Sisi Lain Hidup di Negeri Orang

0
1023
Indonesian Khairul Ikhwan in London, UK

Belajar dan bekerja di luar negeri merupakan impian banyak orang. Pengalaman menjadi bagian dari suatu komunitas dan peradaban yang berbeda terdengar begitu indah dan spesial. Namun, pernahkah kita terbayang akan hal-hal di balik pengalaman itu, yang mungkin tidak begitu “indah”? Kontributor Khairul Ikhwan (Irul), alumni MSc Corrosion Control Engineering dari University of Manchester, Inggris Raya, berbagi pandangan dan pengalamannya tentang aspek-aspek hidup di luar negeri yang menantang dan perlu dipersiapkan dengan baik.

***

Keren, modern, salju, seperti di film. Itulah beberapa kata yang kerap muncul di kepala kita ketika disodorkan ide untuk hidup di luar negeri. Semua itu benar adanya dan sungguh, rasanya begitu bangga dan bahagia ketika menjejakkan kaki di luar negeri, baik itu untuk menempuh pendidikan ataupun bekerja.

Pada saat persiapan keberangkatan, biasanya kita sibuk menyiapkan baju musim dingin, bumbu-bumbu makanan Indonesia, tempat liburan yang akan dikunjungi, dan ide-ide brilian untuk memenuhi profil media sosial. Setibanya di negara tujuan, pikiran kita masih dipenuhi gairah menjalani kehidupan baru di negeri orang.

Periode ini bisa dibilang adalah periode bulan madu. Sayangnya, bulan madu pasti berakhir dan kehidupan di perantauan bisa berubah seratus delapan puluh derajat dalam sekejap mata.

Fase setelah bulan madu inilah yang mungkin tidak dipikirkan dan dipersiapkan dengan baik oleh kebanyakan orang, sehingga hal-hal seperti homesick, depresi, kesepian, dan stres terjadi. Ada beberapa hal yang menyebabkan kita terjerembap ke dalam fase ini:

Indonesian Khairul Ikhwan with his football mates during his time at the University of Manchester, UK
Irul membentuk pertemanan dengan mahasiswa Indonesia dan internasional melalui sepak bola

Pergaulan

Salah satu hal yang paling banyak dikutip sebagai manfaat belajar atau bekerja di luar negeri adalah jaringan pertemanan yang lebih luas. Kita jadi bisa berkawan dengan beragam manusia dari berbagai belahan dunia.

Tentu hal ini sangat berharga karena dapat membantu kita memperluas wawasan, memahami ragam pola pikir, cerita, dan budaya, serta meningkatkan konektivitas global. Mengikuti gagasan itu, seyogyanya kesempatan tinggal di luar negeri dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mencari teman sebanyak-banyaknya.

Sayangnya, melakukan hal tersebut tidak semudah mengatakannya. Bersosialiasi dengan warga negara asing tidak seperti yang Anda saksikan di layar kaca. Terkadang, ada perbedaan gaya bercanda dan gaya hidup yang dapat menjadi tembok penghalang tak kasatmata; menghalangi Anda untuk berbaur atau menjadi bagian dari sebuah kelompok pertemanan.

Alhasil, mengurung diri di rumah kerap menjadi pilihan. Atau, jika kota yang Anda tinggali memiliki populasi warga negara Indonesia (WNI) yang cukup besar, kemungkanan akan ada dorongan bagi Anda untuk “berlindung” di zona nyaman ini, karena Anda merasa bisa mendapatkan rasa kebersamaan dan kekeluargaan yang familiar.

Indonesian Khairul Ikhwan experienced snowy winters while in the UK
Suasana musim dingin yang harus dilewati Irul selama tinggal di Inggris Raya

Cuaca

Kali ini saya merujuk pada tipikal cuaca di benua Eropa. Melihat anak-anak dan remaja bermain ski di film-film Hollywood sudah cukup membuat kita penasaran tentang rasanya hidup di negara bermusim dingin.

Bermain ski dan bola salju memang sangat menyenangkan, namun, pernahkah kita menyadari bahwa kita tidak akan melakukannya setiap hari? Kita mungkin luput membayangkan bagaimana rasanya menghadapi suhu di bawah 0 derajat celcius dan mengenakan pakaian berlapis setiap harinya. Bayangkan, untuk sekedar membeli sereal dan susu di toko kelontong depan rumah saja membutuhan pakaian berlapis dan sarung tangan.

Bagi saya sendiri, ada yang bahkan lebih buruk lagi: matahari terbit pada pukul sembilan pagi dan terbenam pada pukul tiga sore. Durasi hari yang pendek ini mengakibatkan kelelahan pada tubuh saya dan hilangnya rasa semangat untuk beraktivitas.

Namun, semua perjuangan ini dapat terbayar ketika musim panas tiba. Apabila Anda menetap di kawasan mediterania, musim panas sungguh indah. Di atas kawasan mediterania, khususnya di Skotlandia dan negara-negara Skandinavia, suhu biasanya berada di kisaran 20-22 derajat celcius, ya seperti suhu pendingin ruangan saja. Sementara itu, negara-negara Eropa tengah dan selatan dalam beberapa tahun terakhir sering dilanda arus panas atau heatwave, di mana suhu bisa mencapai 40 derajat celsius.

