Studi S2 di Prancis di tengah pandemi

0
397
Dionysia Bema Nariswari

Kali ini kolumnis Novelita W. Mondamina (Veli) berkesempatan untuk berbincang virtual dengan kawan lama, Dionysia Bema Nariswari (Bema), yang saat ini sedang menjalani kuliah Master keduanya di École Polytechnique, Prancis. Bema bercerita tentang alasan di balik keputusannya mengambil Master kedua, gambaran sistem perkuliahan di Prancis, serta pengalamannya kuliah di masa pandemi.

***

Halo Bema, apa kabar? Boleh perkenalkan diri dan cerita sedikit tentang kuliah kamu sekarang?

Halo! Kabar baik Veli. Oke, nama saya Dionysia Bema Nariswari, biasanya dipanggil Bema. Saat ini saya sedang menjalani tahun kedua Master di École Polytechnique, Palaiseau, Prancis. Jurusan yang saya ambil adalah Renewable Energy Science & Technology (REST).

Sebelum mengambil Master, kamu kuliah di mana?

Saya lulus dari Institut Teknologi Bandung pada tahun 2015 dengan jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD). Setelah 2 tahun berkutat dengan mata kuliah wajib termodinamika dan mempelajari tentang panas, kerja, temperatur, serta kaitannya dengan energi dan sifat-sifat material, saya memilih keahlian Konversi Energi. Dari situlah ketertarikan saya dengan bidang energi muncul, khususnya dengan sektor Energi Baru dan Terbarukan (EBT), sehingga saya memilih laboratorium Konversi Energi untuk mengerjakan tugas akhir serta menjadi langkah awal saya terjun di bidang tersebut.

Seperti apa hubungan keterkaitan antara program studi S1 dan S2 Bema?

Mungkin sebelum cerita lebih lanjut, saya berikan informasi dulu, ya, bahwa kuliah Master yang saya ambil saat ini adalah Master kedua saya. Nah, untuk Master yang pertama, saya memutuskan untuk mengambil program Master in Energy and Sustainability: Energy, Environment and Buildings di University of Southampton (UoS), UK.

Untuk keterkaitannya sendiri, bisa dibilang jurusan S1 dan S2 saya di UoS berkaitan banget, karena dengan mempelajari konversi energi saat S1, saya menjadi terinspirasi untuk fokus soal energi serta hubungannya dengan lingkungan dan gedung bangunan saat S2 di UoS.

Wah, that is cool! Berarti saat ini kamu sedang mengambil Master yang kedua, ya. Boleh tau alasan mengapa Bema merasa perlu mengambil Master kembali di bidang yang bisa dibilang masih satu rumpun?

Saat kembali ke Indonesia, saya bekerja sebagai Solution Engineer di start-up engineering, procurement, and construction (EPC) tenaga surya yang didirikan oleh insinyur Belanda di Bali. Saya bertanggungjawab mendesain sistem panel surya sesuai dengan kondisi dan kebutuhan klien. Sedikit banyak ilmu perkuliahan saya berguna dalam proses desain hingga instalasi.

Setelah mengenyam pengalaman kerja di bidang teknologi surya selama hampir 2 tahun, saya ingin kembali mendalami bidang EBT di daratan Eropa, khususnya Prancis. Ada dua alasan mengapa saya memilih negara tersebut, yaitu faktor keluarga dan pendalaman konten studi. Selain bisa lebih dekat dengan keluarga di Prancis, negara tersebut juga terkenal unggul di bidang matematika and I am interested in it as well.

Can I tell you an interesting fact? One of the founders of École Polytechnique was the great military leader Napoleon Bonaparte, sehingga dalam kurikulum pembelajarannya, terdapat kredit (SKS) untuk military service yang diberikan kepada mahasiwa S1.

Ilustrasi kegiatan militer di kampus. Sumber: website Smapse Education
Ilustrasi kegiatan militer di kampus
Sumber: Situs Smapse Education

Bisa diceritakan lebih lanjut tentang hal-hal yang kamu pelajari saat S2 di UoS dan École Polytechnique?

Walaupun kedua master yang saya ambil terkesan serupa, namun jika dilihat lebih detail keduanya menawarkan mata kuliah yang berbeda. Di UoS, saya fokus pada desain klimatis berbagai gedung dan perkotaan, serta adaptasinya untuk iklim ke depan. Saya juga mempelajari bagaimana cara menilai dan mengkuantifikasi performa energi dari berbagai bangunan sambil menerapkan teknologi terbarukan.

Bema telah berkesempatan merasakan kuliah di dua negeri asing, yaitu UK dan Prancis. Adakah perbedaan signifikan yang kamu rasakan saat kuliah di dua tempat tersebut?

