Persiapan Aplikasi Studi dan Beasiswa ke Selandia Baru di Tengah Pandemi

0
683
Sumber gambar: Dokumentasi penulis

“Lavinia Disa, kolumnis Indonesia Mengglobal untuk wilayah Australia, New Zealand, dan Kepulauan Pasifik, memberikan tips-tips penting guna mempersiapkan aplikasi studi dan beasiswa ke Negeri Kiwi di tengah pandemi COVID-19 ini.”

***

Tidak ada yang tahu kapan pandemi COVID-19 akan berakhir. Di Selandia Baru, memang sudah tidak ada kasus positif baru tetapi pemerintah negara ini belum membuka perbatasan untuk penerbangan internasional, kecuali untuk repatriasi. Artinya, dalam waktu dekat, mahasiswa internasional tidak bisa berangkat ke sana. Menghadapi situasi seperti ini, para pemburu beasiswa dari Indonesia mulai cemas akan rencana aplikasi studi mereka.

Alih-alih berdiam diri dan menanti wabah ini berlalu, waktu di rumah bisa dimanfaatkan untuk mempersiapkan aplikasi studi dan beasiswa ke New Zealand (NZ). Saat ini, informasi tentang kuliah ke Negeri Kiwi bertebaran di jagat maya, dan inilah kurasi konten beserta tips untuk berburu kesempatan belajar di sana.

  1. Temukan Alasan Kenapa Ingin ke NZ

Utamanya, calon mahasiswa memilih sebuah negara untuk melanjutkan studi karena alasan akademik. Pertama, peringkat univeritas yang dituju relatif tinggi di dunia. Untuk mencari informasi ini, saya biasanya merujuk ke tiga lembaga pemeringkatan yakni QS World University Rankings, Times Higher Education, dan Webometrics. Ketiganya memiliki indikator penilaian yang berlainan sehingga peringkat untuk setiap universitas berbeda dari satu indeks ke indeks lainnya.

Peringkat 8 universitas terbaik di NZ

Kedua, program studi yang diinginkan hanya ada di sana atau peringkat dan kualitasnya tinggi di NZ. Ini bisa dibuktikan dari peringkat jurusan tersebut melalui lembaga pemeringkatan di atas maupun testimoni mahasiswa (contohnya situs dari Victoria University of Wellington dan The University of Auckland) dan alumni (contohnya situs dari University of Otago, Auckland University of Technology, Lincoln University, dan majalah alumni oleh Massey University).

Ketiga, dosen pengajar di kampus tujuan memiliki reputasi internasional. Saya sendiri dulu memilih The University of Auckland karena seorang peneliti di bidang English for Specific Purposes yang buku-bukunya saya baca saat S1 mengajar di sana. Apalagi untuk calon mahasiswa S3, pemilihan dosen pembimbing sangat krusial. Tiap situs universitas biasanya menyediakan direktori staf, lengkap dengan daftar dosen yang mengajar, mata kuliah yang diampu, bidang ketertarikan riset, dan riwayat publikasi ilmiah.

Pertimbangan non-akademik lain juga bisa menjadi alasan, misalnya, suhu di NZ yang tidak terlalu ekstrem, situasi negara yang relatif aman dan sangat tenang untuk belajar, dan jarak yang cukup dekat dari Indonesia. Rangkuman alasan mengapa NZ layak menjadi tujuan kuliah bisa dibaca di sini dan ditonton di sini.

  1. Lakukan Riset Kampus dan Jurusan

Di Selandia Baru, terdapat 8 universitas utama yang semuanya merupakan kampus negeri dan tersebar baik di North Island dan South Island. Perguruan-perguruan tinggi ini menyediakan informasi lengkap terkait program studi yang ditawarkan di situs mereka masing-masing. Saran saya, bacalah informasi tersebut dan catat hal-hal berikut: Jenjang studi (foundation, S1, sertifikasi, diploma, S2, S3), durasi studi, dan mata kuliah yang diajarkan.

