Rayhan Sudrajat: Mengglobal Bersama Musik Tradisional Indonesia

0
277

Rayhan Sudrajat, seorang musisi Indonesia yang sedang menyelesaikan studi Master of Arts (Ethnomusicology and Musicology) di Monash University, membagikan kisahnya dalam mempromosikan musik tradisional Indonesia ke wilayah Australia, Eropa, Amerika, serta wilayah lainnya di dunia.

***

Perjalanan Awal Bermusik

Halo Indonesia Mengglobal, perkenalkan nama saya Rayhan Sudrajat, biasa dipanggil Rayhan. Saya berasal dari Bandung, Jawa Barat. Saya seorang akademisi dan juga musisi yang berkecimpung di dunia musik profesional sejak tahun 2010.

Saya selalu tertarik dengan dunia musik, terutama musik tradisi dari kelas 1 SMA. Perkenalan saya dengan musik tradisi dimulai sejak kelas 1 SMA, yaitu belajar memainkan alat musik kecapi dari suku Sunda. Berawal dari belajar kecapi, saya telah diundang beberapa kali untuk bermain di dalam acara yang dihelat oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia di Eropa. Sejak saat itu, musik tradisi Indonesia telah membawa saya ke berbagai negara di Eropa, Amerika, dan akhirnya Australia, tempat saya melanjutkan studi di bidang Ethnomusicology di Monash University, Australia.

Saat momen “Visit Indonesia 2008” di Belgia, Eropa. Sumber: Rayhan Sudrajat
Saat momen “Visit Indonesia 2008” di Belgia, Eropa. Sumber: Rayhan Sudrajat

Master of Arts: Ethnomusicology

Saat ini, saya sedang dalam proses menyelesaikan studi Master by Research di Monash University dengan program Ethnomusicology. Program studi Ethnomusicology ini berada di bawah naungan Faculty of Arts, Monash University. Saya mengambil bidang studi Master by Research selama 24 bulan. Secara singkat, Master by Research ini kurang lebih seperti PhD: tidak mengikuti perkuliahan seperti Master by Coursework dan langsung berhubungan dengan pembimbing.

Di bidang studi ini, saya juga berkesempatan untuk terlibat di acara-acara yang digagas oleh fakultas dan kampus. Di dalam jurusan Ethnomusicology saya belajar sekali banyak hal mengenai hal-hal yang terkait di bidang Ethnomusicology, ada ethnography, anthropology, music theory, dan lain-lain. Karena Monash University adalah salah satu kampus terlengkap di Australia yang mempunyai koleksi literatur, artikel, buku mengenai Indonesia, saya tidak berkesulitan untuk mencari data untuk riset saya. Hal ini tentu sangat menunjang penelitian saya di bidang Ethnomusicology. Singkat kata, saya merasa bersyukur dapat berkuliah di jurusan Ethnomusicology dengan Master by Research di Monash University.

Saat proses tugas lapangan di wilayah sungai Katingan. Sumber Rayhan Sudrajat
Saat proses tugas lapangan di wilayah sungai Katingan. Sumber Rayhan Sudrajat

Mempromosikan Musik dan Budaya Indonesia di Kancah Internasional

Saya mengalami pengalaman yang sangat menarik saat mempromosikan musik dan budaya Indonesia di kancah internasional. Saya berkesempatan untuk bergabung ke berbagai komunitas dari Indonesia dan juga negara-negara lain selama di Australia, contohnya Amerika Latin dan India. Saya pun berkesempatan untuk membentuk beberapa grup musik berlandaskan tradisi. Hampir semua audiens yang saya temui dalam setiap kesempatan menunjukkan rasa kagumnya terhadap budaya Indonesia terutama musik tradisi aslinya.

Seperti yang kita ketahui bersama, musik Gamelan dari Bali dan Jawa adalah salah satu musik yang sangat dikenal oleh orang Australia yang ada di wilayah Victoria. Bahkan beberapa kampus di wilayah Victoria mempunyai set Gamelan Bali dan Jawa yang lengkap dengan beberapa musisi Australia yang ahli dalam memainkan Gamelan tersebut. Saya pun sempat bergabung serta dalam Gamelan dari Lampung yang bernama “Talo Balak”, dan kami berkesempatan untuk tampil dalam beberapa acara di kampus. Dengan berada di tengah lingkungan yang apresiatif terhadap musik tradisi Indonesia, saya semakin bersemangat untuk memperkenalkan musik tradisi Indonesia, terutama Sunda dan Kalimantan tidak hanya di wilayah Australia, tapi juga di Eropa dan Amerika.

Salah satu pengalaman yang sangat menarik dalam perjalanan saya memperkenalkan musik Indonesia adalah pada saat saya melakukan tour ke Amerika selama 6 minggu bersama OneBeat. OneBeat adalah program pertukaran para musisi ke Amerika di bawah naungan US Department of State Bureau of Education and Cultural Affairs. Saya bersama 24 musisi dari beberapa negara lainnya menyusuri 4 negara bagian di Amerika: Oregon, Boise, Wyoming, dan Denver untuk berkolaborasi, bermain musik, serta berkontribusi bermain musik di sekolah-sekolah yang ada di beberapa negara bagian tersebut. Sebagai satu-satunya perwakilan dari Indonesia pada tahun 2017 tersebut, saya merasa bangga dapat menghadirkan nuansa musik dan budaya Indonesia pada program tersebut.

