Warisan Tanah Air Kita Dipuja di Negeri Orang

0
458
Jeannette Zes and fellow Indonesians performing Ratoh Jaroe, an Indonesian traditional dance from Aceh, at a cultural festival in Manchester, UK, March 2020

Merantau ke negeri orang membuat kita semakin menghargai dan bangga dengan budaya negeri sendiri. Jeannette Zes Giovani (Jeannette), mahasiswi S2 program Information and Communication Technologies for Development di University of Manchester, Inggris Raya, merasakan hal serupa. Seperti Jeannette, kita dapat melakukan hal-hal sederhana untuk membantu melestarikan dan mempromosikan budaya Indonesia. Tidak perlu menjadi seniman atau ilmuwan kelas dunia, kok, untuk melakukannya! Mari simak pengalaman Jeannette dalam semangat tema ulang tahun Indonesia Mengglobal ke-8, Embracing Your Roots Beyond Borders.

***

Sebelum keberangkatan saya untuk menempuh kuliah di Inggris, tidak pernah terbayang bahwa yang akan saya bawa bukan hanya bagasi pakaian dan perlengkapan kuliah, tapi juga budaya bangsa yang telah melekat sebagai bagian dari identitas diri.

Awalnya, saya sering mendengar dari teman-teman saya bahwa orang luar negeri itu biasanya hanya tahu Bali, tidak tahu di mana Indonesia. Mendengar pernyataan ini membuat saya bertanya-tanya, mengapa Indonesia tidak banyak dikenal di negeri orang. Padahal, Indonesia adalah negara yang besar, bahkan terbesar keempat di benua Asia dilihat dari jumlah populasinya.

Untuk mengantisipasi pertanyaan seputar Indonesia yang mungkin akan muncul ketika saya di Inggris, saya memutuskan untuk mengenal lebih dalam budaya sendiri sebelum berangkat. Saya membaca beberapa buku dan mengunjungi museum untuk lebih memahami akar budaya dan keragaman tradisi Indonesia. Saya juga menyiapkan beberapa potong pakaian batik dan cindera mata bertema wayang untuk dibagikan sebagai kenang-kenangan nantinya.

Jeannette Zes visited Satria Mandala Museum in Jakarta, Indonesia
Tiga minggu sebelum berangkat ke Inggris, Jeannette melakukan kunjungan ke Museum Satria Mandala bersama Bapak Pendi, seorang ex-marinir. Museum ini sebelumnya adalah Wisma Yaso, tempat terakhir Soekarno bersemayam sebelum menghembuskan nafas terakhir.

Di Inggris, ternyata apa yang saya dengar tentang pengetahuan orang luar negeri atas Indonesia ada benarnya. Menimba ilmu 12.000 km jauhnya dari tanah air, berbaur dengan 11.000 mahasiswa asing dari 160 negara dengan latar budaya dan bahasa yang berbeda, membuktikan bahwa masih sering ada yang bertanya, “Which one is in Indonesia, Bali or Maldives?”, atau, “Is Indonesia near Bali?”

Pertanyaan-pertanyaan ini memaksa saya untuk memberikan pelajaran geografi singkat, bahkan terkadang sampai saya tunjukkan pula peta provinsi-provinsi di Indonesia pada teman-teman saya.

Walau sebenarnya tidak semua pertanyaan yang diajukan tidak akurat, contohnya, “So you’re from Jakarta? Isn’t the traffic bad there?” Untuk pertanyaan ini saya iyakan saja dengan tawa. Rupaya kemacetan ibukota tenar sampai Manchester.

Menjadi mahasiswa asing di negeri orang memang memiliki keunikan tersendiri. Salah seorang dosen saya sering bertanya pada para mahasiswanya, “Where do you come from?” Terdengar simpel, namun bisa menjadi pembuka percakapan yang efektif. Melebihi nama, asal negara bisa menjadi hal istimewa yang diingat orang akan kita.

Buktinya, pernah suatu kali seorang mahasiswa menghampiri saya untuk berkenalan karena ia tahu saya orang Indonesia. Ia berkata “Hello, are you from Indonesia? What is your name? I have been there once, to Jogjakarta and Bali.” Identitas dan kewarganegaraan kita terbukti bisa menjadi pembuka pembicaraan yang akhirnya berujung pada pertemanan.

Beberapa pengalaman tersebut membuat saya tergugah untuk berbagi lebih banyak cerita tentang tanah air dengan berbagai cara.

Hal pertama dan sederhana yang saya lakukan adalah bangga memakai batik. Uniknya, ada seorang profesor yang selalu mengenakan batik setiap hari dalam acara apapun. Rupanya beliau memiliki kedekatan khusus dengan Indonesia karena sudah beberapa kali berkunjung ke sana untuk penelitian.

