Dari polio hingga Covid-19: Indra Rudiansyah meneliti vaksin untuk dunia yang lebih sehat

0
406

Kehidupan seorang peneliti vaksin tuh seperti apa sih? Narasumber kita kali ini, Indra Rudiansyah, adalah seorang mahasiswa S3 di University of Oxford, Inggris. Simak artikel berikut untuk mendengar pengalaman Indra selama ia mendalami bidang mikrobiologi dan beserta pengalaman tiga bulan terakhir sebagai salah satu peneliti di proyek riset vaksin Covid-19.  

***

Indra tidak pernah menyangka akan menjadi peneliti vaksin, apalagi untuk penyakit pandemik seperti Covid-19. Jurusan mikrobiologi yang ia ambil ketika S1 di Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 2009 bukanlah pilihan pertamanya – ketika itu, ia lebih tertarik menekuni dunia perminyakan. Seakan jalan karirnya ditentukan di persimpangan itu, Indra gagal merebut kursi di jurusan yang diidamkannya dan harus puas dengan mikrobiologi.

Namun sebenarnya, Indra sudah senang dengan bidang ilmu kehidupan (life science) sejak SMA. “Ketika kuliah S1, saya berharap dapat mendalami studi mikrobiologi lingkungan serta hubungannya dengan energi atau remediasi lingkungan,” kata Indra. Harapannya terwujud; ia berhasil menyelesaikan tugas akhirnya tentang gas metana dalam lapisan batu bara (coal bed methane) yang memanfaatkan mikroba untuk mengonversikan batu bara lignit menjadi gas metana.

Indra konsisten berkarya di jalur serupa ketika melanjutkan program S2 fast track (satu tahun) jurusan bioteknologi di ITB. Ia fokus di bidang microbial enhanced oil recovery (MEOR) untuk meneliti peningkatan perolehan minyak dengan mikroba, yang merupakan proyek kerja sama antara tim MEOR ITB dengan perusahaan minyak dan gas negara Pertamina.

Ketertarikan pada dunia vaksin

Walaupun fokus di sektor energi, semasa S2 Indra sudah mulai mengembangkan ketertarikan pada sektor terapan mikrobiologi dalam dunia medis, terutama terkait ilmu bioteknologi untuk pengembangan vaksin.

Indra akhirnya mencoba merealisasikan keinginannya untuk berkecimpung di sektor tersebut saat mencari pekerjaan. Ia berhasil diterima di perusahaan vaksin Bio Farma, di mana ia mengembangkan karirnya sebagai Product Development Specialist selama 4 tahun (2014-2018). Di perusahaan inilah Indra pertama kali memperoleh pengalaman bekerja dengan virus; ia terlibat dalam riset dan pengembangan vaksin rotavirus dan novel polio.

Pengalaman bekerja di proyek riset dan pengembangan vaksin menginspirasi Indra untuk melanjutkan studi doktoral di bidang yang sama. “Walaupun telah mendapatkan keterampilan kerja di lab, saya masih merasa perlu menggali pengetahuan yang lebih dalam,” kata Indra. Oleh karena itu, ia memberanikan diri mendaftar program PhD.

Indonesian DPhil student Indra Rudiansyah at the University of Oxford
Indra di kampus University of Oxford, Inggris

Proses pendaftaran program PhD

Selama proses pendaftaran, Indra berkonsultasi dengan pimpinannya di Bio Farma. “Waktu itu saya tertarik dengan HIV. Namun ketika baca-baca tentang malaria, saya jadi tahu bahwa teknologi pengembangan vaksin malaria ternyata bisa diaplikasikan di bidang lain, sehingga bisa sangat bermanfaat untuk pengembangan vaksin-vaksin penyakit lain,” jelas Indra. Menurutnya, riset soal vaksin malaria di Indonesia masih jarang. Oleh karena itu, akan menjadi kesempatan besar baginya untuk terjun dan menjadi ahli di bidang ini.

