Kisah Munadhillah Menyelesaikan Program Magister dengan Erasmus+ di Tiga Negara Eropa

0
483

Wow! Keren banget ya kak bisa kuliah di tiga negara sekaligus”

“Seru banget! Pengalamannya pasti banyak sekali ya karena bisa belajar di banyak negara gitu

“Wah pasti enak ya kak punya banyak teman dari bermacam-macam negara di Eropa?”

 

Komentar-komentar seperti ini seringkali diterima Munadhillah, atau yang biasa dipanggil Nadhill, alumni Erasmus+ yang berkesempatan untuk melanjutkan studi magisternya di tiga negara di Eropa, yaitu Polandia, Norwegia, dan Portugal. Apakah benar berkuliah di beberapa negara sekaligus semenyenangkan itu? Bagaimana pula perjalanan Nadhill hingga dapat menyelesaikan studi magisternya selama dua tahun di tiga negara yang berbeda? Dalam artikel ini, Columnist Indonesia Mengglobal, Dini Putri Saraswati akan membagikan kisah Nadhill menyelesaikan studinya di Eropa. 

 

Serba-Serbi Erasmus+

Ketertarikan Nadhill terhadap budaya dan aspek-aspek sosial yang berhubungan dengan psikologi membuatnya memutuskan untuk mendaftar di salah satu Joint Master Degree Program in the Psychology of Global Mobility, Inclusion, and Diversity in Society di bawah naungan beasiswa Erasmus+, yang bekerja sama dengan European Union (EU) atau Uni Eropa dan konsorsium universitas-universitas ternama Eropa. Karena Erasmus+ merupakan program konsorsium, biasanya penerima beasiswa ini akan melakukan studi atau riset di lebih dari satu negara yang tergabung ke dalam konsorsium tersebut, sehingga nantinya akan mendapatkan multiple degree dari masing-masing universitas.

 

Logo Erasmus+
Erasmus+ – Sumber foto: Erasmus+

 

Sebelum mendaftar Erasmus+, sangat penting untuk mengetahui program apa yang diminati. Untuk program magíster ini sendiri terdapat kurang lebih dari 120 – 130 program per tahunnya. Oleh karena itu, Nadhill menyarankan untuk benar-benar mempelajari detail kurikulum dan kebijakan dari setiap negara di konsorsium yang diminati agar tidak salah memilih. Informasi mengenai kurikulum dan mata kuliah dari masing-masing program dapat diakses melalui laman resmi Erasmus+. Setelah menentukan program, kita akan diarahkan untuk memilih skema universitas sesuai dengan program yang diminati.

 

Global-MINDS: Program yang dipilih oleh Nadhill
Global-MINDS: Program yang dipilih oleh Nadhill. Sumber foto: Global-MINDS

 

Tahapan awal dari seleksi beasiswa Erasmus+ adalah seleksi berkas secara online. “Untuk ketentuan dari seleksi ini bergantung kepada kebijakan program dan kampus yang dituju. Ada yang mensyaratkan nilai indeks prestasi kumulatif (IPK) dengan besaran tertentu, ada yang meminta sertifikat kemampuan bahasa Inggris, ada pula yang tidak memerlukan dokumen-dokumen tersebut. Pastikan untuk membaca seluruh persyaratan dengan teliti sebelum mendaftar agar tidak ada berkas yang tertinggal karena setiap program memiliki persyaratan dan deadline yang berbeda-beda!”, ujar Nadhill.

 

Setelah dinyatakan lolos seleksi administrasi, tahapan selanjutnya adalah seleksi wawancara di mana kita akan diminta untuk mempresentasikan draft penelitian kita jika nanti diterima di program tersebut. “Proses seleksi ini berlangsung sangat cepat, seluruh proses dari seleksi hingga keberangkatan hanya berlangsung selama satu tahun. Biasanya, seleksi akan dibuka pada bulan Desember hingga Januari, kemudian bulan Maret pengumuman hasil seleksi berkas sekaligus seleksi wawancara. Setelah itu, pengumuman akhir dilaksanakan pada bulan April. Bulan Juni kita sudah bisa mengajukan visa dan menyiapkan dokumen perjalanan sehinnga bulan Agustus sudah bisa berangkat kuliah”, tutur Nadhill.

