.

Ada pula kunjungan ke Experimental Cardiology Laboratorium, di sana dipaparkan tentang riset-riset yang sedang berlangsung dan tawaran terbuka untuk bergabung. Awalnya saya skeptis dengan penelitian berbasis laboratorium karena terkesan masih sangat jauh untuk benar-benar bisa diaplikasikan. Namun, fasilitas  dan hasil riset di sana membuat saya terpana karena mereka berhasil menciptakan penelitian yang bermanfaat langsung secara klinis. Prinsip yang sangat ditekankan adalah From Bench to Bedside: hasil penelitian yang dikerjakan di laboratorium akan diterapkan langsung  untuk pasien di ruang perawatan. Antusiasme untuk menciptakan suatu hal baru adalah semangat yang paling terasa, they never settle for less. Ternyata, menjadi dokter dan ilmuwan itu bukan pilihan, keduanya justru harus dilakukan secara bersamaan.

Bahkan ada sesi kuliah formal tentang peluang PhD for MD, sebuah insight yang sejujurnya belum pernah saya dapatkan. Apresiasi pemerintah setempat pun sangat tinggi untuk riset, mahasiswa PhD akan diberikan grant pada hari kelulusannya sebagai bentuk penghargaan. Tergambar jelas kesenjangan soal riset jika dibandingkan dengan Indonesa. Menurut saya, saat ini pendidikan kedokteran di Indonesia lebih berfokus pada bagaimana mendiagnosis dan menatalaksana pasien dengan tepat, sementara di Belanda sudah sampai tahap mengembangkan ilmu pengetahuan. Tentu saja, kita berharap suatu hari nanti Indonesia akan mulai menuju ke arah sana.

Kegiatan Kuliah dan Diskusi

Suasana diskusi dalam kelas
Suasana diskusi dalam kelas

Perbedaan sistem pendidikan yang paling terasa adalah bagaimana mereka menyampaikan kuliah umum. Durasi satu kuliah hanya dibatasi selama 45 menit. Antar kuliah pun diberi jeda 15 menit dan semuanya tepat waktu. Hal tersebut sangat membantu saya untuk fokus memperhatikan dan tidak mengalami overload informasi. Materi kuliah dikemas sangat padat dan efisien dalam poin-poin singkat. Dosen lebih banyak menjelaskan menggunakan ilustrasi dan elaborasi dengan bukti ilmiah, mayoritas referensi yang ditampilkan pun adalah jurnal penelitian mereka sendiri. Sementara itu, ujian dilaksanakan 3 minggu sekali dengan format esai untuk menguji pemahaman konsep dan alur berpikir secara komprehensif.

Perkuliahan di sana banyak membantu saya belajar komunikasi efektif. Bagaimana menyampaikan sesuatu langsung to the point, tanpa harus malu ketika berpendapat. Yang paling jelas terasa adalah tidak ada batas antara dosen dan mahasiswa. Semua dosen menerapkan prinsip egaliter dan sangat membuka kesempatan berdiskusi, bahkan tidak segan mengatakan tidak tahu jika memang mereka belum tahu. Pesan mereka: yang paling penting sebagai ilmuwan adalah mencintai ilmu, bukan mencintai diri sendiri.

website lumc
Apresiasi dari Head of Laboratorium Experimental Cardiology

Setiap akhir diskusi, selalu ada sesi umpan balik. Meski masyarakat Belanda terkenal straight-forward dalam menyampaikan kritik, saya justru mengagumi cara mereka mengapresiasi. Sepulang dari Belanda, saya sempat menulis tinjauan pustaka terkait riset di sana dan menyampaikannya lewat e-mail kepada supervisor. Tanpa disangka, beliau menyambut hangat dan apresiatif, bahkan hingga mempublikasikannya di website.

Aspek Pendidikan Klinis  

Masa studi pendidikan kedokteran di Belanda tidak jauh berbeda dari Indonesia, 3,5 tahun menjalani program Bachelor dan dilanjut dengan 2 tahun rotasi di rumah sakit (disebut program Master). Selama di sana, saya memang tidak belajar praktik langsung ke pasien. Namun, program tersebut tetap menyuguhkan pengalaman-pengalaman klinis. Setiap minggu ada kegiatan Patient Demonstration di mana akan dihadirkan pasien dengan penyakit tertentu, kemudian kami berkesempatan untuk mewawancarai pasien tersebut. Selain itu, ada kesempatan observasi operasi jantung serta kunjungan ke unit Hemodialisis (cuci darah). Pengalaman baru bagi saya adalah kesempatan workshoppemasangan stent pada pembuluh darah jantung.

fona3
Workshop Simulasi Percutaneus Coronary Intervention (PCI)

Beranilah bermimpi

Masa studi saya di Leiden memang terbilang singkat, namun di setiap harinya selalu ada pelajaran berharga yang membuka mata saya, terutama terkait profesi yang kelak akan saya jalani. Di kota kecil itu, saya menemukan kembali esensi menempuh pendidikan kedokteran, bukan hanya untuk menolong kesembuhan pasien, seorang dokter juga harus memiliki kontribusi mengembangkan ilmu pengetahuan. Medicine is indeed a lifelong learning, including learning to explore the world!   

Menutup cerita ini, saya ingin kembali mengingatkan diri sendiri tentang kekuatan bermimpi. Proses mewujudukan mimpi adalah perjalanan panjang dan saling berkesinambungan selama hidup, jadi jangan sampai kita membatasi diri sendiri. Kita tidak pernah tahu pintu-pintu mana saja yang akan terbuka. Mimpi yang kita miliki, baik yang sudah tercapai maupun yang masih tertunda, pasti akan menghantarkan kita ke tempat baru; termasuk ke tempat kita bisa menjemput mimpi-mimpi baru pula. Bedankt!

***

Foto-foto disediakan oleh penulis.

SHARE
Previous articleFauzan Reza Maulana: The First Indonesian Accepted as a Stanford University Knight-Hennessy Scholar
Next articleA Glimpse of Working Life in KBS South Korea
Fona Qorina
Fona is a medical student who holds a Bachelor of Medicine degree from University of Indonesia. Last year, she was awarded a scholarship to study at Leiden University Medical Center, in The Netherlands. She has been actively involved in several organizations, scientific competitions, international publications and conferences. She aspires to be a doctor with a global mindset while exploring her two main passions; medicine and research. Currently, she is doing her clinical clerkship at Faculty of Medicine University of Indonesia-Cipto Mangunkusumo General Hospital. In her spare time, she loves to read and write poems sometimes.