Saat itu, Indra lebih dulu berhasil mengamankan beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan RI. Indra pun lantas mencari tahu soal kampus-kampus top di bidang penelitian vaksin malaria. Ia sempat mendaftar ke Johns Hopkins University, AS, namun sayangnya belum beruntung. Setelah membaca jurnal-jurnal ilmiah, Indra menemukan bahwa University of Oxford di Inggris merupakan salah satu institusi yang paling maju dalam hal penelitian vaksin malaria.

Indra kemudian berinisiatif menghubungi tiga principal investigator (PI) atau pemimpin riset di Oxford via e-mail. “Yang satu tidak balas, satu lagi lab-nya sudah penuh, satu lagi balas dan akhirnya dengan ialah saya bekerja sekarang,” kenang Indra. “Saya bekerja dengan Adrian Hill, PI dan Direktur Jenner Institute yang berada di bawah Departemen Clinical Medicine di Oxford. Institut ini memang fokus ke penelitian vaksin,” katanya.

Keterlibatan di proyek riset dan pengembangan vaksin Covid-19

Maka Indra pun memulai perjalanan PhD-nya di Oxford pada tahun 2018. Tugas utamanya adalah mendesain berbagai jenis kandidat vaksin malaria serta menguji cobanya ke hewan (uji praklinis). “It takes time. Kita harus melihat respon imun seperti apa yang muncul setelah proses vaksinasi, Banyak parameter yang harus dilihat,” jelas Indra. “Inilah yang menjadi topik disertasi saya.”

Namun ketika pemerintah Inggris memberlakukan kebijakan lockdown untuk memperlambat transmisi Covid-19, penelitian Indra terpaksa terhenti. Proyeknya mengalami hiatus selama 6 bulan dari Maret hingga Juli – ia hanya bisa melakukan pertemuan, diskusi jurnal, dan progres riset secara virtual.

Indonesian DPhil student Indra Rudiansyah with his peers in Oxford University Biotech Society (OUBT)
Indra dengan rekan-rekannya di Oxford University Biotech Society (OUBT)

Ketika itulah Indra menyambut kesempatan untuk bergabung di tim riset dan pengembangan vaksin Covid-19. Ia mengisi formulir pendaftaran berdasarkan keterampilan dan pengalaman yang ia miliki. Kebetulan, keterlibatan Indra dalam proses uji klinis (uji coba terhadap manusia) vaksin malaria mengharuskan dirinya untuk memiliki sertifikasi Human Tissue Authority (HTA) dan Good Clinical Practice (GCP). “Karena saya punya sertifikasi untuk bekerja dengan sampel manusia, saya mendapat tugas di bagian imunologi untuk melakukan uji klinis vaksin Covid-19,” jelasnya.

Jadi, seperti apa sih proses uji klinis vaksin Covid-19 yang dilakukan Indra?

Pertama, sukarelawan yang memenuhi persyaratan diperbolehkan mendaftar. Mereka diharuskan mengisi lembar persetujuan atau consent form dan melalui proses screening. “Para sukarelawan yang lulus screening kemudian disuntik vaksin. Namun, mereka tidak tahu jenis vaksinnya, apakah vaksin Covid-19 yang sedang diuji atau vaksin pembanding. Jadi ada proses blinding di situ. Lalu kami monitor, apakah ada efek pada para sukarelawan, baik secara klinis maupun laboratorium. Di tim imunologi, kami mengukur respon imun dari sejumlah aspek, contohnya T cell dan antibodi. Saya fokus ke antibodi,” cerita Indra.

Lalu, seperti apa tantangan bekerja di tim pengembangan vaksin Covid-19?

“Saat ini kita berpacu dengan waktu, di mana kita ingin membuktikan bahwa vaksin yang diuji dapat memberikan proteksi dari infeksi virus SARS-CoV-2 atau penyakit Covid-19,” jawab Indra. Menurutnya, transmisi virus di beberapa negara sekarang sudah mulai menurun, namun bukan berarti kita sudah terproteksi dari Covid-19. “Kita tidak ingin kehilangan kesempatan untuk menguji vaksin kita saat ini sehingga kita bisa lebih siap di masa mendatang jika terjadi peningkatan transmisi virus kembali,” jelas Indra.