 

Beradaptasi Selama Kuliah di Tiga Negara  

Nadhill memulai perjalanan studinya pada tahun 2017. Universitas pertama yang menjadi tujuan studinya adalah SWPS University of Social Science and Humanities di Warsawa, Polandia. Di awal perkuliahan, Nadhill merasakan gegar budaya yang sangat signifikan mengingat Polandia merupakan negara yang masyarakatnya terkenal homogen. Selain itu, keterbatasan bahasa juga menjadi kendala bagi Nadhill karena di Polandia mayoritas penduduknya tidak menggunakan bahasa Inggris. Walaupun demikian, orang-orang Polandia sangat family-oriented dan menghargai budaya hospitality, bagi mereka pepatah “A guest at home is God at home” menjadi falsafah budaya yang sangat melekat, terutama ketika ada orang lain yang bertamu ke rumah mereka. Biaya hidup yang relatif lebih terjangkau dibandingkan dengan negara-negara lain di Eropa juga menjadi sebuah keuntungan tersendiri baginya.

 

Nadhill (ketiga dari kiri) bercengkrama bersama teman-temannya di Warsawa, Polandia
Nadhill (ketiga dari kiri) bercengkrama bersama teman-temannya di Warsawa, Polandia – Sumber foto: Dok. Munadhillah

 

Setelah menghabiskan satu semester pertama di Polandia, Nadhill beralih ke University of Oslo di Oslo, Norwegia untuk melanjutkan studinya selama satu semester. Hal yang cukup menyulitkan Nadhill pada saat itu adalah proses relokasi dari satu negara ke negara lain, selain karena sistem dan jadwal perkuliahan di setiap negara yang bisa jadi cukup berbeda, perbedaan budaya dan sistem di negara tersebut juga menjadi tantangan tersendiri baginya. “Saat itu saya baru selesai ujian di Warsawa, tapi di Oslo sudah mulai masuk semester baru. Jadi, pada pagi hari saya mengikuti ujian di Warsawa, kemudian malam harinya langsung terbang ke Oslo. Yang paling disayangkan adalah saat tiba di Oslo ternyata saya sudah tertinggal sekitar satu atau dua minggu dari jadwal perkuliahan yang sudah ditentukan sehingga saya tidak sempat untuk mengikuti orientasi mahasiswa. Rasanya seperti tidak ada waktu untuk bernapas karena harus membagi fokus antara mengerjakan tugas, mengikuti ujian, dan juga mobilisasi dari satu negara ke negara lain secara bersamaan”, kenangnya.

 

University of Oslo
University of Oslo – Sumber foto: Dok. Munadhillah

 

Norwegia menjadi negara favorit Nadhill ketika menghabiskan masa studinya di Eropa. Ia merasa bahwa Norwegia merupakan negara yang ideal untuk studi karena lingkungannya cukup mendukung untuk belajar, terlebih ia tinggal di student complex atau kompleks akomodasi untuk mahasiswa yang memudahkannya dalam mendapatkan teman sesama mahasiswa dan merasakan ketenangan ketika belajar. Keindahan alam di Norwegia juga menjadi daya tarik tersendiri bagi Nadhill karena saat bosan belajar di kampus, ia akan menghabiskan waktu untuk belajar di taman atau di tepi danau sambil berolah raga. Bagi Nadhill, pengalaman belajar seperti itu membuatnya lebih bersemangat dan lebih mudah berkonsentrasi.

 

Nadhill (kanan) menghabiskan musim panas bersama teman-temannya dengan berpiknik di tepi danau di Oslo, Norwegia
Nadhill (kanan) menghabiskan musim panas bersama teman-temannya dengan berpiknik di tepi danau di Oslo, Norwegia – Sumber foto: Dok. Munadhillah

 

Budaya egaliter di negara Skandinavia ini juga menjadi salah satu faktor yang membuat Nadhill merasa lebih nyaman dalam mengikuti perkuliahan serta mengembangkan cara berpikirnya. Dengan tidak adanya perbedaan yang signifikan antara pengajar dan mahasiswa, sistem pembelajaran menjadi lebih student-oriented karena kegiatan belajar-mengajar lebih banyak dihabiskan dengan melakukan diskusi. Sistem birokrasi di Norwegia yang sangat teratur dan terintegrasi memudahkan mahasiswa internasional seperti dirinya dalam mengurus segala keperluannya. Sayangnya, Nadhill merasa bahwa biaya hidup di Norwegia terlalu tinggi untuknya sehingga memaksanya untuk berhemat dengan uang beasiswa yang didapatkannya. Selain itu, ia juga harus membiasakan diri dengan iklim yang cukup ekstrem. Pada musim dingin, suhunya bisa mencapai -20°C sampai dengan -25°C dengan durasi malam hari yang lebih panjang dibandingkan siang hari.

