Mengupas tentang Pengajaran Bahasa Indonesia di Australia: Sekilas Profil Zacky sebagai Pengajar BIPA

0
742

Dalam rangka ulang tahun Indonesia Mengglobal, artikel-artikel di bulan Juni memuat tema spesial berkaitan dengan “Embracing Your Roots Beyond Borders.”

Kali ini, Yogi Saputra Mahmud (Content Director for Australia, New Zealand, and Pacific Islands) berkesempatan untuk mewawancarai Zacky, seorang pengajar Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) di Australia. Di artikel ini, Zacky menceritakan kisahnya yang telah mengabdikan diri dalam pengajaran BIPA di Australia selama enam tahun hingga saat ini. 

***

Hai Zacky, boleh deskripsikan riwayat diri kamu secara singkat hingga kamu menjadi pengajar Bahasa Indonesia di Australia?

Hai semuanya, kenalkan saya Zacky asal Bekasi, Jawa Barat. Sudah tidak terasa tahun ini adalah tahun keenam saya mempromosikan bahasa dan budaya Indonesia di negeri kangguru. Awalnya saya sungguh tidak akan pernah menyangka kalau pada akhirnya saya bisa menjadi pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing atau yang biasa disebut dengan istilah (BIPA) karena latar belakang pendidikan saya adalah lulusan S1 pendidikan S1 Bahasa Inggris dari STBA LIA Jakarta. Ketika saya berkuliah S1, saya sering membantu mahasiswa asing yang sedang mengikuti program pertukaran di kampus saya. Ternyata dari pengalaman tersebut, saya sangat tertarik untuk mendalami bidang BIPA. Setelah saya lulus S1, saya memberanikan diri untuk mengadu nasib saya di Sydney, Australia.

Awal karir saya sebagai pengajar BIPA dimulai dengan mengajar di sebuah sekolah komunitas Bahasa Indonesia bernama Pelangi Indonesian School pada tahun 2014. Satu tahun berikutnya saya berkesempatan untuk menjadi asisten guru Bahasa Indonesia dalam program Language Assistant Program yang diprakarsai oleh Balai Bahasa Indonesia Perth bekerja sama dengan Departemen Pendidikan Australia Barat. Pengalaman tersebut benar-benar membuka mata saya tentang pendidikan formal di Australia dan saya belajar banyak bagaimana Bahasa Indonesia dipelajari sebagai salah satu mata pelajaran sekolah dari SD kelas 1 sampai SMA kelas 12. Pengalaman tersebut akhirnya membuka pintu kesempatan saya untuk semakin berkiprah di bidang pengajaran BIPA seperti mengajar di Monash University, Melbourne sebagai tutor di mata kuliah Indonesian Studies, asisten guru Bahasa Indonesia di Marcellin College, serta pengajar untuk kursus Bahasa Indonesia yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Indonesia Perth (BBIP) dan Australia Indonesia Association cabang Victoria (AIAV).

Boleh diceritakan sedikit bagaimana keseharian kamu sebagai seorang pengajar Bahasa Indonesia di Australia?

Keseharian saya sebagai pengajar Bahasa Indonesia di Marcellin College saya pikir sama seperti keseharian guru di Indonesia pada umumnya. Di sekolah, saya memulai hari saya sedikit lebih awal untuk memberikan latihan percakapan kepada murid-murid saya di kelas dua belas, mengingat ujian lisan menjadi salah satu persyaratan kelulusan mereka. sekolah di Australia pada umumnya sedikit lebih lambat daripada sekolah di Indonesia. Di sini, kami mulai pada pukul 8:30 pagi dan kelas terakhir selesai pada jam 3:20 sore. Selain mengajar pastinya saya juga menyiapkan berbagai macam bahan ajar, mengoreksi tugas siswa, dan juga yang tidak kalah pentingnya yaitu berinteraksi dengan rekan kerja!

Zacky sedang mengajar di salah satu sekolah dasar di Australia Barat. Source: Personal documentation
Zacky sedang mengajar di salah satu sekolah dasar di Australia Barat. Sumber: Dokumentasi Pribadi.

Hal apa yang paling berkesan selama mengajar Bahasa Indonesia di Australia?

Tidak ada yang paling berkesan bagi saya kecuali melihat kesuksesan para murid saya di sekolah. Saya ingat sekali ketika salah satu murid saya di kelas dua belas yang sering kami panggil Andri (Setiap murid di sekolah, saya berikan nama Indonesia) mengikuti lomba pidato dalam bahasa Indonesia. Lomba tersebut diselenggarakan kepada seluruh siswa-siswi yang belajar Bahasa Indonesia di negara bagian Victoria. Dia berhasil menjadi satu dari delapan pemenang lomba tersebut dan berkesempatan untuk mengikuti perayaan hari kemerdekaan di Kedutaan Besar RI di Canberra sekaligus bertemu dengan Dubes RI untuk Australia, Pak Kristiarto Legowo.