Selain harus berpacu dengan waktu, pekerjaan Indra di lab juga dinamis. Jika ada temuan-temuan baru, kemungkinan akan ada penyesuaian atau tambahan protokol uji klinis, katanya.

“Lalu, tantangan terbaru bagi saya pribadi adalah pengelolaan waktu, karena proyek vaksin malaria saya sudah mulai lagi sejak Juli lalu, walaupun terbatas tidak setiap hari,” pungkas Indra yang saat ini sudah memasuki tahun ketiga PhD-nya.

Dinamika penanganan Covid-19 di tanah air

Indonesian DPhil student Indra Rudiansyah encourages people to keep folowing health protocols until the vaccine can be produced, which according to him will take a significant amount of time
Indra mendukung upaya pengadaan vaksin di Indonesia dan menghimbau masyarakat untuk tetap disiplin protokol kesehatan hingga vaksin ditemukan

Soal perkembangan penyediaan vaksin di Indonesia, Indra menilai upaya yang dilakukan pemerintah sudah cukup baik. “Kita ingin vaksin secepat mungkin. Oleh karena itu, kita harus menguji kandidat yang sudah ada supaya punya kesempatan untuk mengakses vaksin dari awal.”

“Vaksin merah putih juga upaya yang bagus,” katanya soal riset dan pengembangan vaksin yang dilakukan oleh ilmuwan dalam negeri. Indra berharap vaksin merah putih yang masih berada di fase-fase awal ini bisa belajar dari riset-riset lain yang sudah lebih maju.

Ditanya soal pesan-pesannya terhadap masyarakat terkait Covid-19, Indra menjawab, “Vaksin masih sangat lama untuk bisa diberikan ke masyarakat. Kalaupun vaksin yang kami uji ini berhasil, masih perlu proses lisensi, produksi, dan distribusi massal. Sampai saat ini belum ada kandidat vaksin dari proyek riset manapun yang bisa dilisensi untuk diproduksi secara global. It will take time.”

Oleh karena itu, Indra berpesan, jangan jadikan berita-berita soal pengembangan vaksin membuat disiplin protokol kesehatan kita jadi longgar. “Patuhi kebijakan di masing-masing negara. Jangan membanding-bandingkan karena setiap negara kondisinya berbeda,” tegasnya.

Lalu, bagaimana dengan refleksi Indra atas pengalaman studinya di luar negeri selama ini? Setelah kurang lebih tiga bulan berkecimpung di proyek riset vaksin Covid-19 dan genap dua tahun menjalani studi doktoral di Inggris, Indra berbagi pandangan dan tips untuk para mahasiswa Indonesia yang memiliki impian serupa.

“Secara skills, kita tidak kalah baiknya dengan orang-orang di luar sana. Hanya saja kita perlu mengasah lebih dalam kemampuan berpikir kritis dan kepercayaan diri kita,” katanya. “Namun kita harus tetap rendah hati supaya bisa belajar dan menyerap ilmu pengetahuan baru dengan maksimal. You can only accept new knowledge if you don’t think you’re better than others,” tambahnya seraya menutup percakapan kami yang kaya dan menginspirasi sore itu.

***

Indra Rudiansyah adalah mahasiswa DPhil Clinical Medicine di University of Oxford, Inggris. Sebelumnya, Indra berkarir di bidang farmasi, khususnya riset dan pengembangan vaksin, di perusahaan farmasi dalam negeri. Indra memperoleh gelar sarjana di bidang mikrobiolodi dan magister di bidang bioteknologi dari Institut Teknologi Bandung (ITB).

***

Foto-foto diambil dari koleksi pribadi Indra Rudiansyah.