 

Nadhill (kiri) bersama dengan seorang teman saling menghangatkan tubuh di musim dingin di Oslo, Norwegia
Nadhill (kiri) bersama dengan seorang temannya saling menghangatkan tubuh di musim dingin di Oslo, Norwegia – Sumber foto: Dok. Munadhillah

 

Di semester ketiga di musim panas, Nadhill melanjutkan perkuliahannya di Instituto Universitário de Lisboa di Lisabon, Portugal. Baginya, Portugal merupakan negara yang sangat menyenangkan karena selain biaya hidup yang lebih murah dibandingkan dengan Norwegia, iklim di sana juga jauh lebih hangat dibanding Polandia dan Norwegia. Sebagai ibukota Portugal yang kerap dikunjungi oleh turis, Lisabon merupakan kota yang sangat ramai. Penduduknya juga sangat ramah dengan orang baru sehingga sangat mudah bagi Nadhill untuk mendapat teman baru. Namun, Nadhill merasa bahwa selama berkuliah di Lisabon ia sering terdistraksi oleh hingar-bingar kota tersebut sehingga ia merasa tidak maksimal saat belajar. Selain itu, sistem birokrasi yang lebih rumit juga menjadi kendala bagi Nadhill dalam menyelesaikan setiap urusannya.

 

Nadhill (baris kedua, kelima dari kiri) berpose bersama teman-temannya di depan kampus Instituto Universitário de Lisboa
Nadhill (baris kedua, kelima dari kiri) berpose bersama teman-temannya di depan kampus Instituto Universitário de Lisboa – Sumber foto: Dok. Munadhillah

 

Pada semester terakhir, Nadhill memutuskan untuk kembali ke Oslo karena ia harus menyelesaikan tesisnya sekaligus melakukan magang di dua oraganisasi yang bergerak di bidang hak asasi manusia (HAM) dan kesehatan mental, Norwegian Helsinki Committee (NHC) dan Health and Human Rights Info (HHRI) yang bermarkas di Oslo. Selama magang di kedua institusi tersebut, Nadhill belajar banyak tentang tahapan dalam melakukan advokasi kasus-kasus pelanggaran HAM di luar negeri serta bagaimana memberikan dukungan mental kepada para pekerja sosial yang membantu para penyintas dengan menganalisis kasus gender dan politik di Armenia, mewawancarai beberapa pihak terkait, serta membuat laporan dan advocacy letter terkait kasus-kasus yang ditanganinya.

 

Nadhill (kedua dari kanan) berdiskusi bersama para koleganya terkait isu HAM dan kesehatan mental para korban kekerasan HAM dan gender
Nadhill (kedua dari kanan) berdiskusi bersama para koleganya terkait isu HAM dan kesehatan mental para korban kekerasan HAM dan gender – Sumber foto: Dok. Munadhillah

 

Nadhill merasa bahwa budaya kerja di Norwegia cukup berbeda dengan di Indonesia karena kolega Nadhill memiliki latar belakang yang sangat beragam. Mereka juga sangat inklusif dan apresiatif terhadap kinerja Nadhill dan bahkan tidak segan-segan untuk membimbingnya dalam melakukan pekerjaan tersebut, terlebih isu HAM merupakan hal baru baginya. Dari NHC dan HHRI, Nadhill tidak hanya belajar tentang toleransi, tetapi juga etos kerja yang baik, kedudukan yang setara antara atasan dengan bawahan, dan juga ilmu baru tentang HAM.

 

Nadhill (ketiga dari kiri) mewakili institusi magangnya menghadiri Annual Nobel Peace Prize di Oslo, Norwegia
Nadhill (ketiga dari kiri) mewakili institusi magangnya menghadiri Annual Nobel Peace Prize di Oslo, Norwegia – Sumber foto: Dok. Munadhillah

 

Lelah yang Menyenangkan

“Banyak sukanya, tapi dukanya juga tidak sedikit!”, kelakar Nadhill saat ditanya perihal suka dan duka berkuliah di beberapa negara di Eropa. “Kuliah di lebih dari satu negara menuntut kita untuk belajar mandiri karena saat kita berpindah-pindah negara, kita harus mengurus semua dokumen-dokumen perjalanan kita sendiri. Jadi, selain melelahkan, hal tersebut juga melatih mental dan kemampuan adaptasi yang baik lho!”, sambungnya.