Sumber gambar: https://www.y-axis.com/news/best-universities-in-new-zealand-2019/
Daftar Perguruan Tinggi di Selandia Baru. Sumber gambar: https://www.y-axis.com/news/best-universities-in-new-zealand-2019/

Apabila sudah mengetahui jenjang studi yang diinginkan, pelajari juga struktur perkuliahan. Misalnya, di University of Canterbury, program S2 dibagi ke tiga jenis, yaitu research master’s (fokus untuk melakukan penelitian dengan seorang pembimbing), coursework/taught master’s (mengambil beberapa mata kuliah dan belajar di kelas), dan kombinasi keduanya. Mengapa riset ini penting? Karena meskipun judul programnya sama, konten perkuliahan yang diberikan bisa jadi berbeda antara dua universitas. Sebagai contoh, Master of International Business di University of Auckland dan di Auckland University of Technology memiliki perbedaan struktur, dosen pengajar, dan bentuk asesmen.

Selain menggali informasi dari situs resmi universitas, calon pendaftar juga bisa membaca pengalaman orang lain yang berkuliah di jurusan tertentu, seperti S1 accounting and finance di Unitec Institute of Technology, Master of Urban Planning, Master of Development Studies, Sistem Informasi, dan Master of Public Policy. Ada pula cerita tentang PhD in Civil Engineering dan jatuh bangun seorang mahasiswi PhD in Chemical Science yang berganti jurusan menjadi PhD in Education.

Jika ada informasi yang tidak bisa ditemukan, jangan ragu untuk menghubungi perwakilan universitas via surat elektronik. Biasanya setiap departemen atau fakultas memberikan kontak agar calon mahasiswa bisa bertanya. Sebaliknya, apabila kalian ingin berkuliah di NZ tapi sama sekali tidak terbayang kampus dan jurusannya, coba gunakan situs My StudyNZ dari pemerintah Selandia Baru yang bisa merekomendasikan program studi dan institusi sesuai profil pengguna.

  1. Cari Tahu tentang Kota yang Dituju

Kalau dua PR di atas sudah selesai, lanjutkan persiapan aplikasi dengan mencari tahu lebih jauh tentang kota tempat universitas tujuan berada. Beberapa artikel di Indonesia Mengglobal membahas kehidupan di Auckland serta hal-hal baik yang bisa dipelajari dari kota ini dan rasanya menimba ilmu di Wellington. Sekarang juga ada beberapa vlogger asal Indonesia yang mendokumentasikan kehidupan mereka sebagai mahasiswa di NZ, misalnya, Chandra Spencer di Auckland dan Intan Farhana di Wellington. Hanya saja, narasi soal kota-kota lainnya tidak banyak ditemukan, kecuali blog yang mengulas kehidupan suami-istri yang berkuliah di Lincoln, Canterbury dan sekelumit cerita tentang Dunedin.

Langkah ini penting untuk memantapkan pilihan dan mempersiapkan mental. Sebagai contoh, calon pendaftar yang beragama Islam mungkin khawatir tentang bagaimana hidup sebagai seorang Muslim di negara yang mayoritas non-Muslim. Namun, dengan membaca artikel oleh mahasiswa Indonesia tentang Ramadan dan Lebaran di Wellington, misalnya, kita bisa mendapat gambaran yang lebih konkret dan merasa lebih yakin.

  1. Pahami Persyaratan Beasiswa

Bagi kebanyakan orang Indonesia, beasiswa penuh ke Selandia Baru yang paling terkenal adalah New Zealand ASEAN Scholarships (NZAS) dari pemerintah Selandia Baru. Beasiswa ini memprioritaskan kriteria pelamar dan bidang ilmu tertentu. Ringkasannya bisa dibaca di sini. Untuk memperoleh informasi terbaru, kalian bisa baca langkah-langkah seleksi NZAS tahun 2019 dan tips mengisi aplikasi NZAS. Kalau kalian lebih menyukai video, saya merekomendasikan vlog serial kupas tuntas beasiswa ini (Rahasia Lulus Beasiswa ke New Zealand dan Lulus S1 dari Kampus yang Ga Terkenal Juga Bisa Lulus Beasiswa ke New Zealand) oleh Intan Farhana.

Saya sendiri berangkat studi S2 ke Auckland dengan beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) jalur Reguler dari Kementerian Keuangan (silakan simak cerita saya di artikel dan video wawancara). Akan tetapi, berdasarkan pedoman terakhir, penerima beasiswa LPDP jalur Reguler tidak lagi bisa kuliah ke New Zealand. Hanya mereka yang mendaftar lewat jalur Afirmasi (Alumni Bidikmisi, Prasejahtera Berprestasi, Daerah Afirmasi, Prestasi Seni, Prestasi Olahraga, dan Penyandang Disabilitas), Targeted Group (PNS, TNI, POLRI, dan Olimpiade Internasional), Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia (BUDI), dan Beasiswa Santri yang bisa, itupun dengan pilihan jurusan yang terbatas (lihat rangkumannya dalam tabel di bawah).