Apakah terdapat tantangan tersendiri dalam mengajarkan Bahasa Indonesia kepada penutur bahasa asing?

Mungkin tantangan ini tidak hanya berlaku kepada saya secara pribadi, namun juga pengajar lainnya di seluruh Australia yaitu merosotnya angka pelajar bahasa Indonesia di negara ini dalam beberapa tahun belakangan. Tentunya hal ini terjadi akibat dari berbagai macam faktor seperti pasang surut hubungan politik antara Australia dan Indonesia, ketersediaan pendanaan program, ataupun kurangnya sumber daya pengajar di Australia. Hal ini yang membuat saya menjadi selalu termotivasi untuk terus berinovasi dalam program yang saya ajar agar setidaknya peminat bahasa Indonesia semakin bertambah.

Zacky sedang mendemonstrasikan cara memasak martabak manis kepada siswa-siswi SMA di Australia. Sumber: Dokumentasi pribadi
Zacky sedang mendemonstrasikan cara memasak martabak manis kepada siswa-siswi SMA di Australia. Sumber: Dokumentasi pribadi.

Apakah seseorang memerlukan kualifikasi tertentu untuk mengajarkan Bahasa Indonesia kepada penutur bahasa asing?

Dalam konteks pendidikan di Australia, IYA. Untuk dapat mengajar di Australia, teman-teman harus memiliki ijazah jurusan pengajaran yang diterbitkan dari universitas di Australia. Saya pun sudah tidak sabar untuk menjadi guru resmi di kelas ketika program S2 yang saat ini saya jalani selesai. Saat ini saya sedang mengenyam pendidikan di program studi Master of Teaching (Secondary) di Victoria University, Melbourne, Australia. Program pengajaran yang diselenggarakan di berbagai universitas di Australia akan memberikan teman-teman keahlian khusus agar siap menghadapi dunia pengajaran di sekolah formal di Australia.

Saat ini, Indonesia Mengglobal memiliki tema Embracing Your Roots Beyond Borders, bagaimana tanggapanmu berkaitan dengan peran yang kamu jalani saat ini?

Menjadi pengajar BIPA benar-benar membuka mata saya untuk menjadi lebih bangga terhadap negara kita. Apa yang ‘mereka’ katakan itu sungguh benar bahwa kita memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu negara yang berpengaruh di dunia melihat dari sumber kekayaan alam dan manusia yang tersedia. Keindahan alam dan kekayaan budaya yang terdapat di dalamnya menjadikan negara kita ini ‘one of a kind’. Hal ini yang kemudian juga menjadi salah satu alasan mengapa saya ingin mengajak lebih banyak orang Australia untuk mengenal lebih dekat dengan Indonesia.

Zacky sedang memberikan kursus immersion kepada guru bahasa Indonesia di Victoria. Source: Personal documentation
Zacky sedang memberikan kursus immersion kepada guru bahasa Indonesia di Victoria. Sumber: Dokumentasi pribadi.

Apakah Zacky memiliki pesan-pesan untuk para pembaca Indonesia Mengglobal?

Pesan saya kepada teman-teman semua yaitu untuk selalu menjadi warga negara yang baik di mana pun kaki berpijak. Selain itu, kepada teman-teman yang khususnya berada di Indonesia, seperti yang disampaikan oleh badan bahasa, utamakan Bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, dan kuasai bahasa asing.

***

Zacky pengajar Bahasa Indonesia di Australia 2

Yahya Zakaria or known as Zacky is an Indonesian teacher who recently embarks on his teaching career in Australia. His passion for teaching the language began when he created his own digital series on YouTube called Learn Real Bahasa Indonesia. Since then, he has had the opportunity to teach in a community school in New South Wales in 2014, developed his own online language program in 2015, taught students from the Indonesian studies in Monash University in 2018, and teaching the Indonesian course with Australia Indonesia Association in Victoria (AIAV) and Balai Bahasa Indonesia Perth (BBIP). Having an interest in the use of ICT in education, Zacky has completed his Master Degree in Digital Learning at Monash University, and currently undertaking a Master Degree in Teaching (Secondary) at Victoria University, Australia.

SHARE
Previous articleLet me introduce you, Indonesia!
Next articleSharing culture, championing diversity at the University of Southampton, UK
Yogi Saputra Mahmud
Throughout his life trajectory, Yogi is always passionate about teaching and developing students’ ability and proficiency in English. He holds a Bachelor of English Education degree from the Indonesia University of Education. After completing his bachelor’s degree, he started his career as an English teacher at Pribadi Bilingual Boarding School, Bandung. His continuous passion led him to pursue his Master of TESOL (Teaching English to Speakers of Other Languages) at Monash University, Australia, with a scholarship from Indonesia Endowment Fund for Education (LPDP). Yogi is now based in Cikarang, West Java, as an English lecturer at President University. He has been actively writing several articles in nationally and internationally accredited journals. His main research interests include Teacher Professional Development, Teacher Education, Teaching Methodology, and English productive skills.