Mengisi “Diskusi Seni dan Budaya Indonesia Musik Suku Baduy Dalam” yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia di Canberra 2015. Sumber Rayhan Sudrajat
Mengisi “Diskusi Seni dan Budaya Indonesia Musik Suku Baduy Dalam” yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia di Canberra 2015. Sumber Rayhan Sudrajat

Tanggapan Masyarakat Internasional terhadap Musik dan Budaya Indonesia

Dari berbagai semua tanggapan yang positif selama saya memperkenalkan musik dari Indonesia, semua menyatakan kekagumannya terhadap musik dan budaya Indonesia. Tidak hanya dari musik, tapi dari tari, kuliner, permainan tradisional, dan juga bahasanya yang kaya dari setiap provinsi. Terlebih, beberapa teman-teman yang saya temui dalam berbagai kesempatan saya ke Eropa dan Amerika telah mengunjungi beberapa daerah di Indonesia. Tidak hanya budayanya, namun bentang alam yang luar biasa menjadi alasan teman-teman saya untuk mengunjungi Indonesia.

Ada salah satu pesan penting yang saya ambil dari teman-teman saya tersebut, bahwa yang kita lakukan sekarang adalah mulai menjaga sambil memperkenalkan budaya tersebut lebih luas lagi untuk konteks yang lebih lebar. Sehingga selain melestarikan budaya kita yang kaya, kita pun dapat memperkenalkannya terhadap budaya populer.

Embracing Your Roots Beyond Borders: Perspektif seorang Rayhan

Bagi saya, hal yang membedakan setiap individu dari satu dan lainnya adalah identitas. Identitas disini terkait dengan “roots” kita sebagai orang dari Indonesia yang berasal dari sub suku yang berbeda dan bahasa yang berbeda. Perbedaan tersebutlah menurut saya yang membuat kita masing-masing menjadi unik, terutama pada saat kita tidak berada di Indonesia. Dengan berpegangan terguh terhadap “akar” kita tersebut, kita dapat mengatakan bahwa “saya orang Indonesia, budaya saya seperti ini, bahasa saya seperti ini, musik saya seperti ini… maka, inilah identitas saya sebagai orang Indonesia”. Sehingga, identitas menjadi sangat penting saat kita berada di tengah-tengah kerumunan yang saling tidak mengenal sebelumnya. Dengan merawat identitas tersebut, kita pun secara tidak langsung seperti merawat sebuah tunas yang terus tumbuh, yang kita jaga sampai tunas itu bertumbuh menjadi pohon yang berbuah kebaikan untuk orang banyak.

Saat momen program residensi di OneBeat. Sumber Alexia Webster (httpwww.alexiawebster.com)
Saat momen program residensi di OneBeat. Sumber Alexia Webster (http://www.alexiawebster.com/)

Untuk Para Pembaca Indonesia Mengglobal

Saya memiliki pesan penting untuk para pembaca Indonesia Mengglobal dalam kaitannya dengan Embracing Your Roots Beyond Borders. Jadilah diri sendiri, jangan tutupi keunikan teman-teman kepada dunia. Hal yang menurut teman-teman tidak baik belum tentu tidak baik untuk orang lain. Mungkin justru hal tersebut menjadi hal yang menjadikan teman-teman semua dikenal dan bermanfaat untuk orang banyak. Terus pelihara tekad dan kemauan yang kuat untuk suatu hal. Konsistensi adalah kunci.

Contoh untuk hal ini adalah pada saat saya ingin mendaftar jurusan Ethnomusicology pada tahun 2016. Beberapa teman dekat sangat menyayangkan keputusan saya untuk berkuliah di jurusan tersebut karena dianggap tidak mempunyai masa depan, tidak jelas dan alasan lainnya yang membuat saya cukup “jatuh” pada saat itu. Mereka sarankan untuk ambil jurusan yang “jelas” untuk masa depan seperti IT, bisnis, finance dan lainnya. Tapi karena kecintaan saya yang kuat terhadap musik dan budaya, saya terus konsisten di dalam mimpi saya, dan saya tekadkan untuk raih dalam kurun waktu yang saya targetkan. Akhirnya, saya dapat berkuliah di Monash University di jurusan Ethnomusicology.

Semangat terus teman-teman dan pembaca Indonesia Mengglobal dan terima kasih atas kesempatannya!

Click my social media here:

Rayhan’s Website

Rayhan’s Spotify

Rayhan’s Instagram

Rayhan’s Facebook

***

Editor: Yogi Saputra Mahmud

SHARE
Previous articleKisah Bram: Memperkenalkan Budaya Indonesia di Kyoto
Next articleGoing back to Indonesia meant leaving my comfort zone
Rayhan Sudrajat
Rayhan Sudrajat is a Bandung-based vocalist, composer, and ethnomusicologist living in Melbourne. He spent time travelling and became fascinated with the oral traditions of Indonesia’s indigenous people, especially the Kanekes people in West Java and the Ngaju people in Central Kalimantan. In 2017, Rayhan had accepted as the one and only Indonesia’s representative for OneBeat Fellow 2017 which is one of the programs from The US Department of State Bureau of Education and Cultural Affairs, and this program allowed him to introduce Indonesia’s culture and music to the United States. In early 2018, because of his exceptional interest in Indonesian music, he started his master in ethnomusicology at Monash University. Viewing traditional music as both an original form of cultural preservation and tool for connecting global culture, Rayhan has devoted himself to elevating the traditional folk songs he loves and exposing them to a broader and younger audience. He also has a modular synthesizers project called Baséput.