Belajar Berinovasi dari Negara Paling Inovatif, Swedia!

0
544

“Inovasi” adalah sebuah kata yang sangat kerap didiskusikan beberapa tahun belakangan ini. Namun, sebelum melontarkan kata itu, pernahkah kamu merefleksikan sejenak apa yang dimaksud dengan inovasi? Di artikel ini, kontributor Indonesia Mengglobal Nurina Heratri berbagi pengetahuan dan pengalamannya dalam mempelajari inovasi di Swedia.

***

Soal inovasi, Swedia memang tidak perlu dipertanyakan lagi. Menurut Global Innovation Index tahun 2019,  Swedia dinilai sebagai negara paling inovatif kedua di dunia setelah Swiss, mengungguli Amerika Serikat, Belanda dan Finlandia. Setelah hampir tiga tahun menetap di Swedia pun saya masih sering dibuat terkagum-kagum dengan inovasi di negeri ini. Lihat saja barang-barang di sekeliling kita sehari-hari, banyak yang berasal dari Swedia lho! Mulai dari peralatan masak dan rumah tangga dari IKEA, bus transjakarta dari Scania dan Volvo, hingga video call Skype, game Candy Crush dari King, dan playlist lagu Spotify!

Tapi tahu ga sih kenapa banyak produk besar lahir di Swedia? Nah, di tulisan ini, saya akan mengajak kalian mengenal lebih jauh gimana sih inovasi bisa tumbuh dan berkembang di Swedia, dan hal penting apa yang bisa kita pelajari.

Apa yang membuat Swedia sangat inovatif?

Inovasi bisa datang dari mana saja, terutama ketika banyak keterbatasan. Namun untuk menjadi negara yang inovatif, tentunya peran lingkungan sangat besar dalam mendukung lahirnya inovasi. Posisi Swedia di urutan kedua di dunia didasari oleh beberapa faktor, mulai dari tingkat pemerintah hingga masyarakat. Misalnya, seberapa efektif kinerja dan regulasi pemerintah dalam mendukung kebijakan bagi pertumbuhan bisnis di Swedia, lalu infrastruktur, market dan investasi, pendidikan dan riset, serta kreativitas dari masyarakat baik akademik, industri, dan komunitas dalam melahirkan peluang bisnis baru serta perkembangan teknologi termasuk mobile app.

Saya datang ke Swedia pada awalnya untuk melanjutkan pendidikan S2, tepatnya di Gothenburg, kota di tepi barat yang juga kedua terbesar di Swedia. Lalu saya melanjutkan bekerja di innovation hub sebuah perusahaan konsultan digital di Stockholm. Ada banyak hal yang saya lihat sangat berpengaruh pada pertumbuhan inovasi di Swedia, seperti hal-hal berikut ini.

nurina3

Ibukota Startup di Eropa

Banyak inovasi lahir justru dari perusahaan startup, karena seringkali startup menciptakan produk dan jasa yang mengutamakan para pengguna (user). Jadi bisa dibilang, produk yang ditawarkan startup adalah solusi dari permasalahan yang ada di masyarakat, bukan hanya sekedar mencari keuntungan. Swedia sendiri menjadi tempat yang subur untuk melahirkan startup-startup baru. Bahkan Stockholm, tempat saya tinggal, juga dikenal sebagai ibukota startup di Eropa.

Disini banyak acara seperti Startup Camp, di mana para startup ini menyampaikan ide mereka (pitch) dan pemenangnya akan diberikan dana investasi serta dikelola dalam sebuah venture. Venture ini bisa berasal dari perusahaan besar, institusi pemerintah, bahkan universitas. Para startup yang menang akan mendapat kesempatan bimbingan dari ahli bisnis, network, hingga kantor dan lab sementara di mana mereka bisa mengembangkan produk mereka lebih jauh. Umumnya setelah tiga tahun, mereka diharapkan sudah bisa menjalani bisnis mereka sendiri dan tumbuh semakin besar. Startup juga sangat signifikan perannya dalam perekonomian karena membantu melahirkan peluang bisnis dan lapangan pekerjaan baru.

Hackathon dan open innovation

Selama di Swedia, hackathon diselenggarakan beberapa kali dalam setahun. Kadang mungkin setiap bulan. Hackathon sendiri adalah sebuah acara yang berlangsung selama 1-3 hari, dimana orang-orang berkumpul untuk berkolaborasi menyelesaikan suatu isu di masyarakat. Misalnya saja belakangan ini dengan pandemi COVID-19, kita merasakan banyak permasalahan yang timbul, seperti menurunnya ekonomi, meningkatnya pengangguran, manajemen fasilitas kesehatan umum, dan seterusnya. Di Swedia, dan bahkan Eropa, beberapa waktu lalu akhirnya diadakan hackathon secara online untuk bersama-sama mencari solusi atas permasalahan-permasalahan ini.