Hingga suatu kali ia berkata kepada saya, “You should wear batik everyday too”. Saya hanya bisa tertawa karena batik yang saya bawa memang tidak banyak. Namun, mengetahui bahwa budaya negeri sendiri digemari dan dikagumi warga negara asing membuat saya semakin bersemangat untuk mempromosikan budaya Indonesia.

Sebagai bagian dari program master’s saya di University of Manchester, pada bulan Januari 2020 saya berkesempatan untuk melakukan kunjungan studi ke City Council of Western Cape Government di Afrika Selatan. Pada kesempatan ini, saya sengaja mengenakan batik.

Jeannette Zes wore Indonesian batik during her study visit to the City Council of Western Cape Government, South Africa
Mengenakan dan mengenalkan batik saat kunjungan ke City Council di Afrika Selatan

Corak batik saya yang unik rupanya mengundang ketertarikan dan pertanyaan dari banyak partisipan. Dari situlah saya bisa ikut memperkenalkan batik sebagai cerminan karakter bangsa yang sudah ditetapkan sebagai warisan budaya Indonesia oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organisation (UNESCO).

Di luar itu, ternyata ada saja kesempatan untuk memperkenalkan budaya Indonesia. Seorang teman menawarkan saya untuk menampilkan tari Ratoh Jaroe bersama warga negara Indonesia lainnya dalam acara Arts and Culture Festival, yang diadakan oleh Muslim Arts and Culture Festival (MACFEST) Community di Whitworth Grand Hall Manchester, Maret 2020 lalu, dalam rangka perayaan International Women’s Day.

Tari Ratoh Jaroe adalah tari tradisional asal Aceh yang biasanya ditampilkan untuk menyambut tamu. Jika Anda masih ingat, tari ini ditampilkan pada acara pembukaan Asian Games 2018 ketika Indonesia menjadi tuan rumah. Ya, serupa namun tak sama dengan tari Saman, yang mungkin lebih familiar bagi kebanyakan orang.

Saya pikir kenapa tidak menerima tawaran itu? Ini adalah kesempatan yang baik untuk memperkenalkan budaya yang unik dari negeri sendiri. Apalagi, jenis tarian ini pernah saya tekuni ketika SMA, jadi seharusnya tidak begitu sulit.

Sebagian orang mungkin akan berpikir bahwa mereka tidak akan bisa melakukan hal yang sama karena mereka bukan penari, atau tidak punya pengalaman menari sejak lama. Well, anggapan itu tidak 100% benar. Nyatanya, mayoritas penampil Ratoh Jaroe waktu itu bukanlah penari dan baru pertama kali mempelajari tarian itu. Memang awalnya tidak mudah, namun dengan komitmen dan semangat untuk menjadi duta budaya Indonesia, akhirnya kami dapat tampil setelah berlatih kurang lebih dua bulan.

Jeannette Zes and fellow Indonesians performing Ratoh Jaroe, an Indonesian traditional dance from Aceh, during a cultural festival in Manchester, March 2020
Menampilkan tarian Ratoh Jaroe bersama warga negara Indonesia lainnya di acara Arts and Culture Festival, Manchester

Menurut saya, tari adalah salah satu bentuk seni budaya yang paling memikat, penuh dengan rangkaian gerakan unik dan lantunan musik yang serasi. Kami termasuk yang beruntung memiliki kesempatan untuk menampilkan tari tradisional Indonesia saat itu. Karena tidak lama setelahnya, pandemi Covid-19 membuat semua acara publik di Manchester dibatalkan. Salah satu yang dibatalkan adalah Indonesian Cultural Festival, di mana kami seharusnya mementaskan kembali tarian Ratoh Jaroe.

Sebelum pementasan itu sebenarnya saya tidak berharap apapun; saya hanya ingin agar pertunjukkan tersebut berjalan dengan baik dan lancar tanpa kendala. Namun ternyata, tarian, musik, dan lagu dapat memengaruhi emosi manusia. Saat tarian kami selesai, seketika gemuruh tepuk tangan memenuhi ruangan dan mengiringi kami turun dari panggung.

Satu tarian yang sudah biasa saya bawakan saat SMA ternyata memberi kesan yang berbeda dan mendalam ketika ditampilkan di negara lain. Ada perasaan bangga telah menjadi bagian yang membawa sedikit “potongan” Indonesia dan membantu mengenalkan potongan itu pada audiens yang lebih luas di negeri orang. Saya juga beruntung bisa menyaksikan kebudayaan tanah air dipuja oleh warga negara lain.

Semoga pengalaman ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk semakin menghargai budaya dan tradisi negeri sendiri. Ada banyak hal unik yang membuat bangsa kita istimewa. Oleh karena itu, mari kita jaga dan lestarikan keistimewaan itu bersama, dimulai dari hal-hal kecil.

 

Foto-foto diambil dari koleksi pribadi penulis.