Indonesian Khairul Ikhwan tastes local, authentic pasta during his visit to Venice, Italy
Tinggal di dunia belahan Barat memberi kesempatan bagi Irul untuk menyicipi cita rasa makanan lokal yang cukup berbeda dengan yang kerap dijumpai di tanah air

Makanan

Kecuali anda tinggal di ibu kota atau kota besar lainnya seperti London, Barcelona, atau Paris, maka makanan bisa menjadi salah satu masalah. Untuk penggila makanan seperti saya, situasi ini seperti pisau bermata dua.

Di satu sisi, saya dapat mengecap cita rasa sahih makanan barat: bagaimana rasa dan tekstur makanan Italia, seperti pizza dan aglio olio, yang sebenarnya; bagaimana burger mahal yang ada di bilangan Senopati ternyata tidak seenak burger di sebuah restoran cepat saji di London.

Di sisi lain, kerinduan akan makanan Indonesia sukar terobati karena tidak seperti restoran Thailand, restoran Indonesia di luar negeri bisa dihitung dengan jari (kecuali mungkin di Singapura, Malaysia, dan Australia). Alternatifnya adalah jika ada komunitas WNI, maka biasanya ada jasa catering makanan Indonesia. Namun dari sisi rasa memang masih cukup jauh dari rasa yang kita kenal di Indonesia.

Indonesian Khairul Ikhwan with his visiting parents in London, UK
Tinggal di luar negeri seringkali mengundang ‘homesick’ alias kangen rumah. Bagi Irul, kunjungan keluarga menjadi penawar rasa rindu itu

Keluarga

Keluarga dalam hal ini bisa berarti keluarga inti atau keluarga dalam pertemanan (sahabat karib). Kerinduan dan kesadaran atas arti penting keluarga akan mulai terasa ketika Anda telah tinggal di luar negeri (biasanya) lebih dari satu tahun.

Berat untuk melewati momen-momen penting seperti pernikahan, kelahiran, atau ulang tahun. Sungguh patut disyukuri adanya teknologi video call di zaman ini; tak terbayang rasanya hanya bisa berkomunikasi melalui surat dengan keluarga di kampung halaman.

Bahasa

Baik di negara yang masyarakatnya cakap berbahasa Inggris maupun tidak, komunikasi merupakan faktor penting ketika hidup di negeri orang. Saya tidak berbicara spesifik tentang komunikasi di lingkungan pendidikan, karena banyak universitas dan sekolah yang menawarkan kelas dalam Bahasa Inggris.

Yang saya maksud adalah kebutuhan komunikasi dalam kegiatan sehari-hari, seperti belanja kebutuhan, bertanya arah jalan, atau membuka rekening bank. Urusan-urusan yang kelihatannya sepele ini justru bisa menghabiskan waktu dan bahkan menjadi persoalan hidup yang pelik.

Ada dua contoh kasus riil: satu di Glasgow, Skotlandia, dan satu lagi di Milan, Italia. Warga lokal Glasgow dikenal memiliki aksen yang sangat kuat bernama Glaswegian. Jangankan kita orang Indonesia, orang Inggris pun sering tidak memahami aksen Glaswegian.

Seorang WNI datang ke kota ini tanpa persiapan memadai untuk memahami aksen Glaswegian, sehingga ia kesulitan untuk melakukan kegiatan sehari-hari selama beberapa bulan. Mungkin Anda bertanya, bukankah seseorang yang ingin studi ke Inggris Raya perlu memiliki sertifikasi atau bukti kecakapan berbahasa Inggris?

Disinilah kekonyolan dapat terjadi. Di salah satu tempat bimbingan belajar Bahasa Inggris di Jakarta, ujian lisan dilakukan dengan warga negara Australia, padahal negara yang dituju adalah Skotlandia. Kedua negara ini memiliki gaya dan aksen bercakap Bahasa Inggris yang sangat berbeda.

Contoh kasus kedua adalah pengalaman salah seorang pelajar di Milan. Walaupun ia telah menjalani les Bahasa Italia sebelum berangkat, setibanya di sana ia masih harus menghabiskan waktu 2-3 bulan hanya untuk membuka rekening bank serta mengirim dan menerima uang.

Indonesian Khairul Ikhwan during his visit to Lake Como, Italy
Menurut Irul, tinggal di luar negeri adalah suatu pengalaman luar biasa yang harus dipersiapkan dengan matang, baik secara fisik maupun mental

Itu tadi beberapa contoh yang bisa saya ceritakan; semoga dapat mencerahkan dan memberikan perspektif yang lebih menyeluruh tentang hidup di negeri orang. Saya berharap tulisan saya tidak mengendurkan semangat dan motivasi Anda untuk merantau ke luar negeri. Sebaliknya, saya percaya bahwa kesempatan emas ini tidak boleh disia-siakan, oleh karena itu lakukanlah persiapan secara optimal.

Persiapan keluar negeri bukan sekedar perkara baju musim dingin atau berbungkus-bungkus Indomie, namun juga persiapan mental. Kesadaran bahwa periode bulan madu tidak bertahan selamanya dan bahwa akan ada hal-hal menantang yang tidak pernah ditemui sebelumnya di negeri sendiri, sungguh akan membantu Anda beradaptasi dan bertahan di negeri orang.

Semoga sukses menjalani studi dan/atau karir di luar negeri!