Saya sendiri pernah mengikuti beberapa hackathon dan ini merupakan pengalaman yang sangat unik. Awalnya saya ragu karena berpikir hackathon hanya untuk programmer karena seringkali kita harus membuat solusi digital seperti mobile app. Tapi ternyata di sini semua orang dari berbagai disiplin disambut dalam hackathon. Justru dengan beragam latar belakang ini diharapkan kita bisa belajar melihat dan berempati terhadap sudut pandang orang lain sehingga kita benar-benar bisa menghasilkan solusi yang tepat sasaran. Jadi, kolaborasi dan keberagaman (diversity), didukung oleh pengetahuan yang kuat dari masing-masing peserta, adalah kunci dari keberhasilan hackathon.

Dalam hackathon ini, hampir semua orang bertemu untuk pertama kalinya dan dibentuk menjadi sebuah kelompok. Jadi tantangan tersendiri ketika kamu bertemu dengan orang-orang baru dan harus menyelesaikan masalah dalam waktu singkat dengan orang-orang tersebut. Pemenang dari hackathon ini biasanya akan mendapat dana untuk merealisasikan idenya, dan bahkan bisa berkembang menjadi startup!

nurina1

Hubungan industri dan akademik yang saling melengkapi

Tidak hanya startup, tapi perusahaan besar pun terus berusaha melahirkan inovasi. Misalnya perusahaan tempat saya bekerja saat ini, yang memiliki sebuah innovation hub di mana kami dilatih untuk mengekspresikan kreativitas dalam memecahkan masalah. Design thinking menjadi pendekatan yang sering digunakan karena mengasah kami berpikir dengan fokus pada pengguna (user) serta bekerja secara agile.

Sewaktu kuliah pun, saya merasa hubungan antara industri dan universitas terjalin dengan baik. Banyak kerjasama di antara keduanya yang bisa saling melengkapi dan akhirnya mendukung lahirnya inovasi baru. Hal ini juga merupakan hal yang sangat saya sukai dari Swedia, karena dunia akademik dan industri tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan bekerja sama memberikan solusi untuk masa depan.

Pelajaran berharga tentang inovasi di Swedia

Hal terpenting tentang inovasi yang saya pelajari dan sangat ditekankan di Swedia adalah, inovasi lahir dari keberagaman dan kolaborasi. Dalam suatu tim, kita didorong untuk bekerja dengan orang-orang dari disiplin yang berbeda, serta gender dan latar belakang budaya yang berbeda pula. Karena inovasi bukan hanya soal mengejar keuntungan, tapi juga menyelesaikan masalah sosial di lingkungan kita. Lingkungan kita terdiri dari orang yang beragam, mulai dari pengalaman, pola pikir, kebiasaan, dan sebagainya. Menggabungkan orang-orang yang berbeda dalam suatu proses inovasi diharapkan dapat saling memberikan sudut pandang yang baru. Hal ini juga melatih empati kita, suatu hal yang sangat penting ketika menyelesaikan sebuah masalah. Setiap orang bisa memberikan ide, tapi inovasi tidak dilahirkan dari satu individu, melainkan dari kerjasama masyarakat itu sendiri.

Hal lainnya yang tidak kalah penting adalah kemauan untuk terus mencoba, berani gagal dan mau mencoba lagi. Just do it! Kuncinya adalah mulai mencoba dan terus memperbaiki. Budaya di Swedia cenderung informal dan struktur organisasi biasanya tidak begitu hierarkis, artinya tidak perlu khawatir untuk berkomunikasi dengan manager kamu atau siapapun. Kalau perlu diskusi, kamu bisa langsung menghampiri mereka dan bertanya. Dengan begini, proses menjadi lebih sederhana, efisien dan efektif.

Kalau tim kamu punya suatu ide, coba kalian kembangkan bersama-sama dan lihat hasilnya. Walaupun di sini dianjurkan untuk berpikir kritis, namun tidak disarankan untuk terus mengkritik ide orang lain apalagi menolaknya hanya karena kita merasa ide tersebut tidak ‘realistis’. Karena itu hanya akan menghambat proses inovasi dalam melahirkan terobosan baru.

Nah, begitulah kira-kira hal-hal tentang inovasi yang saya dapatkan selama di Swedia. Jadi, berani mencoba dan jangan takut gagal ya!

***

Foto-foto disediakan oleh penulis