A-Z tentang Master of Arts in Applied Linguistics di Selandia Baru

0
487

“Berdasarkan pengalaman studinya di The University of Auckland, Lavinia Disa memberikan penjelasan rinci tentang program yang diambilnya saat studi S2, yaitu Master of Arts in Applied Linguistics. Hal ini sangat bermanfaat untuk para pembaca Indonesia Mengglobal yang berencana untuk mencari tahu lebih lanjut tentang program Master ini.”

***

Setiap kali memperkenalkan jurusan S2 saya ke teman-teman yang bukan dari bidang humaniora, saya pasti ditanya dengan wajah bingung dan penasaran mereka, “Apa itu Applied Linguistics?”. Biasanya saya menjawab dengan pernyataan umum: Applied Linguistics adalah studi yang berupaya menyelesaikan masalah-masalah terkait bahasa, seperti pengajaran bahasa asing, penerjemahan, dan linguistik forensik. Walau ini benar, penjelasan ini tak selalu langsung dipahami. Artikel ini akan memberikan gambaran menyeluruh tentang bidang ilmu ini.

Apa itu Applied Linguistics (Linguistik Terapan) dan untuk siapa?

Applied Linguistics memiliki beragam cabang ilmu, tapi fokus yang saya pelajari di The University of Auckland adalah studi lintas bidang antara linguistik, psikolinguistik, pemerolehan bahasa kedua (second language acquisition/SLA), sosiolinguistik, dan pendidikan. Boleh dibilang, Applied Linguistics berada di antara studi Linguistik Murni (yang mempelajari sistem bahasa-bahasa) dan TESOL (Teaching English to Speakers of Other Languages).

Bidang ilmu ini cocok bagi teman-teman yang berprofesi sebagai guru dan dosen bahasa asing ataupun peneliti di bidang pengajaran bahasa dan kebijakan bahasa (language policy and planning). Dari segi keilmuan, studi S2 Applied Linguistics penting untuk pengembangan profesional. Ilmu bahasa dan pedagogi terus-menerus diperbaharui, dan studi seperti ini akan mengekspos kita pada penelitian terkini, konsep dasar, dan pemikiran para ahli. Di samping itu, kita akan bertemu dengan kolega sesama pengajar dan peneliti dari negara lain, dan ini bisa membuka celah pertukaran pengetahuan dan kesempatan berjejaring yang lebar.

Kegiatan microteaching untuk keperluan tugas. Sumber: Penulis.
Kegiatan microteaching untuk keperluan tugas. Sumber: Penulis.

Bagaimana memilih universitas?

Karena cakupan ilmunya yang cukup luas, calon mahasiswa perlu mencari tahu program studi yang ditawarkan di setiap universitas. Seperti yang saya jelaskan dalam artikel persiapan aplikasi studi dan beasiswa ini, beda kampus artinya beda fokus pembelajaran. Di Selandia Baru, misalnya, selain The University of Auckland, setidaknya ada 3 kampus yang menawarkan gelar S2 di bidang Applied Linguistics dengan spesialisasi yang berbeda.

Di Victoria University of Wellington, mahasiswa akan belajar banyak tentang penelitian tindakan kelas, corpus linguistics, learner autonomy, tes dan asesmen pemelajaran bahasa, serta vocabulary. Di The University of Waikato, terdapat mata kuliah yang lebih mengerucut, seperti Teaching English for Academic Purposes, Discourse Analysis and the Language Classroom, dan Second Language Teaching Practicum. Berbeda dari kedua universitas ini, Massey University berfokus pada isu-isu bahasa lokal, seperti heritage language learning, mother tongue maintenance, dan bi/multilingualism.

Apa yang dipelajari?

Di kampus tempat saya berkuliah, The University of Auckland, saya mengambil total 14 mata kuliah di luar Dissertation. Bagan berikut menggambarkan seluruh mata kuliah yang saya ambil dan kaitan antara pelajaran-pelajaran tersebut.

Rangkaian mata kuliah di Master of Arts in Applied Linguistics. Sumber: Penulis.
Rangkaian mata kuliah di Master of Arts in Applied Linguistics. Sumber: Penulis.

Secara garis besar, mata kuliah yang saya ambil bertujuan untuk mencetak linguis terapan yang handal dalam menilai kebutuhan bahasa asing siswa, menyusun kurikulum, mendesain kelas bahasa, mengembangkan materi ajar, hingga melakukan asesmen terhadap kemampuan berbahasa siswa. Selain sub-kelompok “language teaching and learning”, studi Applied Linguistics yang saya jalani menawarkan mata kuliah yang berbasis pada analisis bahasa untuk keperluan pengembangan materi dan pengajaran (sub-kelompok “language based”). Sayangnya, semua mata kuliah di bagan di atas diambil tidak berdasarkan susunan kurikulum tertentu melainkan ketersediaan dosen pengajar karena kadang ada dosen yang mengambil cuti panjang (sabbatical leave) atau sedang melakukan riset di negara lain.