 

Pernyataan Nadhill memang benar adanya. Di setiap awal semester, ia harus berjibaku dengan segala urusan administratif yang harus diurusnya sendirian, mulai dari visa, izin tinggal, beserta dokumen perjalanan yang lain hingga akomodasi. Terlebih lagi, masa studi di setiap negara tersebut tidak lama, hanya sekitar enam bulan saja, sehingga menurutnya hal tersebut sedikit banyak berpengaruh terhadap progres akademiknya.

 

Nadhill juga menambahkan bahwa mencari teman dekat merupakan suatu tantangan tersendiri di tengah mobilitas kuliah yang cukup padat dan cepat. Ditambah lagi, tidak banyak teman asal Indonesia yang ia temui di negara-negara tujuan studinya. Beruntung teman-teman di program dan para koordinator program sangat suportif dan akomodatif ketika ia membutuhkan bantuan. Hal ini juga yang memudahkan proses adaptasi di semester-semester berikutnya.

 

Nadhill (kanan) bersama teman-temannya menikmati hidangan di sebuah restoran di Lisabon, Portugal
Nadhill (kanan) bersama teman-temannya menikmati hidangan di sebuah restoran di Lisabon, Portugal – Sumber foto: Dok. Munadhillah

 

Lebih lanjut, Nadhill menjelaskan bahwa beasiswa Erasmus+ lebih menuntut para awardee-nya untuk menjadi lebih independen, karena beasiswa ini benar-benar membebaskan kita untuk mengelola dana yang diperoleh secara mandiri. Nadhill juga mengatakan bahwa di mana pun kita akan ditempatkan, tunjangan biaya hidup yang diberikan oleh Erasmus+ akan tetap sama atau tidak mengikuti biaya hidup di negara tersebut. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengalokasikan dana tersebut dengan baik agar tidak mengalami kekurangan.

 

Terlepas dari segala kesulitan yang dihadapi, Nadhill merasa bahwa berkuliah di beberapa negara memberinya pengalaman yang sangat berharga. “Setiap negara memiliki budaya yang berbeda dan bagi saya itu adalah sebuah pengalaman yang tidak tergantikan. Kapan lagi dapat merasakan sistem perkuliahan di berbagai kampus Eropa dan berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai macam negara dalam waktu dua tahun, kan?”, ungkapnya.

 

Nadhill berpose di depan Royal Palace memperingati Norway Constitution Day Parade
Nadhill berpose di depan Royal Palace memperingati Norway Constitution Day Parade – Sumber foto: Dok. Munadhillah

 

Terkait tips bagi teman-teman yang ingin mendaftar beasiswa Erasmus+, Nadhill selalu mengingatkan bahwa hal yang paling utama adalah jangan hanya terfokus kepada kesenangan atau euforia sesaat yang ditawarkan oleh program tersebut, tetapi juga mempersiapkan hal-hal penting lainnya, seperti pengetahuan terhadap negara yang dituju dan yang paling penting adalah persiapan mental. “Maka dari itu, jika memang ingin mendaftar beasiswa ini, harus membaca persyaratan dengan saksama. Periksa lagi kurikulum yang ditawarkan, termasuk mata kuliah, kampusnya, kulturnya, dan segala hal yang berkenaan dengan perkuliahan pada program tersebut. Yang terakhir, jangan lupa persiapkan mental dengan baik agar tidak kaget dengan sistem yang berlaku,” pungkasnya.

 

Nadhill di Oslo, Norwegia
Nadhill di Oslo, Norwegia – Sumber foto: Dok. Munadhillah

 

***

Munadhillah atau biasa dipanggil Nadhill mendapatkan gelar magisternya dari University of Oslo, Norwegia melalui program European Joint Master Degree in Social and Cultural Psychology yang dibiayai secara penuh oleh EU di bawah naungan beasiswa Erasmus+. Selama menempuh pendidikannya di Eropa, Nadhill sering melakukan solo travelling ke beberapa negara. Baginya, banyak hal yang bisa dipelajari melalui travelling. Di tengah kesibukannya bekerja selain sebagai mental health enthusiast, Nadhill sering menyalurkan hobinya dengan membaca buku dan melakukan olah raga, terutama yang berhubungan dengan alam.

***