Terdapat dua perbedaan yang paling saya rasakan yaitu: 1) waktu perkuliahan, dan 2) jumlah tugas yang diberikan.

Pertama, dari segi waktu pelaksanaan kuliah, umum diketahui bahwa kuliah Master di UK hanya berdurasi 1 tahun dan itu sudah termasuk waktu 3 bulan untuk mengerjakan disertasi. Sedangkan kuliah Master di Eropa biasanya berdurasi 2 tahun. Walaupun demikian, karena pihak kampus menganggap latar belakang akademik saya linear dan dianggap sudah menguasai ilmu dan pengetahuan dasar, saya langsung melanjutkan M2 yaitu master tahun kedua di École Polytechnique.

Di kampus UK biasanya untuk satu mata kuliah kita mendapatkan jadwal kelas 2 kali dalam seminggu dengan durasi 2 jam setiap pertemuan. Sedangkan di Prancis, jadwal pertemuan untuk satu mata kuliah biasanya hanya satu kali dalam seminggu dan durasinya kira-kira 4 jam. Pada semester kedua saya sempat mendapatkan jadwal dua mata kuliah dalam sehari, sehingga kegiatan perkuliahan berlangsung selama 8 jam dengan lunch break satu kali. Awalnya cukup sulit untuk bisa fokus sepenuhnya untuk mendengarkan dan mengerti materi yang dijelaskan, namun hal tersebut bisa dibiasakan.

Kedua, saya menyadari bahwa di UK kita diberikan tugas yang cukup banyak, baik dalam bentuk esai maupun lainnya, sehingga murid terkesan “dipaksa” untuk belajar. Tak jarang saya dan teman-teman begadang di kampus untuk menyelesaikan semua tugas. Sementara itu, para pengajar di Prancis — setidaknya di kampus saya — jarang sekali memberi tugas sehingga tanggung jawab benar-benar ada di pelajar untuk bisa menguasai materi.

Kembali ke perkuliahan di Prancis, bagaimana sistem perkuliahan di sana, terutama dalam kondisi pandemi saat ini?

I would say that we are all the same all around the world right now, yes, we do online learning via Zoom. Di tahun kedua ini, perkuliahan saya seharusnya terdiri dari 6 bulan belajar di kelas dan 6 bulan magang. Saya mulai kuliah September 2019, sehingga pembelajaran di kelas tepat habis bulan Maret 2020. Nah, ketika sistem lockdown mulai diberlakukan, otomatis sektor industri juga terkena dampaknya seperti pemutusan hubungan kerja, termasuk pembatalan rencana magang. Ada teman saya yang dibatalkan H-1 sebelum magang.

Karena kegiatan magang masuk hitungan SKS di kurikulum, pihak kampus menyiasati ketiadaan magang dengan memberikan proyek akademis. Saya mendapat topik Figures of merit of solar and wind integration berdasarkan pengolahan data produksi listrik di Eropa. Poin utama dari proyek ini adalah untuk melakukan analisis data dari sumber terbuka atau open source. Menariknya, cukup mudah untuk mengakses data-data tersebut dari situs karena Eropa memiliki kebijakan data yang transparan.

Bema bersama kolega kampus École Polytechnique Sumber: Dokumentasi pribadi
Bema bersama kolega-koleganya di kampus École Polytechnique
Sumber: Dokumentasi pribadi

Apa ada tips dari Bema untuk teman-teman diaspora lainnya yang saat ini juga kuliah di masa pandemi?

Sebagai mahasiswa Indonesia yang sedang berada di negeri orang, kami memang harus beradaptasi dengan sistem pendidikan dan budaya tempat kami belajar. Namun, saat ini kami juga harus beradaptasi dengan hal baru, yaitu hidup berdampingan dengan Covid-19. Memang tidak mudah, tapi saya yakin kita bisa. We are in this together. ‘

Menjaga kesehatan menjadi hal utama. Di Prancis kami sudah diperbolehkan keluar, sehingga kami bisa mengambil waktu sejenak untuk meninggalkan apartemen, tapi tetap harus berhati-hati.

Untuk teman-teman yang memiliki sifat dominan introvert, please allocate some time to interact with friends to balance our mental health. Dan jika merasa stres, jangan malu untuk menghubungi pihak kampus karena tersedia fasilitas konseling untuk mahasiswa.

Oh iya, satu lagi, I am a student who also loves gaming, so time management is essential. Saya memasang reminder di laptop dan membuat to-do list untuk diselesaikan hari itu. Hal tersebut membantu saya fokus menyelesaikan tugas dengan tetap bisa mengalokasikan waktu untuk main games.

Kemungkinan kita akan terus berdampingan dengan Covid-19, jadi untuk teman-teman diaspora lainnya…semangat!