Lalu, seperti yang terlihat di bagan di atas, ada dua mata kuliah yang menjadi payung besar MA in Applied Linguistics di kampus saya. Pertama, Second Language Acquisition Theories memperkenalkan teori-teori sentral tentang pemerolehan bahasa kedua, baik dari perspektif kognitif maupun sosial-kultural. Kedua, Applied Linguistics Research mempersiapkan mahasiswa yang akan melakukan proyek riset akhir Dissertation. Persiapan ini meliputi pengenalan pada berbagai pendekatan dan metode penelitian, penulisan literature review, evaluasi kritis terhadap sebuah artikel penelitian, dan penyusunan proposal riset.

Dari sekian daftar pelajaran, dua mata kuliah yang jadi favorit saya adalah Creativity in Teaching and Learning, yang menjabarkan peran dan bentuk kreativitas dalam pengajaran bahasa asing, dan Literature in Language Teaching, yang menginspirasi mahasiswa untuk menggunakan karya sastra saat mengajar bahasa. Kemudian, di luar mata kuliah utama, mahasiswa tahun pertama mengambil kelas Developing Academic Literacy sebagai bekal kuliah di tingkat postgraduate. Kami dilatih bagaimana mengulas buku secara akademik, menyintesis berbagai sumber bacaan, dan menulis bagian discussion dalam sebuah academic paper berdasarkan findings yang disediakan.

Metode pembelajarannya seperti apa?

Seperti perkuliahan pada umumnya, 11 mata kuliah diajarkan secara tatap muka dengan ceramah dari dosen. Biasanya di awal semester, silabus tiap mata kuliah sudah diunggah ke situs pembelajaran kampus (CECIL dan Canvas) sehingga mahasiswa bisa mengetahui topik bahasan per minggu serta daftar artikel atau bab buku yang harus dibaca sebelum masuk kelas. Hasil bacaan dan ceramah dosen kemudian menjadi pemantik diskusi. Karena jumlah mahasiswa di tiap kelas hanya berkisar 8-15 orang, diskusi kelas menjadi kondusif. Selanjutnya, mahasiswa dibimbing dalam praktik keterampilan tertentu, seperti bagaimana menganalisis tingkat kesulitan sebuah teks bacaan (Language Analysis for Teachers) dan menggunakan software analisis korpus (Corpus Study in Applied Linguistics).

Sepanjang studi 2 tahun saya, 3 mata kuliah disampaikan secara daring sebagai online course. Mirip dengan perkuliahan tatap muka, situs pembelajaran menampilkan informasi tentang mata kuliah, materi (dalam bentuk slides atau video) dan juga daftar bacaan setiap minggu. Untuk memastikan bahwa mahasiswa memahami materi, kami diminta untuk mengumpulkan weekly entries terkait artikel yang kami baca, materi dari dosen, dan refleksi atas isu-isu tertentu. Dua-tiga minggu sekali, dosen mengundang kami dalam diskusi daring melalui Zoom.

Diskusi daring melalui Zoom bersama John Read. Sumber: Penulis.
Diskusi daring melalui Zoom bersama John Read. Sumber: Penulis.

Adakah manfaat dan kendala saat berkuliah?

Tentu ada! Saya pribadi merasakan manfaat yang luar biasa selama berkuliah. Pertama, karena studinya dilaksanakan di negara berbahasa Inggris dan saya adalah pengajar bahasa tersebut, ini melatih keterampilan berbahasa Inggris saya sendiri. Kedua, saya belajar langsung dari ‘big names’ seperti Rod Ellis (advokat Task-based Language Teaching), John Read (ahli language testing and assessment), dan khususnya Helen Basturkmen (pakar English for Specific Purposes) yang menjadi alasan kenapa saya ingin meneruskan sekolah ke The University of Auckland.

Namun, tidak ada proses pembelajaran yang tanpa kendala. Saya menyadari perbedaan besar dalam hal paradigma riset dan penulisan akademik antara Indonesia dan Selandia Baru. Terutama saat menulis assignments dan dissertation, saya dituntut untuk memberikan analisis dan evaluasi kritis di setiap esai, tidak hanya deskripsi dari temuan penelitian. Tetapi dari proses inilah kemampuan menulis dan meneliti saya terakselerasi.

Yang terpenting dari studi Master of Arts in Applied Linguistics adalah sepulangnya saya ke Indonesia dan kembali mengajar, saya punya kebiasaan baru yang baik, yakni selalu berkonsultasi dengan literatur dan teori terkait dalam pengambilan keputusan saat merancang kelas dan mengajar, serta merefleksikan setiap prosesnya.

***

Editor: Yogi Saputra Mahmud