Jurusan dan universitas di NZ untuk beasiswa LPDP

Lalu, bagaimana jika seorang calon pendaftar tidak masuk dalam kategori pelamar maupun jurusan yang diprioritaskan NZAS dan LPDP? Kalian bisa mencari beasiswa dari masing-masing universitas. Laman ini memuat berbagai jenis beasiswa, lengkap dengan nama universitas yang mendanai, nominal/manfaat beasiswa, dan tenggat pendaftaran.

Secara umum, beasiswa dari kampus terbagi menjadi dua macam, yaitu beasiswa penuh dan beasiswa parsial. Sebagai ilustrasi, di The University of Auckland (UoA), untuk jenjang S2, terdapat sejumlah beasiswa parsial dan beasiswa penuh dari Asian Development Bank – Japan Scholarship Program untuk Master of Public Health, Master of Science (Environmental Science), Master of Arts (Development Studies), Master of International Business, dan Masters programmes in Engineering. Untuk S3 di kampus ini, beberapa beasiswa mencakup uang kuliah, asuransi, dan biaya hidup bulanan selama tiga tahun (lihat daftarnya di sini). Saya bahkan menemukan kisah tentang teaching assistant scholarship dari Lincoln University, sebuah skema pendanaan studi yang tidak umum tapi ternyata ada. Itu artinya peluang beasiswa ke NZ bisa datang dari beragam pintu.

  1. Siapkan Dokumen Aplikasi

Dulu saat mendaftar ke UoA, saya dibantu oleh sebuah agen pendidikan (daftar rekanan resminya bisa dicari di sini). Sisi positifnya adalah saya merasa dibimbing dalam melakukan aplikasi. Selain itu, tidak ada biaya jasa sepeser pun dan bahkan pengurusan visa dibantu. Meski demikian, proses aplikasi ke universitas sebetulnya mudah dan bisa dilakukan secara mandiri. Kuncinya adalah memahami betul persyaratan, mengisi borang aplikasi dengan benar dan baik, serta melengkapi dokumen yang diminta.

Kala itu, untuk program Master of Arts in Applied Linguistics, saya diminta menyerahkan: Borang aplikasi yang sudah diisi, ijazah SMA dan S1 serta transkrip nilai S1 (diterjemahkan dan berlegalisir), skor IELTS, paspor, dan curriculum vitae (CV). Program studi saya tidak mensyaratkan motivation letter sehingga saya menduga seleksi didasarkan pada IPK, IELTS, dan riwayat akademik serta riset di CV.

Sumber gambar: Dokumentasi penulis
Contoh Letter of Acceptance dari The University of Auckland. Sumber gambar: Dokumentasi pribadi

Di kampus saya, pendaftaran dibuka sepanjang tahun. Untuk itu, tidak perlu menunggu pandemi berakhir. Namun, aturan di kampus lain bisa saja berbeda, jadi kalian harus memeriksa dengan teliti. Sementara itu, untuk aplikasi beasiswa, beberapa lembaga mungkin menunda seleksi hingga tahun depan. Akan tetapi, tidak ada salahnya mempersiapkan berkas aplikasi dari sekarang.

  1. Pelajari Kehidupan Mahasiswa Indonesia di Sana

Terakhir, untuk mengisi waktu, bacalah sebanyak-banyaknya pengalaman berkuliah di NZ untuk memperkaya wawasan. Simak tips untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris di sana, cara berhemat, tips memilih makanan, tips mencari akomodasi, serta cerita ribetnya tinggal bersama mahasiswa internasional. Khusus untuk Auckland, baca juga gambaran kehidupan akademik, tips menulis tesis, hingga pengalaman bekerja paruh waktu di luar kampus dan di dalam kampus.

Sumber gambar: LPDP Awardees NZ
Disa dan mahasiswa lainnya di Selandia Baru. Sumber gambar: LPDP Awardees NZ

Semoga artikel ini bermanfaat dan kalian yang membaca akan meraih keberhasilan dalam aplikasi studi dan beasiswa ke Selandia Baru. Selamat berjuang!

***
Editor: Yogi Saputra Mahmud